Saturday, April 9, 2011

Misi Yang Tak Mungkin: Kupu-kupu Monarch

Kupu-kupu Monarch, dengan nama latin Danaus plexippus, berukuran besar, berwarna oranye dan hitam, pada umumnya terdapat di Amerika Utara. Ia terkenal akan perpindahan tahunannya untuk menikmati musim dingin ke dan dari Meksiko dan California, lihat National Geographic, vol. 150, no. 2, Agustus 1976. Kupu-kupu monarch memulai kehidupan sebagai telur yang ditaruh oleh betina dewasa diatas sebuah daun tanaman milkweed, Asclepias syriaca. Diperkirakan sebesar kepala pin. Pada saat telur menetas 3 sampai 12 hari kemudian, cacing kecil yang berwarna garis – garis kuning, putih dan hitam yang menyerupai larva, atau ulat, memiliki delapan pasang kaki-kaki yang pendek untuk merangkak, dan bagian-bagian mulut dirancang untuk mengunyah dedaunan dengan rakusnya. Tetapi hanya dedaunan milkweed; tidak tanaman lain. Sekarang, daun milkweed memiliki cairan putih yang lengket dan sangat beracun bagi binatang lainnya, akan tetapi tidak mempengaruhi ulat sama sekali, kecuali untuk membangun tubuhnya, dan sebaliknya sangat beracun bagi binatang pemangsa seperti burung yang suka memakan ulat untuk sarapan pagi. Dan burung-burung tersebut mengetahui hal itu dan membiarkan ulat tersebut.
Karena ulat terus makan dan makan, ia bertumbuh. Dengan cepat ia menjadi terlalu besar untuk kulitnya sendiri, maka kulitnya membelah dan melepaskan diri dari ulat yang memiliki kulit baru yang lebih besar dengan ruang untuk tumbuh. Kira-kira selama dua minggu, hal yang dilakukan ulat hanyalah: makan dedaunan, bertumbuh, melepaskan kulitnya, makan lebih banyak dedaunan, bertumbuh lebih besar, melepaskan kulitnya. Ia akan melakukan hal ini sebanyak lima kali.
Akhirnya ia berhenti makan, mencari tempat yang terlindung, bergelantungan terbalik, memutar benang sutranya, dan melepaskan kulitnya sekali lagi. Akan tetapi kali ini yang keluar dari kulit tersebut bukanlah ulat yang lebih besar, tapi paket padat yang tidak memiliki kaki dan mata, dan tanpa bagian tubuh yang jelas, yang disebut puppa, yang dilapisi oleh kepompong (chrysalis). Kepompong ini tidak berwarna-warni seperti ulat, tetapi ia berwarna hijau terang dengan titik-titik kuning emas.
Tidak ada penelitian akan pergerakan yang lebih jauh, tetapi di dalam banyak pergerakan. Jantung masih berdetak, tetapi bagian tubuh dalam lainnya menyerupai agar-agar hijau, seperti seluruh kelompok membentuk ulang dirinya menjadi makhluk yang berbeda seutuhnya. Warna hijaunya berangsur-angsur menjadi lebih gelap, dan berubah menjadi cokelat. Bagi peneliti yang tidak mengerti, paket tersebut terlihat mati. Tetapi berangsur-angsur warnanya berubah, bersamaan dengan berubahnya kepompong menjadi bening, dan bagian oranye dan hitam dapat terlihat, warna dari kupu-kupu dewasa.
Akhirnya, setelah kira-kira dua minggu, kepompong terbelah terbuka, dan keluarlah kupu-kupu dewasa. Ia memiliki enam kaki-kaki yang panjang, sebuah mulut yang berupa tabung panjang yang melengkung proboscis yang digunakan untuk menjangkau kedalam bunga untuk meminum "nectar", dan dua pasang sayap yang mengkerut yang dengan cepat membentang bersamaan dengan dipompanya cairan dari tubuh ke dalam pembuluh darah mereka. Seiring dengan membentangnya sayap, perlahan-lahan kupu-kupu mengepakan mereka dengan otot terbang yang baru mereka peroleh sampai mereka kering, agar sayap-sayap yang terbentang menjadi kaku, dan siap untuk terbang.
Segera kupu-kupu terbang ke awan, dan dapat ditemukan di kebun bunga seseorang, meminum "nectar" dengan hidungnya yang tak berlengkung, atau terbang di awan mencari pasangan untuk memulai seluruh siklus lagi.
Sumber: http://www.creationism.org

0 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More