
Berbicara kekuatan dunia, tak akan lepas dari kekuatan ekonomi,
karena inilah kapital penting dalam mendukung sebuah negara-bangsa
menjadi respectable dan menjadi “leader” negara-negara lain. Dari sekian
banyak negara mapan, ternyata saat ini sudah menjadi “aging nations”,
negara yang “menua” akibat sedikitnya generasi produktif (18-50 tahun).
Dari
kapasitas Produk Domestik Bruto (PDB)[1] atau bahasa internasionalnya,
GDP (Gross Domestik Bruto), pertumbuhan setiap tahunnya sangat kecil,
berkisar 1% hingga 2% saja, bandingkan dengan negara-negara baru seperti
Chindia (China India) dan Korsel. Dan saya ingin menyebut satu lagi,
yaitu Indonesia. Bayangkan, PDB 6000 Trilyun rupiah, dengan peningkatan
PDB 6% pertahun, Indonesia dipastikan bakal menjadi raksasa ekonomi
baru.
Masalahnya, pertumbuhan ini apakah juga diiringi dengan
kepemimpinan yang membuat bangsa ini bisa menjadi pemimpin dunia
sebagaimana teori mengenai kekuatan ekonomi yang merupakan juga saling
resiprokal sebagai kekuatan politik dunia? Bahkan kekuatan politik
mencari sumberdaya ekonomi untuk dikuras, demi menghidupi dirinya,
sebagaimana layaknya “War for Oil” yang dipertontonkan dunia barat yang
sedang stagnan saat ini?
Indonesia dan Teknologi
Dari sudut
pandang berbeda, penguasaan teknologi adalah kunci dari persaingan
internasional. Perekonomian yang baik seyogyanya diratakan dengan
teknologi yang mumpuni, sebab teknologi menjamin perlindungan negara
dari penyusupan intelijen asing, dus kedaulatan negara. Teknologi
menjamin maksimalisasi pemanfaatan potensi Sumber daya alam untuk
membangun perekonomian itu. Tak hanya sekedar seremonial memperingati
Hari Kebangkitan Teknologi Nasional [2] atau Hari Nusantara [3] yang
bahkan Anda pembaca belum tentu tahu peringatan hari tersebut bukan?
Kasus
RIM (Research In Motion) versus Menkominfo, UU ITE (Informasi dan
Transaksi Elektronik) yang kontroversial dan “Perlawanan Blogger dan
Facebooker” ala Prita Mulyasari dan Bibit-Chandra menjadi bagian dari
tapak menuju masa depan bangsa ini. Jika tertinggal, tak bisa dipastikan
bahwa Indonesia mampu menjadi pemimpin di ranah yang lebih luas, tak
hanya masalah perekonomian ala pertanian, sebab Industri kreatif [4]
(Creative Industry) adalah penunjang dari perekonomian masa depan. Tak
hanya hasil bumi atau hasil laut, namun masa depan akan dikuasai oleh
yang empunya sistem informasi dalam memasarkan, mendistribusikan dan
mengolah hasil tersebut. To say the least, computerize management.
Generasi
“digital native” yang lahir di tahun 2000-an akan menyerap lebih banyak
model sosial-budaya berbasiskan internet yang kini sudah “dalam
genggaman tangan” akibat konvergensi dunia IT. Bayangkan, kita akan
menjadi pemain domestik dan konsumen setengah mati. Sebab, apabila
dilihat, konsumerisme sudah merasuk. PDB yang besar sebagian besar,
sekitar 63% dikonsumsi oleh konsumen dalam negeri juga. Artinya yang
belanja ya orang Indonesia juga. Ini sekilas kabar baik, karena
peningkatan taraf hidup, namun mengkhawatirkan karena adanya gap yang
semakin renggang antara si kaya dan si miskin.
Cina, negara
kekuatan ekonomi baru, berpanglima-kan Teknologi Informasi. Divisi
laptopnya IBM, nama besar di dunia IT, pun bisa diakuisisi oleh
perusahaan lokal, yaitu Lenovo lewat tangan dingin Yang Yuanqin. Taiwan
dengan brand international misalnya Gigabyte, MSI dan tak boleh
dilupakan, Stan Shih dengan Acernya. Juga Korsel lewat Samsung dan LG
serta Hyundai dan KIA. Bahkan Malaysia dengan Protonnya mulai menggurita
dikawasan Asia. Semua brand global dewasa ini yang muncul dari serpihan
ide dan didukung iklim perindustrian dalam negeri yang tentunya, sangat
dipengaruhi oleh kebijakan dalam negeri pemerintahnya. Apa kabar
Indonesia?
India, sebagaimana dilihat oleh Thomas Friedman dalam
World is Flat [5], juga berperan besar dalam kemajuan negerinya adalah
Teknologi. NR Narayana Murthy dan Nandan M. Nikelani mengembangkan
Infosys Technologies Ltd., yang menjadi perusahaan teknologi informasi
berskala internasional dan menduduki peringkat kedua terbesar di India.
Perusahaan minyak goreng, Wipro saja bisa diubah menjadi perusahaan IT
kelas kakap oleh Azim Premji, menjadi Wipro Technologies Ltd.
Bagaimana
dengan Singapura dan Malaysia? Tidak kurang dana trilyunan dolar
singapura digunakan negeri singa ini membangun Bio Valley di Jurong.
Sedangkan Malaysia membangun super corridor di kota baru Putra Jaya. Apa
kabar Indonesia? kabar terkini dari Indonesia, pembangunan Cyber Park
di daerah Bogor terkendala dana dan bangkrutnya perusahaan pengembang.
Saat ini, sungguh ironis, sudah berubah fungsi menjadi ladang jagung,
walau menurut penjaga lahan, hanya sementara karena keisengan dia
semata.
Belum lagi kita melihat geliat industri elektronik dan
otomotif. Home appliances dikuasai Korsel dan Cina, Smartphone dan
gadget juga sama. Redupnya Nokia melawan Samsung dan LG. Bahkan Samsung
“harus” dipengadilankan oleh Apple karena merambah ranah “jajahan”
pemasaran Apple di eropa, dengan dalih plagiasi desain dan HKI. Hanya
Blackberry yang bertahan karena memiliki fitur karakteristik khas
Indonesia, suka mengobrol, dengan teknologi BBM (Blackberry Messenger)
dan keypad yang mana sangat nyaman bagi masyarakat untuk mengetik, tak
lewat layar sentuh semata, sebagaimana biasanya Android (Sistem Operasi
pesaingnya). Juga ada sisi-sisi emosional dengan model kelas “menengah
atas” yang dimainkan atas nama “Brand”.
Untuk itu, kita, Indonesia, jika ingin maju perlu
penguasaan teknologi. Untuk itu pulalah kita perlu teknologi yang
mandiri, sebab terkait national security, dan terkait Sumberdaya manusia
lokal yang mumpuni dan globalisasi. Bocornya pipa gas di Siberia [6]
akibat aktivitas CIA (Central Intelligence Agency) nya Amerika Serikat
merupakan penyesalan dikemudian hari dalam penggunaan peranti lunak yang
“tertutup” dan “buatan asing”.
Langkah tepat, Indonesia Go Open
Source (IGOS) [7] dicanangkan. Gerakan ini merupakan gerakan Kemandirian
sebab perangkat lunak yang di-develop dengan pola open source (kode
sumber program tersebut disertakan dan dibuka), membuat tidak ada yang
ditutup-tutupi dari sebuah perangkat lunak. Dengan demikian anak bangsa
bisa membuat hal yang serupa dan bahkan memperbaikinya. Gerakan ini juga
mengisyaratkan Be Legal dan Go Open Source guna memerangi pembajakan
peranti lunak yang selama ini, Indonesia menjadi salah satu yang
terbesar [8].
Sementara Internet masuk desa dan Desa berdering
sebagai program Kementrian Komunikasi dan Informatika masih berjalan,
teman-teman relawan TIK [9] berjuang keras melakukan edukasi ke
masyarakat mengenai dunia teknologi informasi khususnya penggunaan
internet yang sehat, aman. Sebab berkembangnya jejaring sosial dan media
sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube menjadikan kita semua melek
teknologi, tapi mungkin dari 50 juta pengguna internet 10, tak banyak
yang bijak dalam menggunakannya. Ini tantangan sekaligus peluang besar
bagi bangsa ini. Mereka ini akan menjadi intelektual baru atau malah
menambah lost generation?
Kemandirian dan Masa Depan
Untuk
mandiri, kita perlu menguasai teknologi, bukan dikuasai teknologi. Untuk
bersaing dan menjadi bagian dari masyarakat dunia (world society) kita
perlu berkomunikasi. Globalisasi tak dapat dilawan, yang ada adalah
mempersiapkan diri. Masuknya ekspatriat sebagai sumberdaya manusia dan
produk-produk asing ke dalam negeri adalah bagian dari globalisasi. Mau
tidak mau, baik sumberdaya manusia Indonesia maupun produk Indonesia
harus mampu bersaing secara global, dan meminjam istilah Friedman,
secara datar (flat). Penguasaan teknologi adalah jalan utamanya.
Untuk
menjadi pemenang, selain sumberdaya, perlu mental juga pemenang bukan
pecundang. Disini leadership dari tokoh-tokoh negarawan bangsa ini
diuji. Kepemimpinan di ASEAN Misalnya, bisa menjadi batu pijakan yang
jelas untuk menjadi manajer komunitas ASEAN 2015 [11] yang menjadi satu
benteng dalam menghadapi gempuran, misalnya Uni Eropa yang sudah bersatu
padu.
Teknologi Informasi dan Komunikasi menjadi sangat penting
dalam merajut keunggulan global dari negara-bangsa. Tak hanya
berpatokan PDB. Tapi juga kita mencoba menyelamatkan generasi yang akan
datang dari konsumerisme sejati dan selalu menjadi tempat melempar
produk, sebagai pasar dan dilihat bagai potongan kue Tart yang besar dan
dibagi-bagi oleh negara maju. Kita akan lihat, dengan penerapan visi
teknologi dan merangkul netizen, merupakan fondasi yang jelas bagi
bangsa ini untuk bangkit dan maju. Di luar negeri, media sebagai pilar
kelima sudah berubah menjadi media (sosial). Revolusi twitter di Moldova
salah satunya [12], atau kemenangan Obama yang memanfaatkan Facebook
dan Twitter. Juga Kasus Iran, Libya dan Timur Tengah yang juga secara
independen, masyarakat membuat gerakan sosial via jejaring sosial guna
memantapkan langkah menuju perubahan.
Carut marut sistem politik
dan pemerintahan pun bisa diharapkan hilang, apabila adanya Sistem IT
yang maju, teknologi yang khas dibangun bangsa, dan adanya transparansi
sebagai bagian dari akuntabilitas. Tanpa terang benderang inilah
kecenderungan korupsi banyak terjadi. Untuk itu, teknologi akan
mentransparankan, akan mengefektifkan, mengefisienkan penyelenggaraan
negara dan segala sesuatunya. Tentu dengan “penjagaan” kita semua selaku
“LSM” era baru, yaitu Blogger dan Netizen (dari ranah maya) dan
akademisi dan praktisi ahli dari ranah nyata. Semua bahu-membahu untuk
Indonesia yang lebih baik, men-support sekaligus memberi kritik
membangun atas kebijakan publik para penyelenggara negara. Jika
demikian, maka kita baru bisa melihat masa depan bangsa yang lebih baik,
tak buram dan durjana!
Kemandirian adalah masa depan dan tak ada
masa depan bagi negeri ini. Tanpa kemandirian di bidang teknologi
informasi dan komunikasi, Indonesia akan selalu menjadi konsumen dan tak
pernah memperoleh kembali kewibawaan di kancah internasional apabila
tak ada faktor penyeimbang sekaligus pembeda antara Indonesia dengan
negara lain yang –maaf sebenarnya kecil jika dibandingkan Indonesia.
Kepemimpinan yang efektif, konsistensi kepada kemandirian dan entah apa
namanya Visi 2020 ataupun 2045 (100 tahun Indonesia merdeka) silakan,
asal pemimpin tak mau ditekan oleh pemimpin bangsa lain dan mengubah
“jalan hidup” bangsa ini yang sudah dalam goresan darah harus ditentukan
sendiri, adalah syarat mutlak.
Jika demikian, seharusnya, dalam
20 tahun kedepan, sekali lagi jika arahnya benar, negara lain bagi
Indonesia adalah benar-benar kecil baik dari sisi demografis maupun sisi
politis. Bukan ancaman apa-apa bagi bangsa besar ini. Nantikan episode
Sriwijaya dan Majapahit dalam belasan tahun kedepan. Waktu yang tak
begitu lama, kawan!
catatan kaki :
[1] PDB adalah indikator untuk melihat pertumbuhan suatu negara, yaitu total output produksi dari negara tersebut.
Selain jumlah, tingkat persentase pertumbuhan menjadi acuan. Di Indonesia, PDB sangat tinggi bahkan menurut
beberapa ahli pemasaran misalnya Yuswohady (2010) melihatnya sebagai era “Consumer 3000” dan pertumbuhan
PDB Indonesia ternyata empat kali lipat dari Amerika Serikat. Pakar
Manajemen Strategik seperti Yodhia Antariksa (2011) bahkan berani
menyebut kata “Pasti!”
[2] Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ternyata sudah berjalan selama 16 kali (tahun 2011 adalah yang
ke-16). Mengenai Hakteknas dan Inovasi ini, bisa dibaca juga tulisan saya di http://netsains.com/2011/06/inovasi-
anak-negeri-untuk-bangsa-yang-mandiri/
[3] Peringatan Hari Nusantara dimulai pada Pemerintahan KH. Abdurahman Wahid (tahun 1999) dengan menjadikan
hari dimana Deklarasi Djuanda, pada 13 Desember 1957 sebagai tonggak peringatan Hari Nusantara. Deklarasi
yang dicetuskan oleh Perdana Menteri Indoenesia, Djuanda Kartawidjaja itu menegaskan kepada dunia, bahwa laut
Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian ditetapkan konsepsi negara kepulauan (Archipelago) oleh PBB
melalui Konvensi Hukum Laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) pada tahun 1982.
[4] Industri Kreatif ini bisa dilihat ditulisan saya di http://www.unggulcenter.org/2010/04/25/momentum-kebangkitan-
bangsa-melalui-industri-kreatif-tik/ yang memperoleh penghargaan
[5]Dalam bukunya “World is Flat” Sejarah Ringkas Abad 21 (2006), Thomas L Friedman, seorang kolumnis senior
terkagum-kagum dengan pesatnya perkembangan India khususnya di ranah Teknologi Informasi. Bahkan jaringan
“India” merambah Silicon Valley dan saat ini banyak CEO dan Profesional IT berasal dari India.
[6] Pada tahun 1982, terjadi ledakan dahsyat dijalur pipa gas Uni Sovyet di Siberia. Kekuatan ledakan tersebut sekitar 3
kiloton atau berkekuatan 25% dari Bom Hiroshima. 16 tahun kemudian baru diketahui oleh publik bahwa ledakan
tersebut disebabkan oleh software komputer proprietary/ tertutup yang telah diubah oleh CIA. Software Open
Source bebas dari bahaya ini, karena bisa dilakukan audit terhadap kode programnya. Selengkapnya bisa dibaca di
http://www.damninteresting.com/?p=829
[7] Gerakan ini ditandangani Ditandangani oleh empat (4) Kementrian yang berkaitan yaitu Kementrian Riset dan
Teknologi (Kemristek), Kementrian Komunikasi dan Informatika (dulu Departemen Komunikasi dan Informatika),
Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara, Kementrian Hukum dan HAM ( dulu Departemen Kehakiman dan
HAM), dan Kementrian Pendidikan Nasional (dulu Departemen Pendidikan Nasional) pada tanggal 30 Juni 2004.
Kemudian Gerakan ini diredeklarasi pada tanggal 27 Mei 2008 (biasanya disebut Deklarasi IGOS II), dengan
memperluas penggunaannya meliputi 18 (delapan belas) kementrian dan Lembaga Pemerintah Non Departemen
(LPND).
[8] Sebagai Sebagai pedoman untuk menjalankan strategi ini dilapangan, kampanye “be legal” dan atau “go open
source” tersebut diperkuat oleh beberapa produk hukum dalam menjerat pelaku pelanggaran Hak Cipta. Misalnya
saat ini sudah ada UU No.14 tahun 2001 tentang paten, UU No.15 tahun 2001 tentang merk, UU No.19 tahun 2002
tentang Hak Cipta. Dasar itu-lah yang mendasari penerbitan Surat Himbauan dari Bareskrim Polri mengenai
Himbauan Penanggulangan Pembajakan Hak Cipta No. B/2/08/XI/2006/Bareskrim. Bagi yang beragama Islam
mungkin Fatwa MUI No.1/Munas VII/MUI/15/2005 yang menyatakan bahwa Pembajakan itu Haram hukumnya
perlu jadi pertimbangan. Bagi Pegawai negeri dan aparatur pemerintahan, Surat Edaran Menteri Pendayagunaan
Apartur Negara No. SE/01/M.PAN/3/2009 sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Komunikasi dan
Informatika No. 05/SE/M.KOMINFO/10/2005 bisa jadi acuan. Pada Surat tersebut secara jelas mewajibkan
penggunaan peranti lunak Open Source di kalangan pemerintahan dan diberikan “deadline” hingga 31 Desember
2011.
[9] Relawan TIK (www.relawan-tik.org) adalah organisasi sosial yang melakukan banyak kegiatan sosialisasi TIK baik
internet, jaringan, penggunaan peranti lunak legal dan seterusnya kepada masyarakat secara langsung dan
terorganisir.
[10] Seperti dilansir oleh http://www.indonesiafinancetoday.com/read/2041/Pengguna-Internet-di-Indonesia-Tahun-Ini-
Naik-Jadi-50-Juta-Orang dan http://www.teknojurnal.com/2011/09/26/data-pengguna-internet-di-kawasan-asia-dan-
indonesia-di-tahun-2011/
[11] Terdapat deklarasi mengenai pembentukan ASEAN COMMUNITY pada KTT ASEAN di Bali tahun 2003 yang
sering disebut Deklarasi Bali Concord II yaitu : Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community),
Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (ASEAN Socio-cultural Community), Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN
Economic Community)
[12] Revolusi ini pernah saya bahas dalam sebuah kesempatan forum diskusi, dengan judul presentasi “Ada Revolusi di
Dunia Maya” bisa dilihat slide presentasinya di http://www.slideshare.net/unggulux/peran-generasimudainternet
From netsains.com