Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Tuesday, November 20, 2012

Program Penghitung IMT

Setelah sekian lama vakum, duniasains pengin share lagi nih. Posting kali ini merupakan keinginan saya sejak lama. Saya dari dulu pengin banget yang namanya bisa programing. Dan akhirnya sekarang mulai kesampean, walaupun hanya otodidak dan masih sangat dasar apa yang saya pelajari. Tidak ada salahnya juga sebagai mahasiswa ilmu gizi belajar pemrograman kan? Walaupun terkesan ngga ada hubungannya, tetapi saya pengin hubungin. Pengin buat program sendiri yang bisa memudahkan pekerjaan saya.HEHEHEHE....Lagian ngga ada yang nglarang juga kalau kita belajar berbagai macam ilmu, apalagi untuk saling mendukung ilmu-ilmu yang kita pelajari satu sama lain. Ok langsung saja, ceritanya program pertama saya ini bernama program penghitung IMT. Buat yang belum tahu IMT, IMT merupakan indeks masa tubuh yang digunakan untuk mengukur status gizi seseorang. IMT merupakan hasil perhitungan dari Berat Badan dibagi dengan Tinggi badan dalam meter dan dikuadratkan.
Ini bentuk programnya.

Cara penggunaan program ini sangat mudah, cukup memasukkan tinggi dan Berat badan kemudian tekan proses. Maka IMT anda dan status gizi anda akan keluar di kotak IMT dan keterangan. Bagi yang ingin mendownloadnya silakan download di link berikut ini.
DOWNLOAD NOW
read more

Tuesday, September 18, 2012

Atasi Gejala PMS dengan Minum Susu

Sobat Dunia Sains, gimana nih kabarnya? Udah lama Dunia Sains ngga posting, pasti banyak yang nunggu artikel-artikel dari Dunia Sains. Maklum, admin lagi sibuk kuliah. Masuk jurusan gizi menjadi tiaada hari tanpa tugas dan laporan praktikum. hahaha, malah jadi curhat. Dengan sedikit tenaga yang tersisa yang habis dikuras dari pagi saya mencoba share informasi nih. Kali ini Dunia Sains mau share info tentang PMS. Berhubung baru dapet ilmu baru yang nyangkut pas kuliah.(tumben nyangkut)hahahaha. Apa sih PMS? yang jelas yang dibahas disini bukan PMS = Penyakit Menular Seksual. Tapi PMS disini adalah Pre Menstrual Syndrome (ribet banget bacanya) heeee. PMS merupakan gejala-gejala yang dialami karena akan datangnya menstruasi. Gejala tersebut meliputi perubahan mood, pegal-pegal, dan nyeri perut yang dialami saat akan datang bulan. Menurut penelitian dari profesor bidang psikiatri klinis di University of Miami Miller School of Medicine, M. Beatriz Currier, MD  menjelaskan bahwa sebanyak 75 perempuan akan mengalami PMS dalam kadar ringan, dan 5 persen yang mengalami gejala cukup parah. Tentu saja ini dialami sama cewe. Tapi buat cowo yang udah terlanjur baca ini jangan nyesel karena artikel cewe. Artikel ini juga berguna lho buat cowo, terutama buat yang punya pacar nih. Biasanya cowo-cowo pasti pada ngrasain kan si dia jadi sensitif gitu, tiba-tiba ngambek, BT lah dan sebagainya tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau yang namanya cewe udah ngambek, huh,,,sebagai cowo semua serba salah. Bingung kan??? Jadi ikut BT juga kan??? Makannya ayo lanjutkan pembahasannya.HeHeHe......

Fakta yang membuktikan bahwa kadar kalsium pada saat PMS lebih rendah dibandingkan setelah mentruasi, sehingga membuat para ilmuan tergerak untuk meneliti lebih lanjut tentang efek kalsium terhadap gejala-gejala PMS. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kalsium dan vitamin D dapat mengurangi gejala PMS secara signifikan. Selain kalsium dan vitamin D, magnesium, vitamin B1, B2 dan vitamin E juga dilaporkan dapat mengurangi gejala PMS. Vitamin dan mineral yang terdapat dalam makanan lebih efektif untuk mengurangi keluhan PMS dibandingkan dengan vitamin dan mineral yang berasal dari suplemen. Wanita dan remaja putri yang rutin mengkonsumsi susu rendah lemak dan produk olahannya seperti yoghurt dan keju terbukti memiliki keluhan PMS lebih sedikit. Hal ini disebabkan karena susu mengandung tinggi kalsium, vitamin D, serta vitamin dan mineral lainnya yang teruji dapat mengurangi keluhan PMS.

Jadi, buat cewe yang mau mengatasi gejala PMS ini, konsumsi lah susu dan makanan yang mengandung vitamin dan mineral. Ngga mau kan ngrasain nyeri atau ngambek-ngambek ke cowonya? Kasihan lho cowonya.hehehehehe. Penting juga untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi (Fe). Karena pada cewe yang menstruasi sangat rawan terkena anemi. Dan dampaknya ngga kecil lho. Anemi ngga cuma buat kamu jadi ngga konsentrasi and semangat. Tapi bisa menjadi resiko tinggi saat hamil. Hmmmm....buat cowo-cowo kasih tau cewenya. Biar cewenya ngga ngambek-ngambek lagi tuh pas mau mens. Heeeeeee

Biasakan konsumsi makanan bergizi dan seimbang!!!
Salam Sains ^_^
read more

Sunday, September 16, 2012

Info Beasiswa Mitsubishi Corporation Tahun Akademik 2012/2013 Institut Pertanian Bogor

Persyaratan :
1. Mahasiswa Program Sarjana (S1) minimal semester  II  dan  IPK Minimal  2.00;
2. Tidak sedang menerima beasiswa atau ikatan dinas dari pihak manapun.
3. Foto copy kartu mahasiswa;
4. Rekomendasi dari Pembimbing Akademik/Ketua Departemen/Wakil Dekan;
5. Foto copy Keterangan Penghasilan orangtua dan atau surat keterangan tidak mampu dari Lurah/Kepala Desa tempat orang tua mahasiswa tinggal;
6. 2 (dua) lembar pas foto ukuran 3 x 4 cm;
7. Foto copy Kartu Keluarga;
8. Foto copy Tanda Bukti Lunas SPP
9. Besarnya beasiswa Rp. 5.000.000,-/mahasiswa/tahun
10. Mengisi Kuesioner disini
11. Daftar Online di : bit.ly/daftarbeasiswa
Berkas harap disusun dan dihekter rapi. Pengumpulan berkas paling lambat tanggal 27 September 2012 di loket kemahasiswaan.
Terima Kasih
Direktorat Kemahasiswaan
Institut Pertanian Bogor
read more

Wednesday, September 12, 2012

Apa kata mahasiswa gizi tentang RD?

Dietisien adalah seorang profesional tenaga kesehatan yang fokus dalam bidang makanan dan gizi dalam mengupayakan peningkatan mutu kesehatan seseorang. Perannya sangat krusial dalam preparasi dan pelayanan makanan, modifikasi diet, partisipasi dalam penelitian, dan menyuluh individu atau kelompok tertentu dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Sekarang sudah mulai muncul seorang dietisien profesional yang menyediakan pelayanan spesialis, seperti pada penyakit diabetes, obesitas, penyakit ginjal, osteoporosis, dsb.

RD (Registered Dietitian) adalah profesi dalam bidang kesehatan yang dapat memberikan saran tentang gizi, makanan dan pilihan makanan yang sehat untuk agar terlihat lebih baik. Persyaratan untuk menempuh jenjang pendidikan RD merupakan mahasiswa lulusan S1 Ilmu Gizi. Akan tetapi di Indonesia regulasi dan kompetensi mengenai RD masih belum jelas adanya. Kesimpang siuran ranah dan kompetensi antara lulusan D3 Gizi, S1 Gizi, dan RD masih terjadi di Indonesia. Sehingga jenjang pendidikan RD dapat dikatakan mati suri.

Berdasarkan opini mahasiswa program studi gizi di Indonesia, gelar RD ternyata memang banyak diminati dan dibutuhkan. Minat mereka terbuktikan dalam antusiasme dukungan setelah adanya wacana bahwa gelar RD akan dibuka di empat perguruan tinggi di Indonesia, mengikuti UGM (Universitas Gadjah Mada),  sebagaimana hasil workshop AIPGI beberapa pekan lalu. Perguruan tinggi tersebut adalah UB (Universitas Brawijaya), UNDIP (Universitas Diponegoro), IPB (Institut Pertanian Bogor), dan UNHAS (Universitas Hasanuddin).

Keberadaan RD dianggap sangat penting sebagai bukti profesionalisme ahli gizi/ dietisien dan calon keduanya. Gelar sarjana saja tidak cukup menjamin eksistensi ahli gizi/dietisien bagi mahasiswa S1 gizi yang telah lulus. Hal ini dikarenakan mereka membutuhkan tidak sedikit prestasi untuk dapat diakui saat bekerja di instansi tertentu. Tidaklah cukup mendapatkan teori di kelas, praktek lapangan, dan atau magang singkat, tetapi perlu dijalankan suatu pembelajaran yang menguji kompetensi kita dalam level profesi sebagaimana dijalankan pada jurusan Pendidikan dokter atau Ilmu Keperawatan. Dengan adanya RD, diharapkan masyarakat dan seluruh tenaga kesehatan lainnya mengakui dan mengenal kompetensi seorang ahli gizi/dietisien profesional.

RD juga mampu memperjelas kompetensi ahli gizi / calon ahli gizi di dunia kesehatan. Awalnya memang hanya ada jurusan gizi tingkat Diploma III dan Diploma IV, namun saat ini sudah ada pengembangan ke tingkat S1 dan mulai bermunculan tenaga kesehatan spesialis gizi klinik/medis. Batas ruang lingkup kerja ketiganya masih belum jelas, dimana satu lulusan bisa mengerjakan kompetensi dari banyak ranah. Padahal di luar negeri, seorang ahli gizi sudah memiliki kewenangan atas ruang lingkupnya sendiri, yaitu gizi klinik/dietetik. Maka, sangat diperlukan bagi seorang dietisien atau ahli gizi untuk diakui kejelasan profesinya dan RD inilah salah satu cara untuk membuat batas-batas tersebut menjadi jelas.

Hampir di banyak negara, hanya beberapa orang yang mempunyai syarat profesi dan surat pendidikan tertentu yang dianggap sebagai dietisien. Sedangkan nutrisionis adalah panggilan pada ahli gizi secara umum, dan perannya memang sangat berbeda dengan seorang dietisien, sehingga tidak dapat disamaratakan. Jadi gelar RD cukup berpengaruh dalam membedakan dietisien dengan nutrisionis, dimana RD memang spesifik di ranah gizi klinik.

RD juga memiliki peranan signifikan untuk menaikkan citra bangsa Indonesia dan kesadaran masyarakat dalam bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan RD sudah banyak dan memang sudah eksis di negara-negara maju. Masyarakat yang mengenal RD bisa lebih percaya dan kesadaran akan kesehatan akan meningkat. Masyarakat dapat berkonsultasi ke RD (yang dapat membuka praktek mandiri). Dengan demikian, masyarakat mampu mengubah pola pikir serta gaya hidup mereka ke arah yang lebih sehat. Perlahan-lahan, derajat kesehatan masyarakat akan meningkat. Dengan RD, masyarakat akan sehat secara mandiri. Anggaran kesehatan pemerintah pun dapat dipakai untuk lebih fokus ke penanganan gizi buruk.

Oleh karena itu, perlu adanya perwujudan profesi RD di universitas yang memiliki program studi gizi, khususnya gizi klinis. Selain itu, perlu adanya sosialisasi pengenalan tentang RD ke masyarakat agar mereka tahu peran spesifik RD dalam mempromosikan kesehatan. dengan demikian, masyarakat dapat lebih mengenal seorang RD dan paradigma masyarakat terhadap kesehatan mandiri dapat tercapai.

Sumber:
1.     1. Hasil diskusi ILMAGI dengan AIPGI, Februari 2011
2.     2. Dengar pendapat mahasiswa gizi, 2011
3.     3. Pengurus harian nasional (PHN) ILMAGI 2010-2011

From:  http://busaskisgz.blogspot.com/2011/10/apa-kata-mahasiswa-gizi-tentang-rd.html
read more

Friday, August 3, 2012

Cuma 5% Orang Tua yang Khawatir Anaknya Akses Konten Dewasa

Ada banyak bahaya yang mengancam anak-anak di dunia maya, dan tidak semua anak maupun orang tua siap menghadapinya. Ternyata jumlah orang tua yang punya prioritas melindungi anaknya dari konten dewasa masih cukup minim. Dari survei yang dilakukan Harris Interactive pada 9000 user internet di Amerika, Rusia, dan Eropa pada Februari hingga Maret 2012, hanya 5% saja user yang memprioritaskan proteksi anak mereka dari konten dewasa.
Di sisi lain, komunitas online saat ini semakin banyak yang berusia muda, dengan laptop atau ponsel pintarnya. Bahkan anak-anak sekolah pun sudah terbiasa dengan perangkat elektronik canggih tersebut. Sebanyak 35% dari mereka mengakses internet dari ponsel, dan 62% dari ponsel pintar.
Dengan kondisi tersebut, selayaknya makin banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka yang kian banyak menghabiskan waktu di chat room atau social media. Sebesar 10% dari responden mengkhawatirkan hal tersebut. Mereka takut anak-anaknya mengalami atau terlibat kekerasan virtual, atau mengakses konten terlarang. Hal lain yang juga dikhawatirkan adalah anak-anak memberikan informasi penting ke orang tak dikenal.
Adabeberapa software yang bisa dipakai orang tua untuk memonitor perilaku online anak-anak mereka, khususnya yang masih di bawah umur. Salah satunya modul Parental Control dari Kaspersky Internet Security 2012 yang dapat mengatur akses anak ke web dan aplikasi, serta memantau komunikasi mereka dengan teman-teman di social media. Selain diinstal di komputer, software ini juga bisa diintal di ponsel pintar maupun tablet, seperti Kaspersky Parental Control for Android. Program ini dapat memblokir web yang berisi konten dewasa atau berbahaya bagi anak-anak.
Selain memasang software pelindung, orang tua juga sebaiknya mengajak anak berkomunikasi dan berdiskusi mengenai bahaya yang mengancam di dunia maya.

from netsains.net
read more

Dominasi Asam, Basa, dan Garam pada Pelajaran Kimia


Ilustrasi dari www.funsci.com


Bahasan kimia kelas 11 sma fokus pada larutan, larutan asam-basa dan garam, diobok-obok sampai habis karena larutan adalah hal penting yang ada di sekitar kehidupan ini. Banyak zat beserta sifatnya menjadi bermakna karena sifat keasaman dan kebasaannya demikian pula kombinasi asam-basa yaitu garamnya. Jadi simak bahasan itu semua dengan baik pada semester 2 ini.
Konsep asam basa ini akan menjadi hal yang sangat-sangat penting untuk mempelajari sifat-sifat kimia pada bahasan kimia lanjut. Apalagi kalau berminat di bidang yang ada kaitannya dengan kimia. Di sma bahasan asam basa masih cukup sederhana dan mendasar, namun mengasyikkan untuk memanjakan nafsu otak kalkulasi dan logika. Hiruk pikuk bahasan asam basa kebanyakan ada pada penentuan mana asam basa serta masing-masing konjugasinya juga tak dan tik hitungan derajat keasaman (pH) beserta parameter yang terkait (konsentrasi, volume, massa, dan lain lain).
Zat utama dalam bahasan ini adalah ion hidrogen dan ion hidroksida  yang dihasilkan ketika zat lain dilarutkan dalam pelarut umum (air). Banyaknya ion-ion tersebut akan menjadi sentral dalam kalkulasi sistem larutan. Kalkulasi tersebut diejahwentahkan dalam satuan konsentrasi molar (M). Banyak parameter yang terkait molar ini, bisa datang dari mana saja sebagai “sumber masalah” soal-soal larutan. Jangan sampai konsep terlepas ketika sedang asyik berhitung. Kimia bukanlah soal hitung-menghitung laksana matematika. Jadi kalau menguasai konsep mol dan teori asam basa maka tidak ada hal yang akan menyulitkan untuk menyelesaikan persoalan kimia asam-basa ini.
Ada beberapa teori tentang asam basa, namun keduanya bersifat relatif. Tidak ada larutan yang mutlak asam atau basa. Kerelatifan asam basa larutan sesungguhnya jika ada dalam pasangan zat  (lingkungan) saat terjadi reaksi. Ini mirip kalau kita membandingkan manusia satu dengan manusia lainnya. Silahkan kejar dan banyak tanya tentang kemanfaatan bahasan ini atau kalau malu bertanya jelajahlah jagad maya, pasti ketemu jawaban-jawaban rasa penasaran kita.
Pantas saja bahasan asam basa ini diberi porsi lebih karena manusia sebagai makhluk pembelajar tak akan lepas dari larutan. Fakta bahwa makhluk hidup didominasi oleh larutan menyebabkan ia fokus pada asam basa juga . Bahkan sehat atau sakitnya manusia bisa diindikasikan oleh derajat asam basa pada ekskresi maupun sekresi zat yang dihasilkan tubuhnya. So penting banget kan?!

Lebih lanjut bahasan dan eksperimen tentang asam basa yang cukup gamblang bisa dikunjungi di web funsci.com. Selain itu di wikipedia juga tersedai bahasan ringkas tentangasam dan basaSitus lain cukup banyak untuk dijadikan referensi kalau tertarik dengan bahasan ini.

from netsains.net
read more

Monday, June 25, 2012

Pola Asuh dan Pengaruhnya Bagi Perkembangan Anak


Banyak permasalahan yang terjadi di sekitar kita, mulai dari kenakalan remaja, Narkoba, bolos sekolah, kriminalitas, semuanya bersumber dari keluarga. Anak-anak yang dibesarkan dengan pengasuhan yang kurang tepat, kurang terpenuhinya kebutuhan psikologis mereka sesuai dengan tahap perkembangannya, menjadikan mereka tumbuh dan berkembang dengan cara yang salah. Kurangnya pengarahan dan penanaman nilai-nilai positif di dalam keluarga menjadikan anak kurang dapat menempatkan dirinya dengan benar di lingkungan. Keluarga sebagai sarana belajar pertama bagi anak dan pembentukan karakter anak, semestinya memfasilitasi anak untuk belajar menjadi pribadi yang penuh potensi dan membanggakan orangtuanya.
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang bagaimana harus memperlakukan anak-anak kita secara benar, kita akan sedikit membicarakan tentang karakteristik khas dari seorang anak. Perlu kita pahami bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa. Sehingga ketika kita akan memperlakukan mereka, janganlah menggunakan pola pandang kita. Anak dengan dunianya, memiliki keterbatasan dalam hal kognisi, kemampuan motoriknya, juga beberapa hal yang mungkin dilakukan orang dewasa. Hal ini berpengaruh terhadap proses belajarnya mengenai kehidupan. Bagaimana ia belajar kedisiplinan, menghargai orang lain, kasih sayang, atau hal-hal lain yang berguna bagi kehidupannya ke depan. Termasuk apakah ia kelak akan menjadi anak yang sangat pemalu, tertutu, atau cukup percaya diri dan mampu menyampaikan keinginannya secara terbuka. Semua ini berangkat dari keluarga yang membelajari anak secara tidak langsung tentang pola-pola perilaku di atas.
Lalu bagaimana anak belajar pola-pola perilaku ini? Karena memiliki keterbatasan dalam hal kognisi dan pemahaman, maka anak belum dapat menganalisa segala hal yang dilakukan orang tua padanya. Anak hanya dapat melihat, meniru, hal-hal apa saja yang dilihatnya tanpa dapat memikirkan hal itu baik atau tidak. Proses modelling dan imitasi sangatlah kental pada masa ini. Oleh karenanya, sedapat mungkin orang tua menstimulasi anak dengan hal-hal yang positif agar ia belajar perilaku yang positif pula. Mencontohkan beribadah lebih mudah diterima daripada memarahinya ketika ia tidak mengerjakan shalat atau tidak mau ke gereja. Mengajaknya gosok gigi bersama lebih mudah dilakukan daripada hanya menyuruhnya cuci kaki dan gosok gigi sebelum tidur. Modelling yang positif dari orang tua ke anak akan berdampak positif bagi perkembangan dan pembentukan karakternya.
Ayah sebagai figur otorita di rumah, menanamkan kedisiplinan pada anak. Mencontohkan bangun pagi, meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan bersikap tegas ketika anak melakukan kesalahan. Ibu sebagai figur yang lembut berusaha menyeimbangkan dengan mengajarkan pada anak nilai-nilai kasih sayang, menolong orang lain, kejujuran, kesederhanaan atau mendengarkan keluh kesahnya.
Prinsip kerja pola perilaku pada anak dibentuk lewat hadiah dan hukuman. Hadiah diberikan untuk perilaku-perilaku yang positif, tujuaannya untuk meningkatkan perilaku agar bertahan lama. Sebaliknya anak akan dihukum ketika ia melakukan tindakan negatif, yang bermaksud untuk menghilangkan perilaku tersebut. Kedua hal ini bekerja pada dimensi perilaku, yang bertujuan untuk membentuk habit atau kebiasaan pada anak.
Dimensi lain yang tak kalah penting adalah emosi. Anak juga bukan makhluk robotik yang hanya dibentuk lewat hadiah dan hukuman. Karena keterbatasan kognisinya pula, terkadang ia kurang dapat memaknai secara benar stimulasi yang diberikan orang tuanya. Orang tua memarahi anak dengan maksud agar ia tidak lagi berantem dengan adiknya atau untuk mengurangi perilaku agresifnya yang dinilai tidak sopan dengan harapan kelak agar ia lebih dihargai orang dan tahu sopan santun. Tapi sayangnya cara berfikir anak tidak sampai ke sini. Ia hanya melihat apa yang nyata di hadapan matanya bahwa ia dimarahi. Anak berfikiran jika orang tua jahat karena memarahinya. Konsep yang salah ini jika terus dibawa sampai remaja atau dewasa, akan menimbulkan figuring negatif anak terhadap orang tuanya. Dampaknya, jika anak laki-laki memiliki kerenggangan hubungan dengan ayah, maka ia akan kehilangan figur maskulin darinya. Sebaliknya, jika anak perempuan memiliki kesan negatif pada ibunya maka ia akan kurang mendapatkan figuring feminin dari ibunya.
Penerimaan tanpa syarat menjadi solusi akan semua permasalahan di atas. Biarkan anak melakukan apa saja yang menjadi kesenangannya, tetapi di bawah pengawasan dan kontrol. Hargai sekecil apapun hal-hal yang dilakukan anak, agar ia lebih percaya diri. Jangan terlalu banyak mencemooh atau meremehkannya, sebab ini akan berpengaruh pada kepercayaan dirinya kelak. Ajak ia berdiskusi dan memaknai setiap hukuman yang diberikan, agar ia belajar sesuatu dengan cara yang benar.
ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan kententraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Dorothy Law Nolte
from netsains.net
read more

Saturday, May 26, 2012

Kedubes Jepang Tawarkan Beasiswa untuk Lulusan SMA

Pemerintah Jepang membuka tawaran beasiswa (Monbukagakusho) bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dari seluruh Indonesia yang memenuhi syarat. Hal itu disampaikan dalam siaran pers Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Senin (14/5/2012).
Beasiswa diberikan bagi mereka yang lulus persyaratan untuk melanjutkan ke jenjang-jenjang pendidikan Universitas (S-1), College of Technology (D-3), atau Professional Training College (D-2) di Jepang mulai tahun akademik 2013 (April 2013).
Pelamar hanya bisa mendaftar 1 (satu) program dari S-1, D-3, atau D-2. Sejumlah syarat yang diterapkan antara lain (1) Lahir antara tanggal 2 April 1991 dan tanggal 1 April 1996. (2) Nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester/cawu terakhir minimal: 8,4 untuk program S-1, 8,0 untuk program D-3, dan 8,0 untuk program D-2
Jika pada saat penutupan (15 Juni 2012) nilai ijazah asli belum bisa dikeluarkan, maka nilai ijazah sementara dari Kepala Sekolah bisa diterima.
Pelamar harus lulus dari SLTA, atau akan lulus maksimal 31 Maret 2013. Lebih lanjut, formulir bisa diunduh dari situs Kedubes Jepang di alamat ini.
Formulir yang dikirimkan harus disertai fotokopi rapor, ijazah, dan nilai ijazah sampai tanggal 15 Juni 2012. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Kedutaan Besar Jepang di bagian Pendidikan, dengan nomor 021-3192-4308 Ext. 175, 176.

From kompas.com
read more

Friday, May 18, 2012

Fisika Tidak Mudah, Tapi Indah

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata mekanika, kalor, listrik, magnet, dan relativitas? Bagi anda yang pernah duduk di bangku SMP dan SMA pasti sudah mengenal kelima kata tersebut. Maafkan saya apabila di antara kalian ada yang trauma setelah diingatkan kembali dengan kelima kata tersebut, dan tidak perlu berterima kasih juga bagi kalian yang begitu gembira dan semangat ketika mendengar kata-kata tersebut.
Di sini saya tidak berpihak kepada siapa pun. Hanya saja, ada yang perlu kalian ketahui di luar sana daripada hanya mengingat hasil ulangan yang membuat anda kecewa atau mengingat begitu pintarnya anda ketika mendapatkan nilai tertinggi dalam mata ujian fisika. Selamat bagi anda yang sudah mampu mencengkeram fisika hingga mengantarkan anda berdiri di atas podium untuk menerima penghargaan, dan tetaplah untuk berpikir positif bagi anda yang dulu atau saat ini kurang beruntung dengan fisika. Kalau para ilmuwan mengatakan bahwa kimia merupakan the center of science, maka saya berani mengatakan bahwa fisika adalah a beautiful angel yang akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Namun, tidak banyak para pemuda yang tahu, karena mereka masih terikat dengan paradigma-paradigma yang membuat mereka tidak bisa merasakan keindahan fisika.
Paradigma-paradigma seperti hanya mengandalkan belajar secara pasif, sistem kejar materi semalam, menghapal banyak rumus, dan anggapan bahwa fisika itu tidak lebih dari sekedar kebutuhan kurikulum sekolah, masih membelenggu kreatifitas berpikir sebagian dari para pelajar. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang masih mempercayakan nasibnya pada rumus-rumus instan. Itu bukan cara yang tepat dalam memperlakukan fisika. Sama seperti disiplin ilmu lainnya, fisika perlu pemahaman dan kreatifitas. Pemahaman dan kreatifitas itu tidak akan datang hanya dari belajar secara pasif dan dalam satu malam saja, tapi datang dari kerja keras, cara belajar yang tepat, dan kebiasaan kita untuk berlatih menyelesaikan soal-soalnya secara rutin. Jangan membelenggu diri kita sendiri dengan kebiasaan-kebiasaan yang keliru. Coba saja simak cara belajar dari para pemenang Olimpiade Fisika Internasional.
Apakah mereka hanya golongan orang-orang yang memiliki IQ tinggi saja? Tidak! Mereka adalah orang-orang yang mau mengurangi sedikit waktu tidurnya untuk memahami, memperkuat konsep dasar, dan berlatih soal-soal dari mulai tingkat kesulitan yang rendah hingga tingkat kesulitan yang paling tinggi secara rutin. Ketika kebiasaan tersebut rutin kita lakukan, kita akan terbiasa untuk memodifikasi persamaan dari konsep dasar sesuai dengan kebutuhan dalam memecahkan permasalahan-permasalahaan fisika, sesulit apa pun itu.
Seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tidak hanya orang yang memiliki IQ tinggi saja yang bisa menguasai fisika, tetapi semua orang yang mempunyai kemauan untuk bekerja keras pun bisa. Namun, bukan berarti fisika itu mudah. Ukuran susah dan mudah itu sangat relatif. Kita hanya perlu visualisasi yang tepat dalam memahami setiap konsepnya, dan pemahaman itu baru bisa kita dapatkan apabila kita telah mengenal filosofi fisika dengan baik. Syarat fundamental tersebut sangat diperlukan dalam memulai belajar fisika, tentunya didukung dengan semangat dan motivasi yang tinggi. Motivasi itu bisa datang dari mana saja, salah satunya dari mimpi. Kita tidak dilarang untuk bermimpi. Mimpi adalah aset mesin waktu[1] kita yang sangat berharga. Cukup kita bayangkan bagaimana jadinya menjadi orang yang mampu menguasai fisika, mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, menjadi pemenang dalam olimpiade, apalagi mampu memenangkan hadiah nobel. Lalu, kita bayangkan tatapan mata semua orang yang kagum dan gemuruh tepuk tangan saat kita berdiri di atas podium. Mimpi-mimpi tersebut akan memberikan semangat yang luar biasa untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memahami konsep-konsep fisika dan menemukan ide orisinilnya. Pemahaman konsep dasar yang kuat adalah kunci utama dalam menjawab permasalahan fisika di segala kondisi.
Sejak duduk di bangku SMP dan SMA kita dikenalkan dengan beragam rumus-rumus fisika, mulai dari kinematika, dinamika, optik, momentum, impuls dan beragam materi mekanika lainnya. Namun, masih sering dijumpai beberapa pelajar yang selalu bertanya “Untuk mengerjakan soal ini rumusnya apa?” padahal sebelumnya dia sudah mempelajari persamaan dari beberapa hukum fisika yang sebenarnya menjadi konsep dasar dari solusi soal yang dia tanyakan. Bedanya, untuk soal tersebut diperlukan sedikit modifikasi dan kreatifitas. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang diperintahkan untuk mengerjakan 100 soal mekanika. Akibat dari kebiasaannya yang lebih mengedepankan hapal rumus daripada paham konsep, dia menyalahkan si pembuat soal, karena tidak ada satu soal pun yang cocok dengan contoh soal yang dia temukan di dalam buku. Padahal, semua permasalahan mekanika yang dia jumpai hanya perlu sedikit modifikasi dari persamaan hukum Newton.
Sebenarnya, perumusan fisika secara matematis itu datang belakangan. Mengenai keberadaan fisika itu sendiri bermula dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang dihadapinya, baik mikrokosmos (alam kecil) maupun makrokosmos (alam besar), hingga akhirnya tertarik untuk mengadakan penelitian. Bagaimana Newton bisa menggagas teori gravitasi? Bagaimana Michael Faraday bisa menggagas hukumnya tentang GGL induksi elektromagnetik? Semuanya berasal dari ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar. Kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangun yang teratur itu terkumpul menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Namun, pernyataan secara kualitatif saja belum cukup, seperti apa yang dikatakan oleh Lord Kelvin, bahwa “Pernyataan fisika itu belum lengkap apabila tidak disertai dengan data matematis.” Misalnya, kita tahu bahwa galaksi bima sakti itu luas, tapi seberapa luaskah itu luas? Bagaimana luasnya jika dibandingkan dengan galaksi andromeda? Atau, kita merasakan bahwa air itu panas, tapi seberapa panas air itu panas? Bagaimana dengan panas tubuh orang yang sedang demam? Seberapa panas tubuhnya panas? Seberapa besar perbedaan panas antara air panas dengan tubuh yang demam tersebut? Kita tidak bisa menjawabnya tanpa menggunakan data matematis.
Ada sebuah cerita menarik yang bisa kita terapkan dalam mempelajari fisika. Cerita tentang sebuah ember, batu-batuan, pasir, dan air. Pada mulanya, ember belum terisi apa-apa, dan di sekitar ember itu tersedia batuan dari mulai batu besar, batu kerikil, pasir, dan air yang harus mengisi penuh ember tersebut dengan proporsional. Sebaiknya kita mulai mengisi ember tersebut dengan batu besar terlebih dahulu hingga penuh, lalu kita mengisinya dengan batu-batu kerikil hingga penuh, kemudian mengisinya kembali dengan pasir hingga penuh, baru kita isi dengan air hingga penuh. Hasil akhir, kita akan mendapatkan ember yang berisi batu besar, batu kerikil, pasir dan air dengan proporsional.
Sebaliknya apa jadinya apabila kita mengisi terlebih dahulu ember tersebut dengan air hingga penuh? Sebagian air akan tumpah kembali saat kita memasukan pasir, batu kerikil dan batu besar. Sesuai dengan hukum archimedes bahwa: “Jika benda tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair, maka zat cair tersebut akan dipindahkan sebesar volum benda yang dicelupkan.” Hasilnya, pengisian ember dengan air sebelumnya menjadi sia-sia. Kisah ini mengajarkan bagaimana seharusnya belajar fisika dengan baik dan benar. Apabila otak kita diisi terlebih dulu dengan hapalan-hapalan rumus baru setelah itu mengerjakan soal, ingatan rumus-rumus dalam otak kita bisa tumpah dan sia-sia, karena tidak ada fondasi kuat yang menahannya. Seharusnya kita isi dengan pemahaman yang kuat terlebih dulu, baru setelah itu kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis. Poin penting yang harus kita perhatikan selanjutnya adalah visualisasi dalam belajar fisika. Dalam mempelajari fisika, sebaiknya tidak hanya sekedar membaca buku, dan pasif di kelas saja. Cobalah keluar dan temukan peristiwa-peristiwa yang menarik di alam sekitar kita. Banyak sekali fenomena-fenomena fisika yang begitu cantik apabila kita amati dan kita renungkan. Misalnya, fenomena optik sederhana seperti kenapa sayap kupu-kupu dan bulu burung merak memancarkan warna-warna yang begitu cantik? Padahal, tidak dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen. Tidak hanya itu, fenomena serupa seperti aurora, pelangi, matahari kembar, halo, fatamorgana dan masih banyak lagi yang lainnya.
            Fisika adalah a beautiful Angel. Seperti malaikat, fisika akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Bagaimana tidak? Pasalnya, peralatan canggih yang hampir sering kita jumpai sekarang mayoritas adalah peralatan-peralatan fisika, seperti kipas angin, dispenser, rice cooker, oven, televisi, telefon seluler, motor, mobil, dan masih banyak lagi. Meskipun di samping itu terdapat pula konsekuensi dari efek negatifnya. Hampir semua disiplin ilmu sains bahkan ilmu sosial memerlukan konsep fisika. Biologi tidak akan berkembang dengan pesat tanpa adanya peralatan-peralatan biofisika yang membantu dalam melakukan penelitian seperti mikroskop, termometer, neraca, pendingin dan peralatan lainnya. Begitu pun dengan disiplin ilmu sains lainnya, tidak terlepas dari keberadaan fisika, dari mulai elektro dengan fisika listrik, astronomi dan kosmologi dengan astrofisika, telekomunikasi dengan fisika elektromagnetik, kimia dengan fisika material, pertambangan/geologi dengan geofisika, hingga ilmu ekonomi dengan ekonofisika.
            Pada saat bumi ini masih gelap gulita di setiap malam hari, dan belum ditemukan peralatan teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia, kehidupan terasa sangat sulit dan melelahkan. Berbeda dengan masa sekarang. Tidak perlu pergi jauh-jauh untuk melihat saudara-saudara kita atau hanya sekedar menyampaikan rasa rindu karena kita memiliki televisi dan telefon, tidak perlu khawatir lagi akan ketinggalan informasi karena teknologi informasi semakin deras, tidak perlu repot-repot menggambar untuk mengabadikan atmosfer kebersamaan bersama keluarga karena kita memiliki kamera dengan bentuk dan aplikasi yang semakin bervariasi. Kita tidak perlu bingung bagaimana caranya melintasi samudra, karena kita memiliki pesawat. Hampir setiap aktifitas yang kita lakukan berkaitan erat dengan fisika. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi orang-orang yang tidak menyukai fisika untuk menjauhi fisika.
            Selain di siang hari, sempatkanlah di malam hari untuk menatap langit yang berisi banyak sup galaktik yang cantik. Alam semesta ini terlalu indah untuk kita sia-siakan. Penciptaannya yang begitu apik dan tertib. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Mulai dari bagaimana gaya gravitasi matahari yang dikerjakan oleh matahari pada bumi dan planet-planet lain bisa bertanggungjawab untuk mempertahankan planet-planet pada orbitnya mengelilingi matahari, gaya gravitasi yang dikerjakan oleh bumi pada bulan bisa menjaga bulan pada orbitnya dalam mengelilingi bumi, hingga banyaknya bintang, batuan meteor, planetoid, planet-planet dalam galaksi yang berbeda namun masih bisa bertahan dan berdampingan satu sama lain. Semakin kita mengenal fisika, semakin banyak fenomena-fenomena yang sebelumnya dianggap tabu dan mistik kini terungkap secara ilmiah. Selain itu, kita bisa mengenal Allah lebih dekat dengan melihat semua fenomena alam semesta sebagai hasil penciptaan-Nya.
            Sudah saatnya kita hilangkan ketergantungan terhadap paradigma-paradigma yang selama ini kita anggap benar, padahal keliru. Belajar fisika tidak sekedar hanya membaca buku dan pasif di kelas, apalagi masih menerapkan sistem kejar materi semalam, dan menghapal banyak rumus. Tapi, belajar fisika itu dimulai dengan membangun fondasi yang kokoh dari memahami konsep, kemudian kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis, dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi. Fisika tidak Mudah, karena permasalahan fisika adalah permasalahan alam, sedangkan alam semesta ini tidak terbatas. Namun, kita akan mampu menghadapi sesulit apa pun permasalahan fisika, ketika kita berhasil memahami dan mengembangkan konsep dasarnya secara rutin dalam bentuk persamaan matematika sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi, insting kita dalam memecahkan permasalahan fisika akan terbentuk dan kita akan merasakan keindahan yang membuat candu dalam setiap misteri yang disajikan oleh alam semesta ini.

[1] Mesin waktu yang dimiliki manusia adalah ingatan dan mimpi. Jika kita ingin pergi ke masa lalu, kita hanya perlu mengingatnya. Sedangkan jika kita ingin pergi ke masa depan, kita hanya perlu bermimpi.

From netsains.net
read more

Pembelajaran Perlu Menyenangkan

Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Sehngga pada saat kali pertama disebut kata school, asal mula kata sekolah berasal dari bahasa latin yakni kata skhole, scola, scolae atau schola, kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. (Roem Topatimasang, 1998). Kata skhole, scola, scolae dan schola digunakan untuk menyebut sebuah kegiatan yang dilakukan oleh orang Yunani Kuno untuk mengisi waktu luangnya. Menggunakan waktu senggangnya untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Semua asal kata sekolah ini mempunyai arti yang sama yaitu ”waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).
Pada perkembangannya, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka. Di tempat itu, anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, dan belajar apa saja yang memang patut untuk dipelajari sampai tiba masanya mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa. Sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuh ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa disebut juga ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu’ (alma mater). Dan melalui John Amos Comenius dalam karyanya yang berjudul Didactica Magna, melontarkan gagasan untuk melembagakan pola dan proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis. Gagasan ini kemudian diteruskan dan disempurnakan oleh Johan Heinrich Pestalozzi pada abad ke-18.
Sekolah Hari Ini
Dengan membandingkan asal kata sekolah sebagai secuil sejarah tentang bagaimana sekolah itu terbentuk, tentu memberikan kesimpulan bagi kita tentang bagaimana sekolah sebaiknya dilaksanakan dan diciptakan. Sekolah sendiri tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan peran dan fungsinya sebagai tempat pembelajaran pengetahuan yang bertujuan mengasah kemampuan berpikir, kepedulian dan potensi-potensi lain yang dimiliki seorang anak manusia. Sehingga yakin dan pasti semua pihak akan mengungkapkan bahwa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di sekolah formal dan menciptakan suasana belajar yang berkelanjutan amat diperlukan. Pada titik ini nampaknya tidak ada yang membantah. Masalah muncul ketika kemudian masuk ke langkah aplikasi, sebagian besar merasa: ribet, sulit, dan melelahkan.
Bayangkan, untuk mengajar kreatif itu saya perlu berfikir, survey, terus mengantisipasi apabila anak-anak jadi lebih ribut, dan masih berfikir bagaimana alat peraganya, bagaimana cara menilanya, bagaimana menyusun Silabus dan RPPnya. Sudah pasti selain sulit pasti repot, bukannya menjadi tidak menyenangkan apabila sesuatu itu menjadi repot untuk kita laksanakan. Setidaknya itu sebagian komentar beberapa rekan pendidik tentang pembelajaran yang menyenangkan dikelas.
Tetapi satu hal yang pasti kita semua tahu belajar menyenangkan itu penting. Kita juga diharapkan untuk menciptakan kondisi tersebut. Terkait hal tersebut dalam buku “Genius Learning Strategy” Andi Wira Gunawan menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada mata pelajaran yang membosankan, yang ada adalah guru yang membosankan, suasana belajar yang membosankan. Hal ini terjadi karena proses belajar berlangsung secara monoton dan merupakan proses perulangan dari itu ke itu juga tiada variasi. Proses belajar hanya merupakan proses penyampaian informasi satu arah, siswa terkesan pasif menerima materi pelajaran.
Suatu penelitian tentang “cara kerja otak” menunjukkan bahwa ketika kita senang, maka hormon “neorotransmitter dopamine” dilepaskan dalam otak. Hal itulah yang membuat kita merasa senang. Judy Willis (2006) mengemukakan bahwa kita membutuhkan dopamine mengalir di dalam otak peserta didik, ketika mereka belajar. Kesenangan itu harus menjadi bagian dari pembelajaran. Semakin para siswa aktif terlibat dalam sebuah kegiatan pembelajaran, semakin otak mengalami perubahan.
Menurut Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS seorang ahli penyakit syaraf, metode pembelajaran yang berlangsung saat ini dengan penyajian lebih menitik beratkan pada rangsangan dengar (auditory) berupa latihan (drill), pengulangan, orientasinya detail, kurang melibatkan proses pemecahan suatu masalah, sangat sesuai dengan pola belajar pada otak kiri, dimana individu tersebut kurang hiperaktif dan tidak mendapatkan terlalu banyak rangsangan. Masalah mulai timbul karena pada generasi anak saat ini dimana dengan berkembangnya budaya, sejak kecil anak telah diberi banyak rangsang penglihatan (visual), misalnya rangsangan dari TV dll; sehingga pola pembelajaran anak bergeser kearah otak kanan dengan pola berpikir secara visual dan lemah dalam menerima rangsang dengar (auditory) tetapi mempunyai kemampuan untuk pemecahan masalah. Hal ini mengakibatkan jurang antara anak didik dan guru menjadi lebar, karena pola pembelajaran disekolah tidak sesuai dengan pola pembelajaran yang dibutuhkan; sekolah menjadi tidak sejalan dengan pikiran anak. Sementara itu para pendidik yang umumnya adalah populasi dengan pola otak kiri, seperti juga pada dominasi otak kiri lainnya, mempunyai kelemahan berupa kesulitan untuk dapat memahami bahwa orang lain mempunyai cara pandang yang berbeda dalam memproses keadaan. (Freed 1997).
Otak Untuk Belajar
Sebelum kita dapat menciptakan kondisi belajar yang baik bagi anak, ada beberapa hal yang kita perlu ketahui dari proses kerja otak pada saat belajar. John Medina, seorang biologi molekuler perkembangan dan konsultan penelitian dalam bukunya Brain Rules, menyebutkan 12 fakta tentang cara kerja otak sebagai berikut
Bergerak melejitkan kemampuan otak; Otak kita dirancang untuk berjalan kaki, sekitar 19 kilometer per hari, selama masa evolusi nenek moyang kita. Ketika kita bergerak, darah akan terpompa ke otak, mengalirkan oksigen dan glukosa. Aerobik 2 kali seminggu memangkas resiko terkena dementia (penurunan kapasitas otak) dan menurunkan resiko sampai 60% terkena Alzheimer.Aturan pertama ini menjelaskan mengapa kita mudah bosan ketika duduk diam di dalam kelas atau ruang kerja. Tanpa pergerakan membuat oksigen yang mengalir ke otak berkurang sehingga dianggap sebagai sinyal beristirahat (jadi menguap kan kalau kelamaan duduk?). Persoalannya, ruang kelas dan kerja kita didesain dengan asumsi kita diam ketika belajar dan bekerja. Bila tubuh kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan bekerja. Sekurang-kurangnya, lakukan pergerakan 10 menit setelah belajar atau bekerja.
Otak kita juga berevolusi; Otak adalah organ bertahan hidup kita dalam menjalani evolusi. Kita mengatasi dunia dengan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kita bukan makhluk yang terkuat di bumi ini, tapi otak kita berkembang menjadi yang terhebat. Otak kita berkembang selama menangani penyelesaian persoalan dan membangun relasi dengan orang lain. Kemampuan memahami persoalan dan membangun relasi dengan orang lain menjadi aktivitas bertahan hidup utama, bahkan hingga hari ini. Bukan saja di sekolah, kedua kemampuan itu juga kita butuhkan di tempat kerja. Sehingga bila kita tidak nyaman dengan orang lain maka kita tidak bisa efektif. Ketika murid tidak nyaman dengan gurunya maka belajar menjadi tidak efektif. Ketika bawahan tidak nyaman dengan atasannya maka bekerja menjadi tidak efektif. Belajar menyimak motivasi orang lain dan bangun relasi agar otak kita bekerja efektif.
Setiap otak tersusun secara berbeda; Otak dari kecil mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada serangkaian hubungan yang terbangun antar ujung syaraf seiring dengan penghilangan hubungan yang lain. Apa yang kita lakukan dan pelajari dalan kehidupan mengubah bentuk fisik otak kita, mengubah susunan otak kita. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Tidak ada dua otak manusia yang sama yang menyimpan informasi yang sama dengan cara yang sama di tempat yang sama. Ada jutaan cara untuk menjadi cerdas sebagaimana diyakini konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner. Sayangnya, banyak diantaranya tidak muncul dalam tes IQ. Praktisnya perlakukan diri kita dan orang lain sebagai individu unik yang mempunyai cara belajarnya sendiri.
Kita tidak memperhatikan hal-hal membosankan; Otak bisa diibaratkan sebagai lampu sorot (spotlight) yang menyorot berbagai macam hal di sekitarnya. Lampu sorot otak ini hanya dapat fokus pada satu hal pada satu waktu: Tidak ada multitasking bagi otak. Lampu sorot otak itu menyukai sesuatu yang membangkitkan emosi dan mudah beralih ketika menyorot sesuatu yang membosankan. Ceramah atau pembicaraan yang biasa-biasa saja hanya mendapat perhatian dari otak kita kurang dari 10 menit. Praktisnya: Pancing perhatian orang yang mendengarkan kita bicara setelah 10 menit melalui cerita yang menyentuh emosi. Hindari interupsi dalam mengerjakan suatu tugas karena akan meningkatkan jumlah kesalahan.
Ulangi untuk Mengingat; Otak itu ibarat mesin pengolah informasi yang mempunyai beragam mekanisme. Salah satunya, declarative memory yang mempunyai 4 tahap pengolahan informasi: mengodekan, menyimpan, memanggil dan melupakan. Kalau kita mengingat informasi dengan cara yang biasa-biasa saja, maka kita akan segera melupakan. Ibarat ketemu cewek yang biasa-biasa saja maka kita segera melupakan begitu saja. Beda kalau pertama bertemu begitu mempesona, wah sampai rumah pun masih terbayang-bayang wajahnya. Semakin rumit kita mengodekan informasi semakin kuat memori itu. Praktisnya kaitkan suatu informasi baru dengan informasi lama. Buat jembatan keledai untuk merangkai suatu informasi. Ulangi untuk mengingat suatu informasi dengan pola yang berbeda.
Ingatlah untuk mengulang; Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Proses melupakan itu bagus karena kita tidak perlu menyimpan informasi yang tidak relevan dan membantu menentukan prioritas. Ingatlah yang sekarang, bukan masa lalumu (uhuk). Tapi bila kita ingin mengingat suatu informasi, maka ingatlah untuk mengulang. Praktisnya ingatlah suatu informasi secara bertahap dan mengulanginya dalam jeda waktu yang terpola waktunya.
Tidur baik, berpikir pun baik; Otak mengalami ketegangan terus menerus sepanjang hari. Bahkan ketika tidur pun, otak kita tidak sepenuhnya beristirahat. Otak tetap aktif secara ritmis selama kita tidur. Kurang tidur akan menurunkan perhatian, pengambilan keputusan, memori kerja, mood, keterampilan kuantitatif, penalaran bahkan ketangkasan motorik oleh sebab itu tidurlah secukupnya.
Otak yang stress tidak belajar secara sama; Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek, semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita, stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar. Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat lain. Jangan stress dengan membangun relasi dan emosi yang stabil di rumah, itu kuncinya
Rangsanglah lebih banyak indera; Kita menyerap informasi tentang suatu kejadian melalui indera, menerjemahkan dalam bentuk sinyal listrik, menyebarkan ke bagian otak terpisah dan ketika mengingat kita merekonstruksikan ingatan kejadian itu. Semakin banyak indera yang mendapatkan informasi atas suatu kejadian maka semakin mudah kita merekronstruksi ingatan akan kejadian tersebut. Hasil riset, Efek Proust, bau dapat memicu memori, hingga 10-50% lebih baik. (apa bau badanmu sekarang? *eh salah). Bau bahkan memicu emosi kita. Gunakan multisensori dalam menyampaikan penjelasan ke murid atau bawahan, paling tidak kata dan gambar. Bila perlu ciptakan ruangan yang baunya bisa diasosiasikan positif.
Penglihatan mengungguli indera-indera kita; Kita tidak melihat dengan mata kita, kita melihat dengan otak kita. Apa yang kita lihat bukanlah yang terlihat, tapi apa yang diberitahukan otak untuk kita lihat. Tak heran maka kita sering terjebak menilai orang dari tampilan luar, karena memang begitu cara kerja otak kita. Kita paling bagus belajar dan mengingat dengan gambar, bukan kata-kata tertulis atau terucap. Mendengar sekarang maka 3 hari kemudian hanya teringat 10%, sementara dengan melihat kita masih mengingat 65%. Teks mencekik otak kita, otak tidak mengenal kata-kata, tapi mengenal gambar. Ketika mengingat “Gajah pakai baju warja merah”, kita akan “melihat” gambar gajahnya, bukan tulisan g-a-j-a-h. Buang powerpoint yang penuh dengan teks dan poin-poin. Gunakan gambar yang berasosiasi dengan suatu informasi untuk belajar.
Otak pria dan wanita berbeda; Kalangan kesehatan mental sudah mengenali perbedaan antara pria dan wanita. Pria lebih mudah terkena schizophrenia dibandingkan wanita. Dengan rasio 2 banding 1, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan pria, temuan setelah wanita mengalami pubertas dan terus stabil sampai 50 tahun berikutnya. Pria dan wanita merespon stress dengan cara yang berbeda. Pria mengaktifkan amygdala di sebelah kanan otak mereka, wanita mengaktifkan sebelah kiri. Aktivasi sebelah kiri akan membuat orang lebih mengingat detil, aktivasi sebelah kiri akan membuat orang mengingat intinya. Kelola kelas dengan pengaturan gender berbeda. Buat tim lintas gender dalam dunia kerja.
Kita adalah penjelajah alami yang kuat; Hasrat untuk mengeksplorasi begitu besar dalam diri kita. Hasrat itu tetap ada meski kita berada dalam ruang kelas dan ruang kerja. Bayi adalah model cara kita belajar. Bukan dengan pasif terhadap lingkungan, tapi aktif berksplorasi, melakukan pengamatan, membuat dugaan, lakukan pengujian dan kesimpulan. Hebatnya, beberapa bagian otak dewasa tetap lentur seoerti bagian otak bayi supaya kita dapat menciptakan syaraf-syaraf dan mempelajari baru sepanjang hayat.
Penelitian mutakhir sistem kerja otak sebagaimana diuraikan oleh Caineand Caine (1991) dalam bukunya Making connection: Teaching and human brain, bahwa intelegensi seseorang ternyata bersifat dinamis dan dapat berkembang. Lebih daripada itu, intelegensi tidak hanya berkaitan dengan aspek cognitive semata, tetapi berkaitan pula dengan emosi, sehingga disebut dengan Emotion Intellegence yang disingkat EQ (sebagai pelengkap IQ). Bukti-bukti menunjukan bahwa dalam keberhasilan pendidikan seseorang peranan IQ hanya sekitar 20 %. Sisanya 80 % sebagian besar ditentukan oleh EQ dan faktor kedewasaan sosial. EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan aspek-aspek psikologis dalam diri sendiri yang mencakup a) amarah, b) kesedihan, c) rasa takut, d) kenikmatan, e) cin+a, f) terkejut, g) jengkel, dan, h) malu. Kemampuan mengendalikan aspek psikologis diperlukan agar EQ ini bisa bekerja secara harmonis dengan IQ. Singkat kata, kalau EQ baik otak akan dapat bekerja dengan baik pula. Dengan fakta-fakta tentang kerja otak ini, kekreatifan guru menjadi salah satu cara dalam meningkatkan mutu pendidikan. Jika guru kreatif, siswa yang menjadi anak didiknya akan mengikuti pelajaran dengan senang. Jika siswa senang, pelajaran yang disampaikan guru akan cepat dipahami siswa dan pada akhirnya siswa bisa mengembangkan ilmu yang diterimanya. Oleh karenanya penting sekali pembelajaran itu untuk menjadi menyenangkan setiap siswa.

From netsains.net
read more

Thursday, May 17, 2012

Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri

Saya sering mendapat pertanyaan dari pejuang beasiswa luar negeri (biasanyaAustralian Developmen Scholarship atau ADS) yang bernada seperti ini:
“saya alumni jurusan xxx dari uiversitas yyy. Saat ini saya sedang bekerja di zzz. Jurusan apa yang kira-kira cocok untuk saya dan di universitas mana ya?”
Karena saya tidak bekerja sebagai konsultan pendidikan, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih tidak mudah lagi karena bidang ilmu si penanya sangat amat jauh dengan apa yang sedang saya pelajari. Awalnya saya senyum-senyum saja menerima pertanyaan seperti ini dan di kesempatan lain ada perasaan kurang nyaman juga. Coba dibayangkan, misalnya, ada orang yang memiliki latar belakang aktuaria (jangan khawatir, saya juga tidak tahu barang apa ini) dan tiba-tiba mengirim email pada saya dan minta nasihat jurusan dan universitas yang tepat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penanya ini tidak tahu bahwa saya adalah sarjana Teknik Geodesi yang pekerjaannya bercengkrama dengan peta dan sekali-sekali berurusan dengan perbatasan.

Lambat laun saya menjadi terbiasa. Tidak jarang ada email yang bertanya tentang penelitian ekonomi, linguistik, psikologi, olah raga hingga kajian gender. Percayalah, tidak mudah bagi seorang surveyor seperti saya untuk memberi masukan apalagi petunjuk studi yang tepat bagi para penanya ini. Tapi biasanya saya beri masukan perihal cara memilih jurusan dan sekolah. Maka ini saya tuliskan agar bisa dibaca lagi oleh siapa saja yang mengalami kesulitan serupa.
Jika bidang ilmu Anda seperti bidang ilmu saya yang tidak popular, urusannya biasanya lebih mudah. Di Australia, misalnya, tidak banyak universitas memiliki jurusan Teknik Geodesi atau ilmu bumi yang spesifik seperti yang saya pelajari. Akibatnya, saya tidak mengalami kesulitan dalam memilih jurusan dan universitas. Jika Anda belajar bidang ilmu yang sangat umum seperti ekonomi atau politik, misalnya, urusannya bisa jauh lebih rumit.
Pertama, seorang pelamar barus menentukan bidang kajian yang diinginkan. Jika belum tahu bidang yang diinginkan, berarti Anda perlu menentukan dulu. Diskusi soal ini tentu saja bisa tiga hari tiga malam tidak selesai, jadi saya serahkan pada Anda untuk menentukannya. Pertimbangannya tentu saja bisa terkait pekerjaan yang dilakukan sekarang atau pekerjaan yang diinginkan di masa depan atau passion pribadi Anda yang mungkin tidak selalu terkait dengan trend dan pekerjaan di masa depan. Silakan menimbang-nimbang dan kemudian menentukan. Percayalah, yang paling tahu hal ini adalah mereka yang menekuni bidang ini.
Jika sudah cukup jelas bidang yang ingin dikaji, mulailah membaca buku atau artikel jurnal atau koran atau laporan terkait bidang tersebut. Yang perlu diutamakan adalah publikasi ilmiah seperti jurnal terkini di bidang tersebut. Jika tidak punya akses terhadap jurnal ilmiah, bisa menggunakan Google Scholar. Coba cari bidang kajian tersebut di Google Scholar maka artikel yang muncul dipastikan adalah artikel ilmiah. Ini penting agar Anda terhindar dari informasi tidak sahih yang saat ini bertebaran di dunia maya. Dengan banyak membaca bidang yang akan ditekuni, Anda mulai tahu nama ahli dan juga institusi tempat ahli itu bernaung. Dengan begini, Anda mulai bisa meraba-raba, institusi mana yang nantinya menjadi pilihan. Jika sama sekali tidak punya gambaran apa yang harus dibaca, coba main ke kampus tempat Anda menamatkan S1 dulu. Coba ngobrol dengan dosen pembimbing atau teman yang jadi dosen sekedar untuk menyegarkan ingatan akan keilmuan Anda. Biasanya akan ada ide. Jika Anda sudah bekerja, ngobrol dengan akademisi ini sangat bagus karena kedua belah pihak akan untung. Anda disegarkan dengan teori mapan, sang akademisi juga mendapat perspektif yang segar dari ‘dunia nyata’.
Jika Anda akan kuliah dengan komponen penelitian yang banyak (Master by Research atau PhD) maka membaca jurnal ilmiah ini sangat penting. Ini bisa jadi modal untuk menghubungi professor sebagai calon pembimbing. Jika Anda akan sekolah dengan sistem coursework, maka membaca jurnal ini setidaknya bisa memberi gambaran institusi mana yang cocok. Jurnal itu tentu ditulis oleh seorang pakar dan pakar itu pasti bernaung di sebuah institusi. Demikianlah caranya menentukan institusi. Jika Anda belum menemukan mood membaca karena sudah terlalu lama berada di luar ruang kelas, coba ikuti seminar di bidang keilmuan Anda. Jika malas membaca, biasanya bisa dirangsang dengan mendengar dan melihat dulu.
Cara lain adalah dengan melakukan pencarian menggunakan mesin pencari seperti Google. Jika sudah yakin dengan bidang kajian yang diminati maka lakukan pencarian dengan kata kuncinya tertentu dengan tambahan pembatasan bahwa pencarian itu khusus untuk mencari universitas saja. Caranya adalah dengan menambahkan ekstensi domain yang sesuai. JIka mencari bidang ilmu/kajian di universitas Australia maka harus menggunakan ekstensi domain universitas Australia. Anda harus tahu bahwa domain institusi pendidikan di Australia adalah edu.au. Indonesia misalnya menggunakan ac.id. Amerika menggunakan edu, Inggris menggunakan ac.uk, Belanda menggunakan nl, Singapura memakai edu.sg dan seterusnya. Misalnya jika Anda ingin belajar aktuaria di universitas di Australia maka coba ketikkan di Google actuarial studies site:edu.au. Hasilnya adalah website institusi pendidikan di Australia yang ada ada kata actuarial. Jika ingin menkuni pemetaan atau geodesi di Australia, coba surveying site:edu.au. Ini akan memudahkan Anda untuk memilih.
Setelah mendapatkan website beberapa universitas, kunjungi website tersebut dan pelajari program yang ada di situ. Umumnya program mereka akan sangat lengkap, terutama ada silabus/kurikulumnya. Biasanya ada juga daftar mata kuliah dan isinya secara singkat. Dengan memahami ini Anda akan mendapat gambaran yang lebih jelas apa yang bisa diharapkan jika belajar di program/jurusan tersebut. Selain melihat programnya, perhatikan juga penelitian dan terutama publikasi dosen/professor di jurusan/program tersebut. Biasanya, di websitenya akan ada link yang menjelaskan staff/dosen/peneliti yang bekerja di tempat itu. Masing-masing staf akan dijelaskan sedemikian rupa, misalnya soal sejarah pendidikannya, ketertarikan penelitiannya dan publikasi terkininya. Dengan memperhatikan itu, Anda akan bisa memahami seberapa produktif staf di jurusan tersebut. Semakin banyak publikasinya, tentu semakin baik. Dari daftar publikasi itu Anda juga akan tahu seberapa cocok bidang yang Anda minati dengan keahlian orang-orang yang ada di jurusan tersebut.
Selain soal publikasi, biasanya ada juga berita terkait peran jurusan itu di masyarakat atau asosiasi profesi terkait. Misalnya, seberapa sering stafnya ikut konferensi, mengadakan workshop, kerjasama dengan pemerintah, punya proyek dengan dunia industri dan sebagainya. Semakin banyak hal tersebut, semakin bagus peran jurusan itu di masyarakat, artinya Anda boleh menduga bahwa semakin terjamin pula kualitasnya, meskipun ini tidak selalu benar. Jika Anda berencana belajar di universitas tesebut dengan beasiswa maka harus dicek apakah beasiswa tersebut bersedia mendanai Anda untuk belajar di universitas pilihan itu. Beasiswa ADS misalnya memiliki daftar universitas tertentu yang diijinkan. Jika hasil pencarian Anda tidak termasuk dalam daftar ini maka artinya Anda tidak bisa melamar Beasiswa ADS. Solusinya, pilih universitas lain atau pilih jenis beasiswa lain.
Untuk mengkonfirmasi kualitas suatu jurusan/universitas, coba juga cari orang Indonesia yang sedang atau pernah sekolah di jurusan tersebut. Caranya? Dengan menghubungi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di universitas tersebut. Belum tahu caranya? Coba gunakan Google dengan kata kunci “Indonesian Students” “University of X” atau “Perhimpunan Pelajar Indonesia” “University of X”. Jika masih kesulitan, coba lihat website oisaa.org dan cari PPI di negara yang dimaksud. Setelah ketemu kontak/website PPI suatu negara, coba tanyakan PPI di universitas yang Anda inginkan. Di Australia, misalnya, PPI itu berjenjang, mulai dari PPI Australia Pusat yang menaungi satu negara, PPI Cabang dengan lingkup negara bagian dan PPI ranting yang berada di suatu universitas. Jika yang Anda cari memang ada, pasti akan dibantu. Kalau saja Anda serius untuk melakukan pencarian ini dalam waktu 1 jam saja, saya yakin PASTI bisa mendapatkan kontak. Soal ada respon atau tidak, itu adalah cerita lain. Dengan jejaring social saat ini, mencari orang atau organisasi adalah pekerjaan yang sangat amat mudah.
Kadang ada yang bertanya, selain kualitas bidang ilmu tertentu di sebuah institusi, apalagi pertimbangan lain untuk memilih universitas. Salah satu yang sering dipertimbangkan adalah rangking universitas tersebut menurut standard umum, misalnya menurut Times Higher Education. Di Australia, misalnya ada konsorsium Group of Eight yg mengklaim sebagai delapan universitas dengan kualitas khusus di Australia. Anda mungkin juga ingin menjadi mahasiswa dari salah satu universitas tersebut untuk alasan kualitas atau prestise. Bagaimanapun juga prestise itu penting meski urusan kualitas diri itu seringkali adalah urusan diri sendiri.
Tulisan ini bisa menjadi satu buku yang sangat tebal karena ada banyak sekali pertimbangan dalam memilih jurusan atau sekolah di luar negeri. Yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah bahwa memilih sekolah itu sebaiknya didasarkan pada riset mendalam yang dilakukan sendiri dengan kriteria yang ditetapkan. Beberapa kriteria itu sudah saya contohkan di atas. Yang jelas, bertanya pada seseorang secara singkat dengan kalimat “Universitas X dan Y itu bagus mana ya?” tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Untuk membandingkan, harus ada kriteria yang jelas. Tidak jarang calon mahasiswa mementingkan gedung yang mentereng atau lokasi yang strategis dekat pusat perbelanjaan dibandingkan jumlah koleksi buku/jurnal di perpustakaan universitas tersebut. Mana yang ingin Anda bandingkan? Sepemahaman saya, tidak ada satu institusipun yang segalanya lebih baik dari institusi lain. Rangking itu relatif, tergantung kriteria yang dipakai.
Sebelum bertanya, ada baiknya kita menyempatkan diri melakukan pencarian sendiri sebisa mungkin. Akan lebih baik jika kemudian kita bertanya pada orang lain dengan kalimat “saya sudah mengunjungi website universitas A, B, C dan D lalu membandingkan criteria X, Y, Z dari keempatnya. Saya kira Univesitas C ada di posisi yg lebih baik dari tiga universitas lainnya. Yang belum berhasil saya temukan adalah soal Z. Apakah Mas/Mbak bisa membantu saya mendapatkan informasi ini?” Berkaca pada diri sendiri, saya akan jauh lebih bersemangat membantu orang dengan gaya seperti ini. Saya yakin, banyak orang lain juga demikian. Selain ini bedampak sehat bagi orang yang ditanya, bersekolah pada dasarnya adalah sebuah proses pencarian mandiri. Latihan untuk Ini bisa dimulai saat mencari jurusan dan universitas yang tepat. Selamat berjuang.

From netsains.com
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More