Showing posts with label informasi. Show all posts
Showing posts with label informasi. Show all posts

Friday, August 3, 2012

Cuma 5% Orang Tua yang Khawatir Anaknya Akses Konten Dewasa

Ada banyak bahaya yang mengancam anak-anak di dunia maya, dan tidak semua anak maupun orang tua siap menghadapinya. Ternyata jumlah orang tua yang punya prioritas melindungi anaknya dari konten dewasa masih cukup minim. Dari survei yang dilakukan Harris Interactive pada 9000 user internet di Amerika, Rusia, dan Eropa pada Februari hingga Maret 2012, hanya 5% saja user yang memprioritaskan proteksi anak mereka dari konten dewasa.
Di sisi lain, komunitas online saat ini semakin banyak yang berusia muda, dengan laptop atau ponsel pintarnya. Bahkan anak-anak sekolah pun sudah terbiasa dengan perangkat elektronik canggih tersebut. Sebanyak 35% dari mereka mengakses internet dari ponsel, dan 62% dari ponsel pintar.
Dengan kondisi tersebut, selayaknya makin banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka yang kian banyak menghabiskan waktu di chat room atau social media. Sebesar 10% dari responden mengkhawatirkan hal tersebut. Mereka takut anak-anaknya mengalami atau terlibat kekerasan virtual, atau mengakses konten terlarang. Hal lain yang juga dikhawatirkan adalah anak-anak memberikan informasi penting ke orang tak dikenal.
Adabeberapa software yang bisa dipakai orang tua untuk memonitor perilaku online anak-anak mereka, khususnya yang masih di bawah umur. Salah satunya modul Parental Control dari Kaspersky Internet Security 2012 yang dapat mengatur akses anak ke web dan aplikasi, serta memantau komunikasi mereka dengan teman-teman di social media. Selain diinstal di komputer, software ini juga bisa diintal di ponsel pintar maupun tablet, seperti Kaspersky Parental Control for Android. Program ini dapat memblokir web yang berisi konten dewasa atau berbahaya bagi anak-anak.
Selain memasang software pelindung, orang tua juga sebaiknya mengajak anak berkomunikasi dan berdiskusi mengenai bahaya yang mengancam di dunia maya.

from netsains.net
read more

Saturday, May 26, 2012

Kedubes Jepang Tawarkan Beasiswa untuk Lulusan SMA

Pemerintah Jepang membuka tawaran beasiswa (Monbukagakusho) bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dari seluruh Indonesia yang memenuhi syarat. Hal itu disampaikan dalam siaran pers Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Senin (14/5/2012).
Beasiswa diberikan bagi mereka yang lulus persyaratan untuk melanjutkan ke jenjang-jenjang pendidikan Universitas (S-1), College of Technology (D-3), atau Professional Training College (D-2) di Jepang mulai tahun akademik 2013 (April 2013).
Pelamar hanya bisa mendaftar 1 (satu) program dari S-1, D-3, atau D-2. Sejumlah syarat yang diterapkan antara lain (1) Lahir antara tanggal 2 April 1991 dan tanggal 1 April 1996. (2) Nilai rata-rata ijazah atau rapor kelas 3 semester/cawu terakhir minimal: 8,4 untuk program S-1, 8,0 untuk program D-3, dan 8,0 untuk program D-2
Jika pada saat penutupan (15 Juni 2012) nilai ijazah asli belum bisa dikeluarkan, maka nilai ijazah sementara dari Kepala Sekolah bisa diterima.
Pelamar harus lulus dari SLTA, atau akan lulus maksimal 31 Maret 2013. Lebih lanjut, formulir bisa diunduh dari situs Kedubes Jepang di alamat ini.
Formulir yang dikirimkan harus disertai fotokopi rapor, ijazah, dan nilai ijazah sampai tanggal 15 Juni 2012. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Kedutaan Besar Jepang di bagian Pendidikan, dengan nomor 021-3192-4308 Ext. 175, 176.

From kompas.com
read more

Friday, May 18, 2012

Fisika Tidak Mudah, Tapi Indah

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata mekanika, kalor, listrik, magnet, dan relativitas? Bagi anda yang pernah duduk di bangku SMP dan SMA pasti sudah mengenal kelima kata tersebut. Maafkan saya apabila di antara kalian ada yang trauma setelah diingatkan kembali dengan kelima kata tersebut, dan tidak perlu berterima kasih juga bagi kalian yang begitu gembira dan semangat ketika mendengar kata-kata tersebut.
Di sini saya tidak berpihak kepada siapa pun. Hanya saja, ada yang perlu kalian ketahui di luar sana daripada hanya mengingat hasil ulangan yang membuat anda kecewa atau mengingat begitu pintarnya anda ketika mendapatkan nilai tertinggi dalam mata ujian fisika. Selamat bagi anda yang sudah mampu mencengkeram fisika hingga mengantarkan anda berdiri di atas podium untuk menerima penghargaan, dan tetaplah untuk berpikir positif bagi anda yang dulu atau saat ini kurang beruntung dengan fisika. Kalau para ilmuwan mengatakan bahwa kimia merupakan the center of science, maka saya berani mengatakan bahwa fisika adalah a beautiful angel yang akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Namun, tidak banyak para pemuda yang tahu, karena mereka masih terikat dengan paradigma-paradigma yang membuat mereka tidak bisa merasakan keindahan fisika.
Paradigma-paradigma seperti hanya mengandalkan belajar secara pasif, sistem kejar materi semalam, menghapal banyak rumus, dan anggapan bahwa fisika itu tidak lebih dari sekedar kebutuhan kurikulum sekolah, masih membelenggu kreatifitas berpikir sebagian dari para pelajar. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang masih mempercayakan nasibnya pada rumus-rumus instan. Itu bukan cara yang tepat dalam memperlakukan fisika. Sama seperti disiplin ilmu lainnya, fisika perlu pemahaman dan kreatifitas. Pemahaman dan kreatifitas itu tidak akan datang hanya dari belajar secara pasif dan dalam satu malam saja, tapi datang dari kerja keras, cara belajar yang tepat, dan kebiasaan kita untuk berlatih menyelesaikan soal-soalnya secara rutin. Jangan membelenggu diri kita sendiri dengan kebiasaan-kebiasaan yang keliru. Coba saja simak cara belajar dari para pemenang Olimpiade Fisika Internasional.
Apakah mereka hanya golongan orang-orang yang memiliki IQ tinggi saja? Tidak! Mereka adalah orang-orang yang mau mengurangi sedikit waktu tidurnya untuk memahami, memperkuat konsep dasar, dan berlatih soal-soal dari mulai tingkat kesulitan yang rendah hingga tingkat kesulitan yang paling tinggi secara rutin. Ketika kebiasaan tersebut rutin kita lakukan, kita akan terbiasa untuk memodifikasi persamaan dari konsep dasar sesuai dengan kebutuhan dalam memecahkan permasalahan-permasalahaan fisika, sesulit apa pun itu.
Seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tidak hanya orang yang memiliki IQ tinggi saja yang bisa menguasai fisika, tetapi semua orang yang mempunyai kemauan untuk bekerja keras pun bisa. Namun, bukan berarti fisika itu mudah. Ukuran susah dan mudah itu sangat relatif. Kita hanya perlu visualisasi yang tepat dalam memahami setiap konsepnya, dan pemahaman itu baru bisa kita dapatkan apabila kita telah mengenal filosofi fisika dengan baik. Syarat fundamental tersebut sangat diperlukan dalam memulai belajar fisika, tentunya didukung dengan semangat dan motivasi yang tinggi. Motivasi itu bisa datang dari mana saja, salah satunya dari mimpi. Kita tidak dilarang untuk bermimpi. Mimpi adalah aset mesin waktu[1] kita yang sangat berharga. Cukup kita bayangkan bagaimana jadinya menjadi orang yang mampu menguasai fisika, mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, menjadi pemenang dalam olimpiade, apalagi mampu memenangkan hadiah nobel. Lalu, kita bayangkan tatapan mata semua orang yang kagum dan gemuruh tepuk tangan saat kita berdiri di atas podium. Mimpi-mimpi tersebut akan memberikan semangat yang luar biasa untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memahami konsep-konsep fisika dan menemukan ide orisinilnya. Pemahaman konsep dasar yang kuat adalah kunci utama dalam menjawab permasalahan fisika di segala kondisi.
Sejak duduk di bangku SMP dan SMA kita dikenalkan dengan beragam rumus-rumus fisika, mulai dari kinematika, dinamika, optik, momentum, impuls dan beragam materi mekanika lainnya. Namun, masih sering dijumpai beberapa pelajar yang selalu bertanya “Untuk mengerjakan soal ini rumusnya apa?” padahal sebelumnya dia sudah mempelajari persamaan dari beberapa hukum fisika yang sebenarnya menjadi konsep dasar dari solusi soal yang dia tanyakan. Bedanya, untuk soal tersebut diperlukan sedikit modifikasi dan kreatifitas. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang diperintahkan untuk mengerjakan 100 soal mekanika. Akibat dari kebiasaannya yang lebih mengedepankan hapal rumus daripada paham konsep, dia menyalahkan si pembuat soal, karena tidak ada satu soal pun yang cocok dengan contoh soal yang dia temukan di dalam buku. Padahal, semua permasalahan mekanika yang dia jumpai hanya perlu sedikit modifikasi dari persamaan hukum Newton.
Sebenarnya, perumusan fisika secara matematis itu datang belakangan. Mengenai keberadaan fisika itu sendiri bermula dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang dihadapinya, baik mikrokosmos (alam kecil) maupun makrokosmos (alam besar), hingga akhirnya tertarik untuk mengadakan penelitian. Bagaimana Newton bisa menggagas teori gravitasi? Bagaimana Michael Faraday bisa menggagas hukumnya tentang GGL induksi elektromagnetik? Semuanya berasal dari ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar. Kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangun yang teratur itu terkumpul menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Namun, pernyataan secara kualitatif saja belum cukup, seperti apa yang dikatakan oleh Lord Kelvin, bahwa “Pernyataan fisika itu belum lengkap apabila tidak disertai dengan data matematis.” Misalnya, kita tahu bahwa galaksi bima sakti itu luas, tapi seberapa luaskah itu luas? Bagaimana luasnya jika dibandingkan dengan galaksi andromeda? Atau, kita merasakan bahwa air itu panas, tapi seberapa panas air itu panas? Bagaimana dengan panas tubuh orang yang sedang demam? Seberapa panas tubuhnya panas? Seberapa besar perbedaan panas antara air panas dengan tubuh yang demam tersebut? Kita tidak bisa menjawabnya tanpa menggunakan data matematis.
Ada sebuah cerita menarik yang bisa kita terapkan dalam mempelajari fisika. Cerita tentang sebuah ember, batu-batuan, pasir, dan air. Pada mulanya, ember belum terisi apa-apa, dan di sekitar ember itu tersedia batuan dari mulai batu besar, batu kerikil, pasir, dan air yang harus mengisi penuh ember tersebut dengan proporsional. Sebaiknya kita mulai mengisi ember tersebut dengan batu besar terlebih dahulu hingga penuh, lalu kita mengisinya dengan batu-batu kerikil hingga penuh, kemudian mengisinya kembali dengan pasir hingga penuh, baru kita isi dengan air hingga penuh. Hasil akhir, kita akan mendapatkan ember yang berisi batu besar, batu kerikil, pasir dan air dengan proporsional.
Sebaliknya apa jadinya apabila kita mengisi terlebih dahulu ember tersebut dengan air hingga penuh? Sebagian air akan tumpah kembali saat kita memasukan pasir, batu kerikil dan batu besar. Sesuai dengan hukum archimedes bahwa: “Jika benda tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair, maka zat cair tersebut akan dipindahkan sebesar volum benda yang dicelupkan.” Hasilnya, pengisian ember dengan air sebelumnya menjadi sia-sia. Kisah ini mengajarkan bagaimana seharusnya belajar fisika dengan baik dan benar. Apabila otak kita diisi terlebih dulu dengan hapalan-hapalan rumus baru setelah itu mengerjakan soal, ingatan rumus-rumus dalam otak kita bisa tumpah dan sia-sia, karena tidak ada fondasi kuat yang menahannya. Seharusnya kita isi dengan pemahaman yang kuat terlebih dulu, baru setelah itu kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis. Poin penting yang harus kita perhatikan selanjutnya adalah visualisasi dalam belajar fisika. Dalam mempelajari fisika, sebaiknya tidak hanya sekedar membaca buku, dan pasif di kelas saja. Cobalah keluar dan temukan peristiwa-peristiwa yang menarik di alam sekitar kita. Banyak sekali fenomena-fenomena fisika yang begitu cantik apabila kita amati dan kita renungkan. Misalnya, fenomena optik sederhana seperti kenapa sayap kupu-kupu dan bulu burung merak memancarkan warna-warna yang begitu cantik? Padahal, tidak dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen. Tidak hanya itu, fenomena serupa seperti aurora, pelangi, matahari kembar, halo, fatamorgana dan masih banyak lagi yang lainnya.
            Fisika adalah a beautiful Angel. Seperti malaikat, fisika akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Bagaimana tidak? Pasalnya, peralatan canggih yang hampir sering kita jumpai sekarang mayoritas adalah peralatan-peralatan fisika, seperti kipas angin, dispenser, rice cooker, oven, televisi, telefon seluler, motor, mobil, dan masih banyak lagi. Meskipun di samping itu terdapat pula konsekuensi dari efek negatifnya. Hampir semua disiplin ilmu sains bahkan ilmu sosial memerlukan konsep fisika. Biologi tidak akan berkembang dengan pesat tanpa adanya peralatan-peralatan biofisika yang membantu dalam melakukan penelitian seperti mikroskop, termometer, neraca, pendingin dan peralatan lainnya. Begitu pun dengan disiplin ilmu sains lainnya, tidak terlepas dari keberadaan fisika, dari mulai elektro dengan fisika listrik, astronomi dan kosmologi dengan astrofisika, telekomunikasi dengan fisika elektromagnetik, kimia dengan fisika material, pertambangan/geologi dengan geofisika, hingga ilmu ekonomi dengan ekonofisika.
            Pada saat bumi ini masih gelap gulita di setiap malam hari, dan belum ditemukan peralatan teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia, kehidupan terasa sangat sulit dan melelahkan. Berbeda dengan masa sekarang. Tidak perlu pergi jauh-jauh untuk melihat saudara-saudara kita atau hanya sekedar menyampaikan rasa rindu karena kita memiliki televisi dan telefon, tidak perlu khawatir lagi akan ketinggalan informasi karena teknologi informasi semakin deras, tidak perlu repot-repot menggambar untuk mengabadikan atmosfer kebersamaan bersama keluarga karena kita memiliki kamera dengan bentuk dan aplikasi yang semakin bervariasi. Kita tidak perlu bingung bagaimana caranya melintasi samudra, karena kita memiliki pesawat. Hampir setiap aktifitas yang kita lakukan berkaitan erat dengan fisika. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi orang-orang yang tidak menyukai fisika untuk menjauhi fisika.
            Selain di siang hari, sempatkanlah di malam hari untuk menatap langit yang berisi banyak sup galaktik yang cantik. Alam semesta ini terlalu indah untuk kita sia-siakan. Penciptaannya yang begitu apik dan tertib. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Mulai dari bagaimana gaya gravitasi matahari yang dikerjakan oleh matahari pada bumi dan planet-planet lain bisa bertanggungjawab untuk mempertahankan planet-planet pada orbitnya mengelilingi matahari, gaya gravitasi yang dikerjakan oleh bumi pada bulan bisa menjaga bulan pada orbitnya dalam mengelilingi bumi, hingga banyaknya bintang, batuan meteor, planetoid, planet-planet dalam galaksi yang berbeda namun masih bisa bertahan dan berdampingan satu sama lain. Semakin kita mengenal fisika, semakin banyak fenomena-fenomena yang sebelumnya dianggap tabu dan mistik kini terungkap secara ilmiah. Selain itu, kita bisa mengenal Allah lebih dekat dengan melihat semua fenomena alam semesta sebagai hasil penciptaan-Nya.
            Sudah saatnya kita hilangkan ketergantungan terhadap paradigma-paradigma yang selama ini kita anggap benar, padahal keliru. Belajar fisika tidak sekedar hanya membaca buku dan pasif di kelas, apalagi masih menerapkan sistem kejar materi semalam, dan menghapal banyak rumus. Tapi, belajar fisika itu dimulai dengan membangun fondasi yang kokoh dari memahami konsep, kemudian kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis, dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi. Fisika tidak Mudah, karena permasalahan fisika adalah permasalahan alam, sedangkan alam semesta ini tidak terbatas. Namun, kita akan mampu menghadapi sesulit apa pun permasalahan fisika, ketika kita berhasil memahami dan mengembangkan konsep dasarnya secara rutin dalam bentuk persamaan matematika sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi, insting kita dalam memecahkan permasalahan fisika akan terbentuk dan kita akan merasakan keindahan yang membuat candu dalam setiap misteri yang disajikan oleh alam semesta ini.

[1] Mesin waktu yang dimiliki manusia adalah ingatan dan mimpi. Jika kita ingin pergi ke masa lalu, kita hanya perlu mengingatnya. Sedangkan jika kita ingin pergi ke masa depan, kita hanya perlu bermimpi.

From netsains.net
read more

Ketika Tempe Menjadi Elit

Ketergantungan produk pangan kita terhadap bahan baku yang berasal dari impor, tentu bukan hal baru. Semenjak krisis hingga sekarang belum sedikit pun kita mampu mencapai kesuksesan kita berswasembada pangan di awal tahun 90-an. Padahal dari segi potensi sumber daya alam, bukan hal yang mustahil kita dapat menjadi bangsa pengekspor bahan pangan dunia. Tetapi mengapa ada kecenderungan “impor minded” bukan “domestic minded” ? Apakah kita sudah terlanjur berbangga dengan produk-produk asing?
Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap produk impor memiliki kualitas lebih bagus dibandingkan produk dalam negeri. Dari berbagai survei, ternyata konsumer kita masih import minded. Banyak yang berpendapat kalau produk dalam negeri jelek, lebih bagus luar negeri. Hingga tanpa kita sadari produk lokal kita, sebagian besar telah mengandung komponen impor hingga mendekati angka 100%, ambil contoh tempe yang biasa kita konsumsi setiap hari. Makanan yang sering dinyatakan sebagai makanan asli Indonesia dan telah menjadi konsumsi sehari-hari sebagian masyarakat Indonesia, ternyata barang “impor”, karena kandungan lokal yang ada pada tempe hanya sekitar 33 persen, sementara 67 persen lainnya merupakan komoditas dari impor. Sehingga pada akhirnya tanpa kita sadari tempe kita telah menjadi elit. Tetapi bukan karena kemasannya tetapi elit karena berbahan baku impor
Beralih dari persoalan tempe yang menjadi karena berbahan baku impor, dalam persoalan budaya hari ini bahasa asing adalah sesuatu yang saat ini menjadi fokus titik perhatian banyak orang tua saat mencari sekolah bagi anaknya. Bahasa Inggris, bahkan bahasa ketiga, bahasa Mandarin misalnya seolah menjadi pertanda dari sebuah sekolah yang baik. Semakin banyak orang tua begitu berambisi untuk semakin dini mendorong anak-anaknya mampu berbahasa Inggris? Hingga tumbuh kuat pandangan bahwa bahwa kita menjadi modern (maju) saat bisa berbahasa Inggris dan segala yang kita lakukan sehari-hari terkait hal-hal yang datang dari luar (diimpor).
Impor dan Persoalan Budaya
Kalau ditinjau motivasinya secara pribadi, kemungkinan ada beberapa faktor di belakangnya. Pertama orang tua memang berencana untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri atau untuk pindah berdomisili keluar Indonesia. Ini muncul dari faktor kebutuhan. Kedua, yang saya amati lebih banyak terjadi, motivasi orang tua lebih banyak didasari gengsi. Bangga rasanya saat anak bisa mengucap kata-kata berbahasa asing. Mungkin seperti itu tadi, ada perasaan maju atau modern. Jadi ini tumbuh lebih karena gengsi atau istilah kerennya lifestyle. Atau mungkin orang tua merasa tenang saat anaknya mampu mengucap kata-kata dalam bahasa Inggris.
Tapi kalau kita coba bertanya kritis, untuk mayoritas kita masyarakat Indonesia, apakah ada kebutuhan anak untuk segera bicara bahasa asing, berkomunikasi secara aktif misalnya dalam bahasa Inggris? Di rumah, apakah komunikasi dijalankan dalam bahasa Inggris? Lalu di masyarakat luar rumahnya? Bahasa Inggriskah? Saya kira jawabannya tidak. Lalu apa dan bagaimana selanjutnya, ini yang harus kita lihat lebih jauh.
Bahasa pada dasarnya adalah sangat kultural, terkait erat dengan kebudayaan. Karena kultural, tentunya kemampuan berbahasa adalah juga terkait erat faktor genetis. Faktor genetis sangat mudah dijelaskan melalui dialek atau logat. Kenapa masyarakat Jawa langgam bahasanya sangat berbeda dengan masyarakat Maluku atau Batak, misalnya. Kebudayaan sangat terkait dengan situasi atau konteks sebuah masyarakat. Pada negara-negara di Eropa, bahasa-bahasa tumbuh dari rumpun bahasa yang berdekatan. Ini yang menyebabkan bahasa Jerman dan Belanda mirip satu sama lain. Logika dan struktur bahasanya serupa. Dan karena secara geografis kultur yang berbeda sangat berdekatan, pertukaran budaya sangat mudah terjadi, sehingga masyarakat di sana cenderung lebih mudah untuk menguasai bahasa yang berbeda.
Berbeda halnya dengan Jepang, misalnya. Walaupun kita tahu masyarakatnya secara intelegensi sangat cerdas, mereka cenderung lebih sulit menguasai bahasa kedua. Kita tahu cukup sulit orang-orang Jepang untuk menguasai bahasa Inggris misalnya. Sama halnya dengan orang Korea. Kalau kita amati mungkin karena Jepang adalah negara kepulauan dan ini punya pengaruh besar dalam proses mereka belajar berbahasa asing.
Berangkat dari latar belakang ini tentu akan terdapat persoalan tersendiri disaat anak didik kita harus menguasai bahasa asing, terutama bahasa inggris yang saat ini diterapkan dibeberapa sekolah internasional. Meski menurut Mendikbud Prof. M. Nuh penggunaan bahasa Inggris di sekolah internasional bukan melunturkan budaya Indonesia justru dengan bahasa asing tersebut, para siswa bisa melakukan ekspansi ke dunia internasional. Tentu ekspansi yang dimaksud oleh Prof. M. Nuh adalah upaya kita mengejar kesenjangan dengan negara-negara asing, dan sebagaimana kita ketahui hal ini bukan pada penguasaan bahasa tetapi pada penguasaan teknologi. Akar permasalahan bukan pada bahasa tetapi pada ilmu pengetahuan, sebab hal terpenting bukanlah mengejar penguasaan bahasa asing melainkan ilmu dari negara-negara asing. Negara seperti Jepang, China, Korea berhasil menjadi negara “raksasa” bukan dengan meninggalkan bahasa ibunya. Jepang memulainya dengan memiliki lembaga penerjemah sendiri sehingga semua buku asing yang masuk ke negara itu bisa diterjemahkan ke bahasa Jepang. Dalam teori psikolinguistik, sepandai-pandainya orang berbahasa kedua, tetap saja bahasa pertama yang diingat. Janganlah kita terjebak untuk membuat warga kita “minder” sejak dini, karena mereka melihat bahwa bahasa Inggris itu lebih maju sehingga bisa membuat mereka mengabaikan bahasa Indonesia.
Bagaimanapun yang namanya bahasa pertama (first language – dalam bahasa Inggris) tidak pernah bisa digantikan dengan bahasa asing. Jadi memang bahasa pertama harus pertama-tama dikuasai sebelum seseorang mempelajari bahasa kedua. Bahasa adalah bukan sekedar sebuah keterampilan atau skill, dia punya peran luar biasa dalam pembentukan identitas seseorang. Bahasa punya keterkaitan luar biasa dengan proses pembentukan kesadaran dan kedewasaan budaya seseorang. Sebagai sebuah proses, menjadi dewasa adalah sesuatu yang memerlukan waktu dan tidak dapat dengan begitu saja dipercepat atau dilewati tahapan-tahapannya. Bahasa asing, tidak hanya bahasa Inggris adalah keterampilan yang menjadi luar biasa penting dalam era informasi dan komunikasi ini. Saat kita mampu menguasai banyak bahasa asing, hal ini akan sangat menentukan bagaimana kita bisa berinteraksi secara global. Yang harus diperhatikan adalah jangan sampai kita menjadi asing justru di masyarakat kita sendiri.

From netsains.net
read more

Thursday, May 17, 2012

Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri

Saya sering mendapat pertanyaan dari pejuang beasiswa luar negeri (biasanyaAustralian Developmen Scholarship atau ADS) yang bernada seperti ini:
“saya alumni jurusan xxx dari uiversitas yyy. Saat ini saya sedang bekerja di zzz. Jurusan apa yang kira-kira cocok untuk saya dan di universitas mana ya?”
Karena saya tidak bekerja sebagai konsultan pendidikan, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih tidak mudah lagi karena bidang ilmu si penanya sangat amat jauh dengan apa yang sedang saya pelajari. Awalnya saya senyum-senyum saja menerima pertanyaan seperti ini dan di kesempatan lain ada perasaan kurang nyaman juga. Coba dibayangkan, misalnya, ada orang yang memiliki latar belakang aktuaria (jangan khawatir, saya juga tidak tahu barang apa ini) dan tiba-tiba mengirim email pada saya dan minta nasihat jurusan dan universitas yang tepat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penanya ini tidak tahu bahwa saya adalah sarjana Teknik Geodesi yang pekerjaannya bercengkrama dengan peta dan sekali-sekali berurusan dengan perbatasan.

Lambat laun saya menjadi terbiasa. Tidak jarang ada email yang bertanya tentang penelitian ekonomi, linguistik, psikologi, olah raga hingga kajian gender. Percayalah, tidak mudah bagi seorang surveyor seperti saya untuk memberi masukan apalagi petunjuk studi yang tepat bagi para penanya ini. Tapi biasanya saya beri masukan perihal cara memilih jurusan dan sekolah. Maka ini saya tuliskan agar bisa dibaca lagi oleh siapa saja yang mengalami kesulitan serupa.
Jika bidang ilmu Anda seperti bidang ilmu saya yang tidak popular, urusannya biasanya lebih mudah. Di Australia, misalnya, tidak banyak universitas memiliki jurusan Teknik Geodesi atau ilmu bumi yang spesifik seperti yang saya pelajari. Akibatnya, saya tidak mengalami kesulitan dalam memilih jurusan dan universitas. Jika Anda belajar bidang ilmu yang sangat umum seperti ekonomi atau politik, misalnya, urusannya bisa jauh lebih rumit.
Pertama, seorang pelamar barus menentukan bidang kajian yang diinginkan. Jika belum tahu bidang yang diinginkan, berarti Anda perlu menentukan dulu. Diskusi soal ini tentu saja bisa tiga hari tiga malam tidak selesai, jadi saya serahkan pada Anda untuk menentukannya. Pertimbangannya tentu saja bisa terkait pekerjaan yang dilakukan sekarang atau pekerjaan yang diinginkan di masa depan atau passion pribadi Anda yang mungkin tidak selalu terkait dengan trend dan pekerjaan di masa depan. Silakan menimbang-nimbang dan kemudian menentukan. Percayalah, yang paling tahu hal ini adalah mereka yang menekuni bidang ini.
Jika sudah cukup jelas bidang yang ingin dikaji, mulailah membaca buku atau artikel jurnal atau koran atau laporan terkait bidang tersebut. Yang perlu diutamakan adalah publikasi ilmiah seperti jurnal terkini di bidang tersebut. Jika tidak punya akses terhadap jurnal ilmiah, bisa menggunakan Google Scholar. Coba cari bidang kajian tersebut di Google Scholar maka artikel yang muncul dipastikan adalah artikel ilmiah. Ini penting agar Anda terhindar dari informasi tidak sahih yang saat ini bertebaran di dunia maya. Dengan banyak membaca bidang yang akan ditekuni, Anda mulai tahu nama ahli dan juga institusi tempat ahli itu bernaung. Dengan begini, Anda mulai bisa meraba-raba, institusi mana yang nantinya menjadi pilihan. Jika sama sekali tidak punya gambaran apa yang harus dibaca, coba main ke kampus tempat Anda menamatkan S1 dulu. Coba ngobrol dengan dosen pembimbing atau teman yang jadi dosen sekedar untuk menyegarkan ingatan akan keilmuan Anda. Biasanya akan ada ide. Jika Anda sudah bekerja, ngobrol dengan akademisi ini sangat bagus karena kedua belah pihak akan untung. Anda disegarkan dengan teori mapan, sang akademisi juga mendapat perspektif yang segar dari ‘dunia nyata’.
Jika Anda akan kuliah dengan komponen penelitian yang banyak (Master by Research atau PhD) maka membaca jurnal ilmiah ini sangat penting. Ini bisa jadi modal untuk menghubungi professor sebagai calon pembimbing. Jika Anda akan sekolah dengan sistem coursework, maka membaca jurnal ini setidaknya bisa memberi gambaran institusi mana yang cocok. Jurnal itu tentu ditulis oleh seorang pakar dan pakar itu pasti bernaung di sebuah institusi. Demikianlah caranya menentukan institusi. Jika Anda belum menemukan mood membaca karena sudah terlalu lama berada di luar ruang kelas, coba ikuti seminar di bidang keilmuan Anda. Jika malas membaca, biasanya bisa dirangsang dengan mendengar dan melihat dulu.
Cara lain adalah dengan melakukan pencarian menggunakan mesin pencari seperti Google. Jika sudah yakin dengan bidang kajian yang diminati maka lakukan pencarian dengan kata kuncinya tertentu dengan tambahan pembatasan bahwa pencarian itu khusus untuk mencari universitas saja. Caranya adalah dengan menambahkan ekstensi domain yang sesuai. JIka mencari bidang ilmu/kajian di universitas Australia maka harus menggunakan ekstensi domain universitas Australia. Anda harus tahu bahwa domain institusi pendidikan di Australia adalah edu.au. Indonesia misalnya menggunakan ac.id. Amerika menggunakan edu, Inggris menggunakan ac.uk, Belanda menggunakan nl, Singapura memakai edu.sg dan seterusnya. Misalnya jika Anda ingin belajar aktuaria di universitas di Australia maka coba ketikkan di Google actuarial studies site:edu.au. Hasilnya adalah website institusi pendidikan di Australia yang ada ada kata actuarial. Jika ingin menkuni pemetaan atau geodesi di Australia, coba surveying site:edu.au. Ini akan memudahkan Anda untuk memilih.
Setelah mendapatkan website beberapa universitas, kunjungi website tersebut dan pelajari program yang ada di situ. Umumnya program mereka akan sangat lengkap, terutama ada silabus/kurikulumnya. Biasanya ada juga daftar mata kuliah dan isinya secara singkat. Dengan memahami ini Anda akan mendapat gambaran yang lebih jelas apa yang bisa diharapkan jika belajar di program/jurusan tersebut. Selain melihat programnya, perhatikan juga penelitian dan terutama publikasi dosen/professor di jurusan/program tersebut. Biasanya, di websitenya akan ada link yang menjelaskan staff/dosen/peneliti yang bekerja di tempat itu. Masing-masing staf akan dijelaskan sedemikian rupa, misalnya soal sejarah pendidikannya, ketertarikan penelitiannya dan publikasi terkininya. Dengan memperhatikan itu, Anda akan bisa memahami seberapa produktif staf di jurusan tersebut. Semakin banyak publikasinya, tentu semakin baik. Dari daftar publikasi itu Anda juga akan tahu seberapa cocok bidang yang Anda minati dengan keahlian orang-orang yang ada di jurusan tersebut.
Selain soal publikasi, biasanya ada juga berita terkait peran jurusan itu di masyarakat atau asosiasi profesi terkait. Misalnya, seberapa sering stafnya ikut konferensi, mengadakan workshop, kerjasama dengan pemerintah, punya proyek dengan dunia industri dan sebagainya. Semakin banyak hal tersebut, semakin bagus peran jurusan itu di masyarakat, artinya Anda boleh menduga bahwa semakin terjamin pula kualitasnya, meskipun ini tidak selalu benar. Jika Anda berencana belajar di universitas tesebut dengan beasiswa maka harus dicek apakah beasiswa tersebut bersedia mendanai Anda untuk belajar di universitas pilihan itu. Beasiswa ADS misalnya memiliki daftar universitas tertentu yang diijinkan. Jika hasil pencarian Anda tidak termasuk dalam daftar ini maka artinya Anda tidak bisa melamar Beasiswa ADS. Solusinya, pilih universitas lain atau pilih jenis beasiswa lain.
Untuk mengkonfirmasi kualitas suatu jurusan/universitas, coba juga cari orang Indonesia yang sedang atau pernah sekolah di jurusan tersebut. Caranya? Dengan menghubungi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di universitas tersebut. Belum tahu caranya? Coba gunakan Google dengan kata kunci “Indonesian Students” “University of X” atau “Perhimpunan Pelajar Indonesia” “University of X”. Jika masih kesulitan, coba lihat website oisaa.org dan cari PPI di negara yang dimaksud. Setelah ketemu kontak/website PPI suatu negara, coba tanyakan PPI di universitas yang Anda inginkan. Di Australia, misalnya, PPI itu berjenjang, mulai dari PPI Australia Pusat yang menaungi satu negara, PPI Cabang dengan lingkup negara bagian dan PPI ranting yang berada di suatu universitas. Jika yang Anda cari memang ada, pasti akan dibantu. Kalau saja Anda serius untuk melakukan pencarian ini dalam waktu 1 jam saja, saya yakin PASTI bisa mendapatkan kontak. Soal ada respon atau tidak, itu adalah cerita lain. Dengan jejaring social saat ini, mencari orang atau organisasi adalah pekerjaan yang sangat amat mudah.
Kadang ada yang bertanya, selain kualitas bidang ilmu tertentu di sebuah institusi, apalagi pertimbangan lain untuk memilih universitas. Salah satu yang sering dipertimbangkan adalah rangking universitas tersebut menurut standard umum, misalnya menurut Times Higher Education. Di Australia, misalnya ada konsorsium Group of Eight yg mengklaim sebagai delapan universitas dengan kualitas khusus di Australia. Anda mungkin juga ingin menjadi mahasiswa dari salah satu universitas tersebut untuk alasan kualitas atau prestise. Bagaimanapun juga prestise itu penting meski urusan kualitas diri itu seringkali adalah urusan diri sendiri.
Tulisan ini bisa menjadi satu buku yang sangat tebal karena ada banyak sekali pertimbangan dalam memilih jurusan atau sekolah di luar negeri. Yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah bahwa memilih sekolah itu sebaiknya didasarkan pada riset mendalam yang dilakukan sendiri dengan kriteria yang ditetapkan. Beberapa kriteria itu sudah saya contohkan di atas. Yang jelas, bertanya pada seseorang secara singkat dengan kalimat “Universitas X dan Y itu bagus mana ya?” tidak selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Untuk membandingkan, harus ada kriteria yang jelas. Tidak jarang calon mahasiswa mementingkan gedung yang mentereng atau lokasi yang strategis dekat pusat perbelanjaan dibandingkan jumlah koleksi buku/jurnal di perpustakaan universitas tersebut. Mana yang ingin Anda bandingkan? Sepemahaman saya, tidak ada satu institusipun yang segalanya lebih baik dari institusi lain. Rangking itu relatif, tergantung kriteria yang dipakai.
Sebelum bertanya, ada baiknya kita menyempatkan diri melakukan pencarian sendiri sebisa mungkin. Akan lebih baik jika kemudian kita bertanya pada orang lain dengan kalimat “saya sudah mengunjungi website universitas A, B, C dan D lalu membandingkan criteria X, Y, Z dari keempatnya. Saya kira Univesitas C ada di posisi yg lebih baik dari tiga universitas lainnya. Yang belum berhasil saya temukan adalah soal Z. Apakah Mas/Mbak bisa membantu saya mendapatkan informasi ini?” Berkaca pada diri sendiri, saya akan jauh lebih bersemangat membantu orang dengan gaya seperti ini. Saya yakin, banyak orang lain juga demikian. Selain ini bedampak sehat bagi orang yang ditanya, bersekolah pada dasarnya adalah sebuah proses pencarian mandiri. Latihan untuk Ini bisa dimulai saat mencari jurusan dan universitas yang tepat. Selamat berjuang.

From netsains.com
read more

Sunday, May 6, 2012

Beberapa Sekolah Tinggi Kedinasan yang sedang Membuka Pendaftaran

  Bagi sobat dunia sains yang akan lulus SMA dan masih bingung hendak melanjutkan sekolah ke mana, tak ada salahnya melirik sekolah kedinasan. Sekolah kedinasan yang rata-rata berada di bawah lembaga pemerintah baik departemen maupun non-departemen, sedang membuka pendaftaran.

Dari wikipedia, ada belasan sekolah kedinasan. Namun tak semuanya membuka pendaftaran mahasiswa baru. Sekolah kedinasan ini memang ada yang membuka peluang untuk ikatan dinas dan ada yang tidak. Namun dari segi biaya, memang lebih murah dari sekolah tinggi atau universitas swasta.

Seperti yang dikatakan Kepala Puskom Publik Kemenhub Bambang S Ervan. Sekolah kedinasan di bawah Kemenhub memang ada biayanya alias tidak gratis.

"Tetap ada biaya, tapi tidak sebesar yang di luar karena ada subsidi dari pemerintah. Itu nanti biaya masuk ke penerimaan negara," jelas Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S Ervan ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (10/4/2012).

Kemenhub membawahi 17 sekolah kedinasan di bidang transportasi, di antaranya yakni Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) di Cibitung, Bekasi; Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara; dan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curug, Tangerang. Semua sekolah itu sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru.

Bagi Anda atau kerabat Anda yang lulusan SMA, silakan cari persyaratan pendaftaran dari sekolah-sekolah kedinasan itu. Dari penelusuran detikcom, berikut sekolah kedinasan yang sedang membuka pendaftaran:

Kemenkominfo

Sekolah Tinggi Multi Media Training Center (ST MMTC) di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo). Lokasi kuliah di Yogyakarta. Pendaftaran online di www.mmtc.ac.id atau www.pmb.mmtc.ac.id.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

1. Sekolah Tinggi Pariwisata (STP). Lokasi kuliah di Bandung. Pendaftaran online di http://pmb.stp-bandung.ac.id/

2. Akademi Pariwisata (Akpar) Medan. Lokasi kuliah di Medan, Sumatera Utara. Informasi pendaftaran di http://akparmedan.ac.id/

3. Akademi Pariwisata (Akper) Makassar. Lokasi kuliah di Makassar, Sulsel. Informasi pendaftaran di http://akparmakassar.ac.id/in/index.php

4. Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali. Lokasi kuliah di Nusa Dua, Bali. Informasi pendaftaran di http://news.stpbali.ac.id/2011/03/penerimaan-mahasiswa-baru-tahun-2012/stp-2012/
Kementerian Perhubungan

Ada 17 sekolah kedinasan di bawah Kemenhub yang tersebar di Indonesia. Informasinya bisa dilihat di http://bpsdm.dephub.go.id. Beberapa di antaranya adalah:

1. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Lokasi kuliah di Marunda, Jakarta Utara. Informasi pendaftaran online di http://sipencatar.stipjakarta.ac.id:81/
2. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Lokasi kuliah di Curug, Tangerang. Informasi pendaftaran online di http://www.stpicurug.ac.id/info_sipencatar/

3. Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD). Lokasi kuliah di Cibitung, Bekasi. Informasi pendaftaran di http://sttd.ac.id/?sttd=18
Kementerian Kesehatan

Ada 33 Poltek Kesehatan di bawah Kemenkes. Informasi pendaftaran murid baru terkompilasi dalam situs Kemenkes, http://www.bppsdmk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=39&Itemid=67

Kementerian Perindustrian

1. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3), Bandung, Jawa Barat. Informasi pendaftaran bisa didapatkan di http://stttekstil.ac.id/pmb.php
2. Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI), Jakarta. Lokasi kuliah di Cempaka Putih, Jakarta. Informasi pendaftaran di http://www.stmi.ac.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=138

3. Akademi Teknologi Kulit (ATK), Yogyakarta. Lokasi kuliah di Sewon, Bantul DIY. Informasi pendaftaran bisa dicek ke http://www.atk.ac.id/index.php?offset=7

4. Akademi Kimia Analis (AKA), Bogor. Lokasi kuliah di Tanah Baru, Bogor. Informasi pendaftaran di http://www.atk.ac.id/index.php?offset=7

Kementerian Pertanian

Kementan membawahi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian di beberapa kota seperti Medan-Sumut, Magelang-Jateng, Gowa-Sulsel, Malang-Jatim dan Bogor-Jabar. Informasi pendaftaran dan ragam jurusan bisa dilihat di situs http://bppsdmp.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=407:penerimaan-mahasiswa-baru-stpp-ta-20122013&catid=70:pengumuman-bppsdmp&Itemid=207
Kementerian Sosial

Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Bandung, Jawa Barat. Informasi pendaftaran bisa dilihat di situs http://www.stks.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=114:pmb-stks-2012&catid=36:pengumuman&Itemid=63

Lembaga Sandi Negara

Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Bogor, Jawa Barat. Lokasi kuliah di Ciseeng, Bogor. Informasi pendaftaran di http://stsn-nci.ac.id/pendaftaran-spmb-2012-gelombang-ii/
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (AMKG), Tangerang. Lokasi kuliah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, Banten. Informasi pendaftaran bisa dilihat di situs http://amg.ac.id/site/berita_detail/288

Badan Pusat Statistik (BPS)

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) di bawah Badan Pusat Statistik (BPS). Lokasi kuliah di Jakarta. Pendaftaran online di www.stis.ac.id.

Badan Tenaga Nuklir Nasional

Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendidikan ini tanpa ikatan dinas. Informasi pendaftaran bisa dilihat di http://www.sttn-batan.ac.id/

Lembaga Administrasi Negara

Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara - Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN), Bandung, Jawa Barat. Info pendaftaran bisa dilihat di situs http://www.stialan.ac.id/


From detik,com
read more

Friday, March 30, 2012

Tips Beasiswa: Tes IELTS dan Wawancara ADS




Saya masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ketika saya mendapat panggilan dari AusAID perihal wawancara Australian Development Scholarship (ADS) di bulan November 2002 silam. Dalam panggilan itu, ada sepucuk surat dengan berbagai lampiran jadwal ujian wawancara dan ujian IELTS serta satu buku panduan yang cukup tebal. Saya masih ingat, warnanya merah bata. Bagi banyak orang di Indonesia, surat ini adalah berkah luar biasa, telah ditunggu berbulan-bulan dalam ketegangan. Ada teman yang berkelakar beberapa tahun setelahnya bahwa jika mendapat surat dengan amplop besar dari AusAID artinya lolos wawancara. Jika amplopnya kecil, artinya hanya berisi surat permohonan maaf alias penolakan. November 2002, saya memang mendapat amplop besar dan tebal.

Januari 2003, saya mulai bekerja secara resmi di Teknik Geodesi UGM dengan mengantongi sebuah undangan ujian ADS. Saya memang mengurus lamaran ADS ketika masih kerja di Astra Jakarta, meskipun di saat yang sama saya sudah diterima sebagai dosen di Teknik Geodesi UGM. Setelah menerima surat itu saya tahu jadwal wawancaranya adalah akhir Januari 2003 dengan dua kompoen ujian utama yaitu wawancara dan ujian Bahasa Inggris IELTS. Karena suatu alasan saya tidak sempat membaca buku panduan dengan seksama. Akibatnya, saya tidak tahu persis tatacara ujian IELTS yang memang belum pernah saya ikuti. Dugaan saya ketika itu, model tesnya tidak jauh berbeda dengan TOEFL. Singat kata waktu ujianpun tiba.
Pagi sebelum jadwal ujian dimulai, saya telah ada di Balairung UGM di Jogja tempat tes berlangsung hari itu. Saya mengenakan kemeja lengan panjang, celana hitam dan sepatu kulit. Saya masih ingat, warna kemejanya biru kotak-kotak kecil. Sepatu saya semir mengkilat walaupun tidak bisa glamor karena sepatunya memang bukan kelas mahal. Singkatnya, saya tampil baik karena saya yakin penampilan yang baik dan wajar itu selalu aman dan rendah risiko.
Saya duduk di satu meja kecil, berhadapan dengan seorang peserta lainnya ketika ujian Listening dimulai. Terbiasa dengan TOEFL, sayapun menunggu kalimat penting pertanda tes dimulai “Question number one”. Cukup lama saya tunggu kalimat itu saat terdengar dua orang bercakap-cakap dalam bahasa Inggris logat British, tetapi kalimat ‘kunci’ itu tidak kunjung terdengar. Setelah beberapa lama, percakapan berhenti dan semua orang terdiam, sayapun terdiam, masih menunggu kalimat “Question number one”. Saya mulai resah karena kalimat itu tidak terdengar sementara waktu terus berjalan. Saya merasakan ketegangan di sekeliling saya, semua orang nampak bekerja dengan tekun. Saya bertanya-tanya dalam hati, ‘apa yang mereka kerjakan karena soalnya pun belum dibacakan?’ Saya menjadi sedikit khwatir jangan-jangan saya salah mengerti apa yang terjadi.
Di tengah kegelisahan itu, tiba-tiba terdengar instruksi untuk beranjak pada kelompok soal berikutnya. Saya terkejut bukan kepalang dan baru sadar bahwa saya harus menjawab pertanyaan isian secara mandiri, tanpa perlu mendengar instruksi “Question number one”. Pelajaran moral penting: biasakan membaca buku petunjuk sebelum memulai sebuah ujian. Ternyata IELTS memang berbeda dengan TOEFL, peserta harus segera menjawab pertanyaan ketika dialog berlangsung tanpa ada instruksi khusus dari narator. Kejadian ini membuat saya gugup dan menjawab beberapa pertanyaan pertama dengan ngawur karena dialognya sudah terlewati. Saya hanya menjawab sesuai dengan ingatan seadanya, sementara soal berikut siap menunggu. Meskipun tergagap-gagap dan gugup, saya toh bisa melewati tes tersebut. Jangan tanyakan hasilnya, itu bukan lagi menjadi kendali saya. Namun mengingat ‘kekonyolan’ saya di ujian Listening, rasanya tidak perlu terkejut jika hasilnya tidak menggembirakan. Benar saja, dua minggu kemudian saya ketahui nilai Listening saya kurang dari 6. Syukur nilai total bisa 6,5.
Berbekal dari kejadian itulah, setiap kali diminta memberi tips untuk ujian IELTS, saya selalu menegaskan bahwa ‘adalah sangat penting untuk mengetahui model soal IELTS’. Seorang peserta ujian harus tahu persis (di luar kepala) struktur ujian, jumlah soal, jenis soal, waktu yang disediakan, dan sebagainya. Jangan pernah tes sebelum tahu persis semua ketentuan administratif itu. Setelah itu tahu, kemampuan Bahasa Inggris tentu saja penting untuk mendapatkan nilai yang baik.
Dengan persiapan yang mengenaskan itu, saya menyelesaikan tes lain yaitu ReadingWriting danSpeaking. Reading tidak terlalu istimewa karena tesnya sama saja dengan model tes lain. Yang jelas ada bacaan dan ada pertanyaan terkait bacaan. Tidak ada hal-hal khusus. Bagian Writingcukup istimewa karena itu adalah kali pertama saya diuji menulis Bahasa Inggris. Ujian TOEFL sebelumnya yang saya ikuti tidak berisi tes menulis. Meski demikian, saya hanya menggunakan naluri umum saja saat menyelesaikan dua soal di Part 1 dan Part 2. Belakangan, setelah saya belajar IELTS dari sumber yang benar (buku, guru, internet) saya baru tahu bahwa Part 1 dan Part 2 di soal Writing itu bisa diselesaikan dengan strategi tertentu. Dengan belajar yang benar, segala sesuatu memang terasa lebih mudah dan sistematis.
Agak berbeda dengan teman-teman lain ketika itu, Speaking adalah bagian yang paling tidak saya risaukan. Saya hanya datang saja dan ngobrol dengan pewawancara tanpa merasa sedang dites. Intinya, saya menjawab saja apa adanya sesuai dengan pertanyaan yang disampaikan. Saya juga terbantu karena bule yang menguji Speaking waktu itu tinggal di Bali sehingga ada banyak hal yang membuat percakapan lebih hangat. Yang sedikit terasa sulit tentu saja ketika ditanya pendapat soal isu tertentu. Karena tidak ada beban, saya jawab saja seadanya sesuai keyakinan saya. Intinya saya menganggap itu percapakan biasa saja, bukan sebuah ujian serius. Saya membayangkan sedang ngobrol dengan seseorang yang baru saja saya jumpai. Sayapun tidak bertarget harus bisa menjawab semua pertanyaan dengan sempurna. Mengapa harus sempurna karena itu adalah percapakan biasa saja antara dua orang yang baru kenal? Kira-kira demikian rupanya perasaan saya ketika itu. Meski demikian, saya juga tahu bahwa setiap orang akan bisa menilai secara naluri apakah orang yang diajaknya bicara itu antusias atau tidak, menunjukkan respek atau tidak. Meski tidak harus bisa menjawab semua pertanyaan dengan sempurna, setidaknya saya berusaha dengan sungguh-sungguh memberikan respek atas pertanyaannya dan menjawab dengan segenap kemampuan saya. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab sempurna, saya hanya meminta maaf saja, tidak bisa mengelaborasi lebih dari itu. Singkat kata, ujian IELTS pun selesai.
Beberapa hari kemudian saya mengikuti ujian lanjutan berupa wawancara. Kali ini wawancara lebih terkait pada persiapan saya bersekolah di Australia, bukan tetang Bahasa Inggris. Saya masih ingat, saya berhadapan dengan dua orang ketika itu. Satu orang adalah Profesor dari University of Canberra dan satu lagi adalah Dr. Kopong dari Universitas Nusa Cendana di Kupang yang merupakan alumni AusAID senior. Seperti halnya ketika menghadapi IELTS, saya tidak melakukan persiapan secara khusus tetapi setidaknya mengumpulkan informasi terkait universitas yang saya tuju yaitu UNSW di Sydney. Saya juga memantapkan kembali pemahaman saya terhadap bidang yang akan saya tekuni saat kuliah nanti yaitu geodesi atau surveying. Terus terang, saya tidak melakukan persiapan khusus karena menduga bahwa pewawancara saya tidak akan tahu banyak soal ilmu saya karena memang tidak populer. Saya cukup yakin bisa menguasai keadaan.
Professor dari Canberra yang banyak bertanya, sementara Dr. Kopong menyimak dengan seksama. Saya merasa sangat rilex ketika itu, meskipun tetap menghadapi wawancara itu dengan serius dan sungguh-sungguh. Ketika ditanya soal riset, saya menyebutkan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang terkait pengelolaan peta dan informasi berbasis komputer. Di luar dugaan saya, Profesor dari Canberra itu pernah terlibat suatu proyek yang melibatkan SIG meskipun beliau adalah ilmuwan sosial. Hal ini mempermudah percakapan saya karena tidak perlu susah-sudah menjelaskan konsep dasar SIG. Meski demikian sang professor tetap saja adalah orang awam terkait SIG sehingga saya bisa di atas angin dalam percakapan, terutama ketika berbicara hal-hal detil. Saya sangat menikmati bercakap-cakap dengan orang intelek yang tidak menguasai bidang saya secara rinci. Percakapan bisa sangat produktif.
Hal-hal teknis yang ditanyakan ketika itu adalah seberapa siap saya belajar di Australia dengan lingkungan sosial dan akademik baru. Terkait ini, kebetulan saya sudah bertanya sekilas ke beberapa senior yang pernah sekolah di Australia sehingga saya punya sedikit pengetahuan. Saya sampaikan bahwa saya sudah berusaha mencari informasi dan memaparkan pemahaman saya itu semampu saya. Saya sampaikan bahwa situasi akademik di Australia memang berbeda dan memerlukan kemandirian yang lebih tinggi (seperti yang disampaikan senior saya). Untuk itu saya sudah bersiap dan akan berusaha maksimal. Ketika ditanya soal peran saya di Indonesia, saya hanya mengatakan bahwa saya akan kembali ke UGM dan menjadi pengajar dan peneliti. Saya sampaikan juga pengalaman saya yang pernah bekerja di Unilever dan Astra dan akhirnya memilih UGM karena idealisme tersendiri. Ini saya jadikan suatu bukti kesungguan saya untuk bergelut di dunia pendidikan. Terkait ini saya juga pernah menulis dalam sebuah email kepada seorang kawan:
Saya sarankan untuk menguasai benar-benar topik yang diajukan (proposal riset). Namun begitu, bukan tidak mungkin pewawancara adalah mereka yang tidak mengerti bidang Anda. Maka dari itu, berhasil mengaitkan topik sulit itu dengan isu populer tentu sangat bagus. Gunakan bahasa yang sederhana ketika menjelaskan topik riset. Intinya, kalau kita menguasainya, kita akan lebih mudah menyampaikan satu analogi atau pengandaian yang dimengerti orang awam. Pewawancara kita adalah (umumnya) orang awam dalam bidang riset kita, kecuali hal istimewa terjadi.
Saya juga memperhatikan sopan santun saat wawancara. Maka dari itu, beberapa tahun kemudian, ketika ada kawan yang bertanya pada saya soal tips wawancara, saya menjawab seperti ini:
Saya selalu yakin bahka attitude adalah sesuatu yang common sense. Sopan santun misalnya, meskipun dalam detailnya berbeda di satu kawasan dengan kawasan lainnya, memiliki komponen-komponen yang universal. Saya kira kalau kita memang memiliki sikap ini, tidak sulit untuk menampilkan diri sebagai orang yang simpatik dan menarik.
Saya juga menambahkan:
Duduk yang baik di depan pewawancara, saya yakini adalah yang tegak, punggung tidak nyandar di kursi, sekaligus lengan juga tidak bertumpu di meja. Posisi yang baik adalah tegak, kepalan tangan boleh ada di meja. Menyimak pertanyaan dengan baik dilakukan dengan menatap mata penanya, memainkan air muka dan mengangguk seperlunya menunjukkan pengertian. Saat berbicara pun demikian, tatap mata orang yang mewawancarai, gunakan senyum seperlunya atau berubah serius ketika berbicara hal penting. Gerakan mata dan alis adalah bahasa yang sangat penting untuk menyampaikan pesan secara utuh. Gerakan tangan yang elegan juga membantu.
Belajar dari pengalaman, saya selalu menasihatkan bahwa persiapan lain yang penting adalah membaca website universitas yg kita tuju dan mempelajari kehidupan di Australia secaara umum. Seorang kandidat perlu memahami kehidupan akademik di Australia dan bedanya dengan Indonesia, serta yang terpenting bagaimana kesiapan kita untuk menghadapinya. Seorang kawan lain memiliki pengalaman yang agak berbeda. Kebetulan waktu itu Australia memiliki perdana mentri baru yaitu Kevin Rudd. Dia diajak ngobrol soal perdana mentri baru itu dan pandangannya terkait prospek hubungan Australia-Indonesia di bawah kepemimpinan Kevin Rudd. Pertanyaan begini cukup umum jika kandidat berasal dari bidang sosial. Meski demikian, bukan tidak mungkin pertanyaan serupa ditanyakan kepada seorang surveyor atau insinyur, jika percakapan sebelumnya terkait hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, akan selalu lebih baik jika kandidat juga memiliki pengetahuan yang cukup baik terkait hal-hal umum di Indonesia dan Australia, terutama isu-isu yang mempengaruhi kedua negara.
Jika diminta memberikan tips wawancara, satu buku mungkin tidak cukup karena sifatnya sangat relatif dan subyektif. Apa yang bagus berdasarkan pengalaman saya mungkin saya tidak berlaku bagi orang lain. Pertanyaan yang disampaikan kepada satu kandidat sangat mungkin berbeda dengan kandidat lainnya. Pewawancara yang berbeda juga tentu memiliki gaya yang berbeda. Ini juga sangat mempengarui jenis pertanyaan ketika proses seleksi sedang berlangsung.
Informasi yang ada di posting ini akan lebih lengkap jika disandingkan dengan beberapaposting lain yang saya tulis terkait seleksi ALA dan posting khusus seputar Tips Wawancara. Akhirnya, kepada para pejuang, saya ucapkan selamat berjuang. Setelah usaha dikerahkan dengan segenap upaya maka ijinkan doa memeluk mimpi-mimpi itu sehingga menjelma menjadi kenyataan.
read more

Doktorat di Jerman: Menjadi Pekerja Ilmu Pengetahuan

Sebelum membaca artikel ini, ada baiknya membaca artikel saya yang sebelumnya mengenai sekolah ke Jerman. Tulisan ini saya susun berdasarkan pengalaman saya sendiri, yang sekarang sedang doktorat di Jerman dalam bidang Bioinformatika, di Universitas Leipzig. Adapun, berhubung saya mengambil S1 dan S2 di Indonesia, saya tidak bisa sharing banyak mengenai pengalaman S1 & S2 di jerman, berhubung saya tidak pernah mengikuti sistim perkuliahan Bachelor dan Master Jerman. Saya akan membahas beberapa poin penting mengenai hal ini.
Poin pertama. Latar Belakang pendidikan (S1 & S2) harus sesuai dengan bidang yang ingin dimasuki pada studi S3. Misalnya, jika ingin mengambil doktorat dalam bidang Bioinformatika, maka wajib memiliki dasar yang sangat kuat di bidang Biologi dan IT. Kualifikasi akademis, keilmuan, dan teknis yang kita miliki, harus sesuai dengan apa yang diminta oleh sang Profesor. Lebih jelasnya, bisa langsung hubungi kelompok riset yang kita minati beserta profesornya. Kirimkan CV dan proposal penelitian kita kepada profesor. Jika diminta, berikan juga copy ijazah dan transkrip. Sudah dipastikan, proposal yang kita buat akan dirombak lagi. Namun, inti dari pengiriman proposal ini lebih ditujukan supaya profesor memiliki gambaran yang jelas mengenai latar belakang pendidikan kita.
Poin kedua. Mengenai funding harus jelas dari awal. Apakah kita akan menggunakan beasiswa, atau disponsori oleh Profesor. Mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa, dari sumber Jerman atau Indonesia, sudah dibahas di artikel sebelumnya. Jika kelompok riset tersebut memiliki funding, dan masih ada lowongan untuk funding seorang mahasiswa doktorat, maka kita bisa apply untuk itu.
Poin ketiga. Mengenai status matrikulasi. Syarat untuk lulus dari program doktorat, adalah harus terdaftar sebagai mahasiswa doktorat (Promotion Student). Secara prinsip, matrikulasi bisa dilakukan 6 bulan sebelum ujian akhir (Doktor Prufung). Namun, jika menjadi penerima beasiswa DAAD (DAAD Stipendien), wajib matrikulasi dari sejak semester pertama. Mengenai syarat lengkap matrikulasi, hubungi kantor internasional (Akademisches Auslandsamt) dari Universitas yang bersangkutan. Buka saja situs web dari kantor internasional, biasanya dicantumkan disana. Syarat utama yang dibutuhkan adalah rekomendasi dari profesor, dan beberapa dokumen lain seperti ijazah, toefl, dan lain lain.
Poin keempat. Sistim perkuliahan doktorat di Jerman. Satu hal penting yang harus dicatat, bahwa di tingkat doktorat, perkuliahan sama sekali tidak wajib untuk diikuti. Dalam ‘doktorprufung’, hanya ada satu penilaian, yaitu penilaian mengenai disertasi kita. Tidak ada nilai untuk kuliah. Jika ingin mengikuti kuliah atau praktikum level Bachelor atau Master, bisa saja, namun hubungi kordinator kuliah/praktikum tersebut. Hal itu tidak wajib, dan lebih untuk memperluas pengetahuan dan keterampilan kita. Sekarang sudah mulai dikembangkan ‘taylor made system’, yaitu doktorat dengan sistim ala US, yang ada kuliahnya. Namun, walau demikian, penekanan utama tetaplah pada riset yang kita lakukan.
Poin kelima. Bekerja secara mandiri. Riset doktorat di Jerman harus dikerjakan secara mandiri, sebab tidak ada seorangpun yang mengawasi secara langsung pekerjaan kita. Memang, kita diwajibkan melaporkan pekerjaan kita secara periodik kepada asisten profesor (Biasanya scientific staff atau Pos doc). Namun, apa yang kita lakukan sehari-hari tidak akan pernah diawasi secara langsung. Setidaknya itu pengalaman saya di laboratorium Bioinformatika. Jika ada yang perlu ditanyakan sehubungan dengan riset kita, bisa langsung segera tanya kepada sesama mahasiswa doktorat, teknis, atau scientific staff secara langsung. Secara umum, kita tidak memberikan laporan atau bertanya mengenai hal-hal teknis kepada profesor. Namun, laporan tetap diberikan pada profesor setiap ada seminar kelompok riset atau departemen.

from netsains.net
read more

Tuesday, March 27, 2012

Ten questions a scholarship fighter should not ask

Saya percaya, there is no such thing as a stupid question. Meski demikian, saya juga tahu bahwa memang there is such a thing as an annoying question. Meskipun memang tidak ada pertanyaan bodoh, pertanyaan yang ‘ngeselin’ itu ada :)
Sejak tahun 2005 saya sering berdiskusi soal beasiswa luar negeri dengan para pemburu beasiswa. Sekitar dua tahun terakhir, saya malah mendapat beberapa undangan untuk secara formal berbagi soal beasiswa luar negeri. Bagi saya, kesempatan berbagi selalu menyenangkan. Meski saya selalu senang berbagi, saya sering mengingatkan para pemburu beasiswa itu bahwa ada banyak sekali informasi yang bisa diperoleh sendiri. Modalnya adalah ketekunan dan kemauan mencari. Semua informasi teknis dan umum pasti dimuat di website beasiswanya. Hal pertama yang harus dicari, dan ini boleh ditanyakan, adalah alamat website resmi sebuah beasiswa. Sebenarnya bisa ditanyakan keapda Pak Google juga.

Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang menurut saya sebaiknya dicari sendiri jawabannya. Jika tidak dalam keadaan sangat prima, pertanyaan semacam ini bisa membuat sang ditanya jadi kesal karena dengan jelas-jelas menunjukkan kemalasan penanya. Hal ini terutama jika pertanyaan disampaikan lewat email dan artinya penanya memilki akses internet.
  1. Syarat TOEFL/IELTS beasiswa X berapa sih?
  2. Formulir beasiswa X dikirim ke mana sih?
  3. Apa saja syarat untuk melamar beasiswa X?
  4. Kapan waktu pendaftaran beasiswa X?
  5. Berapa syarat IP untuk mendaftar beasiswa X?
  6. Bidang ilmu apa saja yang dicakup oleh beasiswa X?
  7. Formulir diisi rangkap berapa sih?
  8. Biar lolos beasiswa X gimana caranya?
  9. Kalau memasukkan formulirnya telat dikit, masih boleh nggak?
  10. Saya bakal diterima nggak ya?
Meski pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak disarankan untuk ditanyakan ke orang lain, semua itu tentu tetap boleh ditanyakan jika Anda kebetulan sedang menghadiri sebuah seminar atau lokakarya beasiswa yang menurut Anda asing. Lebih jauh lagi, jika ada yang menjelaskan beasiswa tertentu dan tidak memberikan informasi dasar seperti di atas, kemungkinan presentasinya perlu direvisi :) Dalam keadaan tertentu, pertanyaan apapun memang boleh saja ditanyakan. Cara bertanya akan membedakan respon yang akan Anda terima.
Inti dari tulisan ini adalah bahwa beasiswa luar negeri haruslah dikejar dengan semangat yang sangat besar. Ingatlah bahwa ada ribuan anak manusia di tanah air kita yang memenuhi syarat formal sebuah beasiswa. Tanyakanlah secara serius pada diri sendiri, mengapa Anda yang lebih layak dari orang lain? Jenis pertanyaan saya kepada orang lain sedikit banyak bisa menjadi indikator kualitas perjuangan saya. Saya kira Anda setuju dengan ini. Dalam hal ini saya setuju dengan Andrea Hirata bahwa nasib berpihak pada para pemberani. Selamat berjuang!

From netsains.net
read more

Informasi Lengkap Beasiswa Luar Negeri

Mengikuti milis beasiswa sekaligus menerima banyak sekali pertanyaan seputar beasiswa mengingatkan saya betapa informasi tentang beasiswa luar negeri untuk pasca sarjana (S2 dan S3) sebenarnya masih sangat minim (sekaligus berharga) bagi banyak sekali orang Indonesia.
Saya tentu saja bukanlah seorang pakar dalam hal beasiswa, hanya sebagai salah satu saja dari sedikit orang Indonesia yang beruntung. Saya pernah menulis tentang beasiswa di blog ini dan mendapat cukup banyak tanggapan. Seiring perkembangan dan respon dari kawan-kawan pemburu beasiswa saya akan tuliskan beberapa hal lain yang mudah-mudahan bisa membantu. Tulisan ini juga diikuti dengan berbagai tulisan lain yang daftarnya bisa dilihat di bagian akhir halaman ini. Dengan menekuni berbagai tulisan tersebut, semestinya pembaca akan mendapat gambaran yang lengkap seputar beasiswa luar negeri. Silakan ikuti saya di twitter @madeandi untuk berbagi tips sederhana dan praktis soal beasiswa luar negeri.

Beasiswa luar negeri itu apa sih?
Beasiswa yang kita bicarakan di sini adalah untuk sekolah di luar negeri yang diberikan umumnya oleh pemerintah negara yang bersangkutan. Dalam bahasa yang sederhana, ini adalah komitmen suatu negara untuk pembangunan Internasional. Australia, misalnya mepunyai agen pemberi beasiswa bernama AusAID, Amerika sendiri memiliki USAID dan seterusnya.
Intinya, ada kemungkinan bagi kita untuk belajar di suatu negara dengan biaya dari negara tersebut. Kalau mau belajar ke suatu negara dengan biaya sendiri atau orang tua tentu bisa juga. Tetapi itu tidak akan kita bicarakan di sini.
Kalau Anda berpikir negara pemberi beasiswa itu baik hati, mungkin benar demikian. Jika Anda berpikir mereka rela berkorban memberikan uang kepada rakyat dari negara lain, mungkin tidak sepenuhnya benar. Pertama, semua uang beasiswa itu dihabiskan di negara yang bersangkutan (uang sekolah, makan, sewa rumah, transportasi dan lain-lain), jadi uangnya tidak ke mana-mana. Kedua, dalam situasi normal, uang beasiswa ini tidak sampai ke negara kita dalam bentuk tabungan, kecuali melakukan siasat tersendiri. Intinya secara finansial, negara pemberi beasiswa bisa jadi tidak rugi apa-apa.
Kenali Diri sendiri
Sebelum jauh-jauh tentang beasiswa, sebaiknya kita mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu. Ada beberapa pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum mencari beasiswa yang sesuai:
1. Apa latar belakang pendidikan saya?
Latar belakang pendidikan jelas berpengaruh terhadap tersedianya beasiswa untuk Anda. Beasiswa Fulbright, misalnya, tidak menyediakan beasiswa untuk jurusan teknik (ps. Sejak 2008 kalau tidak salah, teknik juga bisa) .
2. Apakah saya sudah bekerja?
Tidak sedikit pemberi beasiswa mensyaratkan penerima beasiswa harus sudah bekerja. Namun demikian ada juga beasiswa yang diberikan kepada lulusan baru.
3. Jika sudah bekerja, di bidang apa saya bekerja dan apakah ini sesuai dengan latar belakang pendidikan saya?
Banyak orang mengalami kesulitan mencari beasiswa yang tepat karena bidang kerjanya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Seringkali dalam kasus semacam ini orang harus menitikberatkan salah satu dari keduanya dalam menentukan beasiswa. Tentu saja akan lebih lapang jalannya jika pendidikan dan pekerjaan Anda Sesuai.
4. Seberapa bagus penguasaan bahasa asing saya?
Ini adalah hal yang tidak bisa ditawar. Perlu diingat bahwa untuk melamar beasiswa harus ada bukti sah penguasaan bahasa asing seperti sertifikat IELTS dan TOEFL untuk Bahasa Inggris.
5. Seberapa bagus nilai/IP saya?
Hampir semua beasiswa reguler mensyaratkan IP di atas 2.75. Jika Anda kurang beruntung, sebaiknya segera pikirkan peluang lain beasiswa non-reguler.
Menguasai Bahasa Asing
Banyak orang bertanya, bagaimana sih caranya agar menguasa bahasa asing (terutama Inggris) dengan baik? Menurut saya pribadi, tidak ada sim salabim kalau kita berbicara masalah ini. Hanya ada satu cara, kenali dan sadari kelemahan bahasa asing kita dan percayalah bahwa itu hanya bisa diperbaiki dengan belajar sungguh-sungguh. Menjadikan mimpi bersekolah di luar negeri sebagai motivasi adalah sesuatu yang positif. Mempelajari bahasa asing sebagai sesuatu yang fun, tanpa beban, dan tidak mengikat akan menjadikan segala sesuatunya terasa lebih mudah.
Jangan berkecil hati kalau baru saja Anda sadari hari ini bahwa Anda tidak mengerti hampir 85 % ketika anda membaca tulisan atau mendengar percakapan berbahasa Inggris. Anda tidak sendiri. Saya memiliki kawan yang luar biasa, bertransformasi dari seorang yang kemampun bahasa Inggrisnya mengenaskan menjadi seseorang yang fasih berucap dan terampil dalam menulis berbahasa Inggris. Dia belajar dan berusaha keras.
Anda mungkin menganggap terlalu berlebihan jika saya katakan kawan saya ini berlangganan The Jakarta Post dan membacanya dengan didampingi kamus. Dia harus membolak balik halaman kamus hampir setiap setengah menit. Jangan panik, ini adalah hal biasa yang, saya yakin, dilakukan juga oleh orang-orang yang kita kenal terlajur hebat dan mumpuni. Kawan saya mengatakan, dia tidak menemukan cara yang lebih ampuh dari ini. Berjuang dan berusaha adalah jawabannya. Sehari satu kata, jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Anda dan saya mungkin sama skeptik-nya, tetapi itulah kenyataannya. Tolong berikan saya cara yang lebih ampuh dari berusaha keras dan menjadikan optimisme sebagai bahan bakar yang tidak terbandingkan!
Mencari dan Mencari
Kalau Anda bertanya, bagaimana saya mendapatkan beasiswa, saya akan jawab “dengan mengejarnya!”. Akan Tetapi, Anda mungin tidak perlu tersesat dan terjerumus di berbagai lubang buntu seperti kebanyakan orang sebelum mendapatkan beasiswa yang diharapkan. Saya akan memberikan satu tip.
Tentukanlah dulu bidang ilmu yang ingin dipelajari. Setelah itu, tentukan beberapa kemungkinan negara tujuan Anda belajar. Jika bidang ilmu Anda tidak populer seperti halnya bidang ilmu saya, Anda akan lebih “mudah” karena tidak terlalu banyak pilihan. Setelah menentukan negara, coba Anda selidiki apakah negara tersebut menyediakan beasiswa. Bagaimana cara mencarinya? Gampang sekali! Coba lebih sering jalan-jalan di dunia maya dan akrab-akrablah dengan Pak Google. Dengan mengetikkan scholarship Australia indonesia di Google, misalnya, Anda akan mendapatkan informasi beasiswa Australia untuk orang Indonesia. Ini hanya sekedar contoh.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengikuti forum diskusi di dunia maya, seperti milis beasiswa (beasiswa@yahoogroups.com) dan sejenisnya. Hal utama yang semestinya tidak anda lupakan adalah mengunjungi situs DIKTI, website perwakilan negara asing di Indonesia, situs perwakilan RI di berbagai negara dan universitas-universitas besar di Indonesia. Belum tahu alamatnya? Coba tanyakan pada Pak Google. Sebagai tambahan, pengumuman beasiswa populer seperti AusAIDSTUNED, dan FULBRIGHT, misalnya, biasanya akan diiklankan di media masa nasional. Tetap pasang mata dan telinga, berusahalan menjadi peka terhadap informasi semacam ini.
Perhatikan dan Kuasai Persyaratan
Dengan membaca persyaratan beasiswa di website mereka, anda seharusnya sudah paham betul apa saja persyaratannya. Perhatikan hal penting seperti IP dan nilai kemapuan bahasa Inggris (e.g. TOEFL dan IELTS) agar Anda bisa memutuskan dari awal. Dalam website beasiswa reguler, seluruh informasi sudah termuat. Masalah biasanya muncul ketika Anda tidak mampu memahami secara utuh apa yang disyaratkan. Tanyakan kepada teman kalau terjadi hal seperti ini. Ingat, Anda harus aktif dan sungguh-sungguh. Saya pribadi akan dengan senang hati membantu orang seperti Anda.
Menghubungi Calon Pembimbing
Banyak orang mengirimkan email kepada saya, bagaimana cara menghubungi calon pembimbing/supervisor pertama kali. Saran saya, kita harus memahami bahwa orang yang akan kita hubungi adalah akademisi. Hal utama yang akan membuatnya tertarik tentu saja isu akademik. Cobalah kunjungi website jurusan yang Anda minati di suatu universitas. Di sana, hampir pasti ada daftar dosen termasuk ketertarikan bidang penelitiannya dan tentu saja emailnya. Jika memungkinkan, saya sarankan Anda untuk membaca publikasi yang ditulis oleh dosen yang bersangkutan agar anda benar-benar mengenal konsep pemikirannya. Anda masih bermasalah dengan Bahasa Inggris? Well, Anda tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadikannya tidak masalah :) .
Setelah mengenal aktivitas penelitiannya, cobalah kirimkan email. Ingat, akademisi ini secara umum adalah orang yang sangat sibuk sehingga tidak sempat berbasa-basi. Tulislah email yang sopan, singkat dan langsung mengenai sasaran. Ingatlah bahwa mereka adalah orang yang sibuk sekali. Mungkin Anda merasa cukup canggung karena tidak yakin dengan bahasa tulis Anda. Jangan lupa mintalah kepada teman yang Bahasa Inggrisnya lebih baik untuk memeriksa sebelum dikirimkan. Untuk email pertama kali, sebaiknya tidak langsung berisi permohonan atau pertanyaan yang menyita konsentrasi. Komentari saja dulu tulisan dan publikasinya dan tunjukkan ketertarikan Anda akan bidang yang dia tekuni. Selanjutnya tunggu tanggapan dan bersiaplah untuk meneruskan atau mengubah strategi.
Rekomendasi
Hampir semua beasiswa mensyaratkan Anda harus menyerahkan surat rekomendasi. Rekomendasi ini penting bagi institusi barat karena secara umum rekomendasi semacam ini bisa dipercaya. Orang pertama yang bisa dimintai rekomendasi adalah mantan pembimbing skripsi S1. Bagaimana cara mendapatkannya, Anda tentu lebih tahu karena telah mengenal mereka secara baik. Satu hal, cukup banyak dosen di Indonesia yang tidak mau pusing menuliskan rekomendasi sendiri tetapi meminta Anda menuliskan draftnya dan kemudian dosen tersebut mengoreksi dan menyempurnakannya. Belajarlah membuat surat rekomendasi yang baik, masuk akal dan sekaligus ”menjual”.
Jika sudah bekerja, rekomendasi bisa didapatkan dari atasan Anda sendiri dengan mengajukan permohonan yang baik. Rekomendasi dari atasan tentu saja akan bersifat lebih profesional karena cenderung menitikberatkan pada kemampuan kerja Anda, bukan kemampuan akademik, kecuali jika Anda memang bekerja di dunia akademik.
Persyaratan Administrasi Berbahasa Asing
Pada umumnya, persyaratan ijasah, transkrip nilai, KTP dan akte kelahiran diminta dalam bahasa asing (umumnya Inggris). Mau tidak mau Anda harus menerjemahkan semua dokumen tersebut. Ijasah dan tanskrip nilai tentu dengan mudah bisa diterjemahkan di fakultas Anda sendiri dengan mengikuti prosedur administrasi standar yang berlaku.
KTP dan akte kelahiran bisa diterjemahkan di lembaga penerjemah bersertifikat seperti pusat bahasa di sebuah universitas, jurusan bahasa asing yang ada di kota Anda, atau kantor perwakilan Indonesia kalau Anda sedang berada di luar negeri. Masing-masing penerjemahan tersebut tentu saja mengharuskan Anda membayar biaya jasa dan administrasi. Bersiap-siaplah dengan sejumlah uang.
Percayalah, Ini Adalah Soal Kepribadian!
Saya selalu meyakini bahwa perjuangan apapun adalah sebuah ujian sesungguhnya terhadap kepribadian kita. Anda pasti menyadari, banyak orang yang ketika di sekolah dulu biasa-biasa saja kemampuan akademiknya tetapi akhirnya mencapai kesuksesan karir dan finansial yang mengagumkan, jauh melebihi si kutu buku dan juara umum di sekolah Anda. Banyak orang yang mengatakan keberuntungan berpihak pada orang-orang semacam ini. Saya pribadi tidak menampik keberuntungan ini tetapi di atas semua itu saya mempercayai apa yang namanya kepribadian, personality, terlebih perilaku, attitude yang baik.
Kepribadian yang baik ini akan dengan jelas terbaca dari kesungguhan Anda berusaha mencari informasi, kesantunan dan keseriusan bahasa tulis Anda ketika menghubungi calon pembimbing dan pemberi rekomendasi, termasuk cara Anda menghadapi birokrasi Indonesia yang sering berbelit untuk urusan administrasi. Sehebat-behatnya dan seprofesional-profesionalnya orang barat, mereka adalah juga manusia. Kepribadian dan sentuhan kemanusiaan dalam kadar yang tepat diikuti dengan pembuktian akademik dan keterampilan yang baik akan membuatnya tunduk bertekuk lutut kepada Anda. Anda jangan tersenyum dulu,saya tidak hanya berteori.
Akhir kata, saya ingin tegaskan lagi bahwa Anda yang membaca tulisan saya sampai akhir adalah salah satu orang yang punya niat dan sungguh-sungguh. Saya memiliki kepercayaan yang tinggi bahwa jika Anda tetap menjaga semangat Anda seperti sekarang ini, suatu saat Anda akan menggapai mimpi bersekolah di luar negeri. Mendapatkan beasiswa bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bagi orang yang berniat seperti Anda.
Satu hal terakhir, hukum Tuhan bekerja maha sempurna. Tidak ada satu halpun terjadi di luar kesadaran-Nya. Selamat berjuang kawan!
—–
Daftar beasiswa
Australia
New Zealand
The Netherlands
United States of America
United Kingdom
Germany
Japan
Asia
Sweden
Beasiswa Luar Negeri 101
  1. Berburu beasiswa ke luar negeri
  2. Sekali lagi tentang beasiswa
  3. Memenuhi syarat tetapi tidak lulus seleksi. Mengapa?
Beasiswa Australia
Saya membuat kategori khusus terkait Beasiswa Australia karena saya memperoleh beasiswa dari Australia untuk S2 dan S3, sehingga informasi yang saya kuasai terkait Australia lebih baik dibandingkan negara lain :)
  1. Broadcast yourself by publishing
  2. Australian Development Scholarship
  3. Contoh lamaran ADS
  4. Australian Leadership Awards
  5. Tips wawancara ADS
  6. Contoh pertanyaan wawancara ADS
  7. Master by Research vs Master by Coursework
  8. Tips IELTS dan Wawancara ADS
  9. Persiapan ke Australia dengan beasiswa ADS
  10. Pengalaman hidup di Australia
  11. Wollongong Menyapa - Panduan bagi Pendatang Baru di Australia
  12. Seks bebas di Australia?
  13. Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia di Wollongong
  14. Childcare di Australia
  15. Mencari rumah/akomodasi di Australia
Tentang Persyaratan Beasiswa
  1. Contoh Proposal Riset
  2. Contoh CV
  3. Tips belajar bahasa Inggris
  4. Membuat Personal Statement/Statement of Purpose
  5. Menghubungi calon pembimbing
  6. Mendapatkan Surat Rekomendasi
  7. Contoh Surat Rekomendasi
Tips dan Trick
  1. Tips Menghadapi Wawancara
  2. Tips Presentasi
  3. Tips menulis
Motivasi Beasiswa
From netsains.net
read more

Sunday, March 18, 2012

Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif

KulOn: Kulian Online :)
Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.
Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.

Adalah Dr. Imam Baihaqi, kawan baik saya yang merupakan dosen di Teknik Industri ITS, yang mengusulkan kuliah online ini. Kami berteman sejak 2003 ketika sama-sama mengikuti pendidikan Bahasa Inggris (English for Academic Purposes) di Jakarta tahun 2003 silam, saat kami siap-siap berangkat ke Australia untuk pendidikan lanjut dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Persahabatan yang baik memang bisa jadi cikal bakal kolaborasi professional yang tidak terduga manfaatnya.
Kuliah online itu menggunakan dua perangkat komunikasi yaitu Skype yang sudah sangat umum dan Team Viewer, sebuah perangkat mirip skype yang memiliki fasilitas “meeting”. Menariknya, kedua perangkat ini gratis segratis-gratisnya. Meski demikian, keduanya juga memiliki versi berbayar untuk keperluan yang lebih kompleks. Yang jelas, untuk kepentingan kuliah umum tersebut, versi gratis sudah lebih dari cukup.
Sebelum kuliah online saya mengunduh Team Viewer dari websitenya, www.teamviewer.com, dan menginstalnya di laptop. Semuanya dilakukan sangat mudah, hanya dalam hitungan menit. Setelah terinstal, Team Viewer bisa dijalankan dengan tampilan seperti Gambar 1 (kiri):
Gambar 1 Jendela awal (kiri) dan meeting (kanan) Team Viewer
Untuk memulai menggunakannya, saya harus memilih tab “Meeting” lalu mengklik tombol “Start instant meeting” sehingga muncul jendela baru seperti Gambar 1 (kanan). Dengan ini, artinya saya sedang merancang sebuah pertemuan dan saya menjadi “tuan rumah” atau host dari pertemuan tersebut. Di jendela yang baru ini juga akan muncul “Meeting ID” yaitu sebuah identitas unik yang akan digunakan oleh pihak lain jika ingin bergabung dengan “meeting” yang saya rencanakan. Dalam contoh ini, “Meeting ID” saya adalah m47-628-783.
Dalam kuliah online hari ini, Pak Imam sudah siap dengan sebuah komputer di kelasnya di ITS Surabaya yang terhubung ke internet. Dalam hal ini, mengikuti kuliah online pada dasarnya adalah mengikuti (join) meeting yang sudah saya rancang dengan menjalankan Team Viewer. Dengan demikian, Pak Imam di Surabaya cukup memasukkan “Meeting ID” yaitu m47-628-783 di jendela Team Viewer (lihat Gambar 1 – kiri) lalu mengklik “Join meeting”. Alternatifnya, Pak Imam tidak harus menginstal Team Viewer, cukup dengan browser yang memiliki flash add on. Disarankan menggunakan Google Chrome atau Mozila FireFox. Dengan browser ini, “join meeting” bisa dilakukan dengan mengunjungi http://go.teamviewer.com/ dan memasukkan “Meeting ID” seperti pada tampilan Gambar 2.
Gambar 2 Team Viewer yang diakses dari Browser
Sesaat setelah itu, saya akan melihat di jendela meeting saya ada koneksi dari 1 pengguna yang artinya ada satu pihak yang sedang mengikuti meeting saya. Saya harus memastikan bahwa “screen sharing” sudah diaktifkan (lihat “screen sharing” pada Gambar 1 – kanan) sehingga Pak Imam, atau siapapun yang mengikuti meeting saya, bisa melihat layar komputer saya melalui komputernya. “Peserta” meeting ini bisa lebih dari satu di lokasi berbeda dengan memasukkan Meeting ID seperti penjelasan sebelumnya. Artinya, memungkinkan bagi saya untuk memberi kuliah dari Wollongong dengan beberapa kelompok peserta di Surabaya, Yogyakarta, Amerika atau tempat lain. Selain itu, partisipasi juga bisa dilakukan dengan mobil device lain seperti iPhone dan iPad. Saya belum pernah mencoba menggunakan merek lain, tetapi saya yakin perangkat berbasis Android juga memiliki kemampuan menggunakan Team Viewer.
Mulai saat ini, layar komputer saya sudah ‘terkloning’ pada komputer Pak Imam di Surabaya. Karena komputer di Surabaya terhubung ke LCD proyektor maka apa yang Nampak di layar komputer saya, nampak juga di sebuah layar besar di depan kelas. Jika saya menampilkan bahan kuliah berupa presentasi Power Point maka yang nampak di Surabaya adalah presentasi yang sama. Inilah inti dari kuliah online itu. Saya menjalankan presentasi di laptop saya di Wollongong dan mahasiswa melihat hal yang sama di Surabaya melalui layar besar di depan kelas seperti pada Gambar 3.
Gambar 3 Tampilah bahan kuliah/presentasi di layar besar di Surabaya
Bagaimana dengan suara? Meskipun Team Viewer memiliki fasilias transfer suara yang bernama “Voice over IP”, kami memilih untuk menggunakan perangkat lain yaitu Skype. Hal ini dilakukan untuk memastikan kualias gambar presentasi dan suara sama-sama bagus karena ditangani secara terpisah menggunakan perangkat yang berbeda. Konsekuensinya, saya dan Pak Imam masing-masing harus memiliki dua komputer yaitu satu komputer untuk interaksi Team Viewer (untuk gambar hasil kloning layar komputer saya) dan satu komputer lagi untuk interaksi dengan Skype (suara dan video). Misalnya di Surabaya ada dua komputer A dan B maka komputer A adalah untuk interaksi dengan Team Viewer yang terkoneksi ke LCD proyektor dan komputer B adalah untuk interaksi menggunakan Skype dengan volume speaker yang dibesarkan agar suaranya terdengar oleh semua peserta kuliah. Selain untuk suara, koneksi Skype juga digunakan untuk mentransfer video. Dengan demikian, saya bisa melihat suasana di kelas dengan leluasa dan peserta kuliah bisa mendengar sekaligus melihat saya karena komputer B juga terhubung ke LCD proyektor. Hal ini bermanfaat secara psikologis mengingat saya merasa benar-benar mengajar secara langsung karena bisa melihat reaksi peserta. Ini berarti bahwa kamera pada komputer B mengarah ke ruang kelas.
Sementara itu saya di Wollongong menghadapi dua komputer yang saling berdekatan, sebut saja komputer 1 dan 2. Komputer 1 adalah host Team Viewer untuk menjalankan presentasi saya (terhubung dengan komputer A di Surabaya) dan kompuer 2 untuk koneksi Skype yg mentransfer suara dan video saya ke Komputer B di Surabaya. Saya menggunakan iPad sebagai komputer 2 dan bisa mengamati suasana di Surabaya seperti yang nampak pada Gambar 4.
Gambar 4 Tampilan di iPad menggambarkan suasana di ruang kelas di Surabaya
Dengan pengaturan seperti ini, pengalaman memberi kuliah benar-benar seperti live, sangat mengesankan dan interaktif. Saya bisa berkelakar dan mahasiswa merespon dengan baik. Saya juga bisa melihat ekspresi mereka. Pengalaman kuliah tanggal 5 Maret 2012 sangat baik, saya melihat wajah-wajah antusias. Saya yakin, kuliah online ini juga menjadi sesuatu yang baru bagi kebanyakan peserta. Tentu menjadi pengalaman yang baru melihat seorang dosen muncul di layar seperti pada Gambar 5 berikut.
Gambar 5 Tampilan video dosen yang ditayangkan dengan LSD proyektor
Harus diakui ada jeda dalam transisi animasi atau dari satu lembar tayang ke lembar tayang berikutnya tetapi itu sama sekali tidak mengganggu jalannya kuliah. Pemberi dan peserta kuliah memang perlu sedikit lebih sabar karena transisi antarlembar tayang bisa berlangsung 5-7 detik. Jika sudah diantisipasi, hal ini tidak menimbulkan masalah sama sekali.
Selain kuliah monolog, interaksi tanya jawab juga berlangsung sangat lancar. Rupanya Pak Imam menggunakan komputer dengan microphone yang cukup sensitive sehingga peserta cukup berada di deretan bangku terdepan dan saya sudah bisa mendengar suara mereka. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta kuliah dapat saya dengar dan tanggapi dengan baik. Selain itu, saya juga mengawali kuliah dengan menyebut akun twitter saya dan meminta peserta untuk bertanya lewat twitter dengan metode mention saat kuliah berlangsung. Dengan demikian, saya bisa melihat pertanyaan melalui twitter untuk dibahas saat diskusi. Hal ini juga untuk membantu mereka yang masih kesulitan dalam berekspresi secara verbal di depan umum. Dalam kuliah pagi tadi, saya menerima beberapa pertanyaan lewat twitter.
Harus diakui, pengalaman memberi kuliah online ini sangat berkesan bagi saya. Tidak saja saya telah berkesempatan berbagi, saya juga belajar banyak dan terinspirasi untuk menerapkan metode ini secara berkala. Kalau banyak orang yang mengatakan anggota DPR tidak perlu studi banding dan teknologi informasi sudah bisa menggantikannya, maka istilah dosen terbang mungkin juga perlu ditinjau lagi. Rupanya perlu adanya revisi terhadap pemahaman bahwa jarak bisa menjadi tirani seperti yang diungkapkan Geoffrey Blainey dalam bukunya “The Tyranny of Distance”. Dengan adanya teknologi informasi yang semakin terjangkau, distance does not matter. Bahwa jarak yang jauh sudah tidak layak lagi mendikte sebuah interaksi.

from netsains.net
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More