Showing posts with label umum. Show all posts
Showing posts with label umum. Show all posts

Friday, November 1, 2013

ASUS Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon

Kemajuan teknologi semakin pesat akhir-akhir ini. Smartphone makin menjamur keberadaannya sekarang ini. Muncul pula perangkat tablet yang awalnya diragukan akan diterima baik oleh konsumen, namun kini mulai banyak bermunculan. Sebagian besar tablet terjangkau yang tersedia di pasaran saat ini adalah tablet dengan konektivitas Wi-Fi tanpa membawa konektivitas layaknya telepon selular. Namun yang menjadi pertanyaannya, di Indonesia kita belum bisa menggunakan Wi-Fi dimana pun berada layaknya menggunakan jaringan GSM. Meskipun di tempat-tempat tertentu kita bisa menemui hotspot area, namun tidak semua tempat menyediakannya. Tentu saja hal ini akan menyulitkan kita apabila membutuhkan koneksi internet sedangkan kita pada tempat tertentu, atau di tengah perjalanan.

Oleh karena itu, tablet mulai dilengkapi dengan fitur koneksi 3G bahkan LTE oleh vendornya agar dapat memanfaatkan jaringan nirkabel untuk terhubung ke internet. Di Indonesia sendiri jaringan telekomunikasi nirkabel telah berkembang sangat luas, bahkan ke seluruh pelosok negeri. Namun, ketika kita memiliki tablet dan hanya bisa menikmati fitur akses internet tanpa adanya fitur komunikasi lain seperti SMS dan telepon seperti pada telepon selular rasanya bagai makan sayur tanpa garam. Sehingga banyak pengguna yang menginginkan tablet yang juga mampu untuk melakukan panggilan suara maupun SMS. Hal ini memdorong ASUS sebagai pemimpin global di era digital untuk menghadirkan ASUS Fonepad, yang menjawab kebutuhan konsumen.

ASUS Fonepad merupakan tablet dengan ukuran layar 7 inci yang memiliki fitur menerima atau melakukan panggilan suara layaknya sebuah telepon selular biasa atau juga smartphone. Dari segi desain, ASUS fonepad memiliki desain minimalis, rapi, dan tidak mengumbar banyak port untuk konektor pada sekeliling bodynya. Penempatan slot MicroSD dan Micro SIM Card berada di dalam penutup belakang bagian atas dari ASUS Fonrpad ini. Selain itu, ASUS Fonepad memiliki pilihan warna yaitu Titanium Gray atau Champagne Gold dan menggunakan casing dengan bahan metalic finish sehingga memperkuat kesan elegan pada ASUS Fonepad serta membuat desain secara keseluruhan menjadi seperti tablet kelas premium.

Tidak hanya memperhatikan desain, ASUS juga memilih prosesor Intel Atom Z2420 Lexington sebagai otak dari ASUS Fonepad ini. Prosesor Intel Atom Z2420 Lexington memiliki kecepatan 1,2GHz dan memiliki fitur HyperThreading. Dengan prosesor dari intel tentu saja tidak diragukan lagi performanya dan juga prosesor ini diklaim lebih hemat dalam konsumsi daya baterai. Dengan baterai sebesar 4270mAh, pengguna dapat memainkan video beresolusi HD 720p hingga 9,5 jam pada Fonepad. Jika pengguna perlu melakukan panggilan telepon di jaringan 3G, baterai tersebut mampu memasok daya hingga 31 jam. Sehingga pengguna dapat menggunakan tablet ini lebih lama. Pemilihan prosesor ini sekaligus membuat ASUS Fonepad menjadi tablet 7 inci pertama di dunia yang menggunakan prosesor dari intel. Tidak kalah keren juga operating system yang digunakan pada ASUS Fonepad ini, yaitu menggunakan Android 4.1 Jelly Bean.

ASUS Fonepad menggunakan layar berukuran 7 inchi multi touch sampai 10 titik yang mendukung resolusi HD yakni 1280x800. Selain itu, dengan penggunaan tekhnologi panel IPS menjadikan tampilan gambar yang tetap tajam dan warna cerah meski dilihat dari berbagai sudut, hingga sudut 178 derajat. Tablet ini juga dilengkapi fitur photography yaitu dibekali dengan kamera belakang 3MP auto focus dan dapat digunakan untuk merekam video dengan resolusi HD 720p. Tidak hanya itu, tersedia juga kamera 1,2MP di bagian depan yang akan memudahkan anda untuk memotret diri sendiri dan juga untuk video call.

Untuk penyimpanan data sendiri ASUS Fonepad memiliki kapasitas penyimpanan internal yang cukup besar. Anda dapat memilih kapasitas 8GB atau 32GB, dan dapat diekspansi hingga 32GB lagi menggunakan slot MicroSD. Jika merasa masih kurang, ASUS juga menyediakan online storage (Cluod) sebesar 5GB yang bisa digunakan secara cuma-cuma selamanya oleh pengguna. Media penyimpanan berbasis cloud ini juga memiliki fitur Webstorage Office yang memungkinkan pengguna membuka, membuat, mengedit, atau melakukan sharing dokumen MS Word, Excel dan PowerPoint lewat Fonepad tanpa perlu menginstalasikan Microsoft Office.ASUS Fonepad saat ini dipasarkan dibandrol dengan harga yang cukup terjangkau dengan fitur layaknya tablet premium, yaitu Rp2.999.000 untuk kapasitas 8GB dan Rp3.699.000 untuk kapasitas 32GB.
 
read more

Wednesday, November 21, 2012

Perjalanku Ke Bogor

Sore ini seperti biasa jutaan molekul hidrogen dan oksigen menyatu, menjadikat titik-titik air yang jatuh mengguyur kota hujan ini. Aku termenung teringat perjalanan hidupku sampai aku di kota hujan ini. Dua belas tahun yang lalu diriku hanyalah seorang anak kecil yang polos, bahkan sangat polos yang selalu bercita-cita menjadi dokter. Entah mengapa aku mempunyai keinginan menjadi dokter waktu itu. Padahal aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahku hanya seorang petani kecil yang menggantungkan hidup dari hasil panen sawah kami. Waktu itu belum pernah terfikir betapa besar biaya untuk menjadi seorang dokter.
Aku mulai mengenyam pendidikan dasar pertama di SD N Mergawati 01. Di sana aku mulai tahu membaca, menulis, dan menghitung. Seiring bergantinya hari, bulan, dan tahun, aku mulai tumbuh dan berkembang disini. Dan akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan dasar tepat 6 tahun. Aku berhasil menjadi lulusan terbaik di SD ku waktu itu. Memang hasil itu yang selalu harus ku kejar, menjadi peringkat pertama. Ibuku selalu mengingatkanku akan hal itu. Bahkan walaupun sudah dapat peringkat satu, ibu atau ayah selalu mengomentari kalau ada nilaiku yang turun. Mungkin hal itulah yang menyebabkanku selalu berusaha giat belajar.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar yang pertama, aku melanjutkan di SMP N 1 Kroya yang merupakan SMP favori. Dengan bekal nilai tertinggi, tentu mudah bagiku untuk bisa diterima di sana. Di sana aku mendapat suasana yang benar-benar berbeda dan baru. Tidak ada satu temanpun yang ku kenal sebelumnya. Tidak ada teman SD yang satu SMP denganku. Tapi itu adalah pilihanku, entah kenapa aku ingin melanjutkan disini. Sekuat tenaga aku berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar baru. Bagiku ini adalah tantangan baru, aku harus bisa membuktikan kalau aku bisa menjadi andalan di sana. Orang tuaku tak henti-hentinya menberiku dukungan pada. Tahun pertama aku jalani dengan susah payah, dan belum berhasil medapat hasil yang maksimal. Tapi aku tetap berusaha dengan giat, untuk menjadi yang terbaik. Usaha yang dilakukan tidaklah sia-sia, di tahun kedua, aku berhasil meraih posisi yang ditargetkan. Bahkan bisa menjadi peringkat pertama di kelas. Karena itu, aku mulai ditunjuk untuk mengikuti beberapa perlombaan. Namun, dari sekian banyak perlombaan yang diikuti belum ada yang berhasil. Dan akhirnya aku menyelesaikan pendidikan SMP di tahun ketiga. Aku kembali berhasil menjadi lulusan terbaik di SMP ku.
Banyak teman-teman yang bertanya akan melanjutkan kemana aku. Dengan nilai yang bagus tentu saja mudah untuk masuk kemana saja. Tapi aku memutuskan untuk masuk di SMA N 1 Kroya. Aku memutuskan masuk disini karena berbagai pertimbangan. Sebelumnya saya pernah berencana untuk melanjutkan ke SMK saja. Karena khawatir tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah. Tentang cita-citaku, aku mulai pesimis waktu itu. Aku sudah tidak berfikir lagi untuk menjadi dokter. Aku mulai menyadari betapa besarnya biaya untuk kuliah menjadi dokter. Aku mulai berfikir, yang terpenting bagiku adalah bisa membahagiakan orang tua. Yang telah bersusah payah membesarkanku, mengasuhku, mendidikku, hingga aku bisa menikmati hidup sampai sekarang. Tetapi, orang tuaku mengatakan padaku untuk tetap pada pilihanku yang pertama, yaitu melanjutkan ke SMA saja. Mereka meyakinkanku bahwa kalau aku bersungguh-sungguh pasti bisa mendapatkan jalan untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Oleh sebab itu, aku mulai terus berusaha giat untuk bisa memperoleh nilai bagus dan mendapat beasiswa kuliah. Semangatku mulai terpompa lagi, namun sebenarnya aku masih bingung dan terus berfikir mau jadi apa aku nanti.
Bukan hal yang sulit di SMA untuk menyesuaikan diri, karena kebanyakan teman-temanku melanjutkan di sini. Aku mulai membuktikan kemampuanku di SMA ini. Di akhir tahun pertama aku mendapat kesempatan untuk mengikkuti lomba tingkat provinsi. Sungguh kesempatan langka yang pertama kali ku peroleh, apalagi di tahun pertama. Namun aku masih gagal untuk meraih hasil yang diinginkan. Aku sangat berharap bisa mendapat juara pada perlombaan yang aku ikuti agar mudah mendapat beasiswa kuliah. Tahun kedua, merupakan tahun yang paling berkesan selama SMA. Bisa dikatakan adalah masa terindah SMA. Di tahun kedua aku mendapat tambahan amanah untuk menjadi ketua OSIS. Sebenarnya aku tak percaya dengan amanah yang aku dapatkan. Aku belum pernah menjadi seorang ketua organisasi. Bahkan sebelumnya aku adalah siswa dengan tipe study oriented. Hanya belajar dan belajar, tidak pernah aktif dalam oraganisasi. Namun aku berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang memberi kepercayaan padaku.
Aku mulai merasa lebih bermakna, ketika sekolah tidak hanya belajar saja. Memang tugas utama kita adalah belajar, namun pengalaman organisasi seperti itu sangat berharga bagiku. Pengalaman yang tidak bisa didapatkan di kelas. Hal tersebut memberiku tantangan yang begitu besar. Aku harus bisa membegi waktu untuk belajar dan organisasi. Bukanlah hal yang mudah, tapi aku berhasil melakukannya. Satu hal yang membuatku bisa melakukan ini, janganlah mengecewakan orang-orang yang sudah memberi keperrcayaan padamu. Itu yang selalu aku ingat, aku tidak mau mengecewakan orang tuaku dengan turunnya nilaiku dan aku juga tidak mau mengecewakan teman-teman serta bapak ibu guru yang memercayaiku menjadi ketua OSIS. Hal lain yang menghiasi hari-hariku ditahun kedua dan menjadikannya indah yaitu aku bisa mengikuti berbagai macam perlombaan ditengah kesibukanku belajar dan berorganisasi. Itu merupakan tantangan lain yang harus aku hadapi. Tapi hal itulah yang membuat semua lebih bermakna. Perlombaan yang aku ikuti membuatku bisa berkeliling ke beberapa kota selama tahun kedua, sungguh hal yang mengasikkan. Memang aku belum mendapat hasil yang maksimal, namun setidaknya aku bersyukur bisa merasakan suatu hal yang belum tentu orang lain rasakan.
Saat masuk tahun ketiga masih ada satu hal yang selalu terfikirkan. Bagaimana aku bisa melanjutkan pendidikanku? Di kelas aku mulai mendapat wawasan baru dari guru BK, dan aku mulai melirik sekolah tinggi kedinasan. Selain biaya gratis, lulusannya juga akan ditempatkan. Memang itu yang aku cari, bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun dalam benak ini sebenarnya terfikir, bidang mana yang sesuai denganku. Aku merasa kurang cocok dengan bidang-bidang itu. Tetapi aku buang fikiran itu jauh-jauh, yang terpenting adalah bisa membehagiakan orang tua. Di kebimbangan itu, ada seorang yang memberikan support pada ku. Beliau adalah seorang guru di SMA ku dan sekaligus salah satu pembina OSIS. Aku memang sangat dekat dengan beliau. Beliau menceritakan betapa keras perjuangannya dulu saat kuliah. Hal tersebut memotivasiku, bahwa dengan keterbatasan bukan berarti tidak mungkin menggapai keinginan kita. Sejak itu aku mulai belajar soal-soal ujian masuk sekolah tinggi kedinasan yang aku dapat dari beliau dan juga internet.
Seiring berjalannya waktu, aku mendapat info lain tentang beasiswa bidik misi. Beasiswa yang ditujukan untuk lulusan SMA yang ingin melanjutkan kuliah dan mempunyai keterbatasan biaya. Aku sangat tertarik dengan beasiswa tersebut, karena bebas memilih perguruan tinggi dan jurusan. Aku mulai meninggalkan keinginanku untuk melanjutkan di sekolah tinggi kedinasan. Dari semakin banyak info yang ku dapat, aku mulai memutuskan untuk memilih mengambil Ilmu Gizi di Institut Pertanian Bogor. Entah kenapa aku sudah tidak tertarik lagi untuk menjadi dokter. Menurut pemikiranku itulah bidang ggizi yang sesuai denganku. Lomba Kader Kesehatan Remaja yang pernah aku ikuti menginspirasi untuk mengambil di jurusan Ilmu Gizi.
Di akhir tahun ketiga aku mendaftarkan diri di Institut Pertanian Bogor dan mengambil jurusan Ilmu Gizi melalui jalur SNMPTN Undangan. Dua bulan kemudian aku mendapat dua kabar gembira. Kabar yang pertama aku lulus SMA, dan yang kedua aku diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan Ilmu Gizi. Kabar yang sungguh menggembirakan bagiku dan orang tuaku. Itulah buah dari usaha dan do’a selama ini yang ku lakukan. Memang benar, apa yang kita lakukan sekarang akan kita petik hasilnya nanti.
Sampailah aku di kota hujan ini, mulai mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Dari 5000 lebih pendaftar SNMPTN Undangan yang memilih Ilmu Gizi di IPB, aku berhasil menjadi salah satu jari 70-an orang yang diterima. Sungguh tak terduga sebelumnya. Dan aku telah menentukan pilihan yang tepat, karena jurusan Ilmu Gizi IPB adalah yang terbaik se-Indonesia. Aku benar-benar bangga bisa masuk disini, masuk dengan biaya Rp 0,- di perguruan big five Indonesia. Aku sudah tidak mengkhawatirkan lagi masalah biaya kuliah, bahkan untuk biaya hidup sudah ditanggung tiap bulannya. Yang harus ku fikirkan tetap menjaga kepercayaan dari orang-orang yang telah memercayaiku. Dan bagaimana aku bisa bermanfaat untuk negeri ini yang telah membiayai pendidikanku.
Keberhasilan ini bukanlah akhir dari perjuanganku, tetapi merupakan awal dari perjuangan baruku. Aku masih memiliki mimpi-mimpi besar lainnya yang akan aku gapai dengan perjuangan, keyakinan, dan do’a. Aku ingin lebih berarti lagi, tidak hanya sebagai mahasiswa yang study oriented yang hanya mengejar IP 4,00. Terlalu sempit jika hanya itu yang diperjuangkan. Aku ingin lebih dari itu. Aku akan kehilangan waktu-waktu indah saat kuliah jika hanya itu yang dikejar. Aku ingin mengikuti event-event Internasional sehingga bisa merasakan matahari di belahan bumi lain, merasakan budaya-budaya di belahan bumi lain selagi masih menjadi mahasiswa. Aku juga ingin bisa bermanfaat tidak hanya untuk orang tua, dan orang dekatku saja. Namun lebih luas daripada itu, aku ingin bermanfaat untuk semua orang dan bisa memperbaiki negeri ini. Insya Allah terwujud. Amin.....
                                                                        Bogor, dibawah rintikan hujan senja Oktober
                                                                        Angga Rizqiawan
read more

Tuesday, November 20, 2012

Program Penghitung IMT

Setelah sekian lama vakum, duniasains pengin share lagi nih. Posting kali ini merupakan keinginan saya sejak lama. Saya dari dulu pengin banget yang namanya bisa programing. Dan akhirnya sekarang mulai kesampean, walaupun hanya otodidak dan masih sangat dasar apa yang saya pelajari. Tidak ada salahnya juga sebagai mahasiswa ilmu gizi belajar pemrograman kan? Walaupun terkesan ngga ada hubungannya, tetapi saya pengin hubungin. Pengin buat program sendiri yang bisa memudahkan pekerjaan saya.HEHEHEHE....Lagian ngga ada yang nglarang juga kalau kita belajar berbagai macam ilmu, apalagi untuk saling mendukung ilmu-ilmu yang kita pelajari satu sama lain. Ok langsung saja, ceritanya program pertama saya ini bernama program penghitung IMT. Buat yang belum tahu IMT, IMT merupakan indeks masa tubuh yang digunakan untuk mengukur status gizi seseorang. IMT merupakan hasil perhitungan dari Berat Badan dibagi dengan Tinggi badan dalam meter dan dikuadratkan.
Ini bentuk programnya.

Cara penggunaan program ini sangat mudah, cukup memasukkan tinggi dan Berat badan kemudian tekan proses. Maka IMT anda dan status gizi anda akan keluar di kotak IMT dan keterangan. Bagi yang ingin mendownloadnya silakan download di link berikut ini.
DOWNLOAD NOW
read more

Wednesday, October 24, 2012

Design Rumah dengan Google SketchUp

Teringat kembali pelajaran seni budaya 1 tahun lalu ketika di SMA. Saat itu saya pernah mendapat tugas untuk membuat design rumah dengan teknik proyeksi perspektif, cukup ribet emang. Tapi saat itu aku pernah berfikir untuk membuat design itu di komputer. Akhirnya aku ketemu sama google sketchUp. software yang jauh lebih mudah digunkan untuk membuat design rumah atau benda lain daripada AutoCad. Ini contoh design yang aku buat









read more

Tuesday, September 18, 2012

Atasi Gejala PMS dengan Minum Susu

Sobat Dunia Sains, gimana nih kabarnya? Udah lama Dunia Sains ngga posting, pasti banyak yang nunggu artikel-artikel dari Dunia Sains. Maklum, admin lagi sibuk kuliah. Masuk jurusan gizi menjadi tiaada hari tanpa tugas dan laporan praktikum. hahaha, malah jadi curhat. Dengan sedikit tenaga yang tersisa yang habis dikuras dari pagi saya mencoba share informasi nih. Kali ini Dunia Sains mau share info tentang PMS. Berhubung baru dapet ilmu baru yang nyangkut pas kuliah.(tumben nyangkut)hahahaha. Apa sih PMS? yang jelas yang dibahas disini bukan PMS = Penyakit Menular Seksual. Tapi PMS disini adalah Pre Menstrual Syndrome (ribet banget bacanya) heeee. PMS merupakan gejala-gejala yang dialami karena akan datangnya menstruasi. Gejala tersebut meliputi perubahan mood, pegal-pegal, dan nyeri perut yang dialami saat akan datang bulan. Menurut penelitian dari profesor bidang psikiatri klinis di University of Miami Miller School of Medicine, M. Beatriz Currier, MD  menjelaskan bahwa sebanyak 75 perempuan akan mengalami PMS dalam kadar ringan, dan 5 persen yang mengalami gejala cukup parah. Tentu saja ini dialami sama cewe. Tapi buat cowo yang udah terlanjur baca ini jangan nyesel karena artikel cewe. Artikel ini juga berguna lho buat cowo, terutama buat yang punya pacar nih. Biasanya cowo-cowo pasti pada ngrasain kan si dia jadi sensitif gitu, tiba-tiba ngambek, BT lah dan sebagainya tanpa alasan yang jelas. Apalagi kalau yang namanya cewe udah ngambek, huh,,,sebagai cowo semua serba salah. Bingung kan??? Jadi ikut BT juga kan??? Makannya ayo lanjutkan pembahasannya.HeHeHe......

Fakta yang membuktikan bahwa kadar kalsium pada saat PMS lebih rendah dibandingkan setelah mentruasi, sehingga membuat para ilmuan tergerak untuk meneliti lebih lanjut tentang efek kalsium terhadap gejala-gejala PMS. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kalsium dan vitamin D dapat mengurangi gejala PMS secara signifikan. Selain kalsium dan vitamin D, magnesium, vitamin B1, B2 dan vitamin E juga dilaporkan dapat mengurangi gejala PMS. Vitamin dan mineral yang terdapat dalam makanan lebih efektif untuk mengurangi keluhan PMS dibandingkan dengan vitamin dan mineral yang berasal dari suplemen. Wanita dan remaja putri yang rutin mengkonsumsi susu rendah lemak dan produk olahannya seperti yoghurt dan keju terbukti memiliki keluhan PMS lebih sedikit. Hal ini disebabkan karena susu mengandung tinggi kalsium, vitamin D, serta vitamin dan mineral lainnya yang teruji dapat mengurangi keluhan PMS.

Jadi, buat cewe yang mau mengatasi gejala PMS ini, konsumsi lah susu dan makanan yang mengandung vitamin dan mineral. Ngga mau kan ngrasain nyeri atau ngambek-ngambek ke cowonya? Kasihan lho cowonya.hehehehehe. Penting juga untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi (Fe). Karena pada cewe yang menstruasi sangat rawan terkena anemi. Dan dampaknya ngga kecil lho. Anemi ngga cuma buat kamu jadi ngga konsentrasi and semangat. Tapi bisa menjadi resiko tinggi saat hamil. Hmmmm....buat cowo-cowo kasih tau cewenya. Biar cewenya ngga ngambek-ngambek lagi tuh pas mau mens. Heeeeeee

Biasakan konsumsi makanan bergizi dan seimbang!!!
Salam Sains ^_^
read more

Friday, August 3, 2012

Smartphone Bikin Orang “Gila Kerja”


Kemunculan smartphone memicu pola hidup workaholic atau gila kerja bagi penggunanya. Mengapa bisa begitu?
Idealnya, orang bekerja 7 jam dalam sehari. Tapi agaknya itu tak berlaku lagi sejak era teknologi informasi, terutama dengan hadirnya ponsel pintar alias smartphone.  Jam kantor bisa saja berakhir pada pukul 5 sore, faktanya pekerjaan tetap mendera hingga malam, bahkan akhir pekan. Panggilan telepon, email, SMS, pesan instan, yang berkaitan dengan kerja, bisa datang kapan saja.
Sebanyak 60% pekerja pengguna smartphone menyatakan mereka terus terhubung dengan urusan kantor agar tetap terorganisir. Sementara 40% lain mengatakan tak punya pilihan selain melakukan itu. Demikian menurut survei online yang melibatkan 1000 pekerja usia dewasa di Amerika, oleh Good Technology.
Total, 80% pekerja mengaku tetap online dan bekerja walau sudah meninggalkan kantor.  Waktu yang mereka habiskan untuk bekerja di luar jam kantor rata-rata 7 jam per minggu, setara dengan 30 jam sebulan, atau 365 jam per tahun.  Setiap hari, 68% dari mereka memeriksa email sebelum jam 8 pagi.  Bahkan 50% memeriksa email saat masih di tempat tidur. Di malam hari, 40% masih ber-email-ria setelah jam 10 malam.  Dan 69% tak lupa memeriksa email sebelum berangkat tidur.
Wow, mengagumkan juga ya semangat kerja mereka.  Mungkin sebaiknya perlu dipikirkan juga “uang lembur” bagi 30 jam ekstra kerja setiap minggunya. Bagaimana dengan Anda? Apakah tergolong workaholic juga, atau bahkan lebih?

from netsains.net
read more

AADB ( Ada Apa Dengan Benci? )


“Benci” merupakan sebuah kata yang “kuat” dan sering digunakan. “Aku benci hujan”, “Aku benci mantan kekasihku” dan selanjutnya merupakan kalimat-kalimat yang mengandung kata “benci” dan bermakna negatif. Kita menggunakan kalimat ini setiap hari dengan mudah dan tanpa kita sadari. Mungkin beberapa menit yang lalu pembaca baru saja menggunakan kata tersebut.
Saya ingin sekali mengatakan bahwa saya tidak membenci apapun, akan tetapi tentu saja, itu adalah sebuah kebohongan. Kita semua memiliki kebencian. Kebencian merupakan sebuah kondisi emosional yang mana kita semua lahir dengan hal tersebut dan harus mengatasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bilamana kebencian menjadi liar dan tidak terkendali dalam diri kita, hal tersebut akan berubah menjadi perilaku dalam wujud prasangka, kekerasan dan lain sebagainya. Jika kebencian ini merupakan perilaku bukan bawaan lahir, seperti hal yang dipelajari, maka saya yakin itu dapat diubah.
Hampir sebagian besar hal negatif yang terjadi di dunia ini berasal dari kebencian seperti rasisme, anarkisme, vandalisme dan separatisme. Perang adalah salah satu contoh paling nyata dan merupakan produk riil dari sebuah kebencian baik antar individu hingga negara. Dan contoh kecil seperti sepakbola dapat menjadi pelajaran berharga.
Sebagaimana kita ketahui pergelaran Euro 2012 telah berakhir, dimana Spanyol keluar sebagai juara. Ini merupakan gelar Euro kedua mereka berturut-turut setelah tahun 2008. Siapapun yang menonton pertandingan malam Senin itu tahu benar bahwa Italia yang menjadi lawan dibuat tidak berkutik dan kalah telak 4-0.
Jujur, saya adalah penggemar Italia sejak era Roberto Baggio dan Paolo Maldini pada tahun 1994 dan cukup sedih melihat kekalahan Italia. Namun, jauh lebih bersedih ketika melihat pada keesokan harinya banyak beredar di media sosial FacebookTwitter dan jurnal-jurnal onlinememajang gambar lelucon mengenai salah seorang pemain Italia. Beberapa bahkan saya terima via BlackBerry Messenger.
Mungkin mereka yang membuat gambar tersebut tidak sadar sedang menyebarkan kebencian, jika diperbolehkan dapat juga dikatakan rasis. Mungkin juga bagi mereka itu semua hanya lelucon ringan. Mungkin juga saya yang memandang hal tersebut berbeda dan melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang kurang baik. Atau, seperti beberapa teman saya mengatakan saya terlalu serius.
Pada akhirnya, ketika saya mencoba melihat hal tersebut dari sudut pandang yang berbeda, saya menyadari bahwa “semakin besar seseorang, maka semakin besar pula perhatian tertuju padanya, baik positif maupun negatif”. Perhatian negatif, tetaplah merupakan perhatian, karena mereka menyempatkan waktu untuk membuat lelucon tersebut dan menyebarkannya.
Hidup disusun atas kebaikan dan keburukan, Hal-hal buruk dapat mengajarkan kita untuk menyadari hal-hal yang baik. Satu-satunya hal yang dapat membatasi kebencian merajalela adalah rasa hormat kepada satu sama lain (respek). Sebagaimana Raja Priam dari Troy pernah menghadap Achilles dari Yunani, sang musuh dan berujar “you’re still my enemy tonight, but even enemy can show some respects”.
Semua kembali kepada pribadi masing-masing dan bagaimana tiap individu melihat dunia ini. Tapi, jika memungkinkan, janganlah membenci.
“Don’t hate, it’s too big a burden to bear.” – Martin Luther King.
read more

Perkembangan dan Pertumbuhan Masa Anak-Anak

Setiap individu mengalami perkembangan. Setiap individu pun mengalami pertumbuhan. Namun, dapatkah ditemukan perbedaan signifikan antara keduanya?  Jawabannya, tentu bisa. Perkembangan adalah proses perubahan yang bersifat konstan dan kualitatif dalam diri setiap individu menuju kedewasaan. Contohnya, seorang bayi yang mulai bisa memanggil orangtuanya dengan sapaan ‘Ma..ma..ma.’. Meski terdengar simple, namun itulah salah satu contoh perkembangan. Sedangkan pertumbuhan adalah proses perubahan yang bersifat alamiah dan kuantitatif pada diri individu, berkaitan dengan organ jasmani.
Dalam Psikologi Perkembangan, proses perkembangan dibagi menjadi 8 tahap yakni :
1. Permulaan Kehidupan
2. Masa Pranatal
3. Proses Kelahiran
4. Masa Bayi
5. Masa Anak-Anak ;
- Masa Anak-Anak (Awal)
-Masa Anak-Anak (Akhir)
6.Masa Remaja
-Masa Remaja (Awal)
- Masa Remaja (Akhir)
7. Masa Dewasa
- Masa Dewasa (Awal)
- Masa Dewasa (Madya)
- Masa Dewasa (Akhir)
8. Masa Akhir Kehidupan
Setiap masa memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan tahapan lain, termasuk pada masa awal anak-anak yang notabene harus lebih diwaspadai. Tinggi dan berat badan mereka bertambah dikarenakan beberapa faktor seperti gizi, kesehatan dan faktor individual. Proses mienilisasi (sel syaraf dilapisi oleh lapisan sel lemak) meningkatkan kecepatan dan ketepatan anak dalam menerima, mengolah serta menyalurkan informasi. Seiring dengan peningkatan tersebut, meningkat pula ukuran otak anak.Tak hanya itu, visualisasi mereka pun meningkat. Hal ini dpat dibuktikan dnegan fokus kerja mereka dalam memusatkan penglihatan.
Anak-anak identik dengan ‘kelebihan energi’ menyebabkan mereka terus bergerak, bergerak dan bergerak, seolah tak kenal lelah. Pada masa ini aspek motorik mereka terbagi menjadi motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar berkaitan dengan kemampuan berjalan, berlari, berenang, menyeimbangkan badan, melempar, melompat dan menangkap. Sementara motorik halus berkaitan dnegan kemampuan mengancingkan baju, meniru bentuk, menggunting, dan sebagainya.Keduanya jenis motorik tersebut terjadi pada usia antara 2,5 – 5,5 tahun.
Tak jarang anak-anak mengalami kesulitan pola makan. Mereka umumnya lebih memilih makanan cepat saji dan ‘say no to sayuran’. Padahal sayuran baik bagi pertumbuhan mereka. Tak perlu paksaan, tak perlu kecaman. Dewasa ini, berbagai trik dan tips pun ditawarkan guna kebutuhan sayuran anak. Pemberian sayuran pada anak dapat ‘dimanipulasi’ dengan menyisipkan sayuran pada makanan mereka. Contohnya nugget buatan yang di dalamnya berisi sayur. Untuk trial pertama, cobalah porsi sayuran dan daging 1:4. Selanjutnya tingkatkan porsi sayuran dibandingkan daging, dengan begitu niscaya lidah anak akan terbiasa dengan sayuran. Atur pola makan sehat untuk anak dengan menu 4 sehat lima sempurna dan halal.
Ada motorik, maka ada pula kognitif. Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak usia prasekolah berada pada periode praoperasional yang ditandai dengan munculnya kemampuan menalar, menguat dan melemahnya egosentrisme, serta timbulnya gagasan imajinatif.Berbicara aspek kognitif, berbicara pula mengenai kreativitas anak. Kreativitas atau daya kreasi dikatakan muncul jika ia bersifat tidak biasa. Setiap anak cenderng bersifat kreatif. Mereka berpotensi besar menciptakan hal-hal baru dan tak biasa, terlepas dari baik buruknya. Sekarang, tinggal bagaimana orangtua mengarahkan ke arah yang positif.
Keluarga memegang peranan kuat dari setiap tahap perkembangan anak. Di sinilah perkembangan sosial dan emosi anak bermula. Untuk itulah, penting bagi orangtua memperhatikan pola pengasuhan, harmonisasi dan relas antar anggota keluarga. Komunitas selanjutnya dalam sosialisai anak adalah teman sebaya. Kehadiran merka penting sebagai pembanding di luar lingkungan keluarga dan sebagai sumber informasi. Biarkan anak bermain, sebab dengan bermain dapat meningkatkan kerjasama, eksplorasi dan perkembangan kognif.
Masa akhir anak-anak terjadi pada rentang usia 6-12 tahun. Umumnya pada akhir masa ini, anak-anak mengalami kematangan seksual, baik laki-laki maupun perempuan. Bahaya yang harus diwaspadai antara lain; kecanggungan, bentuk tubuh yang berubah, perilaku sosial yang berubah, dan sebagainya. Untuk selanjutnya mereka menuju masa remaja. Pada saat itulah masa anak-anak berakhir.

from netsains.net
read more

Cuma 5% Orang Tua yang Khawatir Anaknya Akses Konten Dewasa

Ada banyak bahaya yang mengancam anak-anak di dunia maya, dan tidak semua anak maupun orang tua siap menghadapinya. Ternyata jumlah orang tua yang punya prioritas melindungi anaknya dari konten dewasa masih cukup minim. Dari survei yang dilakukan Harris Interactive pada 9000 user internet di Amerika, Rusia, dan Eropa pada Februari hingga Maret 2012, hanya 5% saja user yang memprioritaskan proteksi anak mereka dari konten dewasa.
Di sisi lain, komunitas online saat ini semakin banyak yang berusia muda, dengan laptop atau ponsel pintarnya. Bahkan anak-anak sekolah pun sudah terbiasa dengan perangkat elektronik canggih tersebut. Sebanyak 35% dari mereka mengakses internet dari ponsel, dan 62% dari ponsel pintar.
Dengan kondisi tersebut, selayaknya makin banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka yang kian banyak menghabiskan waktu di chat room atau social media. Sebesar 10% dari responden mengkhawatirkan hal tersebut. Mereka takut anak-anaknya mengalami atau terlibat kekerasan virtual, atau mengakses konten terlarang. Hal lain yang juga dikhawatirkan adalah anak-anak memberikan informasi penting ke orang tak dikenal.
Adabeberapa software yang bisa dipakai orang tua untuk memonitor perilaku online anak-anak mereka, khususnya yang masih di bawah umur. Salah satunya modul Parental Control dari Kaspersky Internet Security 2012 yang dapat mengatur akses anak ke web dan aplikasi, serta memantau komunikasi mereka dengan teman-teman di social media. Selain diinstal di komputer, software ini juga bisa diintal di ponsel pintar maupun tablet, seperti Kaspersky Parental Control for Android. Program ini dapat memblokir web yang berisi konten dewasa atau berbahaya bagi anak-anak.
Selain memasang software pelindung, orang tua juga sebaiknya mengajak anak berkomunikasi dan berdiskusi mengenai bahaya yang mengancam di dunia maya.

from netsains.net
read more

Monday, June 25, 2012

Bioinformatika dan Revolusi Pertanian


 Indonesia merupakan negara berpenduduk keempat terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Pun Indonesia merupakan negara konsumen beras terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Fakta itu tentu merepresentasikan kebutuhan pangan Indonesia yang sangat besar.
Permasalahan pangan di Indonesia bukanlah suatu hal yang dapat dianggap remeh. Kompleksitas masalahnya dimulai dari kecilnya lahan pertanian, minimnya produktivitas tanaman pangan, birokrasi pertanian yang kurang menguntungkan petani, mahalnya harga komponen pertanian, kegagalan program diversifikasi pangan, dan segudang masalah lainnya. Berkaitan dengan permasalahan produktivitas pangan, mungkin Indonesia patut mencontoh negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan Jepang. Mereka merupakan negara yang sangat meningkatkan produktivitas tanaman pangannya karena sangat menerapkan ilmu bioteknologi pertanian dan bioinformatika.
Lalu apa kaitan bioinformatika dengan revolusi pertanian? Bioinformatika sebenarnya merupakan ranah ilmu yang tergolong baru dan belum banyak berkembang di Indonesia. Bioinformatika merupakan gabungan antara ilmu biologi dengan informatika, dimana hasil penelitian biologi dibentuk menjadi data digital dan kemudian diolah untuk menghasilkan suatu informasi baru.
Teknologi rekayasa genetika merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan riset bioinformatika. Sekuens gen unggul pada suatu organisme agar dapat disisipkan ke organisme lain yang diinginkan dapat ditentukan melalui analisis genomik dari basis data genom organisme tersebut. Analisis genomik merupakan salah satu ranah bioinformatika.
Revolusi pertanian yang mengubah paradigma pertanian konvensional dengan menghasilkan spesies tanaman pangan unggul hasil rekayasa genetika. Salah satu contoh dapat terlihat jelas pada padi, tanaman pangan pokok setengah penduduk dunia termasuk Indonesia. Padi yang rentan hama, pertumbuhannya lambat, dan produktivitasnya dalam menghasilkan beras rendah kini tergantikan oleh padi hasil rekayasa genetika. Padi hasil rekayasa genetika saat ini telah disisipkan gen penghasil antihama yang berasal dari bakteri, gen enzim fotosintesis dari tanaman C4 seperti jagung dan tebu untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas, bahkan disisipkan gen penghasil beta-karoten untuk meningkatkan nutrisi beras.
Terlihat bahwa riset bioinformatika ternyata juga memegang peranan penting dalam permasalahan pangan. Indonesia yang saat ini banyak tertinggal riset dasar dan terapannya harus berbenah diri dengan meningkatkan jumlah dan kompetensi riset demi mengejar ketertinggalan di berbagai sektor dari negara maju, bahkan negara berkembang seperti China dan India

from netsains.net
read more

Terobosan Nanoteknologi di Bidang Medis


 Tes medis yang saat ini banyak digunakan menggunakan metode immunoassayImmunoassay merupakan metode deteksi biomarker (penanda bio) yang berhubungan dengan penyakit tertentu yang mengikuti prinsip sistem imun dalam mengenali senyawa asing. Keberadaan biomarker ditentukan dari sampel biologis seperti darah dan urin. Immunoassay dapat mendeteksi keberadaan biomarker tertentu lewat serangkaian reaksi yang melibatkan protein antibodi dan senyawa kimia yang dapat menghasilkan fluoresensi atau perpendaran cahaya.
Fluoresensi tersebut dapat dideteksi dengan mikroskop ataupun instrumen lainnya. Semakin tinggi intensitas cahaya yang berpendar semakin tinggi pula konsentrasi biomarker, begitupun sebaliknya. Namun apabila konsentrasi biomarker sangat kecil, deteksi immunoassay konvensional belum mampu mendeteksinya. Padahal penentuan ini sangat penting untuk deteksi dini berbagai penyakit seperti kanker, Alzheimer’s, maupun kelainan lainnya. Sehingga peningkatan batas deteksi menjadi penting dalam riset immunoassay lebih lanjut.
Para ilmuwan dari Princeton University telah mengembangkan  suatu deteksiimmunoassay lanjut yang dapat meningkatkan batas deteksi hingga tiga juta kali lipat dibandingkan immunoassay konvensional dengan bantuan nanoteknologi. Teknikimmunoassay terbaru ini menggunakan suatu nanopartikel yang disebut D2PA. Nanopartikel ini terdiri atas lapisan tipis nanostruktur emas (Au) berdiameter 10-15 nanometer yang dilingkupi oleh pilar gelas membentuk partikel berdiameter 60 nanometer. Nanopartikel ini memiliki kemampuan untuk mengumpulkan cahaya yang ditransmisikan oleh antibodi yang mengandung biomarker dan fluoresens yang berpendar pada analisis immunoassay. D2PA terbukti dapat meningkatkan sinyal transmisi perpendaran hingga satu miliar kali. Efek ini disebut sebagai hamburan Raman permukaan.
Secara teknis, para peneliti tersebut dapat mendeteksi keberadaan biomarker pada konsentrasi 300 attomolar (1 attomolar = 10-9 nanomolar) dibandingkan batas deteksibiomarker pada analisis immunoassay konvensional yang hanya 0.9 nanomolar. Dapat dikatakan bahwa batas deteksi immunoassay dengan bantuan nanopartikel meningkat hingga tiga juta kali lipat. Riset ini tentu suatu terobosan yang sangat penting dalam dunia medis dan kedokteran, dimana penyakit-penyakit seperti kanker dapat terdeteksi lebih awal sehingga penanganannya jauh lebih mudah

from netsains.net
read more

Sudahkah Anda Menyapa Orang Hari Ini?


Manusia selalu membutuhkan sesamanya untuk berbagi, saling membantu. Dari sudut pandang evolusi, semua itu dibutuhkan agar manusia bisa bertahan hidup (dalam arti literatur) seperti layaknya bakteri berkembang biak dalam strain atau burung dalam kelompok migrasi.
Namun, manusia bukanlah bakteri, tumbuhan maupun hewan. Sebagai makhluk kompleks dengan kecerdasan melebihi makhluk lain, kita telah berkembang menjadi spesies dominan di muka bumi ini. Dominansi yang membuat hubungan sosial tersebut di atas menjadi lebih kompleks. Kompleksitas disini dapat saya artikan sebagai sifat-sifat manusia seperti timbulnya rasa iri, dengki, cemburu, sakit hati, bahagia, senang dan lain sebagainya dalam menjalin hubungan sosial.
Seorang tetangga dapat membenci tetangganya karena berbeda pola pikir atau karena tetangga lebih mampu dari tetangga lainnya. Seorang nasabah kecewa dengan pegawai bank karena mereka kurang memberikan layanan yang baik. Seorang kekasih rela memberikan segalanya demi pasangannya walau dia tidak menunjukkan hal serupa. Seorang kolega dapat memutuskan hubungan profesional karena perkara uang.
Saat ini, berbagai macam media dan sarana telah dimudahkan untuk menjalin sebuah jejaring sosial. Mulai dari media elektronik audio seperti telpon, visual seperti FacebookTwitter hingga yang menggabungkan keduanya seperti SkypeVoipiChat. Semua itu menjadi pilihan yang memudahkan kita semua untuk saling bertegur sapa.
Akan tetapi, terkadang itu tidak menjanjikan sebuah hubungan sosial itu baik. Menurut saya, frekuensi komunikasi dan regulerisasi merupakan kunci menuju sebuah hubungan sosial yang baik. Saya teringat pepatah bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan itu sebabnya kita membutuhkan sosialisasi. Dan kita terkadang menyadari kelemahan kita hanya pada saat kita menghubungi orang lain hanya karena membutuhkan bantuan mereka. Sebuah sikap egois yang sepertinya wajar terjadi, mengingat hakikat dasar kita memang lemah dan berusaha untuk “bertahan hidup”. Namun hendaknya kita lebih bijak ketika hendak menjalani hakikat tersebut dengan melibatkan orang lain.
Saya mengambil contoh sebuah frase dalam bahasa Perancis yaitu « prendre un contact avec » yang berarti “menjalin hubungan dengan”. Selama saya tinggal di Perancis hingga hari ini, tidak banyak teman dan kolega asing yang saya miliki. Namun beberapa gelintir tersebut rupanya memang teman dan kolega yang sesungguhnya. Secara reguler kami « prendre un contact avec » via media apapun dan terus berkomunikasi tidak hanya ketika saling membutuhkan bantuan.
Sebuah opini yang saya tulis ini merupakan refleksi pribadi yang mungkin berguna untuk pembaca. Jadi hari ini saya bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya menyapa orang lain ? Bagaimana dengan anda ?

From netsains.net
read more

Pola Asuh dan Pengaruhnya Bagi Perkembangan Anak


Banyak permasalahan yang terjadi di sekitar kita, mulai dari kenakalan remaja, Narkoba, bolos sekolah, kriminalitas, semuanya bersumber dari keluarga. Anak-anak yang dibesarkan dengan pengasuhan yang kurang tepat, kurang terpenuhinya kebutuhan psikologis mereka sesuai dengan tahap perkembangannya, menjadikan mereka tumbuh dan berkembang dengan cara yang salah. Kurangnya pengarahan dan penanaman nilai-nilai positif di dalam keluarga menjadikan anak kurang dapat menempatkan dirinya dengan benar di lingkungan. Keluarga sebagai sarana belajar pertama bagi anak dan pembentukan karakter anak, semestinya memfasilitasi anak untuk belajar menjadi pribadi yang penuh potensi dan membanggakan orangtuanya.
Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang bagaimana harus memperlakukan anak-anak kita secara benar, kita akan sedikit membicarakan tentang karakteristik khas dari seorang anak. Perlu kita pahami bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa. Sehingga ketika kita akan memperlakukan mereka, janganlah menggunakan pola pandang kita. Anak dengan dunianya, memiliki keterbatasan dalam hal kognisi, kemampuan motoriknya, juga beberapa hal yang mungkin dilakukan orang dewasa. Hal ini berpengaruh terhadap proses belajarnya mengenai kehidupan. Bagaimana ia belajar kedisiplinan, menghargai orang lain, kasih sayang, atau hal-hal lain yang berguna bagi kehidupannya ke depan. Termasuk apakah ia kelak akan menjadi anak yang sangat pemalu, tertutu, atau cukup percaya diri dan mampu menyampaikan keinginannya secara terbuka. Semua ini berangkat dari keluarga yang membelajari anak secara tidak langsung tentang pola-pola perilaku di atas.
Lalu bagaimana anak belajar pola-pola perilaku ini? Karena memiliki keterbatasan dalam hal kognisi dan pemahaman, maka anak belum dapat menganalisa segala hal yang dilakukan orang tua padanya. Anak hanya dapat melihat, meniru, hal-hal apa saja yang dilihatnya tanpa dapat memikirkan hal itu baik atau tidak. Proses modelling dan imitasi sangatlah kental pada masa ini. Oleh karenanya, sedapat mungkin orang tua menstimulasi anak dengan hal-hal yang positif agar ia belajar perilaku yang positif pula. Mencontohkan beribadah lebih mudah diterima daripada memarahinya ketika ia tidak mengerjakan shalat atau tidak mau ke gereja. Mengajaknya gosok gigi bersama lebih mudah dilakukan daripada hanya menyuruhnya cuci kaki dan gosok gigi sebelum tidur. Modelling yang positif dari orang tua ke anak akan berdampak positif bagi perkembangan dan pembentukan karakternya.
Ayah sebagai figur otorita di rumah, menanamkan kedisiplinan pada anak. Mencontohkan bangun pagi, meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan bersikap tegas ketika anak melakukan kesalahan. Ibu sebagai figur yang lembut berusaha menyeimbangkan dengan mengajarkan pada anak nilai-nilai kasih sayang, menolong orang lain, kejujuran, kesederhanaan atau mendengarkan keluh kesahnya.
Prinsip kerja pola perilaku pada anak dibentuk lewat hadiah dan hukuman. Hadiah diberikan untuk perilaku-perilaku yang positif, tujuaannya untuk meningkatkan perilaku agar bertahan lama. Sebaliknya anak akan dihukum ketika ia melakukan tindakan negatif, yang bermaksud untuk menghilangkan perilaku tersebut. Kedua hal ini bekerja pada dimensi perilaku, yang bertujuan untuk membentuk habit atau kebiasaan pada anak.
Dimensi lain yang tak kalah penting adalah emosi. Anak juga bukan makhluk robotik yang hanya dibentuk lewat hadiah dan hukuman. Karena keterbatasan kognisinya pula, terkadang ia kurang dapat memaknai secara benar stimulasi yang diberikan orang tuanya. Orang tua memarahi anak dengan maksud agar ia tidak lagi berantem dengan adiknya atau untuk mengurangi perilaku agresifnya yang dinilai tidak sopan dengan harapan kelak agar ia lebih dihargai orang dan tahu sopan santun. Tapi sayangnya cara berfikir anak tidak sampai ke sini. Ia hanya melihat apa yang nyata di hadapan matanya bahwa ia dimarahi. Anak berfikiran jika orang tua jahat karena memarahinya. Konsep yang salah ini jika terus dibawa sampai remaja atau dewasa, akan menimbulkan figuring negatif anak terhadap orang tuanya. Dampaknya, jika anak laki-laki memiliki kerenggangan hubungan dengan ayah, maka ia akan kehilangan figur maskulin darinya. Sebaliknya, jika anak perempuan memiliki kesan negatif pada ibunya maka ia akan kurang mendapatkan figuring feminin dari ibunya.
Penerimaan tanpa syarat menjadi solusi akan semua permasalahan di atas. Biarkan anak melakukan apa saja yang menjadi kesenangannya, tetapi di bawah pengawasan dan kontrol. Hargai sekecil apapun hal-hal yang dilakukan anak, agar ia lebih percaya diri. Jangan terlalu banyak mencemooh atau meremehkannya, sebab ini akan berpengaruh pada kepercayaan dirinya kelak. Ajak ia berdiskusi dan memaknai setiap hukuman yang diberikan, agar ia belajar sesuatu dengan cara yang benar.
ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan kententraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Dorothy Law Nolte
from netsains.net
read more

Monday, June 11, 2012

Memahami Penggunaan Narkoba pada remaja dan Upaya Pencegahannya


Istilah NARKOBA sudahlah sangat familiar di kalangan masyarakat kita saat menyebut segala hal yang terkait dengan narkotika, psikotropika, dan obat-obatan terlarang lainnya. Masyarakat sudah sangat sering menggunakan istilah ini, bahkan di slogan-slogan untuk memerangi bahaya Narkoba khususnya bagi kaum muda penerus bangsa. Kaum muda sebagai cikal bakal budaya bangsa, diharapkan memiliki potensi yang luar biasa sehingga mampu mengangkat budaya bangsanya. Membekali diri dengan segala pengetahuan dan keterampilan untuk mengasah potensi yang mereka punya, sehingga mampu bersaing di dunia kerja yang sangat kompetitif. Namun sayangnya ketika dikaitkan dengan penyalah gunaan zat, masa remaja memiliki peringkat tertinggi sebagai pintu awal perkenalan mereka dengan Narkoba. Lebih dari 80% pengguna Narkoba memulai perkenalan mereka dengan Narkoba pada usia remaja antara 12 hingga 15 tahun. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa fakta tentang remaja, proses hingga mereka dapat menjadi ketergantungan dengan narkoba, serta bagaimana terapi dan upaya mencegahnya.
Mengapa dari sebagian besar kasus penyalahgunaan Narkoba, remaja menduduki peringkat tertinggi? Faktor pertama adalah karakter khas remaja dan tahap perkembangan yang sedang terjadi di usia ini. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi. Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan, 2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:
1. Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orangtua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orangtua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orangtua.
2. Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll.
3. Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll.
Saat remaja mulai mencoba mengkonsumsi narkoba, proses selanjutnya dijelaskan oleh pendekatan perilaku. Mengapa perilaku tertentu cenderung bertahan atau mungkin akan hilang? Prinsipnya adalah perilaku itu akan diperkuat atau bertahan ketika mendapatkan reinforcement atau penguatan, sebaliknya perilaku akan melemah atau hilang ketika mendapatkan hukuman. Saat pertama kali mencoba alkohol terasa pahit, mual atau mungkin pusing. Rasa tidak mengenakkan ini mungkin bisa menjadi hal negatif atau hukuman bagi seseorang untuk tidak mengkonsumsinya lagi. Namun mengapa tidak demikian? Mengapa perilaku mengkonsumsi alkohol justru meningkat? Sebab hukuman yang didapatkan tidak setara dengan penguatan perilaku yang diberikan oleh teman-teman atau kelompok mereka. Rasa pahit, mual atau pusing tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa bangga dipuji teman, mendapatkan pengakuan sebagai pribadi yang berani, atau sebagai rasa kebersamaan dalam kelompok. Atau bisa jadi, hukuman yang lebih besar yang mungkin akan ia dapatkan ketika tidak terlibat dalam perilaku mengkonsumsi alkohol, membuat perilaku “tidak minum alkohol” menjadi lemah. Saat “tidak ikut mengkonsumsi alkohol” maka seseorang akan dikucilkan, diejek, atau mungkin tidak mendapatkan pengakuan lagi. Sehingga perilaku “tidak mengkonsumsi alkohol” ini menjadi tidak diperkuat, dan sebaliknya “perilaku mengkonsumsi alkohol”lah yang diperkuat. Contoh lainnya misalnya saat mencoba meminum alkohol membuat seseorang lebih percaya diri, lebih ekspresif, kreatif, dan dapat mengemukakan pendapat dengan baik ketika berbicara di depan publik. Hal ini juga dapat menjadi sebuah penguat mengapa perilaku mengkonsumsi alkohol meningkat.
Proses ini terus berlajut dan sulit untuk dilepaskan ketika sudah menjadi sebuah pola perilaku dan kebiasaan. Diawali dengan proses di atas, lalu yang membuat susah lepas dari narkoba adalah konsekuensi negatif saat tidak mengkonsumsinya lagi. Kali ini konsekuensi negatif bukan lagi dari teman atau lingkungan, melainkan dari individu itu sendiri. Saat tubuh telah terbiasa mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan psikotropika, maka efek obat atau zat yang dirasakan setahap demi setahap akan meningkat ambang toleransinya. Jika semula cukup dengan 1 dosis, kali ini butuh dua hingga tiga dosis untuk dapat merasakan efeknya (intoksikasi). Hal inilah yang disebut dengan meningkatnya toleransi zat pada tubuh seseorang. Saat ingin berhenti mengkonsumsi, menurunkan dosis atau kembali ke dosis semula sangatlah berat karena tubuh akan merasakan kesakitan yang luar biasa. Inilah yang disebut dengan withdrawal effect atau sering kita kenal dengan istilah sakaw. Pada tahap inilah konsekuensi negatif didapatkan dari tubuh individu itu sendiri bukan lagi dari orang lain, oleh karenanya sulit sekali melepaskan ketergantungan pada narkoba ketika sudah pada tahap ini.
Namun, beberapa pendekatan psikososial mampu membantu individu untuk lepas dari ketergantungan zat. Kunci utama yang harus dipahami bahwa dalam kasus ketergantungan zat mengandung beberapa unsur yang harus diperhatikan, antara lain fisik, psikologis, dan sosial. Oleh karenanya kombinasi tiga komponen itu harus terlibat dalam proses penyembuhan. Fisik terkait dengan toleransi zat yang dirasakan dalam tubuh (misalnya sakaw), sehingga harus ada sebuah terapi untuk mengatasi hal ini. Misalnya penggunaan obat-obatan substitusi. Namun dalam penggunaannya harus dikendalikan agar tidak menimbulkan efek sekunder, misalnya menjadi ketergantungan dengan obat subtitusi. Terapi perilaku seperti kontrol diri atau kognitif terapi dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian obat-obatan substitusi untuk membantu managemen minum obat, menurunkan dosis pemakaian, termasuk mengubah dimensi kognitif seseorang tentang harapan atau ekspektasi dari penggunaan obat, juga persepsi yang salah jika obat tertentu akan dapat menimbulkan efek tertentu. Harapan atau ekspektasi seseorang akan obat tertentu yang dikonsumsi ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap efek obat tersebut ke tubuh seseorang (Nevid, 2003).
Aspek psikologis mencakup dimensi kognitif seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ada ekspektasi atau harapan dari pengguna zat akan efeknya, kemudian dimensi psikologis lain seperti masalah yang dihadapi sebelumnya atau konsekuensi yang didapatkan dari penggunaan zat. Misalnya saat menggunakan zat seseorang sedang menghadapi masalah tertentu, dan setelahnya ia menjadi lebih lega. Sehingga ia mengaitkan narkoba dengan terselesaikan masalahnya. Hal ini dapat membuat ketergantungan semakin meningkat sebab adanya konsekuensi positif yang didapatkan dari perilaku menggunakan zat. Padahal sebenarnya hanya pelampiasan emosi yang membuat kondisi psikologis seseorang menjadi lebih baik, lebih tenang, sehingga ia dapat berfikir lebih baik dan memecahkan masalahnya. Saat kondisi normal, seseorang kerap kali memendam masalahnya dan emosinya karena akan menimbulkan dampak buruk ketika dikeluarkan. Misalnya rasa marah, kecewa, benci. Saat menkonsumsi alkohol misalnya, efek intoksikasi (mabuk) didapatkan, dan dalam kondisi ini seseorang merasa bebas mengemukakan apa saja yang ada dalam benaknya. Proses katarsis atau meluapkan emosi-emosi negatif terjadi pada tahap ini, sehingga wajar jika setelahnya seseorang merasa lega dan mampu berfikir lebih jernih. Jika kita memahami hal ini, maka tanpa perlu minum alkohol pun kita dapat mengeluarkan emosi negatif kita dengan cara yang lebih sehat.
Dimensi terakhir yang perlu diperhatikan adalah faktor sosial, mencakup keluarga, masyarakat sekitar, atau teman-teman.  Ada tidak keterkaitan antara penggunaan narkoba dengan masalah yang sedang dihadapi dengan keluarga atau teman-temannya. Misalnya konflik dengan orangtua menyebabkan ia selalu merasa tertekan dan melampiaskannya pada narkoba. Jika demikian, maka konflik dengan orangtua perlu diselesaikan juga sebagai bagian dari proses terapi. Atau pengaruh teman atau lingkungan sangat besar terhadap proses penyembuhan, maka perlu menciptakan lingkungan baru untuk meminimalisir pengaruh buruk dari lingkungan. Hal lain yang terjadang terkait dengan pecandu adalah riwayat perilaku negatif seperti pencurian, yang sarat akan stigma di masyarakat. Sehingga dalam proses penyembuhan yang dijalaninya terjadang mantan pecandu ini masih mendapatkan stigma ini. Misalnya anggota keluarga membuat pernyataan bahwa mereka harus berhati-hati jika menaruh barang berharga, sebab ada si X yang mantan pecandu. Hal ini terkadang juga dapat menurunkan mental pecandu yang mulai belajar memperbaiki diri. Oleh karenanya kerjasama yang baik dan dukungan dari lingkungan akan memberikan pengaruh yang luar biasa pada proses kesembuhan yang sedang dijalani oleh seseorang dengan ketergantungan zat.
Lalu apa yang dapat kita lakukan agar terhindar dari penyalahgunaan zat? Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, atau pendidik.
1. Ciptakan komunikasi yang harmonis antara anak dengan orangtua. Jangan terlalu mengatur dan menuntut anak, melainkan mengarahkan dan membimbingnya.
2. Berikan perhatian dah kasih sayang yang cukup pada anak.
3. Ciptakan suasana yang harmonis.
4. Jadilah teladan yang baik bagi anak.
5. Pendekatan yang ramah, terbuka dan saling percaya.
6. Penerimaan tanpa syarat, sehingga akan membuat anak lebih terbuka menyampaikan aspirasinya.
7. Tanamkan pendidikan agama.

Sedangkan bagi remaja itu sendiri, hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjerat dalam lingkaran narkoba adalah:
1. Memahami apa itu Narkoba, sebagai upaya pencegahan bukan untuk mencoba.
2. Kontrol diri yang kuat, sehingga bisa mengendalikan diri dengan baik saat berteman dengan siapa saja.
3. Hati-hati dalam memilih teman.
4. Mengenali potensi dan kelemahan diri, agar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai upaya menutupi kelemahan diri dengan cara yang positif.
5. Mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.
6. Menemukan strategi koping atau cara pemecahan masalah yang tepat. Diskusi dan berbagi dengan teman atau orang yang dipercaya, untuk mendapatkan wacana atau wawasan baru dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
Semoga bermanfaat..

From netsains.net
read more

Kartu SIM Anti Bully untuk Lindungi Anak-anak


Orang tua tidak akan perlu lagi terlalu khawatir pada anak-anak mereka. Sebab ada kartu SIM yang memungkinkan mereka mengontrol anaknya melalui komputer. Sayangnya layanan ini baru bisa dinikmati di Inggris. Bemilo, nama sistem ini, disediakan oleh jaringan Vodafone, menawarkan layanan bagi orang tua untuk melindungi anak mereka secara online,  baik melalui SMS maupun telepon.  Jika pada jaringan ponsel biasa, anak dapat mematikan ponselnya agar tidak terdeteksi, maka layanan ini sebaliknya. Walau ponsel dimatikan, tetap saja orang tua dapat melacak keberadaan anak.
Paket ini ditawarkan dengan harga 2,95 poundsterling per bulan. Paket keamanan ini sudah ada di dalam kartu SIM, dan akan diinstal ke ponsel anak.
“Ini adalah kartu SIM yang sama dengan yang biasa dipakai, tapi mampu mengetahui keberadaan anaknya untuk keselamatan mereka,” jelas Simon Goff, founder Bemilo. “Orang tua dapat mengontrol siapa saja yang boleh mengontak atau dikontak si anak, dan dapat mengatur waktu komunikasinya.”
Orang tua dapat menonaktifkan ponsel anak selama jam sekolah. Semua dilakukan melalui web di komputer. Bahkan walau ponsel dimatikan oleh anak, orang tua tetap dapat mengontak mereka. Orang tua juga dapat mengetahui isi SMS anak-anak mereka.
Layanan ini dapat melindungi anak dari pelecehan seksual melalui SMS yang sering dilakukan oleh para predator. Para kriminal kerap mengirim SMS atau menelepon anak dengan tujuan mengajak mereka melakukan hal-hal tidak senonoh melalui ponsel. Dan ini sangat mengkawatirkan orang tua.
National Society for the Prevention of Cruelty to Children  (NSPCC) melaporkan bahwa banyak gadis remaja yang mendapat tekanan akibat menerima SMS dan telepon tidak senonoh dari orang tak dikenal. Bahkan para predator juga kerap mangirim link web porno ke anak-anak remaja. Menurut survei yang dilakukan Bemilo pada 2000 orang tua, diketahui bahwa 40% anak usia 8-16 tahun yang menggunakan ponsel menderita kurang tidur akibat stres dibully dengan SMS dan telepon. Semoga saja layanan serupa akan segera hadir di Indonesia.

From netsains.net
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More