Friday, April 29, 2011

Kenalilah Arah Berpikir Anak

Dengan atau tanpa diperhatikan secara seksama prilaku siapapun khususnya dalam hal ini anak dalam keseharian tampaknya biasa-biasa saja. Baru sesuatu tampak jelas manakala sudah ada efek perilaku yang ekstreem keluar dari biasanya dan itu terjadi ketika daya dorong atau watak sudah terbentuk bahkan mungkin mendarah daging. Ketika keadaan sudah seperti itu apa lagi yang bisa diperbuat untuk mengubahnya? Sulit !
Dari ketiga anak yang sedang berjalan beriringan dan bergurau tampaknya tak ada sesuatupun yang berbeda. Mereka semua anak umur belasan. Tapi tahukan anda seberapa sama dan seberapa beda pola pikir ketiga anak tersebut. Kita ambil contoh cara pandang mereka terhadap kamar mereka sendiri. Anak pertama memandang betapa penting rapi dan bersihnya sebuah kamar, jika tidak dalam kondisi rapi dan bersih sangat mengganggu kenyamanan perasaannya. Anak kedua tidak begitu peduli dengan bersih dan rapinya kamar dia, baik bersih atau berantakan dia nyaman-nyaman saja. Anak ketiga justru sepertinya lebih nyaman dengan keadaan yang “super amburadul”. Dia merasa dalam posisi asing bahkan hampir tak bisa tidur apabila harus berada di kamar yang rapi dan bersih.
Mengapa seperti itu? Diantaranya bahwa dalam dasar pikiranya sudah terbentuk secara kuat bahwa kamar yang ia temui dan aman untuk dinikmati seperti dasar pikir mereka masing-masing. Itu karena sudah secara evolusi yang ia temui seperti itu dan seperti itu. Bukankah seekor burung pipit akan tetap nyaman dalam sarangnya yang terbuat dari lilitan semak semak kecil dan ia akan tetap memilih itu walau dihadapanya diberikan sebuah rumah manis dengan gantungan pengharum dan be- AC. Mengapa pula Nenek dan Kakek memaksa ingin pulang ke kampung dari pada tinggal bersama cucunya di rumah mewah, cerita punya cerita, nenek dan kakek sudah sangat merindukan mandi di pancuran dan lebih parahnya sudah beberapa hari ini di kamar mandi mewah rumah cucu tak bisa “BAB”
Kembali pada tiga anak diatas… tak ada sesuatu yang istimewa dari contoh kasus perbedaan dasar pikir terhadap nuansa sebuah kamar. Tak ada ancaman terhadap masyarakat dan Negara dari ketiga perbedaan pola pandang ketiga anak tadi. Sehingga semuanya berjalan tanpa begitu terperhatikan. Tapi dalam hidup ini dihadapkan dengan berbagai kasus-kasus lain yang sangat kompleks dan rumit.
Salah satu contoh sisi lain adalah seberapa sama dan seberapa beda ketiga anak tadi memandang dirinya dalam mengarungi perjalanan hidupnya. Anak pertama selalu ingin menjadi yang terbaik, selalu ingin jadi pahlawan, selalu ingin setia dan selalu ingin menjadi tokoh baik dalam perjalanan hidupnya sebab entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan tentang substansi cerita-ceritanya. Anak kedua memandang perjalanan hidup hadapi saja mana yang mengenakan. Jika ada kesempatan untuk tidak baik, untuk tidak jadi pahlawan, untuk tidak setia kenapa tidak dicoba dan dinikmati karena entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan tentang substansi cerita-ceritanya. Anak ketiga justru selalu mencari cari kesempatan untuk tidak baik, untuk menjadi penjahat dan untuk berselingkuh sebab entah pada saat yang mana pula watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku/film/kehidupan seperti di muka.
Sungguh fenomena yang unik, tapi untuk kasus ini ternyata berpotensi mengancam ketentraman masyarakat dan Negara. Sehingga kadang menimbulkan keonaran dan persoalan besar. Tapi apabila sudah tertanam kuat dalam diri seseorang…tampaknya sulit !
Contoh ketiga anak tadi hanyalah gambaran dominasi watak sebab dalam hidup memang tak selamanya konstan, setiap orang kena oleh istilah “owah gingsir” hanya saja dari secara keseluruhan masing-masing punya dominasi watak yang berlainan.
Jadi betapa kita harus selalu mengawasi dan mengawal sumber apresiasi anak dan setidaknya mampu mengukur apa yang tertanam dan berpotensi menjadi daya dorong dalam perjalanan hidupnya sekarang dan ke depan.
Jangan anggap sepele kebiasaan anak dalam permainannya yang selalu berperan ingin menjadi “sebagai penjahat”, dan sebagai-sebagai lain yang merupakan actor antagonis.
Sebab tidak ada yang tahu persis pada saat yang mana dasar pikir itu akan melekat kuat menjadi “hak paten” bagi dirinya.
Selain itu pengkondisian bahan bacaan dan tontonan baik dari sisi porsi dan substansi yang mungkin akan menjadikan kualitas “adukan” tinggi, sehingga menghasilkan pondasi watak yang cemerlang ini bagian yang harus selalu dibangun bersama.
Selama ini kita telah hidup dari apresiasi kita terhadap alam yang kita temui sejak kecil. Dan jujurnya “inilah watak” yang tertanam kuat pada diri kita masing-masing.
Maka apabila terasa ada yang bisa dibenahi mari benahi terhadap anak kita. Berikan selalu sumber untuk diapresiasi yang berkecenderungan nilai positif sambil terus mencoba membaca dan mengenali kemana arah pola pikir anak kita bergerak dan terbentuk.

Sumber: netsains.com

0 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More