Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Tuesday, February 14, 2012

Karena Tulang Rusukku Tak akan Tertukar

Senja menyapa burung-burung berwarna putih yang terbang beriringan menuju utara. Sore ini langit berwarna keemasan,cahaya matahari yang hendak terbenam menyelusup dari balik pepohonan menimbulkan siluet jajaran pohon di sepanjang jalan. Indah sekali.  Kulangkahkan kakiku dengan ringan, sesekali kutatap langit yang beranjak gelap.

Jalanan yang kulalui sudah cukup sepi, beberapa petani di desa tempatku tinggal bersiap pulang dengan membawa karung-karung berisi padi yang seharian tadi di panen. Iringan sepeda tua beberapa bu tani mendahuluiku. Kulihat mereka tersenyum bahagia, mungkin karena kali ini panen mereka melimpah tak seperti musim sebelumnya yang gagal karena hujan angin yang menumbangkan pepadian yang siap dipanen.

Aku juga merasakan kebahagiaan yang sama, setelah sekian lama menanti, akhirnya hari itu akan segera tiba.

***^^***

“Wita, kamu yakin cukup tahu tentang dia?” kataku ragu pada sesosok gadis berjilbab lebar yang duduk di hadapanku.

“insya Allah Ra, dia cukup familiar di kampus, dia dulu adalah ketua BEM, dan aktif di beberapa organisasi, di kampus dia termasuk ikhwan yang diperhitungkan pendapatnya, dan insyaAllah agamanya baik.” Kata Juwita sambil menatapku dalam-dalam.
“Ra, aku tahu tentang dia dari abangku, dulu abang pernah ikut diklat organisasi dan kebetulan sempat berkenalan dengannya”

“baiklah.. kalau begitu,aku akan berikhtiar dulu,semoga ta’aruf kali ini berjalan dengan baik”  kataku meyakinkan diri.
Juwita tersenyum padaku, genggaman tangannya semakin erat.
Di pelataran masjid kampus beberapa orang mulai berdatangan bersiap mengikuti kajian rutin sore hari. Dan kami pun bergegas mencari tempat mengikuti kajian yang sama.

***^^***

Kutatap jam dinding kamarku. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.14. tapi mataku belum juga terpejam. Masih teringat proses ta’aruf yang sore tadi sudah terlaksana. “Alhamdulillah..” aku bergumam tak henti-henti. Akhirnya setelah dulu sempat gagal, kali ini ta’aruf berjalan lancar. Dan proses itu sudah berlanjut pada khitbah.

Namanya irfan, lelaki yang baru saja datang ke rumah bersama dengan keluarganya. Mahasiswa S2 fakultas teknik. Menurut teman-teman yang mengenalnya, ia adalah ikhwan yang baik. Kata mereka, aku beruntung bisa ta’aruf dengannya. Dan memang sudah kubuktikan sendiri. Pada dirinya ada kriteria-kriteria suami yang selama ini kucari. Tak muluk-muluk, aku hanya ingin lelaki yang shalih, yang turut beramal jama’i, yang sederhana. Ternyata dia jauh lebih baik dari yang kuharapkan, dia adalah mahasiswa berprestasi di tingkat universitas, dan pernah ikut pertukaran mahasiswa muslim di beberapa negara. Bila dibandingkan denganku, mungkin aku tak ada apa-apanya.

Tapi,bukankah Allah yang telah mengatur segalanya? Maka kini aku hanya harus berikhtiar dengan baik. Tapi kebahagiaanku saat ini, belum bisa kukabarkan pada saudara dan teman-teman karena masih ada dua bulan lagi menuju akad nikah yang sudah disetujui. Hanya keluarga dan teman dekatku yang tahu. Aku teringat kata seorang ustadzah, “sembunyikanlah khitbah dan dan sebarkanlah walimah”

Benar sekali kata beliau, karena khitbah saja bukanlah jaminan kalau kami akan melanjutkan proses ini pada jenjang akad nikah. Karena itulah, saat ini aku harus bersabar dahulu. Setidaknya hingga sebulan atau beberapa pekan sebelum hari –H, kabar ini akan segera kuberitahukan pada teman-teman dan saudara.

***^^***

Dua pekan berselang dari hari ta’aruf itu dan keluargaku sudah mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk hari akad nikah.
“Ra, ngapain senyam-senyum gitu? Hayo, lagi ngalamunin akad nikah besok ya?hehehe”  kata Juwita menggodaku.

“bukan Wita, Zahra cuma bingung tu kira-kira besok suaminya...... upss... aduhh, sakit Ra” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mba nisa dan juwita sudah kutimpuk kertas undangan.

“kalian ini, ngaco ah, daripada nyindir terus, ini bantuin milih undangan lah, mana yang bagus?”  kataku manyun sambil menyodorkan beberapa contoh undangan yang kupegang.

“hmmm, udah cari gamisnya belum Ra? Mau warna apa?” tanya mba Nisa padaku sambil melihat-lihat undangan berwarna merah marun.

“memang kenapa mba Nis? Ummm, aku ingin gamisku nanti warna putih aja, lebih kalem dan tampak sederhana”  kataku sambil tersenyum.

“ok, kalau gitu cari undangan yang warna putih tulang aja ya.”

“ini bagus Ra, putih tulang dengan motif bunga lily kesukaanmu”  Juwita menyodorkan sebuah undangan padaku.

“wahh..iya, bagus. Subhanallah, kok bisa nemu yang pas begini ya?” kataku girang. “OK, kita pesan yang ini saja ya"

***^^***

Selesai memesan undangan, kami bergegas pergi ke toko busana muslim langgananku. Di sana tersedia perlengkapan pernikahan lengkap, dan kebetulan dulu aku pernah melihat gamis berwarna putih berrenda dan berhias bunga-bunga merah muda. Cantik sekali. Dan aku ingin gamis itulah yang kupakai nanti di hari pernikahanku.

wahh, cantik Ra, kamu cocok pakai gamis itu” kata Juwita memandangiku yang sedang mencoba gamis itu.

“yang bener? “ tanyaku malu-malu sambil melihat diriku di cermin.

“Akh Irfan pasti bahagia Ra, punya istri secantik dan seshalihah kamu” kata mba Nisa sambil menyodorkan jilbab berwarna putih dan hiasan bunganya. “ini dicoba juga ya”

***^^***

Selesai membeli gamis dan jilbab akhirnya kami bertiga pulang. di sepanjang jalan, kami membicarakan banyak hal. Tentang masa depan kami setelah lulus kuliah dari unnes nanti. tentang mereka yang juga ingin segera menikah sepertiku.
Tiba-tiba ponselku berderit. Ada sebuah panggilan masuk. Ternyata Akh irfan yang menelepon.

“Assalamu’alaikum”

“wa’alaikumussalam, ini dengan ukhti zahra?”

“iya akhi, betul ini dengan Zahra, ada masalah apa? Tumben telepon?”

“afwan sebelumnya, ada masalah penting yang ingin ana katakan, terkait rencana pernikahan kita”

“ya, ada apa akhi?” kataku heran, tak terasa tanganku berkeringat dingin.

“afwan jiddan, ana terpaksa memutuskan untuk tidak melanjutkan proses ini, ana ingin membatalkan khitbah, bukan karena apa-apa, hanya saja ana ternyata harus pergi keluar negeri untuk segera melakukan riset.....”

Waktu terasa berhenti. Bungkusan gamis dan jilbab yang kugenggam jatuh dari tanganku. Aku tak bisa mendengarkan lagi apapun yang lelaki itu sampaikan. mba  Nisa dan Juwita memandangiku khawatir.

“....halo ukhti? Afwan.. kalau telepon ana mengejutkan anti, sebenarnya dari awal ana agak ragu saat proses ta’aruf itu, tapi ternyata memang harus seperti ini. Afwan, besok ana dan keluarga akan datang ke rumah anti memberikan penjelasan....”

Belum sempat ia selesaikan kalimatnya, ponsel kumatikan. Aku menghambur memeluk Juwita dan mba Nisa. Tak terasa, bulir-bulir bening mengalir dari pelupuk mataku.

Sore yang mulai beranjak petang, kabut mulai turun menyelimuti dahan-dahan pohon, membuat udara terasa dingin. Kurapatkan jaket yang membalut tubuhku sembari mendekap erat sebuah buku bersampul merah marun. Jalanan mulai sepi, sesekali terlihat beberapa anak menaiki sepeda. Mungkin mereka akan pulang setelah seharian asik bermain di area kebun teh ini. Musim liburan selalu membuat tempat ini ramai dikunjungi ternyata. Tapi tidak denganku, kedatanganku ke sebuah kota yang terkenal dengan kebun tehnya ini adalah untuk sedikit mencari ketengangan setelah mengalami masa-masa sulit beberapa waktu lalu.

Kuedarkan pandangan, sejauh mata memandang yang ada hanyalah warna hijau yang perlahan tertutup kabut. Tiba-tiba mataku tertuju pada dua sosok lelaki dan perempuan tak jauh dariku. Sang lelaki tengah memegangi sebuah kamera di tangan sembari menyodorkannya pada perempuan berjilbab coklat lebar. Sesekali mereka tertawa bersama, lalu lelaki itu menggandeng tangan si perempuan dan berjalan menyusuri jalan yang sama denganku.

 Melihat adegan barusan, membuat hatiku sedikit perih. Rasanya ada yang sakit dan entah aku tak tahu bagaimana menghilangkan desiran lembut itu.

"Ya Allah... kapan aku bisa mempunyai pasangan hidup seperti itu?" gumamku dalam hati..
Segera kupercepat langkah kakiku mendahului pasangan itu, aku tak ingin melihat kemesraan mereka lebih banyak. Aku tak mau kepercayaan diri yang baru saja kubangun tiba-tiba runtuh lagi hanya karena hal sepele seperti ini.

***^^***

Di sebuah ruang keluarga tengah berkumpul kakek,nenek,dan bundaku. Mereka terlihat tengah asik bercerita. Setelah hampir setahun tak bertemu akhirnya kami bisa berkumpul bersama.

“Assalamu’alaikum” suaraku membuat mereka semua menoleh padaku.

“wa’alaikumussalam, dari mana saja sayang? Kok sampai sore banget begini?” kata bunda sambil menuangkan teh hangat yang masih mengepulkan asap ke dalam sebuah cangkir.

“ini bunda bikin teh hangat,sama kue talam kesukaanmu”
Kuterima secangkir teh dan sebuah kue talam yang diulurkan oleh bunda.

“makasih bund, tadi zahra dari kebun teh, dan malah ketemu teman jadi ngobrol lumayan lama tadi” kataku sambil tersenyum.

“itu makannya dihabiskan dulu nduk, terus mandi ya, itu nenek sudah siapkan air hangat” kata nenek dengan senyumnya yang khas.

Walaupun sudah berusia lebih dari setengah abad, nenek masih terlihat cantik. Begitu juga dengan kakek masih terlihat begitu segar. Mereka berdua di usianya yang sudah tak muda lagi ini ternyata masih menyimpan kemesraan yang bisa kami lihat. Tak jarang kakek menggoda nenek dengan rayuan seperti saat mereka masih muda. Dan kami yang melihat biasanya hanya bisa tersenyum melihat wajah nenek yang merona malu. Aku selalu iri melihat mereka, dan suatu saat nanti aku juga ingin punya pernikahan yang begitu hangat seperti mereka.

***^^***

“Sayang, bunda perhatikan kamu akhir-akhir ini sering murung, ada apa? Masih teringat masalah dulu itu ya?” tanya bunda pelan-pelan sambil menyisiri rambutku.

“umm,ndak kok bund. Ndak ada apa-apa. Zahra baru banyak pikiran aja, bunda ndak usah khawatir ya” kataku sambil memaksakan wajahku untuk tersenyum.

“Sudah lah nak, lupakan yang sudah berlalu ya, ndak baik kesedihan diingat-ingat terus. Itu,coba lihat di cermin” kata bunda sambil menunjuk sebuah cermin besar di hadapan kami. “putri bunda ini cantik sekali, mirip sama ayah yang tampan” kata bunda sambil tersenyum.

“ihhh,zahra kan mirip bunda,kok dari dulu bilang mirip ayah sih” kataku pura-pura manyun.

“iya-iya, cantik mirip bunda. Dan bunda yakin, lelaki yang punya istri secantik dan seshalihah putri bunda ini pasti akan sangat beruntung dan bahagia.ya kan sayang?”
Mendengar kata-kata bunda membuat mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba aku ingin sekali menangis.

“oiya Sayang,” kata bunda dengan suara berubah lebih serius. “ ayah kemarin bilang sama bunda, kalau ada teman ayah yang ingin memperkenalkan putranya denganmu, tapi ayah belum menjawab, semuanya ayah dan bunda serahkan pada keputusanmu Sayang”

Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata, bunda sudah melanjutkan kalimatnya. “udah,ndak perlu di jawab sekarang, lebih baik sekarang kamu tidur dulu ya, besok setibanya di rumah kita diskusikan lagi dengan ayah dan kakakmu”

Bunda meninggalkanku sendiri di kamar. Segera kubaringkan tubuhku di atas kasur, terdengar suara dipan kayu berderit.

Kutatap langit-langit kamarku. Malam ini hatiku menjadi kian gundah, ditambah dengan apa yang Bunda ucapkan tadi membuatku bingung harus memutuskan apa.

Kuambil buku bersampul merah marun dari atas meja rias. Kubuka halaman demi halaman, kubaca ulang tentang perasaanku beberapa pekan ini. Sungguh, aku merasa malu dan bersalah. Kadang ada kecewa dan ada perasaan ingin marah. Tak pernah kuduga sebelumnya bahwa aku akan diperlakukan seperti ini oleh seorang ikhwan.
Dia yang datang dengan niat baik, tiba-tiba memutuskan untuk tak meneruskan khitbah menuju akad nikah. Aku masih sangat ingat kejadian itu tepat sebulan yang lalu, saat ia memberikan keputusan sepihak melalui sebuah telepon singkat. Aku sangat kecewa dan marah waktu itu, bisa-bisanya lelaki yang kata orang-orang shalih itu bisa melakukan hal seperti ini padaku.

Waktu itu kabar berlangsungnya khitbah sudah diketahui oleh saudara-saudara dekat, undangan sudah dipesan, persiapan sudah setengah jalan, tapi akhirnya harus dibatalkan. Betapa malu rasanya dan aku tahu ada yang jauh lebih kecewa daripada aku, yaitu ayah dan bunda. Pasti berat sekali menjadi mereka yang harus menjawab pertanyaan dari saudara-saudara tentang kabar ini. Mungkin mereka juga malu, tapi mereka tak pernah menunjukkan perasaan malu,kecewa, dan sedih itu di depanku. Karena tanpa mereka tunjukkan perasaan itu aku sudah cukup kecewa.

Tapi ada satu hal lagi yang jauh membuatku lebih malu daripada semua kekecewaan ini. Yaitu tentang perasaanku pada lelaki itu. Aku sudah terlanjur menaruh sebuah harapan padanya, sejak khitbah itu terlaksana. Aku memang tak bisa membohongi perasaanku sendiri, bahwa aku mulai tertarik padanya . Aku sudah membangun sebuah mimpi tentang pernikahan yang indah dengannya. Tapi ternyata mimpi itu tak akan pernah bisa jadi nyata. Aku malu pada perasaan ini, dan sekarang harapan itu berubah menjadi rasa tertolak. Dan sungguh itu sangat menyakitkan.


***^^***

Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian terhentinya proses ta’arufku dengan Akh Irfan, rasanya kini perasaanku sudah jauh lebih baik. Aku tak lagi merasakan perih dan trauma yang dulu sempat kutakutkan ternyata tak jadi kenyataan. Sudah saatnya menata hati dan semangatku lagi. Pekan depan wisuda sudah akan dilaksanakan, dan setelah itu aku akan resmi mendapatkan gelar sarjana Pendidikan.

***^^***

Hari ahad yang cerah ini kugunakan untuk pergi mengikuti kajian bersama Juwita dan mba Nisa. Beruntung sekali kami bertiga bisa lulus dalam waktu yang sama dan setelah ini entah aku tak tahu akan kemana langkah kaki ini menuju. Melanjutkan kuliah atau menikah rasanya adalah pilihan yang sama-sama membuatku antusias. Mungkin aku perlu waktu untuk rehat sejenak sembari memikirkan pilihan-pilihan yang bisa kuambil.

“Zahraaa...”  suara Juwita terdengar dari arah pintu gerbang masjid. Kulihat dua orang gadis berjilbab berjalan pelan mendekatiku.

“maaf ya telat, kami tadi baru aja lihat-lihat stand buku di luar gerbang masjid. Ternyata bagus-bagus Ra” kata Nisa bersemangat.

“iya deh, nanti habis dari kajian mampir sebentar, yuk masuk dulu, kayaknya udah mau mulai”  segera kami masuk ke ruang utama masjid mengikuti kajian pranikah yang baru pertama kali kuikuti.

Kuperhatikan wajah Juwita selama kajian, ia tampak murung sejak aku melihatnya tadi pagi. Entah kenapa, ada yang aneh dengannya karena bukan kebiasaannya berwajah murung seperti itu.

Wit, kamu kenapa? Kok murung dari tadi? Ada masalah? Mau cerita?”

“ihh, kamu nanya apa wawancara sih Ra?”  kata Wita manyun, aku dan mba Nisa tersenyum mendengar jawaban Wita itu.

“umm, sebenarnya aku udah pengen cerita sejak kemarin Ra, tapi aku ragu..umm,afwan ya Ra”  katanya sambil menatap halaman masjid yang dipenuhi daun-daun kering yang jatuh terbawa angin.

“cerita apa sih Wit? Kamu bikin aku penasaran? sini cerita aja ndak apa-apa” kataku sambil menyentuh pundaknya.

“Iya Wit, ceritalah, kayak sama siapa aja pake ragu segala” mba Nisa menambahi.

“beberapa hari yang lalu, Abangku cerita kalau pekan kemarin Abang datang ke akad nikah akhwat temannya di kampus, dan ternyata di sana Abang bertemu dengan... Akh Irfan”

“ohh, terus kenapa dengan Akh Irfan Rin?” aku bingung dengan cerita Wita.

“eh bukannya Akh irfan ada riset di Australia ya? ini kan baru dua bulan? Apa risetnya udah kelar?”  kata mba Nisa sambil memainkan ujung jilbabnya, ia tampak sedang berpikir. Mendengar kalimat Nisa tak urung membuatku juga ikut berpikir, seingatku dulu Akh Irfan bilang kalau riset itu dilakukan hampir 6 bulan lamanya.

Maka dari itu, Abangku juga bingung kenapa Akh Irfan ada di sini Nis”

“Jadi Akh Irfan itu juga mengenal teman Abangmu yang menikah ya Wit?”  kali ini aku penasaran sekali apakah hanya karena mendatangi walimahan teman ia sampai meninggalkan risetnya yang penting itu.

“umm, bukan hanya kenal Ra.. tapi, Akh Irfan adalah mempelai lelakinya...”  kata Wita hati-hati sembari menatap wajahku.

“masyaAllah..beneran Rin?”  tanya mba Nisa tak percaya.

Wita hanya menganggukkan kepala. Sedangkan aku hanya bisa terdiam mendengar cerita Rina itu.

“Ra, kamu ndak apa-apa kan?”  tanya Wita khawatir.

“Subhanallah, kita memang ndak pernah tahu apa skenario Allah ya, mungkin ini memang yang terbaik buat kami Wit, aku ndak apa-apa kok, tenang aja”

“kemarin Abang juga kaget Ra, tiga hari usai walimahan itu Abang sempat menabayunkan pada Akh Irfan apakah pembatalan khitbah denganmu itu ada hubungannya dengan akhwat teman Abangku. Dan ternyata beliau mengiyakan, jadi sebelum ta’aruf denganmu, sebenarnya Akh irfan sudah tertarik pada akhwat lain, tapi sudah lama mereka tak bertemu dan mereka baru bertemu justru di saat khitbah denganmu sudah terlaksana, karena itulah Akh Irfan menjadi ragu dan memutuskan untuk tidak melanjutkan proses itu. Awalnya Abangku ingin sekali marah, tapi  Abang lebih memilih untuk diam”

“Subhanallah....”  kataku parau, suaraku rasanya tercekat di tenggorokan. Ada bulir bening yang menyeruak dari kelopak mataku.

“Ra..sabar ya, mungkin sudah begini jalannya, dan aku tahu Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik”  Wita menggenggam jemariku erat, mba Nisa ikut merangkul pundakku.

“iya, aku ndak apa-apa kok, kalian tenang aja, justru aku sangat bersyukur, Allah sayang sekali padaku sehingga Allah menjagaku dengan cara seperti ini. Allah menjagaku dari perasaan khawatir kalau nanti beliau tak bisa mencintaiku dengan tulus karena sudah ada akhwat lain di hati beliau. Kalau lah pernikahan kami waktu itu terlaksana, belum tentu aku akan merasa bahagia, dan belum tentu beliau bisa tulus menerimaku sebagai istrinya. Dan akan lebih baik begini, beliau sudah mendapatkan akhwat yang tepat untuk jadi pendamping hidupnya.”  Aku berusaha tegar, tapi bulir bening itu tetap saja mengalir membasahi jilbabku.

“tapi dia itu ikhwan Ra, tega sekali memperlakukan akhwat seperti ini, kalau memang tak yakin kenapa harus tetap ta’aruf dan setelah itu dia juga yang membatalkannya”  suara mba Nisa mulai meninggi.

sudah lah Nis, sabar, aku ndak apa-apa kok.. Di mataku,beliau tetaplah seorang ikhwan yang baik. Dan mungkin begini jauh lebih baik untuk kami”

***^^***

“astaghfirullah, Ya Rabbi... perih nian rasanya, tak bisakah Kau bawa pergi rasa sakit ini?” gumamku dalam hati sambil memeluk erat kedua sahabatku itu lalu terisak pelan.

Pagi yang hangat, sinar matahari menyapa lembut dari balik jendela. Kubuka jendela kamar lebar-lebar, mempersilahkan udara masuk. Hangatnya sinar matahari menerpa wajahku yang terbalut kerudung merah marun, warna kesukaanku. Kuambil sebuah kartu yang tergeletak di meja belajar, kubaca ulang tulisan yang tertera di sana.

“Barakallah ya Ukhti, semoga dimudahkan segala urusannya, dan semoga ilmunya lebih barokah usai mendapatkan gelar sarjana ini” –Sunflower-

Kubolak-balik lagi kartu itu, kucari nama pengirimnya tapi tetap tak bisa kutemukan. Hanya tulisan “sunflower” di sudut kertas. Kuperhatikan rangkaian bunga matahari yang sudah kutaruh di sebuah vas,

"hmm, siapa ya yang iseng mengirimkan bunga dan kartu ini?”  aku bergumam sendiri. Kemarin usai pulang dari acara wisuda aku menemukan bunga dan kartu itu tergeletak di meja taman depan rumah. Sampai saat ini aku masih tak tahu siapakah pengirim bunga itu.

Jam dinding menunjukkan pukul 6.45. Sudah saatnya aku berangkat ke tempatku mengajar. Kini aku punya kesibukan baru, dua bulan sebelum wisuda aku sudah mengajukan lamaran mengajar di sebuah SDIT, dan akhirnya aku diterima. Ini adalah hari pertamaku mengajar, jadi aku ingin mempersiapkan segalanya agar bisa mengajar dengan baik.

***^^***

Hampir dua pekan berlalu, aku sudah mulai menikmati profesiku sebagai seorang guru, di SD IT itu aku dipanggil Ustadzah, selain mengajar bahasa indonesia dan mengaji, aku juga diberi amanah untuk memberikan konseling karena itulah aku sangat dekat dengan anak-anak.

Pernah suatu ketika ada seorang anak yang bercerita padaku kalau ia suka dengan temannya.  
Kalau Ustadzah, dulu pernah suka ndak sama seorang Ustadz?”  kata gadis berkerudung oranye di depanku dengan polos. Aku tersenyum mendengar pertanyaan gadis kelas 3 itu.

“umm, pernah ndak ya? mungkin pernah, memang kenapa Sayang?”

“Ustadzah bilang kalau suka sama orang itu?”

“umm....”  aku mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Ustadzah lupa..hehehe”  kataku kemudian tertawa.

“iihh, Ustadzah kok lupa sih? Besok kalau sudah ingat kasih tau Dinda ya?”  kata gadis itu sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipi  yang membuatnya tampak lebih cantik.

“Ok. InsyaAllah ya Dinda”  Gadis yang kupanggil Dinda itu kemudian pergi meninggalkanku sendirian di kelas. Aku mulai membereskan buku di meja dan beranjak kembali ke ruang guru.

***^^***

Baru saja aku akan meletakkan buku-buku, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah bingkisan kecil di atas mejaku.

“Ukhti Zahra, ini untuk berbuka puasa nanti sore” –Sunflower-

Lagi-lagi, ada kiriman misterius untukku. Entah sudah kali keberapa aku mendapatkan bingkisan seperti ini, pekan lalu aku sudah mendapatkan sebuah buku. Kubuka bingkisan itu, ada sekotak kurma dan sebatang cokelat putih, dua makanan yang sangat kusukai . Terlebih ketika berbuka puasa dua makanan itu tak pernah ketinggalan. “hffh...sebenarnya kau siapa?”

Waktu aku bercerita pada Juwita dan mba Nisa, mereka hanya tertawa. Mereka bilang mungkin itu dari siswaku, tapi sungguh aneh karena tulisan di kartu itu bukan tulisan anak kecil dan benda-benda itu merupakan benda kesukaanku, bagaimana bisa siswa-siswaku tahu.
“secret admirer kali Ra,hehehe”  kata Wita menggodaku waktu itu.

“ya Allah, aku ingin suami bukan sekotak kurma, atau coklat ini...”  kataku siang itu sambil memandangi bunga matahari yang tumbuh subur di halaman sekolah.

***^^***

“Sayang, nanti sore siap-siap ya” kata Bunda ketika melihatku masuk ke dalam rumah sepulang dari mengajar.

“ehh,siap-siap apa Bund?”

“lho, Zahra lupa? Kan nanti teman Ayah mau datang ke rumah”

“oiya, nanti Zahra bantu Bunda nyiapin masakan deh”

“ndak perlu Sayang, yang perlu kamu lakukan adalah dandan yang rapi, Oke?”  kata Bunda sambil tersenyum.

“ihh, Bunda kenapa sih? Hayo, ada apa sih Bund? Kok kayaknya ada yang aneh, ndak biasanya Bunda minta Zahra dandan
Bunda hanya tersenyum melihatku yang kebingungan.

 ***^^***

Akhirnya sore itu aku membantu Bunda memasak. Kali ini kami tak hanya berdua, beruntung Juwita dan mba Nisa sedang luang jadi mereka bisa membantu.

***^^***

Malam ini tampak cerah, bulan tampak tersenyum di balik awan putih yang sesekali menghampiri. Bintang-bintang berkerlap-kerlip. Suasana malam yang begitu indah. Rina dan Nisa sedang dikamar membantuku memilih baju yang akan kupakai.

“ehh Ra, ini gamis yang akan kamu pakai dulu itu kan?”  kata mba Nisa sambil mengambil sebuah gamis putih berenda dari dalam lemari bajuku.

“iya Nis, baju itu belum pernah kupakai”

“ohh...jadi pengen segera melihatmu pakai gamis ini Ra”  Nisa memandangi gamisku lalu tertawa kecil.

doakan aja ya, aku juga ingin segera mengenakan gamis itu ketika walimatul ursy nanti”  kataku sambil memakai jilbab berwarna krem. Wita dan Nisa saling berpandangan kemudian tertawa melihatku.

“ehh, kalian kenapa sih? Kayak Bunda deh, jadi aneh begitu” aku heran melihat tingkah mereka berdua.

***^^***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.35. Terdengar suara deru mobil dari arah luar. Aku segera bergegas menemui Bunda. “itu tamunya Bund?”

“iya Ra, kamu siap-siap ambil makanan ya nanti, Ayah sama Bunda ke depan menyambut tamu dulu”

Aku segera ke dapur bersama mba Nisa dan Wita menyiapkan minuman dan menata hidangan. Dari arah ruang tamu terdengar obrolan hangat. Kali ini tamu Ayah ada 2 mobil, padahal biasanya tak seramai itu.

“Zahraa, ke sini Nak” kata Bunda dari ruang tamu. Aku segera keluar membawa baki berisi minuman ditemani Nisa dan Wita yang membawa baki berisi makanan.

“Subhanallah...ini Zahra, cantik sekali kamu ndu sekarang” suara seorang wanita yang cukup familiar membuatku mendongak menatap wajahnya.

“ehh, Ummi Nur apa kabar Ummi?”  aku menyalami wanita seusia Bunda itu, kemudian wanita itu memelukku erat. Aku tak mengira bahwa yang datang bertamu adalah keluarga Pak Hanafi, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Abah. Abah adalah teman dekat Ayah yang dulu yang jd tinggal di Cilacap, tapi karena pindah tempat kerja, membuat Abah membawa semua keluarganya pindah rumah ke Bandung.

Aku segera duduk di sebelah Bunda. Aku tak tahu bahwa dari tadi ada sepasang mata yang memperhatikanku. Obrolan hangat pun mulai mengalir, di saat tamu mulai menikmati hidangan, aku baru berani memperhatikan tamu satu per satu. Tiba-tiba mataku bertemu dengan sepasang mata tajam milik seorang lelaki.
“Astaghfirullah...”  aku lalu menunduk, tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, tanganku mulai berkeringat dingin. Wita dan Nisa tersenyum memperhatikanku yang salah tingkah.

***^^***

“hmm, jadi begini Pak Andi, kedatangan kami sekeluarga ke sini sebenarnya bukan hanya sekedar bersilaturrahim, setelah 5 tahun lamanya ndak bertemu, tapi kami juga punya urusan lain” kata Abah kemudian melirik lelaki di sampingnya. “saya datang secara langsung untuk melamar putri Pak Andi untuk anak lelaki saya, Erit"

“Subhanallah, baiklah Pak Hanafi, tapi saya belum bisa menjawab sebelum putri saya memberikan jawaban. Gimana Nak? Jawaban lamaran itu Ayah serahkan sepenuhnya padamu” kata Ayah sambil memegangi tanganku. Aku hanya bisa diam, aku semakin menunduk tak berani mengangkat wajahku dan degup jantungku semakin cepat.

“biasanya ini ya, diamnya perempuan itu artinya mengiyakan,ya kan Nak Zahra?”  semua yang ada  di ruang tamu tertawa mendengar kata-kata Abah. Entah aku tak tahu mungkin wajahku saat ini sudah semerah buah tomat.
Beberapa menit diam, akhirnya aku menganggukkan kepala.

“Alhamdulillah...”  terdengar hamdallah dari semua tamu di ruang itu.

“Bagaimana kalau ndak usah lama-lama Pak Andi, sekarang saja akad nikahnya jadi pekan depan tinggal meyiapkan walimatul ursy nya saja? Gimana Rit, kamu siap“  Kalimat Abah membuatku melongo. Lelaki di sebelah Abah mengangguk mantap.

“Gimana Nak? Siap?” Ayah gantian bertanya padaku. Dan lagi-lagi, aku mengangguk.

 ***^^***

Akhirnya, malam itu juga akad nikah terlaksana dan Ayah sendirilah yang menikahkanku. Tak henti-hentinya kalimat syukur kuucapkan. Ternyata, Allah menjawab doaku dengan cara yang tak pernah kubayangkan. Jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul 21.15. Abah sekeluarga dan para tamu sudah pamit pulang, Nisa dan Juwita juga berpamitan, sebelum pulang mereka memelukku satu persatu.
“Barakallah ya Ra, kami ikut bahagia” kata Wita sembari mengusap sudut matanya.
"Oiya, ingat besok pas walimatul ursy gamis putihnya dipakai ya”  kata Nisa menggodaku.

***^^***

Halaman rumah sudah sepi, tak ada lagi mobil yang terparkir. Ayah dan Bunda sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, tinggal aku dan seorang lelaki di sampingku. Aku bingung harus berkata apa pada lelaki yang dari tadi memandangiku itu, aku terus menundukkan kepala, belum usai kekagetanku dan degup jantungku belum juga normal.

“Assalamu’alaikum istriku...”  kata lelaki itu sambil mendekat ke arahku. Walaupun sudah lama tak bertemu, aku masih ingat dengan jelas detail wajah lelaki itu. Ia tak banyak berubah, hanya saja kini ia tampak sangat gagah dengan postur tubuhnya yang ideal dan jenggot tipis di dagunya.

“umm, wa’alaikmussalam..”  kataku kikuk dipanggil begitu.

“heii, ndak usah grogi begitu dong ndu, padahal dulu kamu kan bukan anak pemalu, kamu kan yang dulu lebih suka usil padaku? udah gitu cerewet banget lagi”  aku menatap lelaki itu, ada sorot jenaka di wajahnya, sama seperti 5 tahun yang lalu saat kami masih sama2 kuliah di unnes.

“sini, duduk” ia mengajakku duduk di kursi kayu depan rumah. Aku masih diam tak berani memandang wajahnya.

“Ndu, kamu marah ya sama Aa?”

“Kenapa harus marah sama Aa?”

“karena dulu Aa pindah rumah ke Bandung"

“umm, ndak juga”

"Ndu, kamu pernah ndak kangen sama Aa?”  Pertanyaan lelaki itu membuat wajahku merona merah. Aku diam lagi.

“hmm, diam berarti iya” katanya menggoda.

“ihh, siapa bilang. Aa Erit GR deh” kataku manyun.

“ehh, dulu siapa yang bilang ke tatang ingin dinikahkan denganku coba?”  senyum lelaki itu makin lebar dan wajahku semakin memerah.

“jadi ka Tatang cerita sama Aa ya?”  lelaki itu malah tertawa. Aku tak mengira bahwa kata-kataku dulu ternyata ka tatang ceritakan pada Aa Erit.

“tenang, tatang baru cerita tadi habis akad nikah, hehehe, Abah sama Ummi juga sudah tahu kok

ahhh, Ka tatang jahaatt...” aku tambah manyun.

“Ndu, Aa tuh kangen banget sama kamu...tau ndak, sejak kepindahanku waktu itu aku sering merengek pada Abah minta pulang ke Cilacap, tapi karena Abah terlalu sibuk jadi kami belum sempat kemari. Maaf ya..”

ihh, kirain Aa udah lupa sama Zahra terus nyari akhwat lain di Bandung” kali ini ada sedikit perasaan sebal di hatiku. “umm, selama 5 tahun ini, apa Aa belum merencanakan pernikahan dengan gadis lain..?”

“asal kamu tahu ya ndu, selama aku nyantri di pondok aku sempat mau dinikahkan dengan anak Pak Kyai, makanya aku segera lanjut S2 ke Jerman dan pulang melamarmu”

Aku tertawa mendengar cerita lelaki yang kini sudah menjadi suamiku itu. “Zahra juga iya a, Zahra sempat akan menikah dengan lelaki lain, tapi batal, dan Ayah juga sempat akan memperkenalkan Zahra dengan putra teman Ayah, tapi akhirnya ndak jadi”

Aa Erit terdiam cukup lama, sambil memandangi bunga yang tumbuh di halaman. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Ndu, sejujurnya.. aku menyukaimu sejak kita masih kuliah dulu, tapi kurasa itu adalah cinta bias, tapi beruntung sekali sekarang kau sudah menjadi istriku. Umm, kau juga suka padaku kan ndu?”

Aku diam lalu menggeleng pelan. “apa ndu? jadi kamu...”

“iya, Zahra..ndak cuma suka, tapi sekarang juga cinta sama Aa”  kataku sambil menunduk.

Aa Erit tertawa kecil. “Ndu, sekarang kita sudah menikah, jadi boleh kan aku menyentuhmu?” dia mendekatkan wajahnya padaku. Degup jantungku semakin memburu. Wajahnya dan wajahku hanya berjarak 5 centi, lalu tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah bunga matahari tepat di depan wajahku.

“ihhh, Aa nakal” kucubit lengannya gemas, dia tertawa, puas menjahiliku.

“jadi, selama ini Aa yang iseng mengirimkan bunga dan bingkisan itu?”

hehehe...iya, itu kulakukan sekalian untuk memastikan bahwa Akhwat jawaku ini belum bersuami, hehehe”

“Dasar nakal”

“tapi kau suka kan?”  katanya menggoda lagi. “dan sampai saat ini kau tetap menjadi bunga matahari yang selalu bersinar di hatiku, semakin lama semakin terang.”  Ia mulai menggombal dan membuat wajahku sudah seperti buah tomat. “ehh lihat ndu, itu bulannya mengintip kita malu” kata Aa Erit sambil menunjuk bulan sabit di langit. Lalu tiba-tiba sebuah ciuman sudah mendarat di pipiku.

Aa.......”

Wajahku semakin merona kemerahan. Malam itu lengkap sudah kebahagiaanku. Bulan dan bintang-bintang mulai beranjak ke peraduan, seperti kami yang mulai merajut mimpi berdua.

***^^***

“jadi gimana Ustadzah?”  Dinda menemuiku di taman halaman sekolah.

“umm, jadi...dulu Ustadzah pernah suka sama seorang ikhwan, dan ikhwan itu adalah senior Ustadzah sendiri, dia 3 tahun lebih dewasa dari Ustadzah.. Tapi dulu Ustadzah ndak bilang sama ikhwan itu kalau Ustadzah suka

“yaaahh,”  Dinda tampak kecewa. “tapi orang itu tau ndak kalau Ustadzah suka?”

“umm, iya.. ikhwan itu tau kok kalau Ustadzah suka”

kapan Ustadzah bilangnya?”

“tadi malam..”  kataku sambil tersenyum.

siapa orangnya Ustadzah? Dinda pengen tahu”

“itu dia orangnya..”  kataku sambil menunjuk seorang lelaki tampan yang sedang bermain bola di halaman dengan anak-anak.

“yang itu? Itu kan suami Ustadzah..”

“memang iya, itu suami Ustadzah..dan itulah orang yang dulu Ustadzah sukai pertama kali...”


*the end*

by Pengukir Senja (http://www.facebook.com/Ndu.Ardhiya)

read more

Monday, February 6, 2012

Surat Tahun 2070

Saat ini adalah tahun 2070. Usia saya baru 50 tahun, tetapi penampilan saya seperti seseorang yang telah berusia 85 tahun. Saya menderita gangguan ginjal serius, karena saya tidak minum dengan cukup. Saya khawatir saya tidak memiliki waktu lebih lama lagi untuk hidup. Saya adalah salah satu orang tertua di masyaraka.


Saya ingat sewaktu saya berusia 5 tahun. Semuanya tampak berbeda. Banyak pepohonan di taman, rumah-rumah memiliki kebun yang indah, dan saya dapat menikmati mandi selama setengah jam. Saat ini, kita menggunakan handuk dan minyak pencuci untuk membersihkan tubuh kita.

Dahulu, wanita memiliki rambut yang indah. Saat ini, kita harus mencukur kepala untuk menjaganya tetap bersih tanpa menggunakan air. Dahulu, ayahku mencuci mobilnya dengan air yang keluar dari selang. Saat ini, anakku tidak percaya bahwa air dapat digunakan dengan cara seperti itu.

Saya ingat bahwa peringatan "SELAMATKAN AIR" di poster-poster, radio dan TV, tapi tidak satu orangpun memperhatikannya. Kami pikir air tidak akan pernah habis. Saat ini, semua sungai, danau, waduk dan lapisan air bawah tanah kering atau terkontaminasi.
Industri hampir berhenti dan pengangguran mencapai proporsi yang mengakhawatirkan. Instalasi desalinasi adalah penyerap utama tenaga kerja dan para karyawan menerima air minum sebagai bagian dari upah mereka. 

Penodongan dengan senjata untuk sebuah jerigen air adalah pemandangan yang umum. Sebanyak 80% makanan adalah sintetik. Dahulu, jumlah air yang disarankan untuk diminum oleh orang dewasa setiap harinya adalah 8 gelas per hari. Saat ini, saya hanya diperbolehkan setengah gelas per hari.
Saat ini kita harus menggunakan pakaian sekali pakai, dan ini meningkatkan jumlah sampah. Saat ini kita menggunakan septic tanks, karena sistem sewage tidak dapat bekerja karena kurangnya air.
Penampilan manusia sangat mengerikan: berkerut, kering akibat dehidrasi, penuh dengan rasa sakit akibat radiasi ultra violet, sekarang diperkuat dengan tidak adanya perisai pelindung dari lapisan ozon. Kanker kulit, infeksi gastrointestinal dan saluran urine adalah penyebab utama kematian. 

Diakibatkan oleh kekeringan pada kulit yang berlebihan anak muda berusia 20 akan tampak seperti 40. Ilmuwan menginvestigasi, tetapi tidak ada pemecahan dari masalah tersebut. Air tidak dapat diproduksi, oksigen juga terdegradasi akibat kurangnya pepohonan dan vegetasi, dan kapasitas intelektual generasi muda sungguh lemah. Morfologi spermatozoa pada pria telah berubah. Sebagai akibatnya, bayi-bayi dilahirkan dengan defisiensi, mutasi dan kelainan bentuk fisik.

Kita harus membayar kepada pemerintah atas udara yang kita hirup, 137 m3 per hari per orang dewasa. Siapa yang tidak mampu membayar akan diusir dari "zona yang berventilasi", paru-paru mekanik yang sangat besar dengan tenaga matahari. Kualitas udara sangat buruk, tetapi paling tidak orang-orang dapat bernafas. Usia harapan hidup adalah 35 tahun. 

Di beberapa negara, di mana masih terdapat beberapa zona hijau yang dilalui oleh sungai, dijaga oleh tentara-tentara bersenjata berat. Air menjadi harta benda yang paling didamba-dambakan, lebih berharga dari emasdan berlian. 

Tempat di mana saya tinggal, tidak ada pepohonan, karena jarang sekali hujan. Ketika terjadi presipitasi, Itu adalah hujan asam. Musim sungguh telah terpengaruh oleh uji atom dan oleh kontaminasi industri di abad ke 20. Kita diperingati untuk menjaga lingkungan, tetapi tidak satu orang pun yang peduli. 

Ketika anakku meminta kepadaku untuk menceritakan tentang masa mudaku, aku mengatakan kepadanya tentang lahan yang hijau, keindahan bunga-bunga, tentang hujan, betapa menyenangkannya berenang dan tentang ikan-ikan di sungai dan waduk, kita dapat meminum semua minuman, dan betapa sehatnya orang-orang di masa itu. 

Dia bertanya, "Ayah! Kenapa tidak ada air ?"
Kemudian, aku merasakan ada yang mengganjal di tenggorokan ku!
Aku tidak bisa untuk tidak merasa bersalah, karena aku termasuk pada generasi yang berkontribusi menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan atau dengan seenaknya tidak memperhatikan semua tanda peringatan. Saat ini, anak-anak kita membayar harga yang sangat mahal!
Aku sangat percaya bahwa dalam waktu yang singkat kehidupan di bumi menjadi sesuatu yang tidak mungkin, karena kerusakan alam saat ini mencapai tahap yang tidak dapat dikembalikan ke semula lagi. Bagaimana aku bisa kembali lagi dan membuat manusia mengerti? Bahwa kita masih mempunyai waktu untuk menyelamatkan bumi kita.
Sekarang ..
Ini adalah pilihanmu .
Untuk menjaga planet kita yang indah ini
atau
menjadi egois dan tidak menghiraukan kebutuhan generasi masa depan kita???


tulisan ini saya dapat dari materi kuliah pengantar ke ilmu-ilmu pertanian.
read more

Tuesday, July 5, 2011

Nasihat Terakhir (Kumpulan Cerpen Agung Hima)



Banyak orang menyukai  cerpen, karena para pembaca diajak untuk menyaksikan sebuah lanskap,  yang merupakan representasi  dari  sebuah kehidupan nyata.  Dan bagi saya  cerpen  yang  menarik dan mengaduk emosi ataupun menyergap pikiran adalah cerpen-cerpen yang seperti sebuah puisi yang kaya makna. Yaitu Cerpen-cerpen yang didalamnya tidak banyak memberikan sebuah khotbah, cerpen yang tanpa banyak menggurui. Penulisnya  tidak memberikan sebuah kesimpulan-kesimpulan tapi justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang memaksa pembaca untuk menggali makna yang ada didalamnya, memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk  kontemplasi pembacanya.
Dan Agung Hima, sastrawan asal semarang Jawa Tengah termasuk salah satu yang cerpen-cerpennya saya sukai. Lewat Buku Kumpulan Cerpennya “Nasihat terakhir” maka cerpen-cerpennya yang tersebar  bisa kita nikmati dalam sebuah buku. Agung Hima, lahir di semarang 18 Oktober 1971, aktif malang melintang di dunia teater, dan menulis untuk media massa lokal khususnya rubrik budaya.  Juga mengajar seni pertunjukan drama dan film di beberapa SMA dan perguruan tinggi di semarang. Dan sekarang  aktif di Open Mind Community, sebuah komunitas yang membahas secara kualitatif tentang kebudayaan. Beberapa kali saya sempat ngobrol dengan agung hima, dan ternyata punya  banyak kesamaan tentang buku-buku yang pernah di baca dan yang disukainya. Dia juga pernah cerita, buku yang paling saya sukai yaitu “mimpi-mimpi einstein” menurutnya adalah buku terumit yang pernah dia baca.
Ada 12 Cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen “nasihat terakhir” ini. Cerpen pertama berjudul “dominique” . yang menarik di cerpen ini adalah deskripsi tentang perasaan dan tokohnya tidak diraikan secara panjang lebar, tapi pembaca dapat menerka pergolakan emosi dan dinamika batin tokohnya lewat dialog-dialog dalam kalimat dan tindakan para tokoh dalam dunia fiksi yang diciptakan oleh agung hima. Dan juga deskripsi tentang detail suasana cafe cukup jeli, hingga pembaca terasa ikut berada di dalamnya. Bercerita tentang percintaan tetapi dengan sebuah ending yang cukup menghentak dan menghadirkan sensasi  “Di pelataran parkir bandara, kulihat pesawat yang membawa dominique melayang jauh mencumbui awan hitam. Pikiranku penuh dengan nama Dominique. Dominique yang anggun, dominique yang cantik, dominique yang penuh cinta, dominique yang laki-laki.”
Cerpen berjudul “Sejak Cerpen ke-10.764” akan membuat pembaca tersenyum getir dalam melihat sebuah kenyataan hidup seorang penulis, terombang ambing antara bagaimana memenuhi  tuntutan untuk menghidupi keluarganya dan menggengam rapat idealisme. Dengan gaya bahasa yang mengalir, sebuah bahasa yang akan kita temui sehari-hari meski ada nuansa satire di dalamnya. Seperti dialog antara Parto, sang penulis dengan Marni istrinya yang barusan melakukan tes kehamilan, dan ternyata positif.
“kamu piye, to?” mata parto mendelik.  “Lha Piye? Kok malah marah sama aku”. Sanggah Marni. “Habis kamu nggak ati-ati, sih!” kata parto. “Nggak ati-ati bagaimana? Wong kamu yang ngesrong terus ra ngerti wayah! Sudah aku bilang, kalo ini masa subur, mbok ya ditahan sebentar. Nanti kalau nggak di kasih marah-marah,”. Gerutu marni . ya sebenarnya marni seneng-seneng saja, habis hanya itu hiburan satu-satunya di rumah.
Cerpen “Sujud   hening  1000 tahun” salah satu cerpen dengan genre religius tapi jauh dari kesan berkhotbah dan menggurui, sebuah cerpen yang penuh dengan rentetan pertanyaan tentang dimensi cinta . mengambil setting dari kisah kearifan lokal sunan bonang  dan putri cempo. Bahwa cinta bisa hadir dan datang pada siapapun, tanpa perduli pada kategori-kategori yang fana pada diri seorang manusia, meskipun itu seorang sunan. Hingga seorang Sunanpun harus merintih “ Duh, kanjeng nabi tidakkah kau rasakan perih yang menyayat ini? Duh Gusti, Tidak adakah jalan keluar untukku, sekedar meninggalkan rasa cintaku terhadap cempo tanpa harus menyakitinya?.” Sebuah cinta yang begitu dalam tapi juga tak terjangkau. Dalam cerpen ini, menurut saya agung hima berhasil menyergap dan mengaduk emosi pembaca.
Yang menarik dari  cerpen “Tikaman pesta”  cerpen ke-4  adalah bagaimana agung hima menggiring pembaca untuk kemudian membantingnya dengan sebuah  ending yang membuat kita  memaki dalam hati, tentang giarti (Gie) yang naif yang punya cita-cita seperti kisah dalam cinderella. Cerpen Dengan kalimat-kalimat di awal cerita seperti sebuah puisi cinta yang kaya makna dan berakhir dengan sebuah paragraf “Gie, tolong diganti popoknya den  Akson” suara itu kembali menyeret pada kemeriahan pesta. Menyadarkan dirinya bahwa babu dilarang punya cinta.”
“Nasihat Terakhir” adalah contoh bagaimana sebuah cerpen bisa dibangun lewat kalimat-kalimat dalam dialog tokohnya , dan dalam era tekhnologi ini dialog tersebut bisa dalam sebuah tulisan di email.  Dari sebuah email yang akan dikirim inilah agung hima menggambarkan kejadian dan  emosi para tokohnya. Dan pembaca seakan diajak untuk sama-sama merasakan sebuah kepedihan yang dialami tokohnya.kepedihan sebuah perselingkuhan, kepedihan karena ditikam cinta.  Sungguh sebuah gaya bercerita yang menarik.
“Senja mulai merayap meniti lambat, seolah matahari tidak akan lagi menyisakan kata maaf bagi siapapun juga. Malam ini Nisfu Syaban. “ inilah kalimat awal cerpen “ Bakda Maghrib”. Yang menurut saya memberikan sebuah ruang penafsiran yang begitu dalam. Tentang sebuah syariat Puasa dan juga tentang hakikat  yang sebenarnya  Puasa. Agung hima menggedor dalam kalbu kita, saat ada orang atau bahkan tetangga terdekat kita harus puasa, bukan karena ingin berpuasa tapi karena memang benar-benar tidak ada yang bisa dimakan. Hingga benak pembaca akan penuh dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang ada di dalam cerpen ini :”sampai kapan harus bersabar? Sampai di mana keikhlasan bisa menemukan indah pada waktunya itu?” dan pada akhirnya sang tokoh yang bernama ratpo menyerah pada keadaan, menyerah  untuk membeli pisau dan pergi ke taman kota. sebuah cerpen yang menggambarkan Sebuah kenyataan yang menghimpit.
Cerpen anakku Bunga-bunga bagi saya adalah sebuah cerpen yang kalau di dalam genre film bisa di katakan dengan genre film “noir” atau Gelap. Sebuah Cerpen  yang mengisahkan sisi gelap sebuah manusia dengan metafora di setiap kalimat dan paragrafnya. “Seperti yang sudah-sudah, setelah Papa berenang di tubuh mama, ia mengamcam dengan pedangnya. Memaksa mama kerja rodi menguras kolam renang yang kotor oleh lendir.”  Metafora yang membuat pembaca merenung bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakanNYA. Tapi setiap saat berpotensi untuk menjadi makhluk yang paling hina. Kalau melihat tekhnik penceritaannya, agung hima bisa mengembangkannya dalam sebuah Novel yang panjang dengan genre “noir” seperti ini. Dan saya yakin akan memukau.
Cerpen “Apakah Ratpo terluka” ini adalah cerpen yang menggambarkan realitas kekinian. Realitas sebuah kehidupan era digital yang selalu punya dua sisi. Sebuah sisi baik dan sisi buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Agung hima seperti membawa kamera dan meliput sebuah kejadian, dimana kita bisa menyaksikan lanskap, adegan, dan tokoh-tokohnya. Dengan perkataan lain watak dan alur tokohnya diperagakan dan bukan diuraikan. Sebuah kisah perselingkuhan yang dimulai dari perselingkuhan dunia maya. Da n yang menarik di akhir cerita sang tokoh masih bisa bertanya “apakah aku terluka?”. Hingga pembaca akan berpikir, jika dihadapkan kenyataan seperti yang dialami para tokohnya, apakah saya juga akan terluka? Apakah saya bisa ikhlas menerima? Dan rentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hal  ini juga ada pada Cerpen yang berjudul “Salindri” . yang menceritakan percintaan dengan fasilitas era digital “Chatbox” dan “webcam”
Sedangkan pada Cerpen “perempuan dunia maya” . pembaca diajak untuk melintasi sebuah batas dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Melintasi batas pandangan stereotipe Bahwa tidak selamanya perempuan adalah seorang yang penuh kelembutan. Ada kalanya perempuan juga menyimpan sebuah kekuatan dan kekejaman yang bisa diwujudkan saat motivasi memenuhi rongga dada. “Lelaki di dunia ini adalah wujud kebohongan dan kebodohan manusia, maka aku bangga dan sukarela untuk menghabisi kebohongan dan kebodohan yang mereka ciptakan”. Bisik raha kepada setiap lelaki korbannya yang tengah capek kepuasan. Gaya penceritaan dalam cerpen ini mengingatkan saya pada film-film misteri.
“Soliloqui labirin hitam” adalah contoh bagaimana sebuah cerpen bisa membuat kita menarik nafas panjang dan menghembuskannya setelah membacanya. Karena begitu dalamnya tema yang coba diberikan agung hima pada para pembacanya. Hingga kita perlu berdialog ke dalam diri kita sendiri agar bisa menyingkap sebuah labirin hitam. Dengan analogi legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang  nya bidadari yang mandi di pancuran. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang kematian. “jangan takut, air kolam akan membuka rahasia padamu”. Perempuan itu terus mengajakku masuk ke dalam kolam. “aku akan mati, aku tidak bisa bernafas dalam air”. Aku ketakutan. Ah..ternyata aku masih saja takut mati.
Cerpen terakhir adalah “Amin Mati”. Pengambilan judulnya sungguh menarik. Sesuai dengan apa yang terjadi di sekeliling kita Amin dari kata al amin (jujur) banyak yang mati. Dan ini juga ditulis di dalam salam satu dialog cerpen ini “ Dimana-mana, jujur itu pasti ajur, min.” Begitu pernah dinasehatkan seorang teman. Yang menarik disini adalah agung hima menceritakan apa yang dilihat disekelilingnya tanpa sedikitpun menggurui tentang  makna kejujuran. Hanya menyisakan sebuah pertanyaan pada kita para pembaca , saat Amin meradang menjelang maut “Jawablah Tuhan, sekejap saja.” Dan sepi merangkulnya. Sungguh sebuah cerpen yang memukau.
Ernest hemingway mengatakan : “ Keanggunan gerak gunung es terjadi hanya  seperdelapan bagiannya yang muncul di atas air.” Dalam seperdelapan tersebut menyimpan sebuah magma. Begitupun cerpen, penggalan-penggalan kisahnya menyimpan sebuah makna yang  dapat  ditafsirkan oleh pembaca.
Secara keseluruhan saya memberikan apresiasi yang tinggi atas Buku kumpulan cerpen ini. Banyak tema yang diambil dan berbagai eksperimentasi tekhnik penceritaan. Sesuai dengan aktifitas Agung Hima yang malang melintang di dunia teater. Hingga banyak menemukan hal-hal yang bisa ditangkap dan diolah dalam sebuah cerita. Semoga kumpulan Cerpen “nasihat Terakhir”  Agung Hima ini dapat menambah Khasanah Kesusasteraan Indonesia , agar semakin Hidup dan semakin menyebar di seluruh Negeri Ini.
Judul Buku :  Nasehat Terakhir
Penulis     : Agung Hima
Penerbit : Kawan Kita

Sumber: netsains.com
read more

Tuesday, June 7, 2011

Linimas(s)a: Sebuah Dunia Baru










Judul Buku: Linimas(s)a "Pengetahuan adalah kekuatan"
Tautan Unduh: http://kalamkata.org/2011/02/20/pedoman-berekspresi-online/?did=24
Penerbit: ICT Watch
Penyunting: Donny BU
Dunia maya telah mengalami tranformasi yang sangat mengagumkan. Sekitar 20 tahun yang lalu, internet yang kita kenal hanyalah berupa tautan-tautan statis yang tidak menarik. Internet disaat itu lebih banyak digunakan untuk mencari informasi secara lebih 'konvensional', karena teknologi saat itu belum memungkinkan. Sekarang, dengan memasuki Web 2.0, dunia maya sudah benar-benar bertransformasi menjadi suatu 'dunia lain', yang merupakan kepanjangan tangan dari dunia nyata. Lalu, jika kita analogikan, bahwa seorang Christoper Colombus menemukan benua Amerika pada 1492, yang disebut orang Eropa sebagai 'dunia baru' (new world), lalu siapa yang menjadi penemu 'dunia lain' di dunia maya ini? Tidak lain dan tidak bukan adalah kita semua. Mengapa demikian, karena media sosial membuat hal itu menjadi mungkin. Buku Linimas(s)a menjelaskan semua, mengapa hal itu mungkin.
Jaringan Sosial dan Citizen Journalism

Pada dasarnya, buku Linimas(s)a ini adalah proyek ICT watch untuk mendokumentasikan perkembangan media sosial di Indonesia. Ada 16 penulis yang mengkontribusikan artikelnya dibuku ini, mulai dari Onno W purbo yang aktivis Open Source, sampai kepada Blasius Haryadi, seorang tukang becak. dan Ramaditya Adikara, seorang blogger buta. 16 penulis ini dipilih atas kriteria kompentensi mereka dalam mengelola informasi melalui media sosial. Perkembangan media sosial yang begitu deras, memang memungkinkan semua orang melakukan citizen journalism, dimana apa yang dirasakan atau dilihat, bisa langsung diinformasikan melalui media sosial. Di buku ini, netsains mendapatkan tempat khusus. Editor-in-chief netsains.com, yaitu Merry Magdalena, telah mengkontribusikan tulisannya. Pada artikelnya, Merry menceritakan mengenai jatuh bangun netsains. Namun yang tak kalah menarik, merry juga mendorong supaya perempuan lebih banyak berkiprah di media sosial, dengan sebanyak mungkin menulis artikel-artikel yang berkualitas.
Fiksi ilmiah sudah berada disini! (Science fiction is here)

Jika kita suka menonton film star trek atau star wars, di film tersebut digambarkan bagaimana komunikasi yang super canggih dapat dilakukan. Salah satu ide film tersebut, adalah diciptakannya teleporter, dimana manusia dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejab mata. Media sosial sudah bergerak lebih jauh lagi. Tanpa pernah dipikirkan penulis fiksi ilmiah, media sosial sudah mempersatukan berbagai macam orang, dengan berbagai macam latar belakang, untuk mengerjakan suatu kegiatan atau aktivitas secara bersama. Sangat sering aktivitas di media sosial itu akhirnya berimbas ke dunia nyata, misalnya dengan kegiatan offline. Donny BU dan kawan-kawan di ICT watch sudah melakukan kontribusi yang sangat positif dengan publikasi ini, dan diharapkan akan semakin mendorong supaya aktivitas positif media sosial di Indonesia semakin memberikan banyak kontribusi pada dunia nyata.

Sumber: netsains.com
read more

Monday, May 9, 2011

Tawa Kecil Agustini Suciningtias, Penderita Lupus

Membaca Kumpulan Cerpen “Tawa Kecil Sang Bidadari” dari Agustini Suciningtias ini kita seakan di ajak untuk masuk dalam kehidupan remaja masa sekolah dengan segala problematika di sebuah kota, bandung dan kota kecil majalengka.
Ada cinta, ada kelucuan, ada keceriaan, ada juga tangis yang mungkin juga pernah kita alami saat-saat kita beranjak remaja. Dari 6 cerita pendeknya semuanya berkisar pada kisah masa remaja dalam jalinan sebuah ruang keluarga , sekolah dan sebuah kota.
Agustini Suciningtias, lahir 6 agustus 1980, di majalengka. Mulai menulis saat divonis mengidap penyakit lupus pada tahun 2001. Saat itu ia hanya menulis di dunia maya, karena dibatasi oleh penyakit yang menyerangnya hingga membuat harus drop out dari kampus STMIK AMIK Bandung, tulisannya yang lain diterbitkan oleh syamsi dhuha foundation dan mizan pada tahun 2009 dalam buku memorial pasien-pasien lupus bersama 13 pasien lupus lain.
Membuat sebuah cerpen adalah tidak mudah, karena begitu cerita di mulai tugas pengarang adalah bagaimana Pembaca tidak berhenti membaca dan tetap setia menyusuri jalinan cerita sampai selesai. Di sinilah tugas pengarang membuat sebuah cerita tersebut menjadi hidup hingga pembaca seakan dihadapkan pada impuls naratif yang memancing daya imajinasi dan juga hanyut seakan pembaca merasa ada di dalam cerita tersebut.
Diperlukan sebuah kejelian untuk membuat deskripsi tentang detail baik suasana maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog antar tokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang di bangun, agar memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang sedang mengalami jatuh cinta atau patah hati yang ada pada jalinan cerita tersebut. Selain itu sangat diperlukanbagaimana penulis meramu sebuah ending yang bisa membuat pembaca terhenyak oleh sesuatu yang tidak terduga.
Dibuka dengan cerpen oooh tidak! Yang membuat kita tersenyum atau bahkan terpingkal-pingkal saat membaca endingnya, kemudian breaking news mbak sofi . dalam cerpen breaking news mbak sofi, pengarang membuat deskripsi yang indah tentang suasana pagi saat semua orang berkejaran dalam bising, dengan sudut pandang seorang penumpang angkot.
Dalam cerpen Friday night dan cerpen hantu, kita akan disuguhi sebuah cerita yang dibangun karena adanya perasaan takut akan hantu. Dengan selingan kelucuan di dalam cerita yang membuat cerita mengalir dan seakan “renyah” untuk kita nikmati. Jug a pada cerpen kelima yang berjudul midnight.pada cerpen terakhir dengan judul “gara-gara humairah” adalah cerpen cinta remaja dengan segala romantikanya, dan bagi yang pernah mengalaminya, seperti membuka lembaran-lembaran buku kenangan kita saat remaja. Saat bagaimana mengucapkan sepatah kata pun begitu sulit bagi yang sedang dilanda asmara. Tentang kerinduan yg bahkan memandangnya sekelebatan pun sudah seperti lepas dari dahaga yang menyiksa.
Secara keseluruhan 6 cerpen ini berhasil menjaga gaya bercerita yang mengalir meskipun ada letupan-letupan perasaan para tokohnya, membuat Ceritanya enak untuk dibaca dan dinikmati. Saran dari saya, masih banyak hal-2 yang bisa dieksplorasi menjadi sebuah tema cerita, konflik-konflik yang bisa dibangun dalam sebuah cerita, agar semakin memberikan kejutan-kejutan dan kontemplasi bagi para pembaca.Dan khusus buat penulisnya Agustini sucinintias, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Ada sebuah kalimat dari imam al ghozali : “tak ada sesuatupun yang lebih indah dari takdir Tuhan, meski tak sepenuhnya bisa kita pahami. Karena yang terindah adalah rahasia.”
Jadi teruslah berkarya, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi umatnya. penyakit lupus bukan halangan untuk berkarya, hadapi dengan penuh semangat dalam menjalani hidup apapun yang terjadi, dan teruslah belajar membaca dan menulis, banyak teman-teman cerpenis yang ada di dunia maya, belajarlah pada mereka semua.

Sumber: netsains.com
read more

Wednesday, March 9, 2011

SINOPSIS Novel : Berteman dengan Kematian (Catatan Gadis Penderita Lupus) *True Storie*


Hmm.. baru tadi Siang saya di ceritakan oleh Teman saya Hanita Nurilina Dini, waktu beberapa Minggu kemarin Ia ke Toko buku Gramedia ada sebuah buku kalau menurut saya Novel ini mirip seperti SKUT (Surat Kecil untuk Tuhan) hanya saja perbedaan kalau Keke penderita Kanker, sedangkan Sinta Ridwan penderita Lupus (Odapus).. dari situ saya mulai tertarik dan Mendengarkan pembicaraan teman sebangku saya,,
Ok, saya Ceritakan Sedikit Sinopsis tentang Novelnya :



" Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi"

SATU kata yang patut ditiru dari gadis 25 tahun ini, "semangat". Ya, di antara hari-harinya yang dibayangi penyakit lupus, Sinta Ridwan tak pernah patah semangat untuk membuat banyak karya. Menulis puisi, dan novel menjadi salah satu bagian hidupnya. Kajian naskah kuno pun jadi pilihannya untuk dieksplorasi.



Dan benar kata Bung Chairil Anwar. Aku mau hidup seribu tahun lagi...
DEMIKIAN Sinta Ridwan menulis di halaman terakhir bukunya, Berteman dengan Kematian Catatan Gadis Lupus (Ombak2Oio). Sebuah penutup yang terasa berbeda dengan judul buku tersebut. Namun, tampaknya gadis cantik kelahiran Cirebon n Januari 1985 ini, merasa perlu menutup bukunya dengan cara seperti itu untuk melukiskan semangat hidupnya. Meski tahu, sebagai orang pengidap lupus (odapus) ia setiap hari harus berteman dengan ancaman kematian melalui penyakit yang terus mengancam berbagai organ tubuhnya.



Buku ini diluncurkan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung, Minggu 9 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Sedunia. Lewat buku yang ditulis dengan gaya catatan harian itu, Sinta tak hanya menuturkan ihwal penyakit lupus dan bagaimana mulanya ia divonis menjadi seorang odapus. Akan tetapi, nyaris mengisahkan seluruh dirinya, dari masa kecil, perceraian kedua orang tuanya, kematian orang-orang yang disayanginya, perjuangannya bekerja keras di Bandung, gaya hidup, hingga perubahan besar pada dirinya dalam memandang hidup ketika lupus bersarang dalam tubuhnya.



Dan satu hal yang amat terasa dalam buku ini adalah semangat hidup. Semangat seorang gadis yang sejak remaja ditempa oleh berbagai pengalaman pahit. Tak cukup hanya penderitaan psikologis akibat keluarganya yang berantakan, penderitaan fisik akibat lupus pun harus diterimanya. Dan itu terjadi ketika ia sedang tumbuh sebagai seorang mahasiswi yang penuh dengan cita-cita.Namun, lupus tidaklah lantas menyurutkan semangat hidup dan cita-citanya. Meski penyakit yang belum ada obatnya ini telah menyerang tubuhnya, setamat menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah tinggi bahasa, sambil bekerja, Sinta meneruskan pendidikannya ke Pascasarjana Jurusan Filologi Unpad. Kini, sambil menyelesaikan tesisnya, ia masih terus menulis puisi. "Secangkir Bintang" merupakan kumpulan puisinya yang pertama.



Semangat ini pula yang terasa dalam gaya penulisan bukunya. Seluruh penderitaan sampai yang paling mendebarkan sekalipun, ditulis dengan gaya khas anak muda. Polos, santai, penuh celetukan konyol, dan jauh dari tujuan mendramatisasi nasib demi mendapat empati, apalagi untuk minta dikasihani. Justru dengan cara seperti inilah kesedihan itu amat terasa. Kebersahajaan dan kepolosan seorang-gadis menuturkan penyakit yang mengancam jiwanya, tanpa sedikit pun ia mengeluh.Ingin menulis novel



Bersahaja dan polos, begitulah Sinta Ridwan dalam kesehariannya. Berpakaian santai, selalu berbicara diiringi senyum, kadang terkesan manja dan agak cerewet. Namun sesekali ia bisa bicara penuh semangat, terutama tentang nasib naskah-naskah kuno yang tak terawat dan banyakdi perjualbelikan ke negara asing. Atau tentang aksara Sunda, perjalanannya meneliti naskah kuno ke berbagai kota di Kalimantan, cita-citanya meneruskan studi ke Leiden Belanda, atau mendirikan perpustakaan naskah-naskah Nusantara. Termasuk ceritanya tentang Naskah Wangsaker-ta.



"Saya ingin menulis novel tentang Wangsakerta,"ujar gadis manis ini bersemangat. Wangsakerta merupakan seorang pangeran Cirebon yang merupakan tokoh penting dalam proses penulisan sejarah Nusantara tahun 1698.Memang aneh, di tengah kegandrungan anak-anak muda memilih studi bidang keilmuan yang mudah mendapatkan lapangan kerja, gadis yang pernah menjadi pemain sofbol dan vokalis group band di Cirebon ini, memilih bidang studi filologi yang melulu mengurusi naskah kuno. Alasan ia memilih kajian sastra kuno atau filologi tak bisa dilepaskan dari kesukaannya pada sastra. Di bidang yang satu ini, gadis yang sebelumnya perokok dan suka begadang ini telah menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul "Secangkir Bintang".

Dengan mengesplorasinaskah naskah kuno, gadis ini juga berharap bahwa suatu hari ia bisa menjadi pengajar atau peneliti yang bisa berkeliling dunia.Karena itulah, puisi dan nasib naskah-naskah kuno, merupakan topik obrolan yang paling disukainya. Bahkan, jika ia sedang bercerita tentang naskah-naskah kuno tampak bahwa pembicaraan itu lebih menarik baginya ketimbang membicarakan penyakit lupus yang ada dalam tubuhnya. Sinta menuturkan bahwa ia kerap merasa kurang nyaman berada di tengah berbagai kegiatan perkumpulan pengin-dap penyakit yang dilembagakan.

Namun ia merasa terpanggil jika ada orang yang mengajaknya membicarakan kasus penyakit lupus.Tapi saya harus mempersiapkan mental agar saya tidak terpancing ke dalam suasana yang menyedihkan, sehingga membuat saya sendiri jadi gelisah dan cemas. Saya harus menerima semuanya dengan lapang dada. Dulu ketika saya divonis mengidap lupus saya marah dan kecewa sekali.

Tapi sekarang ia saya jadikan teman," katanya. Sejak ia divonis mengin-dap lupus tahun 2006, Sinta giat mencari tahu tentang penyakit tersebut. Dari mulai pengalamannya sendiri, konsultasi dengan para dokter yang merawatnya, hingga mencari berbagai buku dan referensi di internet. Karena penyakit mengerikan ini dalam dunia medis belum ada obatnya, maka bagi Sinta obat itu harus ada dalam diri seorang odapus. Dan itu adalah se-mangat hidup dan merasa berbahagia."Saya ingin sekali merasakan obat itu, karena saya ingin sembuh. Dan obat itu adalah kebahagiaan," ujarnya dengan semangat.

Akan tetapi bagaimanakah memunculkan bahagia sedangkan lupus terus menyerang organ tubuh dengan ancaman kematian? Tentu saja tak mudah, terlebih lagi kebahagian itu sangat relatif.Demikian pula bagi Sinta. Namun baginya, sebagai odapus kebahagianitu adalah dengan memaknai hidup dan menghargainya.

Tentu manusiawi sekali jika ia pun merasa takut pada kematian. Akan tapi, seperti juga pada penyakitnya Sinta memandang ketakutan pada kematian itu sebagai teman. Dan itulah yang membuatnya bisa memandang ke arah sebaliknya, ke arah bagaimana menghargai dan memaknai hidup dengan sebuah semangat." Saya masih ingin hidup. Hidup harus hidup. Tapi jika memang kematian itu akhirnya datang, yang saya takutkan hanyalah saya mati sendirian tanpa ada siapa pun," ujar gadis yang hingga sekarang keluarganya belum tahu bahwa ia mengidap lupus. (Ahda Imran)"**


(Haha.. ini deh kak Sinta dalam keadaan belum mandi selama 5 hari, tapi dia masih keliatan cantik kan? haha ^_^)

(Ini sewaktu kak Sinta membacakan salah satu Puisi karangannya.. *serius banget kak Sinta* Hahaha)



Ini Gambar Novelnya :
Tebal Buku : 362 Halaman

Pengarang : Sintha Ridwan

Buku Ini bisa di beli di Gramedia dengan Seharga : Rp. 60.000,-
Sumber:http://nizhachemistryy.blogspot.com
read more

Monday, February 7, 2011

Esai

Esai sastra adalah karangan prosa yang mengupas secara sepintas namun akurat, padat, dan berisi mengenai masalah kesusastraan, seni, dan budaya dari sudut pandang penulisnya secara subjektif.
Cara membuat esai:
  1. tentukan tema yang paling Anda kuasai;
  2. carilah bahan;
  3. buatlah outline atau poin-poin yang akan Anda bicarakan;
  4. tentukan judul;
  5. mulailah mengembangkan kerangka karangan.
Cara mengembangkan kerangka karangan esai:
  1. untuk memudahkan karangan, mulailah dengan sebuah definisi;
  2. kembangkan karangan dengan deskripsi situasi;
  3. masukan pandangan seorang ahli;
  4. buatlah kalimat-kalimat tunggal dan kalimat majemuk setara atau bertingkat dengan struktur yang sederhana;
  5. untuk memudahkan menguraikan paragraf gunakan paragaraf-paragraf deduktif;
  6. esai biasa adalah karangan argumentasi.
Contoh kumpulan buku esai sastra yang bisa dijadikan referensi adalah, Menjadi Manusia karya Yakob Sumarjo, Si Parasit Lajang karya Ayu Utami, Obsesi Perempuan Berkumis karya Budi Darma. Anda juga bisa melihat contoh esai sastra di media massa seperti Kompas, Pikiran Rakyat, dan lain-lain yang biasa muncul hari Minggu di lembar budaya. Di lembar Khazanah koran Pikiran Rakyat sering muncul esai sastra atau kritik sastra.
Contoh esai sastra yang akan saya jadikan referensi adalah esai yang dimuat di Harian Umum, Pikiran Rakyat, Minggu 17 Oktober 2010, dengan Judul Kemat Jaran Guyang ditulis oleh Supali Kasim. Wakil Ketua Lembaga Bahasa dan Sastra Cirebon.
Dalam esai tersebut beliau mengatakan bahwa nyaris tidak ada sastra cirebon ditemukan dalam bentuk penerbitan media massa maupun buku. Kalau pun ada, hanya dalam satu kolom kecil di suatu koran yang dimuat terbatas dan dicetak sederhana. Karya sastra cirebon ibaratnya hanya ditulis dan didokumentasikan di rumah penulisnya, tanpa mengetahui bagaimana harus diterbitkan.
Karya sastra yang dilahirkan pengarang sulit untuk dipublikasikan di media massa. Penerbit pun terbentur dengan kecilnya pangsa pasar. Hal ini berbeda dengan karya sastra sunda dan karya sastra jawa yang banyak dibahas dimana-mana, bahkan banyak media massa yang berbahasa tersebut, seperti Mangle, Galura, Sipatahuan, Kujang Giwangkara.
read more

Saturday, January 29, 2011

Macam Majas

read more

Sunday, November 14, 2010

Blog ini
Di-link Dari Sini
Web
Blog ini
 
 
 
 
Di-link Dari Sini
 
 
 

 

Penulis: Herb Schildt's

Buku ini sangat bermanfaat bagi anda yang ingin belajar C++ Programing....

Crowja-Coderz
read more

Friday, November 12, 2010

Puisi II


Kisah Yang Hilang
Karya: Rian Septiantoro
Waktu berputar kian cepat
Hari berlalu kian tak terasa
Ketika kau ada di dekatku
Aku merasakan ketenangan dalam jiwa………….

Dunia takkan cantik tanpa warna sang pelangi
Dunia takkan terang tanpa sinar sang mentari
Dan bagiku dunia ini takkan indah,
tanpa senyummu sang pengisi hati……………….

Separuh jiwa dan ragaku
Telah tertinggal di sebuah ruang kosong dalam hatimu
Datanglah sejenak untuk ku cari makna
Arti diriku dalam kesekian mimpi indahmu
Hari-hariku ketika bersamamu
Kini hanyalah sebuah kisah
Kisah yang hilang
Kisah yang akan selalu ku kenang…………….

Meski kau tanamkan kepedihan
Akan slalu kusiram dengan senyuman
Tak mungkin bagiku tuk berhenti mencintaimu
Aku hanya ingin belajar tuk hidup tanpamu……….
read more

Puisi


Janji Semu
Di penghujung sore itu
Di bangku waktu
Aku menunggu
Sebuah kepastian janjimu
Entah berapa kali lagi
Jam akan berputar
Menghitung waktu
Sia-sia berlalu

Deras hujan sore itu
Mengguyur tubuhku
Menyiram hati yang pilu
Dikhianati janji semu

Janji lidah tak bertulang
Sekejap saja hilang
Menggores hati melebihi pedang
Tak pernah terpatri dalam hati
Hanya melukai
Hati yang setia menanti



Karya: Angga Rizqiawan
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More