Monday, May 9, 2011

Tawa Kecil Agustini Suciningtias, Penderita Lupus

Membaca Kumpulan Cerpen “Tawa Kecil Sang Bidadari” dari Agustini Suciningtias ini kita seakan di ajak untuk masuk dalam kehidupan remaja masa sekolah dengan segala problematika di sebuah kota, bandung dan kota kecil majalengka.
Ada cinta, ada kelucuan, ada keceriaan, ada juga tangis yang mungkin juga pernah kita alami saat-saat kita beranjak remaja. Dari 6 cerita pendeknya semuanya berkisar pada kisah masa remaja dalam jalinan sebuah ruang keluarga , sekolah dan sebuah kota.
Agustini Suciningtias, lahir 6 agustus 1980, di majalengka. Mulai menulis saat divonis mengidap penyakit lupus pada tahun 2001. Saat itu ia hanya menulis di dunia maya, karena dibatasi oleh penyakit yang menyerangnya hingga membuat harus drop out dari kampus STMIK AMIK Bandung, tulisannya yang lain diterbitkan oleh syamsi dhuha foundation dan mizan pada tahun 2009 dalam buku memorial pasien-pasien lupus bersama 13 pasien lupus lain.
Membuat sebuah cerpen adalah tidak mudah, karena begitu cerita di mulai tugas pengarang adalah bagaimana Pembaca tidak berhenti membaca dan tetap setia menyusuri jalinan cerita sampai selesai. Di sinilah tugas pengarang membuat sebuah cerita tersebut menjadi hidup hingga pembaca seakan dihadapkan pada impuls naratif yang memancing daya imajinasi dan juga hanyut seakan pembaca merasa ada di dalam cerita tersebut.
Diperlukan sebuah kejelian untuk membuat deskripsi tentang detail baik suasana maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog antar tokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang di bangun, agar memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang sedang mengalami jatuh cinta atau patah hati yang ada pada jalinan cerita tersebut. Selain itu sangat diperlukanbagaimana penulis meramu sebuah ending yang bisa membuat pembaca terhenyak oleh sesuatu yang tidak terduga.
Dibuka dengan cerpen oooh tidak! Yang membuat kita tersenyum atau bahkan terpingkal-pingkal saat membaca endingnya, kemudian breaking news mbak sofi . dalam cerpen breaking news mbak sofi, pengarang membuat deskripsi yang indah tentang suasana pagi saat semua orang berkejaran dalam bising, dengan sudut pandang seorang penumpang angkot.
Dalam cerpen Friday night dan cerpen hantu, kita akan disuguhi sebuah cerita yang dibangun karena adanya perasaan takut akan hantu. Dengan selingan kelucuan di dalam cerita yang membuat cerita mengalir dan seakan “renyah” untuk kita nikmati. Jug a pada cerpen kelima yang berjudul midnight.pada cerpen terakhir dengan judul “gara-gara humairah” adalah cerpen cinta remaja dengan segala romantikanya, dan bagi yang pernah mengalaminya, seperti membuka lembaran-lembaran buku kenangan kita saat remaja. Saat bagaimana mengucapkan sepatah kata pun begitu sulit bagi yang sedang dilanda asmara. Tentang kerinduan yg bahkan memandangnya sekelebatan pun sudah seperti lepas dari dahaga yang menyiksa.
Secara keseluruhan 6 cerpen ini berhasil menjaga gaya bercerita yang mengalir meskipun ada letupan-letupan perasaan para tokohnya, membuat Ceritanya enak untuk dibaca dan dinikmati. Saran dari saya, masih banyak hal-2 yang bisa dieksplorasi menjadi sebuah tema cerita, konflik-konflik yang bisa dibangun dalam sebuah cerita, agar semakin memberikan kejutan-kejutan dan kontemplasi bagi para pembaca.Dan khusus buat penulisnya Agustini sucinintias, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Ada sebuah kalimat dari imam al ghozali : “tak ada sesuatupun yang lebih indah dari takdir Tuhan, meski tak sepenuhnya bisa kita pahami. Karena yang terindah adalah rahasia.”
Jadi teruslah berkarya, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi umatnya. penyakit lupus bukan halangan untuk berkarya, hadapi dengan penuh semangat dalam menjalani hidup apapun yang terjadi, dan teruslah belajar membaca dan menulis, banyak teman-teman cerpenis yang ada di dunia maya, belajarlah pada mereka semua.

Sumber: netsains.com

1 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More