Friday, November 25, 2011

Studi ke Luar Negeri: Go West or Go East?

Negara-negara barat (Amerika Utara dan Eropa Barat) selama ini menjadi tujuan utama untuk studi. Berdasarkan statistik, Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Jerman masih merupakan tujuan utama bagi mahasiswa asing untuk studi. Keempat negara tersebut adalah negara barat (Tiga, jika kita menghitung Australia sebagai British Commonwealth, yang kepala negaranya Ratu Inggris). Namun, tahukah anda? Akhir-akhir ini terjadi peningkatan jumlah mahasiswa asing juga ke negara-negara asia timur? Tahukah anda, bahwa China adalah negara memiliki jumlah publikasi internasional bidang bioteknologi paling banyak di dunia? Tahukah anda, bahwa mulai banyak ilmuwan dari negara barat, yang justru memilih untuk bekerja di negara-negara asia timur?
Bangsa-Bangsa Asia Timur: Kebangkitan menuju nomor satu
Saya mendefinisikan Asia Timur sebagai bangsa yang secara geografis berada di asia timur, yaitu Jepang, China, Taiwan, dan Korea. Kendala bahasa adalah nonsens jika kita termotivasi. Bahasa-bahasa asia timur juga sudah mulai populer, bahkan bahasa mandarin sudah diajarkan di sekian banyak sekolah menengah. Film-film asia timur, seperti film Korea, sudah sangat populer di tanah air. Sementara itu, di Korea Selatan, Hongkong, Taiwan atau Jepang, mereka sudah menawarkan kelas internasional dalam bahasa inggris. Hal ini penting, sebab mahasiswa tidak harus berfokus menggunakan bahasa lokal dalam konteks akademis, namun cukup menggunakan bahasa inggris yang memang sudah dipelajari sejak sekolah menengah. Sekarang, juga sudah banyak orang Eropa atau Amerika yang bekerja di negara asia timur, sehingga kemungkinan berinteraksi dengan mereka juga besar. Satu hal yang memang jarang diinformasikan ke publik, bahwa negara-negara asia timur pun juga telah berhasil memperoleh nobel dalam bidang sains. Lulusan negara-negara asia timur pun tetap dapat berkompetisi di pasar global, dan tetap dapat bekerja di tanah air ataupun negara barat lain. Saya memiliki data ‘Trends in biotech literature 2009-2010′ yang menunjukkan betapa China dan negara asia timur lain sudah mulai setara dengan barat dalam kualitas riset. Silahkan mention akun twitter saya, dan jurnal tersebut akan saya kirim.
Hegemoni kependidikan barat: Akankah berakhir?
Kedepannya,sangat mungkin tidak ada lagi hegemoni barat atau timur. Semua bekerja sama dan dunia menjadi multipolar. Juga demikian dalam kependidikan. Studi ke asia timur akan menjadi salah satu pilihan utama, karena menawarkan kualitas yang sama dengan barat, dan menawarkan situasi ‘feels at home’ karena minimnya ‘cultural shock’. Kendala bahasa tidak akan terlalu bermasalah, karena popularnya bahasa/budaya asia timur di Indonesia. Berdasarkan informasi mutakhir, GDP China adalah nomor 2 dunia. Kekuatan ekonomi China sudah secara praktis mengalahkan negara barat lain, dengan US sebagai perkecualian. Hal ini secara langsung menjadikan studi ke China menjadi opsi menarik, karena funding riset mereka juga sangatlah besar. Satu hal yang merupakan nilai tambah, adalah menguasai bahasa Mandarin. Sebagai salah satu bahasa resmi PBB, maka menguasai Bahasa Mandarin akan membuka peluang untuk bekerja di badan dunia. Menguasai Bahasa Mandarin akan membuka cakrawala pergaulan, karena merupakan akses komunikasi kepada lebih dari 1 milyar orang penuturnya. Pemerintah RRC juga telah mendirikan Institut Konfusius, yang merupakan pusat budaya China. Indonesia pun juga telah memiliki institut tersebut, dan informasi mengenai pendidikan RRC dapat diperoleh disana. Jepang juga telah memiliki Japan Foundation, yang berfungsi sama dengan Institut Konfusius. Sementara itu, berhubung ada permintaan dari market, beberapa universitas mulai membuka program studi sastra korea. Iklim studi yang ideal adalah tempat yang memiliki kualitas riset bagus, dan minimnya potensi ‘cultural shock’. Negara-negara asia timur menawarkan keduanya. Kemiripan budaya antara Indonesia dengan China, Korea, atau Jepang merupakan salah satu faktor yang mesti dipertimbangkan dalam meminimalkan ‘cultural shock’.
Positioning Indonesia
Indonesia sebaiknya konsisten dengan kebijakan ‘outbreeding’. Kebijakan ini, selama ini telah diterapkan berbagai PTN/S, dalam rangka menyekolahkan staff pengajarnya ke luar negeri. Apa maksudnya ‘outbreeding’? Ia adalah kebijakan untuk menyekolahkan staff ke seluruh dunia, dan tidak terkonsentrasi ke satu negara saja. Seluruh dunia juga berarti menyekolahkan ke dalam negeri juga. Kuliah di dalam negeri pun bukan berarti ‘kurang prestisius’, karena ternyata peringkat dunia beberapa perguruan tinggi lokal juga sudah bagus. Kebijakan ‘outbreeding’ ini sebaiknya konsisten, dalam arti tidak menganakemaskan lulusan dari satu negara tertentu, namun memandang semua setara. Tujuan diberlakukannya kebijakan ini adalah supaya ilmuwan Indonesia memiliki latar belakang pendidikan yang heterogen, sehingga diharapkan supaya mereka dapat saling bekerja sama, sambil membawa perspektifnya masing-masing. Diversitas perspektif akan sangat menguntungkan dalam pendidikan/riset, sebab akan semakin banyak opsi pilihan yang bisa diambil dalam menyelesaikan suatu masalah.
Namun,  walaupun sejauh ini secara kebijakan kependidikan, Indonesia masih terhitung konsisten melakukan ‘outbreeding’, tapi pendapat publik bahwa ‘barat itu lebih baik’ memang masih sukar dipatahkan. Hal ini ironis, mengingat stigma itu sama sekali tidak mengacu pada kualitas pendidikan/riset secara obyektif, tapi lebih merupakan budaya. Dalam konteks memburu beasiswa, hal ini bisa jadi sangat kontraproduktif. Bisa jadi pendapat ekstrim, ‘harus sekolah ke barat’ dipegang teguh, sampai tawaran beasiswa ke asia timur atau dalam negeri ditolak. Akhirnya, malah sama sekali tidak dapat beasiswa karena tidak taktis dalam membaca peluang. Mencari beasiswa haruslah taktis, dalam arti jika ada peluang yang baik, ambillah peluang itu. Sebaiknya, kita jangan berjudi dengan beasiswa, karena itu akan merugikan diri kita sendiri. Seorang intelektual ada baiknya tidak berpikir, ‘saya lulusan mana’, namun lebih berfokus dalam mempersiapkan karya-karya berikutnya dalam rangka mencerahkan publik. ‘Lulusan mana’ itu tidak lebih hanyalah fasilitator, bukan tujuan. Saya percaya publik kita sudah semakin kritis, karena karya nyata para intelektual yang mereka tunggu, dan bukan sekedar ‘prestise’ lulusan mana belaka. Ada baiknya kita obyektif saja, bahwa cara mengukur kompetensi ilmuwan adalah dari publikasinya. Database Scopus, ISI, DOAJ, Google Scholar, atau yang lainnya bisa dicek, seberapa banyak ilmuwan negara-negara asia timur yang telah mempublikasikan karya ilmiahnya. Saya yakin sekali kuantitas dan kualitasnya tidak kalah dengan negara-negara barat. Bahkan dalam beberapa bidang keahlian, publikasi ilmuwan Indonesia telah dicatat juga di database tersebut. Contoh saja Prof Sangkot Marzuki dari Lembaga Eijkmann, yang berhasil mencetak 100 lebih publikasi pada database Scopus. Mari kita jadikan parameter yang ilmiah untuk mengukur kompetensi keilmuan, bukan berdasarkan mitos atau prasangka belaka. Prasangka bahwa ‘roti, keju, dan mentega’ lebih baik daripada ‘nasi, ketela  dan mie/ramen’ haruslah disingkirkan jauh-jauh. Sains modern sama-sama menghargai ‘roti’, ataupun ‘nasi’, selama mereka memberikan kontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
Terima kasih Kepada Theo Tochary.,Msc, Phd Student di Tokyo Institute of Technology, Tokyo, Jepang, atas konsultasinya selama ini.

From netsains.com

0 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More