Tuesday, July 5, 2011

Nasihat Terakhir (Kumpulan Cerpen Agung Hima)



Banyak orang menyukai  cerpen, karena para pembaca diajak untuk menyaksikan sebuah lanskap,  yang merupakan representasi  dari  sebuah kehidupan nyata.  Dan bagi saya  cerpen  yang  menarik dan mengaduk emosi ataupun menyergap pikiran adalah cerpen-cerpen yang seperti sebuah puisi yang kaya makna. Yaitu Cerpen-cerpen yang didalamnya tidak banyak memberikan sebuah khotbah, cerpen yang tanpa banyak menggurui. Penulisnya  tidak memberikan sebuah kesimpulan-kesimpulan tapi justru menghujamkan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang memaksa pembaca untuk menggali makna yang ada didalamnya, memberikan sebuah ruang yang terbuka untuk  kontemplasi pembacanya.
Dan Agung Hima, sastrawan asal semarang Jawa Tengah termasuk salah satu yang cerpen-cerpennya saya sukai. Lewat Buku Kumpulan Cerpennya “Nasihat terakhir” maka cerpen-cerpennya yang tersebar  bisa kita nikmati dalam sebuah buku. Agung Hima, lahir di semarang 18 Oktober 1971, aktif malang melintang di dunia teater, dan menulis untuk media massa lokal khususnya rubrik budaya.  Juga mengajar seni pertunjukan drama dan film di beberapa SMA dan perguruan tinggi di semarang. Dan sekarang  aktif di Open Mind Community, sebuah komunitas yang membahas secara kualitatif tentang kebudayaan. Beberapa kali saya sempat ngobrol dengan agung hima, dan ternyata punya  banyak kesamaan tentang buku-buku yang pernah di baca dan yang disukainya. Dia juga pernah cerita, buku yang paling saya sukai yaitu “mimpi-mimpi einstein” menurutnya adalah buku terumit yang pernah dia baca.
Ada 12 Cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen “nasihat terakhir” ini. Cerpen pertama berjudul “dominique” . yang menarik di cerpen ini adalah deskripsi tentang perasaan dan tokohnya tidak diraikan secara panjang lebar, tapi pembaca dapat menerka pergolakan emosi dan dinamika batin tokohnya lewat dialog-dialog dalam kalimat dan tindakan para tokoh dalam dunia fiksi yang diciptakan oleh agung hima. Dan juga deskripsi tentang detail suasana cafe cukup jeli, hingga pembaca terasa ikut berada di dalamnya. Bercerita tentang percintaan tetapi dengan sebuah ending yang cukup menghentak dan menghadirkan sensasi  “Di pelataran parkir bandara, kulihat pesawat yang membawa dominique melayang jauh mencumbui awan hitam. Pikiranku penuh dengan nama Dominique. Dominique yang anggun, dominique yang cantik, dominique yang penuh cinta, dominique yang laki-laki.”
Cerpen berjudul “Sejak Cerpen ke-10.764” akan membuat pembaca tersenyum getir dalam melihat sebuah kenyataan hidup seorang penulis, terombang ambing antara bagaimana memenuhi  tuntutan untuk menghidupi keluarganya dan menggengam rapat idealisme. Dengan gaya bahasa yang mengalir, sebuah bahasa yang akan kita temui sehari-hari meski ada nuansa satire di dalamnya. Seperti dialog antara Parto, sang penulis dengan Marni istrinya yang barusan melakukan tes kehamilan, dan ternyata positif.
“kamu piye, to?” mata parto mendelik.  “Lha Piye? Kok malah marah sama aku”. Sanggah Marni. “Habis kamu nggak ati-ati, sih!” kata parto. “Nggak ati-ati bagaimana? Wong kamu yang ngesrong terus ra ngerti wayah! Sudah aku bilang, kalo ini masa subur, mbok ya ditahan sebentar. Nanti kalau nggak di kasih marah-marah,”. Gerutu marni . ya sebenarnya marni seneng-seneng saja, habis hanya itu hiburan satu-satunya di rumah.
Cerpen “Sujud   hening  1000 tahun” salah satu cerpen dengan genre religius tapi jauh dari kesan berkhotbah dan menggurui, sebuah cerpen yang penuh dengan rentetan pertanyaan tentang dimensi cinta . mengambil setting dari kisah kearifan lokal sunan bonang  dan putri cempo. Bahwa cinta bisa hadir dan datang pada siapapun, tanpa perduli pada kategori-kategori yang fana pada diri seorang manusia, meskipun itu seorang sunan. Hingga seorang Sunanpun harus merintih “ Duh, kanjeng nabi tidakkah kau rasakan perih yang menyayat ini? Duh Gusti, Tidak adakah jalan keluar untukku, sekedar meninggalkan rasa cintaku terhadap cempo tanpa harus menyakitinya?.” Sebuah cinta yang begitu dalam tapi juga tak terjangkau. Dalam cerpen ini, menurut saya agung hima berhasil menyergap dan mengaduk emosi pembaca.
Yang menarik dari  cerpen “Tikaman pesta”  cerpen ke-4  adalah bagaimana agung hima menggiring pembaca untuk kemudian membantingnya dengan sebuah  ending yang membuat kita  memaki dalam hati, tentang giarti (Gie) yang naif yang punya cita-cita seperti kisah dalam cinderella. Cerpen Dengan kalimat-kalimat di awal cerita seperti sebuah puisi cinta yang kaya makna dan berakhir dengan sebuah paragraf “Gie, tolong diganti popoknya den  Akson” suara itu kembali menyeret pada kemeriahan pesta. Menyadarkan dirinya bahwa babu dilarang punya cinta.”
“Nasihat Terakhir” adalah contoh bagaimana sebuah cerpen bisa dibangun lewat kalimat-kalimat dalam dialog tokohnya , dan dalam era tekhnologi ini dialog tersebut bisa dalam sebuah tulisan di email.  Dari sebuah email yang akan dikirim inilah agung hima menggambarkan kejadian dan  emosi para tokohnya. Dan pembaca seakan diajak untuk sama-sama merasakan sebuah kepedihan yang dialami tokohnya.kepedihan sebuah perselingkuhan, kepedihan karena ditikam cinta.  Sungguh sebuah gaya bercerita yang menarik.
“Senja mulai merayap meniti lambat, seolah matahari tidak akan lagi menyisakan kata maaf bagi siapapun juga. Malam ini Nisfu Syaban. “ inilah kalimat awal cerpen “ Bakda Maghrib”. Yang menurut saya memberikan sebuah ruang penafsiran yang begitu dalam. Tentang sebuah syariat Puasa dan juga tentang hakikat  yang sebenarnya  Puasa. Agung hima menggedor dalam kalbu kita, saat ada orang atau bahkan tetangga terdekat kita harus puasa, bukan karena ingin berpuasa tapi karena memang benar-benar tidak ada yang bisa dimakan. Hingga benak pembaca akan penuh dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang ada di dalam cerpen ini :”sampai kapan harus bersabar? Sampai di mana keikhlasan bisa menemukan indah pada waktunya itu?” dan pada akhirnya sang tokoh yang bernama ratpo menyerah pada keadaan, menyerah  untuk membeli pisau dan pergi ke taman kota. sebuah cerpen yang menggambarkan Sebuah kenyataan yang menghimpit.
Cerpen anakku Bunga-bunga bagi saya adalah sebuah cerpen yang kalau di dalam genre film bisa di katakan dengan genre film “noir” atau Gelap. Sebuah Cerpen  yang mengisahkan sisi gelap sebuah manusia dengan metafora di setiap kalimat dan paragrafnya. “Seperti yang sudah-sudah, setelah Papa berenang di tubuh mama, ia mengamcam dengan pedangnya. Memaksa mama kerja rodi menguras kolam renang yang kotor oleh lendir.”  Metafora yang membuat pembaca merenung bahwa manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakanNYA. Tapi setiap saat berpotensi untuk menjadi makhluk yang paling hina. Kalau melihat tekhnik penceritaannya, agung hima bisa mengembangkannya dalam sebuah Novel yang panjang dengan genre “noir” seperti ini. Dan saya yakin akan memukau.
Cerpen “Apakah Ratpo terluka” ini adalah cerpen yang menggambarkan realitas kekinian. Realitas sebuah kehidupan era digital yang selalu punya dua sisi. Sebuah sisi baik dan sisi buruk, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Agung hima seperti membawa kamera dan meliput sebuah kejadian, dimana kita bisa menyaksikan lanskap, adegan, dan tokoh-tokohnya. Dengan perkataan lain watak dan alur tokohnya diperagakan dan bukan diuraikan. Sebuah kisah perselingkuhan yang dimulai dari perselingkuhan dunia maya. Da n yang menarik di akhir cerita sang tokoh masih bisa bertanya “apakah aku terluka?”. Hingga pembaca akan berpikir, jika dihadapkan kenyataan seperti yang dialami para tokohnya, apakah saya juga akan terluka? Apakah saya bisa ikhlas menerima? Dan rentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Hal  ini juga ada pada Cerpen yang berjudul “Salindri” . yang menceritakan percintaan dengan fasilitas era digital “Chatbox” dan “webcam”
Sedangkan pada Cerpen “perempuan dunia maya” . pembaca diajak untuk melintasi sebuah batas dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Melintasi batas pandangan stereotipe Bahwa tidak selamanya perempuan adalah seorang yang penuh kelembutan. Ada kalanya perempuan juga menyimpan sebuah kekuatan dan kekejaman yang bisa diwujudkan saat motivasi memenuhi rongga dada. “Lelaki di dunia ini adalah wujud kebohongan dan kebodohan manusia, maka aku bangga dan sukarela untuk menghabisi kebohongan dan kebodohan yang mereka ciptakan”. Bisik raha kepada setiap lelaki korbannya yang tengah capek kepuasan. Gaya penceritaan dalam cerpen ini mengingatkan saya pada film-film misteri.
“Soliloqui labirin hitam” adalah contoh bagaimana sebuah cerpen bisa membuat kita menarik nafas panjang dan menghembuskannya setelah membacanya. Karena begitu dalamnya tema yang coba diberikan agung hima pada para pembacanya. Hingga kita perlu berdialog ke dalam diri kita sendiri agar bisa menyingkap sebuah labirin hitam. Dengan analogi legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang  nya bidadari yang mandi di pancuran. Sampai pada sebuah pertanyaan tentang kematian. “jangan takut, air kolam akan membuka rahasia padamu”. Perempuan itu terus mengajakku masuk ke dalam kolam. “aku akan mati, aku tidak bisa bernafas dalam air”. Aku ketakutan. Ah..ternyata aku masih saja takut mati.
Cerpen terakhir adalah “Amin Mati”. Pengambilan judulnya sungguh menarik. Sesuai dengan apa yang terjadi di sekeliling kita Amin dari kata al amin (jujur) banyak yang mati. Dan ini juga ditulis di dalam salam satu dialog cerpen ini “ Dimana-mana, jujur itu pasti ajur, min.” Begitu pernah dinasehatkan seorang teman. Yang menarik disini adalah agung hima menceritakan apa yang dilihat disekelilingnya tanpa sedikitpun menggurui tentang  makna kejujuran. Hanya menyisakan sebuah pertanyaan pada kita para pembaca , saat Amin meradang menjelang maut “Jawablah Tuhan, sekejap saja.” Dan sepi merangkulnya. Sungguh sebuah cerpen yang memukau.
Ernest hemingway mengatakan : “ Keanggunan gerak gunung es terjadi hanya  seperdelapan bagiannya yang muncul di atas air.” Dalam seperdelapan tersebut menyimpan sebuah magma. Begitupun cerpen, penggalan-penggalan kisahnya menyimpan sebuah makna yang  dapat  ditafsirkan oleh pembaca.
Secara keseluruhan saya memberikan apresiasi yang tinggi atas Buku kumpulan cerpen ini. Banyak tema yang diambil dan berbagai eksperimentasi tekhnik penceritaan. Sesuai dengan aktifitas Agung Hima yang malang melintang di dunia teater. Hingga banyak menemukan hal-hal yang bisa ditangkap dan diolah dalam sebuah cerita. Semoga kumpulan Cerpen “nasihat Terakhir”  Agung Hima ini dapat menambah Khasanah Kesusasteraan Indonesia , agar semakin Hidup dan semakin menyebar di seluruh Negeri Ini.
Judul Buku :  Nasehat Terakhir
Penulis     : Agung Hima
Penerbit : Kawan Kita

Sumber: netsains.com

0 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More