Wednesday, August 17, 2011

CO ( Carbon Monokside ), The Silent Killer


Pernah mendengar berita tentang kematian di dalam mobil tanpa adanya bekas tindak kejahatan,, beberapa diantaranya disebabkan oleh gas CO (karbon monoksida) yang dihirup oleh para korban. Gas CO dikenal dengan sebutan ‘the silent killer’, karena sifatnya yang sangat berbau, beracun, tidak berwarna, dan tidak berasa. Orang yang tidak sengaja menghirup gas CO ini, tidak akan mengalami kesadaran bahwa mereka dalam bahaya dan menyebabkan timbulnya rasa kantuk yang sangat.
Gas CO ini berasal dari pembakaran yang tidak sempurna dari gas alam dan material lain yang mengandung unsure karbon. Keberadaan gas ini sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia, karena gas CO akan menggantikan oksigen yang berikatan dengan Hb dalam darah. Ikatan yang terbentuk antara Hb – CO ini lebih kuat 200 kali daripada ikatan Hb – O.
Akibatnya oksigen kalah bersaing dengan CO saat berikatan dengan Hb. Kadar oksigen dalam darah akan berkurang, padahal tubuh sangat membutuhkan oksigen untuk proses metabolisme.
Gelaja yang ditimbulkan dari keracunan gas CO antara lain :
-          Sesak nafas
-          Sakit kepala
-          Rasa lelah yang amat sangat
-          Pusing
-          Mual – mual
-          Hilang kesadaran
-          Kebingungan
-          Otot menjadi lemas
-          Kematian
Diagnostik keracunan CO, adanya COHb yang tinggi dalam darah dapat dilihat dari beberapa ciri – ciri : semua organ tubuh mulai paru – paru, jantung, liver, berwarna merah karena pecahnya pembuluh darah dan carboxyhemoglobin berwarna merah terang  (bright red) yang terlihat pada kuku – kuku jari, mukosa dan kulit.
Beberapa cara di bawah ini dapat digunakan untuk menganalisis kadar CO dalam darah.
  1. Menggunakan reagent :
Reagent : 10% H2SO4 & 0,1% PdCl2 dalam 0,01 NHCl
(1) Memasukkan 1 ml darah + lar 1 ml 10%H2SO4 dalam outner chamber
(2) Memasukkan 1 ml lar 0,1 % PdCl2 dalam inner chamber
(3) Menutup cell convoy
(4) Mengamati 15’ – 60’ tampak lapisan diatas permukaan inner chamber CO(+)
sensitifitas 10% HbCO apabila (+) dilanjutkan dengan Spectrofotometri UV-VIS
2.   0,2 ml sample diencerkan dengan 25 ml 0,1% lar NH4OH dibagi 3 bagian (A,B,C)
Kode A aliri dengan gas CO selama beberapa menit. Kode B aliri gas 02 selama 10’ untuk menghitung ikatan HbCO atau ambil darah segar (tidak mengandung CO).
Kode C tanpa diberi aliran gas (sample asli) masing-masing ditambah sedikit sodium difluonit dan 10 ml 0,1% NH4OH. Absorbansi masing-masing diamati pada panjang gelombang 540 nm, 579nm

Hubungan antara gejala-gejala dengan COHb darah dapat dilihat berikut:

% COHb
Keluhan atau gejala
< 10 % COHbtidak ada keluhan maupun gejala
10–20% COHbrasa berat dikepala, sedikit sakit kepala, pelebaran pembuluh darah kulit
20–30% COHbsakit kepala menusuk-nusuk pada pelipis
30–40 % COHbsakit kepala hebat, lemah, dizziness, pandangan jadi kabur, nausea, muntah-muntah
40–50 % COHbseperti diatas, syncope, nadi dan pernafasan menjadi cepat.
50–60 % COHbsyncope, nadi dan pernafasan menjadi cepat, koma, kejang yang intermitten.
60–70% COHbkoma, kejang yang intermitten, depressi jantung dan pernafasan
70–80% COHbnadi lemah, pernafasan lambat, kegagalan pernafasan dan meninggal dalam beberapa jam
80–90 % COHbmeninggal dalam waktu kurang dari satu jam
> 90 % COHbmeninggal dalam beberapa menit

Memasang alat pendeteksi karbon monoksida di tempat-tempat yang di huni banyak orang.
Memeriksa sistem kendaraan baik mobil pribadi, kereta maupun angkutan umum untuk mengantisipasi kebocoran yang mungkin terjadi.
Meminimalisir penggunaan peralatan yang menggunakan bahan bakar             fosil dan menggantinya dengan mesin bertenaga listrik atau baterai.
Melakukan pengujian dan pemantauan karbon monoksida dalam udara           secara berkesinambungan di kawasan yang diduga rawan karbon monoksida.
Senantiasa waspada ketika berada dalam ruangan tertutup yang kemungkinan mengandung gas monoksida.
Mengurangi kebiasaan merokok karena apabila tembakau terbakar akan menghasilkan gas karbon monoksida sehingga dapat mengurangi kemampuan darah dalam mengikat oksigen.

Sumber: netsains.com
read more

Profesi yang Berkaitan dengan Ilmu Genetik


Tentu tidak ada yang dapat membayangkan profesi yang akan digeluti seseorang setelah menyelesaikan pendidikan formal. Semua berjalan sesuai dengan garis takdir yang telah ditentukan Sang Maha Kuasa. Demikian hal dengan Bejo yang setelah lulus SMA harus dipaksa orang tuanya untuk kuliah di Akuntansi. Tepatnya di kampus neneknya terdahulu, Universitas Negeri Surabaya yang disingkat UNESA, sehingga sering Bejo memplesetkannya menjadi UNESA = Universitas Nenek Saya. Banyak hal-hal aneh yang dia alami selama menjalani status mahasiswanya, hingga akhirnya dia menemukan pelajaran hidup yang terbaik.
Singkat cerita, menjelang detik-detik pendaftaran orang tua bejo memberikan pilihan untuk memilih jurusan pendidikan ekonomi, pokoknya harus jadi guru begitu ceritanya. Jamak kita temui peristiwa yang dialami bejo, atau bahkan kita sendiri adalah salah satunya. Tidak jarang kita sebagai orang tua merasa paling berhak terhadap anak-anak kita, mulai dari baju apa yang harus mereka pakai, dimana ia harus bersekolah, dengan siapa dia harus berteman, hingga pekerjaan terbaik yang harus dia miliki. Sekarang, cobalah kita renungkan kembali apakah semua itu adalah untuk anak-anak kita, atau ambisi masa muda kita yang gagal kita raih. Lalu, apakah seorang anak tidak boleh memilih dengan bebas, akan menjadi seperti apa dia nanti dengan semua potensinya ?
George Bernard Shaw adalah penulis besar kelahiran Irlandia. Kecerdasannya sangat luar biasa, sehingga Shaw pernah memperoleh hadiah Nobel untuk karya sastra, sekaligus penerima Piala Oscar untuk karyanya  yang diangkat ke layar perak. Demikian mengagumkannya kecerdasan seorang George Bernard Shaw, sehingga konon dia pernah dilamar oleh seorang aktris cantik. Dengan maksud, supaya kelak menghasilkan keturunan yang rupawan seperti ibunya, dan cerdas seperti ayahnya. Namun, Shaw kemudian menjawab, “Lalu bagaimana kalau kita memiliki anak dengan otak seperti Anda, dan wajah seperti saya?”. Ya demikianlah menurut ilmu genetika. Pola pikir hahwa banyak hal kita warisi secara turun temurun dari orang tua kita. Kulit kita yang sawo matang, rambut kita yang hitam, hidung kita yang tidak mancung. Hingga ke hal-hal yang sifatnya non fisik seperti misalnya sifat atau bakat tertentu. Maka banyak anak penyanyi yang kemudian menjadi penyanyi, anak jenderal jadi tentara, dan anak pedagang jadi pedagang. Maklum, bakat dari orang tua nya mengalir deras di darah mereka. Mungkin pola pikir ini yang menjadikan Bejo, harus tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi profesi yang diturunkan oleh nenek moyangnya terdahulu sebagai guru.
Tapi, apakah benar hingga hal-hal yang bersifat non fisik seperti profesi kita warisi secara turun temurun, atau, mungkinkah bakat seseorang memang bisa berubah?
Prof. Kazuo Murakami, seorang ahli genetika, dalam bukunya The Divine Message of The DNA yang kemudian membuka wawasan saya lebih luas. Ternyata menurut ilmu genetika memang betul, segala sesuatu yang merupakan “bakat” ditentukan oleh kode genetis yang ada dalam DNA kita. Sebagai gambaran, setiap kilogram tubuh kita terdiri dari sekiar 1 trilyun sel. Jadi seorang bayi yang baru lahir sudah memiliki sekitar 3 trilyun sel. Padahal awalnya kita hanyalah satu buah sel yang sudah dibuahi. Yang kemudian membelah menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8 dan seterusnya hingga trilyunan tadi. Setiap sel memiliki inti sel (nucleus) yang mengandung DeoxyriboNucleic Acid (DNA). DNA inilah yang menyimpan kode genetis yang menjadi cetak biru tubuh kita. Jadi akan menjadi seperti apa kita, seolah sepertinya sudah terprogram dalam DNA tadi.
Lalu jika dalam setiap sel tubuh kita terdapat DNA yang sama, bagaimana sebuah sel tahu bahwa ia adalah bagian dari rambut, misalnya, dan kapan rambut mulai tumbuh, dsb. Menurut pakar genetika, ternyata terdapat mekanisme “nyala/padam” pada DNA tadi. Sebagai contoh, gen yang menentukan sifat kelamin laki-laki (berkumis, bersuara berat, dsb) yang semula “padam” akan “menyala” pada saat pubertas.
Bahkan, lebih jauh lagi. Proses nyala/padam tadi ternyata dapat terjadi sebagai respon lingkungan yang berubah. Dua ilmuwan dari Institut Pasteur mengamati hal ini. Bakteri E.Coli yang hanya mengkonsumsi glukosa, ternyata ketika ditempatkan pada lingkungan yang hanya ada laktosa, mampu merubah diri menjadi pemakan laktosa. Mekanisme internalnya sangat ajaib, karena bakteri adalah makhluk satu sel. Sehingga perubahan menjadi pemakan laktosa seolah-olah seperti menyalakan sebuah kemampuan yang semula tidak nampak. Dan ini membawa konsekuensi luar biasa. Karena jika benar gen pembawa sifat tadi memiliki mekanisme nyala-padam seperti itu. Kita tidak pernah tahu potensi apa dalam diri kita yang saat ini belum kita nyalakan. Jangan-jangan saya juga memiliki bakat bermain saksofon sebagus Dave Koz, hanya saat ini belum dinyalakan saja. Atau jangan-jangan ada bakat bisnis sehebat Donald Trump yang masih terpendam dalam diri saya, dan menunggu dinyalakan?
Dan memang demikianlah menurut Prof. Murakami. Bahwa bakat seseorang dapat muncul pada umur berapapun. Banyak sekali contoh pemusik atau olahragawan yang semula hanya memperlihatkan “bakat” yang biasa-biasa, namun kemudian tumbuh secara luar biasa seiring dengan disiplin dan latihan yang dilakukan. Atau seorang yang hari ini dikenal sebagai ilmuwan genius, padahal teman SD nya mengenal dirinya dulu sebagai anak yang kurang pandai. Atau seseorang yang hari ini dikenal sebagai politisi dan orator hebat, sementara dulunya anak yang kuper. Jadi kalau anak Anda hari ini kurang pandai matematika, sumbang kalau bernyanyi, atau kurang berprestasi dalam orahraga. Anda tidak perlu buru-buru frustrasi sambil berteriak “Ah, dasar gak bakat”. Siapa tahu, gen positif pembawa bakatnya saja yang belum menyala. Dan disinilah peran orang tua untuk menyalakannya, dengan memberikan ruang yang luas bagi seorang anak mengembangkan bakatnya. Tentu, seorang bejo yang ada dicerita diatas belum tentu akan menjadi guru, atau bahkan akan menjadi guru yang luar biasa jika orang tuanya mampu bertindak demikian. Sekarang, sudahkah kita melakukannya untuk anak kita?

Sumber: netsains.com
read more

Indonesia Masih Gunakan HFC-134a

Tidak dapat kita pungkiri, lapisan ozon semakin menipis. Tak hanya para ahli lingkungan, dalam sektor apapun para ahli juga merasa bertanggung jawab untuk terus berupaya menciptakan teknologi yang ramah lingkungan. Terutama zat atau senyawa kimia yang biasa digunakan untuk menopang beroperasinya suatu mesin. Bahan mesin pendingin yang ada pada mobil, contohnya.
Baru-baru ini Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, atau yang lebih dikenal dengan sebutan U.S. EPA, telah menyetujui pokok persoalan terkait dengan bahan pendingin mobil.
HFO-1234yf merupakan hidrokarbon fluorinated, atau yang memiliki nama lain 2, 3, 3, 3-Tetrafluoropropene, senyawa kimia baru inilah sebagai pengganti HFC-134a. Seperti dilansir dari berita U.S EPA, ketika mobil yang telah menggunakan HFO-1234yf ini digunakan, dapat mengurangi efek buruk ke lingkungan dan potensi pemanasan global (GWP) dapat dikurangi hingga 99,7% dibanding dengan senyawa yang sebelumnya digunakan, yaitu HFC-134a.
HFO-1234yf merupakan yang pertama di kelas baru refrigerant, potensi pemanasan global 335 kali lebih sedikit dibandingkan dengan HFC-134a dan masa hidup di atmosfer 400 kali lebih pendek. Hal ini dikembangkan untuk membantu produsen mobil memenuhi peraturan Eropa yang berlaku tahun 2011 dimana semua platform mobil baru yang akan dijual di Eropa diharuskan menggunakan refrigerant dalam sistem AC dengan GWP di bawah 150. Dan HFO-1234yf memiliki 4 GWP. Ini berarti pembuat mobil tidak perlu membuat modifikasi signifikan dalam lini perakitan dan mengakomodasi desain produknya.
Sebelum menggunakan HFC-134a, bahan refrigerant mobil menggunakan CFC-12, sebuah gas rumah kaca dan gas yang dapat menipiskan lapisan ozon. Berlubangnya stratosfer terutama lapisan ozon menunjukkan semakin tingginya radiasi sinar UV yang masuk ke permukaan bumi. Selain menghangatkan, radiasi UV memiliki beberapa efek, termasuk kanker kulit, katarak, menurunnya sistem imun, dan penuaan dini serta mengeriputnya kulit. Karena alasan inilah, penting sekali memeriksa index UV dan selalu ingat untuk mengenakan topi, kacamata dan sunscreen.
Bagaimana dengan Indonesia?

Sumber: netsains.com
read more

Cerita Menulis Tesis (bagian 1)


Mulai semester ini mahasiswa bimbingan S3 meningkat menjadi 10 orang (peningkatan 150%) dari tahun lalu. Uniknya mereka mayoritas orang Indonesia yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan dan profesinya pun guru (baik di bawah Kemendiknas atau Kemenag).  Dari segi komunikasi jelas tidak bermasalah karena sama-sama paham Bahasa Indonesia, yang jadi kendala tentu hal yang klasik: kesiapan melakukan studi di tingkat doktoral. Maka acara berbagi pengalaman saat saya mengerjakan tesis dulu (walaupun konteksnya berbeda), menjadi hal yang diulang-ulang diceritakan ke mereka dengan harapan bisa punya gambaran dan mengambil pelajaran berharga serta tidak melakukan kekeliruan yang sama. Tapi rasanya memang apa yang diceritakan seperti ‘masuk telinga kiri, keluar dari telinga kanan’. Cara lain supaya mereka sedikit “nyahok” adalah dengan menuliskan pengalaman menulis tesis dulu di blog ini (dengan harapan mereka juga membacanya sehingga tidak perlu sampai meningkatkan dosis ‘ceramah motivasi’ yang memang akan membosankan kedua pihak).
Secara resmi saya memulai studi S3 pada April 2003, dapat beasiswa dari NZAID yang menyatakan bahwa tiga tahun harus selesai. Dosen pembimbing (supervisor) pun sudah ditentukan, yaitu dipilih berdasar bidang kepakaran yang akan diteliti dan sebisa mungkin punya pengalaman dalam dunia pendidikan di negara berkembang. Fakultas memilih Dr. Kabini Sangat sebagai pembimbing utama (namun setiap komunikasi tatap muka/elektronik cukup nyebut nama depannya saja tanpa perlu embel-embel Mr. Sanga atau Dr Kabini Sanga). Dia berasal dari negara Solomon Islands [relatif terbelakang dibanding Indonesia], punya pengalaman bekerja sebagai kepala sekolah, birokrat pendidikan dan peneliti di Canada sebelum akhirnya kerja sebagai dosen di Victoria University of Wellington (VUW) di Selandia Baru. Pertemuan pertama dengannya bertukar pengalaman dan menjelaskan topik riset yang akan saya lakukan, serta menjelaskan tentang Indonesia dan dunia pendidikannya. Sarannya singkat saja, siapkan proposal dan dia akan cari pembimbing kedua yang akan ikut membantu.
Studi S3 di universitas di Selandia Baru (juga Australia dan tentu saja di Malaysia) sifatnyafull research, dimana tidak ada kelas yang harus diikuti. Sejak pertama kali secara resmi terdaftar, maka semua hal dilakukan sendiri, biasanya kontak dengan supervisor bila memang ada masalah. Kalau pun banyak meminta nasehat dan petatah-petitih dalam menyelesaikan masalah, maka pembimbing pun akan menilai bahwa kita memang tidak siap untuk studi doktoral, dan dianggap tidak independen dalam studi.  Sebagai mahasiswa S3, kita dianggap setara dengan staf dosen, atau lebih tepatnya sedang menjalani magang sebagai peneliti. Maka fasilitas untuk studi pun diberikan mirip seperti dosen, dikasih ruangan kerja, komputer dan akses internet, akses ke mesin fotocopy, jumlah buku yang bisa dipinjam di perpustakaan sampai kepada dana riset untuk pengumpulan data di lapangan.
Dalam keadaan yang ‘linglung’ dan dianggap mandiri dalam melakukan kerja, maka cara yang dilakukan adalah membaca buku ringan tentang bagaimana supaya sukses dalam studi PhD. Dua nasehat yang terus membekas sampai sekarang adalah: pertama, untuk bisa menyusun tesis dalam bidang riset kita, maka pelajari lah dengan seksama tesis yang telah dinyatakan lulus dalam bidang tersebut; kedua, jaga hubungan baik dan lakukan lah kontak secara teratur dengan pembimbing, dan dokumentasikan segala hal itu dengan baik [untuk sebagai bukti bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan].
Sesuai dengan nasihat bijak tersebut, maka dimulai lah perburuan mencari tesis dalam bidang riset kita yang bisa dijadikan pedoman bagi penulisan tesis nantinya. Saat ini untuk mendapatkan info mengenai tesis tidak begitu sulit, database di perpustakaan bisa memberikan daftar judul tesis berdasarkan kata kunci yang diberikan dalam hitungan detik. Namun laman web favorit adalah dengan mengandalkan Te Puna, yaitu website National Library of New Zealand; berhubung dengan akses Te Puna maka semua karya tulis seluruh New Zealand terpangpang dengan mudah dan hard copy-nya pun bisa didapatkan dengan cara pemesanan Inter-library loan. Pernah mendapati beberapa hasil penelitian yang menarik ternyata menjadi koleksi di satu perpustakaan di universitas di Australia, namun untuk mendapatkan aksesnya disamping mahal juga lelet (menunggu sampai tiga bulanan), malah ada beberapa yang tidak boleh dipinjam keluar Australia sama sekali [walaupun New Zealand adalah sekutu paling terpercaya, namun dalam urusan riset tidak menjadikan hal itu 'akrab' dan bebas berbagi].
Setelah baca berbagai tesis dengan perkiraan menarik dari judulnya, akhirnya didapati tiga buah tesis S3 dijadikan rujukan. Yang pertama adalah tesis mengenai riset pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, yang kedua  penelitian tentang devolusi pendidikan di satu negara kepulauan pasifik dan ketiga adalah disertasi mengenai perubahan radikal kebijakan penilaian pendidikan yang terjadi di Selandia Baru. Secara teliti dipelajari lah tiga tesis berbahasa Inggris itu untuk didapatkan strukturnya, cara mereka menuliskan pertanyaan riset, metodologi yang dipakai, bahasa ekspresi dan argumen yang dipakai, style penulisan dan pengutipan dan hal detail lainnya. Bisa dikatakan mempelajari ini diperlukan waktu hampir dua bulan penuh (disamping juga membaca rujukan untuk kajian pustaka), sampai dikira paham dengan sepenuhnya dan bisa menuliskan karya saya sendiri seperti ketiga tesis tersebut (tentu kemudian didapati bahwa apa yang disebut ‘paham’ masih dalam taraf awal, saat mulai menulis draft tesis kesulitan mengeksplorasi dan sesuai standar untuk tesis S3 terjadi di berbagai kesempatan; untungnya ada referensi yang bisa terus digunakan, yaitu membaca kembali ketiga tesis itu).
Mengenai pembimbing kedua yang saya sangka urusannya enteng ternyata bertele-tele dan kadang bikin repot, malah akhirnya sampai mengalami tiga orang dosen lain sebagai second supervisor ini. Yang pertama, lelaki orang kulit putih (di New Zealand disebut pakeha) ternyata hanya sempat diskusi bersama satu kali saja, berhubung bulan berikutnya dia memilih kerja sebagai dosen di Irlandia; yang kedua perempuan (pakeha), beliau malah tahu sejarah Indonesia dan beberapa kali pergi ke Sumatera Utara karena dia aktivis kristen, namun di tengah jalan beliau tidak bisa melanjutkan membimbing berhubung memilih pensiun. Yang ketiga dan terakhir, lelaki pakeha juga, walaupun kepakarannya beda namun sedikit bawel dan banyak mengkritisi (lebih tepatnya mengejek) tulisan English saya (yang memang jelek). Bila disuruh memilih, saya menyukai kerja dengan pembimbing yang perempuan, walaupun saat diskusi selalu dipojokan, dan mengkritisi hebat pola pikir saya, namun saya belajar banyak dari beliau tentang bagaimana menulis dalam English, dan selalu mengingatkan melalui email secara reguler tentang apa yang dikerjakan dan seberapa jauh kemajuan studi yang didapat. Keberadaan pembimbing keduanya tentu membantu kalau yang pertama ‘kerepotan’, namun pernah dalam tempo selama empat bulan, tidak bertemu dengan kedua pembimbing sekaligus berhubung yang pertama sedang cuti sabatikal dengan mengajar di universitas di Canada dan yang kedua melakukan tugas sebagai aktivitis-nya di India, sehingga satu-satunya tetap kontak adalah berkirim email tentang apa yang saya kerjakan (kemudahan yang lima belas tahun dulu belum ada).
Mulailah pada bulan Mei 2003 merancang proposal dan menuliskan isinya. Di fakultas tempat saya terdaftar, rata-rata mahasiswa menyelesaikan proposal dalam waktu satu semester (6 bulanan), dan isi proposal nantinya adalah bab pertama dari tesis. Isinya pun kurang lebih harus menunjukkan kajian literatur yang ‘terlihat bentuknya’ untuk dikembangkan menjadi bab kajian pustaka dan metodologi. Proses menulis proposal tentu tidak sekaligus, namun dicicil dengan mencomot dari berbagai sumber bacaan yang relevan, dituliskan, dikirim via email untuk minta komentar dan kritik; selanjutnya diskusi tatap muka (paling tidak sebulan sekali) dan hasil akhirnya adalah dicorat-coret, perbaikan, revisi dan perbaikan lagi. Pada waktu bulan ke-empat bentuk proposal sudah nampak yang tidak lain merupakan upaya revisi sampai dua belas kali dari pertama kali dibuat.
Pada saat itu, kedua dosen pembimbing memutuskan bahwa proposal sudah dianggap matang, dan perlu disiapkan instrumen riset yang sesuai dengan apa yang dituliskan di proposal. Di mulailah perburuan melengkapi dan mencari bentuk instrumen riset yang pas, yaitu melalui kuesioner dan wawancara, khususnya detail pertanyaan dan prosedur pengumpulan data. Beberapa kali draft diajukan, dan diakhiri dengan coretan ketidaksetujuan dan singkatnya ditolak, sampai akhirnya didapati model kuesioner yang cocok dan daftar pertayaan untuk wawancara yang tepat. Proposal lengkap dengan instrumen riset itu diajukan ke komisi etik fakultas untuk mendapatkan persetujuan boleh tidaknya pengumpulan data lapangan dilakukan, dalam hal ini mahasiswa tidak perlu tampil untuk presentasi, cukup diwakili oleh supervisor saja (sistem yang simpel dan berdasar kepercayaan).
Komisi etik menilai apakah isi riset dan prosedur pengumpulan datanya mengandung hal yang ‘berbahaya’, maksudnya apakah isinya sensitif, diskriminatif atau sejenisnya. Terus juga menanyakan bagaimana memperlakukan pendapat yang didapat dari responden, dalam hal ini kebijakan universitas sangat tegas, bahwa responden berhak atas consent (dengan ijin) untuk berpartisipasi, confidential (rahasianya dijaga dengan baik) dan anonymous (tidak ada satu hal yang bisa mengindikasikan identitas responden). Dalam waktu satu minggu keputusan persetujuan sudah didapat dan supervisor mengatakan bahwa secara resmi saya sekarang adalah doctorate candidate. Dan proposal yang diajukan bisa dikatakan adalah ‘kontrak tertulis’ tantara si mahasiswa dengan universitas. Maka tahapan pertama menulis tesis berhasil dijalani. [bersambung]

From netsains.com
read more

Sunday, August 14, 2011

Facebook akan Hancur pada 5 November Mendatang?








  • Dunia maya benar-benar sedang berada di masa sulitnya sekarang ini. Bagaimana tidak? Selama kurun waktu satu tahun terakhir ini, aktivitas hacking menjadi sangat aktif dan mulai terasa mengancam. Situs-situs besar runtuh satu-persatu, informasi yang rahasia mulai terlempar ke publik, dan keamanan semua transaksi yang penting dipertanyakan. “Hebatnya”, semua kekacauan ini lahir dari sekelompok orang tanpa identitas yang menamai dirinya Anonymous. Apakah ini sebuah tren? Atau usaha untuk menegakkan keadilan? Ataukah ini sebuah permainan anak-anak bagi mereka? Apapun itu, Facebook kini menjadi pihak yang harus bertahan.
    Melalui sebuah video yang dirilis di situs video Youtube, Anonymous menyampaikan sebuah pesan ancaman yang cukup jelas untuk Facebook. Situs jejaring sosial terbesar di dunia itu dijadikan target sebuah operasi hacking dengan sandi nama (codename) Operation Facebook. Misi Anonymous sangat jelas, membunuh dan menghancurkan Facebook secara total pada 5 November 2011 mendatang.

    Lantas alasan apa yang menjadi dasar serangan ini? Anonymous mempermasalahkan kebijakanprivacy milik Facebook yang masih memungkinkan situs ini untuk menjual, membagi, dan menyerap semua informasi pribadi pemilik akun walaupun sudah tidak aktif sekalipun. Facebook bisa membagi informasi ini kepada pihak ketiga, di lain sisi juga rentan untuk dieksploitasi dan dicuri. Sebuah kekhawatiran yang masuk akal
    Apa yang sebenarnya dikejar oleh Anonymous dengan semua aksi ini? Apakah mereka ingin tampil sebagai seorang Messiah di dunia maya yang memang sedang carut-marut? Apakah mereka ingin membangun kesadaran? Atau ini semua memang permainan? Untuk menghapus kekhawatiran yang ada,  Anonymous hanya menyampaikan bahwa suatu saat masyarakat akan berterima kasih atas apa yang mereka coba dan sudah lakukan. Mereka mengaku aksi ini bukanlah sebuah tindakan vandalisme untuk membahayakan atau menyerang kita, tetapi lebih untuk menyelamatkan.
    Anda bisa melihat video ancaman tersebut di bawah ini, beserta dengan transkripnya. Apakah 5 November 2011 akan menjadi akhir dari Facebook? Kita lihat saja, The Battle of Wits start now!
    Video




    TRANSKRIP (ENGLISH)




    Attention citizens of the world,
    We wish to get your attention, hoping you heed the warnings as follows:
    Your medium of communication you all so dearly adore will be destroyed. If you are a willing hacktivist or a guy who just wants to protect the freedom of information then join the cause and kill facebook for the sake of your own privacy.
    Facebook has been selling information to government agencies and giving clandestine access to information security firms so that they can spy on people from all around the world. Some of these so-called whitehat infosec firms are working for authoritarian governments, such as those of Egypt and Syria.
    Everything you do on Facebook stays on Facebook regardless of your “privacy” settings, and deleting your account is impossible, even if you “delete” your account, all your personal info stays on Facebook and can be recovered at any time. Changing the privacy settings to make your Facebook account more “private” is also a delusion. Facebook knows more about you than your family.

    You cannot hide from the reality in which you, the people of the internet, live in. Facebook is the opposite of the Antisec cause. You are not safe from them nor from any government. One day you will look back on this and realise what we have done here is right, you will thank the rulers of the internet, we are not harming you but saving you.
    The riots are underway. It is not a battle over the future of privacy and publicity. It is a battle for choice and informed consent. It’s unfolding because people are being raped, tickled, molested, and confused into doing things where they don’t understand the consequences. Facebook keeps saying that it gives users choices, but that is completely false. It gives users the illusion of and hides the details away from them “for their own good” while they then make millions off of you. When a service is “free,” it really means they’re making money off of you and your information.
    Think for a while and prepare for a day that will go down in history. November 5 2011, #opfacebook . Engaged.
    This is our world now. We exist without nationality, without religious bias. We have the right to not be surveilled, not be stalked, and not be used for profit. We have the right to not live as slaves.
    We are anonymous
    We are legion
    We do not forgive
    We do not forget
    Expect us

    TRANSKRIP (SETELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM B.INDONESIA)

    Perhatian warga dunia, 



    Kami ingin mendapatkan perhatian Anda, berharap Anda memperhatikan peringatan sebagai berikut: 
    Media Anda komunikasi Anda semua begitu mahal memuja akan dihancurkan. Jika Anda adalah hacktivist bersedia atau seorang pria yang hanya ingin melindungi kebebasan informasi kemudian bergabung penyebabnya dan membunuh facebook demi privasi Anda sendiri. 

    Facebook telah menjual informasi kepada badan-badan pemerintah dan memberikan akses rahasia untuk perusahaan keamanan informasi sehingga mereka dapat memata-matai orang-orang dari seluruh dunia. Beberapa disebut infosec perusahaan whitehat bekerja untuk pemerintahan otoriter, seperti Mesir dan Suriah. 

    Segala sesuatu yang Anda lakukan di Facebook tetap di Facebook terlepas dari pengaturan "privasi", dan menghapus account Anda adalah mustahil, bahkan jika Anda "menghapus" account Anda, semua info pribadi Anda tetap di Facebook dan dapat dipulihkan setiap saat. Mengubah pengaturan privasi untuk membuat account Facebook Anda lebih "pribadi" juga khayalan. Facebook tahu lebih banyak tentang Anda daripada keluarga Anda. 


    Anda tidak dapat bersembunyi dari realitas di mana Anda, orang-orang dari internet, tinggal masuk Facebook adalah kebalikan dari penyebab Antisec. Anda tidak aman dari mereka atau dari pemerintah manapun. Suatu hari Anda akan melihat kembali hal ini dan menyadari apa yang telah kita lakukan di sini adalah tepat, Anda akan berterima kasih kepada penguasa internet, kami tidak merugikan Anda, tetapi menghemat. 


    Kerusuhan sedang dilakukan. Ini bukan pertempuran atas masa depan privasi dan publisitas. Ini adalah pertempuran untuk pilihan dan informed consent. Ini berlangsung karena orang sedang diperkosa, menggelitik, dianiaya, dan bingung dalam melakukan hal-hal di mana mereka tidak mengerti konsekuensi. Facebook terus mengatakan bahwa itu memberikan pengguna pilihan, tetapi yang benar-benar palsu.Ini memberikan pengguna ilusi dan menyembunyikan rincian menjauh dari mereka "untuk kebaikan mereka sendiri" sementara mereka kemudian membuat jutaan dari Anda. Ketika sebuah servis "bebas," itu benar-benar berarti mereka sedang membuat uang dari Anda dan informasi Anda. 

    Pikirkan untuk sementara dan mempersiapkan untuk hari yang akan turun dalam sejarah. 5 November 2011, # opfacebook. Terlibat. 

    Ini adalah dunia kami sekarang. Kami ada tanpa kebangsaan, tanpa bias agama.Kami memiliki hak untuk tidak surveilled, tidak berjalan, dan tidak digunakan untuk keuntungan. Kami memiliki hak untuk tidak hidup sebagai budak. 

    Kami anonim 
    Kami legiun 
    Kami tidak memaafkan 
    Kami tidak lupa 
    Mengharapkan kita

    Sumber : http://www.cr0wja.co.cc/2011/08/facebook-akan-hancur-pada-5-november.html#ixzz1UxuwxOoB
    read more

    Adds

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    Share

    Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More