Life is like a game of cards. The hand you are dealt is determinism; the way you play it is free will. -Jawaharlal Nehru
Sesederhana-sederhananya
hidup di dunia kampus, tak kurang kompleks di bandingkan dengan
kehidupan profesional dan kehidupan masyarakat luas.
Entahlah,
ini bisa dianggap sebagai berita buruk atau berita baik bagi para
mahasiswa. Kehidupan itu kompleks, dan kadang-kadang menggoda pikiran
untuk menganggap banyak fenomena di dalamnya sebagai sebuah kebetulan,
ke-
random-an, bahkan keajaiban. Tiap manusia memiliki kehendak bebas (
free will)
untuk menentukan apa dan bagaimana ia menjalani hidup. Manusia
membentuk masyarakat. Tiap masyarakat pun sebagaimana seorang manusia,
juga memiliki kehendak bebas untuk menentukan bagaimana ia
mengorganisasi diri, membentuk dan menentukan sistem nilai, norma, dan
tradisi masyarakatnya. Masyarakat membentuk negara. Tiap negara juga,
pada hakikatnya, memiliki kemerdekaan pula menentukan nasibnya sendiri.
Negara, masyarakat, dan manusia, ketiganya tak lebih kompleks atau lebih
sederhana satu sama lain!
Salah satu perangkat yang sering
digunakan dalam memahami bagaimana satu manusia yang kompleks itu
mengambil keputusan dan berperilaku adalah “teori permainan” (
game theory).
Bagaimana manusia bertindak-tanduk dilihat sebagai “permainan”. Dengan
menganggap dinamika perilaku manusia sebagai bentuk permainan diharapkan
dapat memberikan kesederhanaan perspektif, sehingga ilmu pengetahuan
dapat memberikan kontribusi nyata, bagaimana kita menjalani hidup yang
demikian kompleks tersebut.
Melalui Teori Permainan ini, telah begitu banyak fenomena sosial dapat diterangkan, dan lebih jauh lagi, ia memberikan
insight yang
baik dan komprehensif tentang bagaimana kita menyikapi kompleksitas
dalam hidup bermasyarakat, mulai dari fenomena terkait persaingan antar
negara, proses pemilihan dan voting, konflik dan dilema sosial, pasar
modal, hingga interaksi dinamis antara dua orang kekasih. Salah satu hal
terpenting yang bisa dipelajari dari gagasan Teori Permainan yang
matematis ini adalah hal terkait koordinasi dalam kehidupan sosial.
Bayangkan
sepasang kekasih yang masing-masing memiliki kesukaan yang berbeda.
Suatu malam mereka berdua di hadapkan pada sebuah pilihan yang sulit: si
lelaki ingin menonton pertandingan sepak bola yang telah lama ia
tunggu-tunggu, sementara si perempuan ingin ikut
night sale yang
penuh diskon di mall, yang juga telah lama ia tunggu-tunggu. Yang
jelas, keduanya saling mengharapkan kekasihnya ikut dan hadir bersamanya
di kala ia menikmati hal yang disenanginya tersebut. Pertandingan sepak
bola menjadi makin seru bagi si lelaki, jika kekasihnya ada di
sebelahnya menonton bersama. Si perempuan juga akan sangat senang sekali
jika kekasihnya menyertainya di acara
night sale tersebut [1].
Kita
tentu bertanya, siapa yang sebaiknya mengalah? Sudah jelas, bahwa baik
si perempuan maupun si lelaki menginginkan kekasihnya ada di sampingnya
tatkala menikmati hal yang disenanginya. Matematikawan John Nash, yang
meraih hadiah Nobel Ekonomi 1994 menunjukkan bahwa dalam tiap
pilihan-pilihan dalam interaksi (konflik) sosial, senantiasa dapat
dicari kondisi ekuilibrium: yaitu kondisi ketika tiap pihak telah
memilih satu strategi/pilihan, dan tak ada pihak yang mendapat perolehan
lebih baik melalui perubahan strategi/pilihannya saat pihak lain tak
mengubah strategi/pilihannya [7]. Dalam kasus sepasang kekasih tadi,
kita mengetahui bahwa ekuilibrium Nash-nya ada dua, yaitu:
- Keduanya menonton sepak bola bersama
- Keduanya pergi ke night sale bersama
karena jika tidak, keduanya akan menjadi sendiri, dan hubungan mereka bisa jadi terancam.
Sungguh
repot membayangkannya, jika keduanya mendiamkan saja atau memendam apa
yang mereka inginkan, atau jika keduanya malah menghindari percakapan
tentang apakah mereka mau menonton sepakbola atau ke
night sale pada malam yang dinanti itu. Oleh para matematikawan disebut sebagai kondisi “permainan koordinasi” (
coordination game). Ada dua kunci utama dalam menyelesaikan hal ini, yaitu:
1. Fokus pada bagaimana agar hubungan keduanya tetap langgeng.
Hal
ini mirip seperti dua orang yang sedang janjian untuk bertemu di kota
Bandung, sangat mungkin mereka bertemu di tempat yang keduanya saling
tahu karena keterkenalan tempatnya, misalnya: di Bandung Indah Plaza.
Dalam kasus ini, kedua kekasih tadi bisa jadi saling menekan keinginan
akan hobi masing-masing. Si lelaki tak menonton bola, si perempuan tak
jadi ke
night sale, dan keduanya “berdamai” saja dengan menonton bioskop saja berdua.
2. Komunikasi dan resiprokalitas.
Jika
keduanya berkomunikasi, maka keduanya akan saling terbuka dan jujur
akan dua kesenangan yang berbeda itu. Mereka membicarakan dan saling
menimang-nimang mana yang mereka pilih, apakah si perempuan yang
mengalah atau si lelaki yang mengalah. Dengan komunikasi, maka
diharapkan ada satu pihak yang mungkin bisa mengalah. Misalnya, si
perempuan mengalah dengan syarat si lelaki mau ke
night saledi waktu yang lain, atau bisa pula sebaliknya.
Sungguh
menarik mengetahui bahwa ternyata, “permainan” serupa ini pada dasarnya
merupakan abstraksi yang juga terjadi di banyak kasus dalam banyak hal
yang “lebih serius”, misalnya keputusan manajerial pemasaran untuk
menawarkan sebuah produk baru di tengah kompetisi dengan perusahaan lain
yang juga memiliki kesamaan produk, pola investasi, hingga hubungan
antar negara. Tentu saja tingkat kerumitan pemetaan permasalahannya
berbeda-beda, namun yang jelas, tipologi “permainannya” adalah
“Permainan Koordinasi” ini.
Inti dari cerita ini adalah bahwa ada 2
hal yang terpenting yang mesti kita pegang dalam menghadapi koordinasi
sosial yang ada: fokus dan komunikasi. Fokus pada apa yang kita kerjakan
dan pelajari merupakan satu hal. Yang seringkali alpa dalam banyak
keputusan individual adalah komunikasi. Keengganan mengkomunikasikan apa
yang kita inginkan bisa berakibat buruk pada interaksi sosial. Di
antara dua pihak yang saling berkompetisi di mana konflik
keduanyamenentukan koordinasi sosial, komunikasi adalah satu hal yang
utama.
Komunikasi dan resiprokalitas dalam interaksi sosial bahkan
bisa membantu menajamkan fokus akan interaksi sosial yang kita hadapi.
Dan di masa kini dan di masa depan, teknologi telah sangat membantu umat
manusia untuk lebih intensif dalam berkomunikasi dalam interaksi
sosialnya. Teknologi web 2.0
a la wikipedia, Facebook, Twitter, telah sangat membantu fokus yang dilakukan oleh
Indonesian Archipelago Cultural Initiatives (IACI)
dalam mengumpulkan data-data kebudayaan Indonesia yang luar biasa
banyaknya, di tengah lanskap kepulauan yang luar biasa luas bentangannya
[5]. Sulit untuk membayangkan di tengah derasnya budaya global yang ada
saat ini, kita bisa membentuk sistem basis data budaya Indonesia yang
sedemikian banyaknya.
Untuk apakah sebenarnya basis data Budaya
Indonesia itu? Basis data yang lengkap akan budaya Indonesia akan
menjadi sebuah media “komunikasi” antar pekerja kreatif di Indonesia.
Dengan basis data batik, misalnya, yang ada saat ini, riset Fisika Batik
[4] telah menghasilkan berbagai
insight penting, mulai dari
pemetaan batik [2] hingga konstruksi motif batik modern kontemporer yang
tidak menghilangkan nuansa tradisional dan esensial dari geometri batik
tersebut. Lebih jauh, bayangkan saja misalnya seorang pekerja songket
di Jambi yang
browsing ribuan data batik Jawa, maka berbagai
ide kreatif dan inovatif untuk menghasilkan songket baru akan dapat
dilakukan. Bukan hanya itu saja, dari basis data yang ada tersebut, maka
berbagai pekerja kreatif dan inovatif non tekstil, dapat ter-inspirasi
dengan berbagai keindahan motif yang tersimpan dalam batik se-nusantara.
Masa
kini bangsa-bangsa memperebutkan sumber daya alam, namun di masa depan,
bangsa-bangsa akan saling memperebutkan sumber daya kreativitas
manusia. Hari ini, makin sering kita dengar berbagai “keributan” tentang
Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), yang menunjukkan bahwa
kreativitas bahkan inovasi tradisional makin menunjukkan maknanya dalam
kehidupan sosial ekonomi modern di masa yang akan datang [6].
Apa
yang bisa kita pelajari melalui diskusi ini? Komunikasi merupakan unsur
terpenting dalam segenap kehidupan modern manusia, dan makin menunjukkan
arti pentingnya di masa yang akan datang dengan kehadiran berbagai
teknologi
mobile yang mendorong komunikasi. Di masa yang akan
datang, tak ada kehidupan profesional yang akan bisa diepaskan dari
komunikasi. Karena terbukti, komunikasi bahkan bisa mendorong fokus
kerja kita (satu unsur penting lain dalam “permainan” koordinasi
sosial), bahkan lebih jauh memberikan peluang yang lebih jauh lagi bagi
kreativitas dan inovasi kita. Masa depan adalah masanya kreativitas dan
inovasi, dan teknologi komunikasi kita hari ini sedang mempersiapkan
jalan untuk itu!
Kerja Yang Disebut: [1] Luce, R.D. & Raiffa, H. (1957).
Games and Decisions: An Introduction and Critical Survey. Wiley & Sons
[2] Khanafiah, D., & Situngkir, H. (2009). “Memetics of Ethno-Clustering Analysis”.
Journal of Social Complexity 4(1): 18-25
[3] Schelling, T. (1978).
Micromotives and Macrobehavior. Norton.
[4] Situngkir, H. & Dahlan, R. M. (2009).
Fisika Batik: Jejak Sains Modern dalam Seni Tradisi Indonesia. Gramedia Pustaka Utama
[5] Situngkir, H. (2008). “Platform Komputasi untuk Preservasi Budaya Tradisional Secara Partisipatif”.
BFI Working Paper Series WP-XII-2008. Bandung Fe Institute
[6] Situngkir, H. (2009). “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity-Based Economy”.
The Icfai University Journal of Knowledge Management 7(2):7-17
[7] Osborne, M. J. (2004).
An Introduction to Game Theory. Oxford UP. pp. 23