Tuesday, August 23, 2011

Mengajarkan Konsistensi


Tempo hari saya menerima keluhan dari siswa karena tugas yang dikerjakannya dibuku hanya dikembalikan dalam kondisi ditandatangani saja oleh guru. Sepontan saja waktu itu saya jawab, “mungkin pekerjaan kalian sama semua alias “contekan” karena itu guru hanya memberikan tanda tangan”. Siswa hanya menggerutu saja mendengar jawaban saya. Tentu ada alasan mengapa guru bertindak demikian, enggan mengkoreksi pekerjaan siswa dengan dalih jawaban yang seragam. Tetapi apakah semua siswa akan berlaku hal yang sama, padahal kita tahu praktek kecurangan biasanya hanya dilakukan oleh beberapa siswa, sedangkan siswa yang lain belum tentu berbuat yang sama. Apakah guru harus memberikan perlakukan yang sama kepada mereka ? coba kita runtut kejadian ini dari aktivitas sekolah setiap hari untuk menjawabnya.
Sebagai guru, saya juga merasakan betapa menumpuknya tugas-tugas administratif hingga tanggung jawab koreksi tugas siswa yang tidak jarang menumpuk dengan tanggung jawab lainnya diluar tugas sebagai guru di sekolah. Pemberian tugas sering terjadi karena guru memiliki kesibukan lain sehingga tidak bisa hadir dikelas secara langsung. Berharap siswa berlatih mandiri melalui tugas yang diberikan merupakan tujuan lain yang ingin dilakukan guru selain tujuan diatas. Guru sungguh tidak dapat kompromistis untuk urusan tugas, kapan tugas harus dikumpulkan adalah deadline yang berarti “harga mati”. Tidak jarang keterlambatan sering diartikan sebagai “pengurangan nilai”. Siswa yang mengeluh karena guru yang lain juga memberikan tugas yang demikian banyaknya, dicap sebagai siswa yang terlalu “banyak omong”. Dan pasti akan dicatat guru sebagai kandidat peraih hadiah “nobel” (nomor belek atau nilai jelek).
Bias penilaian oleh guru kepada siswa memang sering terjadi, terkesan tidak adil bagi siswa jika prestasi siswa diukur dari kesan baik buruk komunikasi siswa dengan guru. Menghukum siswa yang kritis dengan nilai yang buruk sama artinya dengan menutup ruang kebebasan atau demokrasi yang kita sepakati harus ada dan hidup didunia pendidikan. Setidaknya sekolah mampu menjadi media penanaman nialai-nilai demokrasi dalam diri siswa sejak dini. Mengajarkan siswa sesuatu tentu akan lebih mudah dengan mendidik siswa akan sesuatu.
Guru sering lupa bahwa pendidikan tidak hanya sebatas tugas dan koreksi saja, tetapi juga berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kepribadian. Kita tahu betapa mudahnya memberikan ancaman dibandingkan memberikan sebuah pembelajaran. Melalui tugas sebenarnya terdapat ruang bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa secara tidak langsung. coretan beserta catatan adalah bentuk dari komunikasi tersebut. Melalui catatan dan coretan pada tugas yang telah dikumpulkan siswa seorang guru telah memberi bukti bahwa ia telah melakukan konsistensi akan tugas dan tanggung jawabnya. Konsistensi sendiri tidak hanya sebatas perilaku, tetapi ia merupakan kata kunci keberhasilan bangsa Jepang yang telah diterapkan selama bertahun-tahun yang lalu. Dan menurut Max Weber konsistensi ini lahir dari nilai-nilai ajaran sintho yang dipegang teguh masyarakat Jepang. Oleh sebab itu, guru perlu memegang teguh nilai-nilai pedagogik, yang mensyaratkan komunikasi yang manusiawi antara guru dan siswa.
Problem Konsistensi
Konsistensi memang tidak akan muncul tiba-tiba, perlu waktu dan pembiasaan sehingga seseorang dapat berlaku konsisten. Semangat inilah yang sebenarnya harus dibangun disekolah dan dimulai oleh guru. Konsistensi yang berarti tanpa perbedaan atau kontradiksi ini hanya bisa diajarkan dari sebuah keteladanan. Saat kita ingin agar siswa kita mampu belajar tentang tanggung jawab, maka akan dirasa perlu adanya “reward” dan “punishment”. Tentu kita akan mengatakan tidak adil, jika sesorang yang tidak melakukan apa-apa akan diberikan “reward”. Setiap tindakan yang dilakukan sesorang akan berdampak baik bagi dirinya maupun orang lain terlepas apa yang dilakukan itu baik atau buruk. Dalam hal ini sungguh perilaku guru yang konsisten atas apa yang disampaikannya, akan membentuk pribadi siswa yang dididiknya menjadi konsisten pula. Tentunya perilaku untuk memperlakukan tugas siswa dengan sebagaimana mestinya.
Untuk semua tugas siswa, guru harus meluangkan waktu untuk memeriksanya, tidak peduli sesibuk apapun guru itu. Kesediaan meluangkan waktu untuk sekedar memeriksa pekerjaan siswa adalah bentuk kejujuran guru dalam mengartikan pentingnya keberadaan siswa disekolah. Guru tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya siswa, demikian sebaliknya siswa tidak akan bisa melakukan yang benar apabila tidak dididik oleh guru dengan konsisten. Kita tahu betapa pentingnya sebuah penghargaan kepada terhadap potensi seseorang, hingga dia mampu mengembangkan semua potensi yang dia miliki.
Kembali pada topik tentang tugas siswa yang ada diawal tulisan ini, kesediaan guru untuk memeriksa tugas siswa tanpa kita sadari memiliki dampak pedagogik yang besar. Betapa dengan meluangkan waktu untuk memeriksa lembar demi lembar tugas siswa, guru telah memberikan penghargaan yang besar atas kerja keras yang lahir dari potensi siswa itu sendiri. Urusan men”copy” pekerjaan teman adalah permasalahan yang dapat disampaikan guru secara terbuka dikelas.
Kehidupan sering mengajarkan pada kita bahwa apa yang kita lakukan adalah cermin pribadi kita sendiri. Seringkali kita ingin dihargai orang lain tetapi engan menghargai orang lain. Padahal saat kita memberikan penghargaan kepada seseorang tidak jarang penghormatan ibarat pasukan kepada jenderal kita terima. Tentunya sebagai guru hal inilah yang ingin kita ajarkan. Bahwa penghargaan akan datang pada diri seseorang manakala seseorang mampu konsisten atas apa yang dilakukannya. Jujur dalam menyelesaikan tugas dalam arti “mengerjakan sendiri” tugas itu, adalah yang kemudian harus dibangun oleh guru pada diri siswa jika terbukti mereka melakukan tindakan tidak “sportif”. Namun sebelum itu semua dilakukan, setiap pribadi guru harus mengajar dirinya untuk konsisten atas tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Sumber: netsains.com
read more

Cerita menulis tesis (bagian 2)


Untuk bisa menulis tesis tentu diperlukan data lapangan khususnya dalam kelompok ilmu sosial. Dengan mendapatkan data dari lapangan maka bisa mengetahui apa yang terjadi dengan bantuan analisis berdasar kerangka konseptual dari tinjauan pustaka, dan biasanya ini akan menghasilkan temuan yang baru yang menyumbangkan seuatu pada ‘tubuh pengetahuan’ (body of knowledge). Disamping itu dengan memiliki data lapangan yang valid, maka temuan riset yang ada mempunyai argumentasi yang kuat yang tidak mudah dipatahkan (kalau pun mau dibantah dengan elok, tentu harus dengan riset lapangan tandingan). Bagian ini menjelaskan tahapan pengumpulan data lapangan dan serba-serbinya.
Ada yang sedikit terlupa untuk dijelaskan di bagian sebelumnya yaitu mengenai bantuan yang diperoleh dari Student Learning Support Service (SLSS). Lembaga ini memberikan bantuan bagi mahasiswa VUW dalam berbagai hal yang berhubungan dengan keterampilan belajar (learning skills). Setiap semester secara reguler SLSS memberikan bantuan bagi mahasiswa secara berbeda, ada yang khusus untuk mahasiswa S1 (bagaimana menyiapkan laporan, mencatat kuliah, membuat presentasi), mahasiswa S2 dan S3 yang full riset (menyiapkan proposal, metodologi riset, pengolahan data), ataupun mahasiswa kelompok khusus seperti mahasiswa internsional (khususnya English dalam diskusi dan menulis), maupun mahasiswa penduduk asli Selandia Baru yaitu orang Maori (dukungan sosial dan adaptasi dalam dunia perguruan tinggi). Jasa ketrampilan studi seperti ini belum banyak diberikan di berbagai universitas di Indonesia maupun di Malaysia. Dua jenis jasa yang saya nikmati di SLSS adalah: mengikuti seminar yang diadakan per dua minggu, yang isinya tidak lain penjelasan hal teknis tentang seluk beluk riset disertai berbagi pengalaman antar mahasiswa riset; yang kedua jatah konsultasi satu jam per minggu dengan staf disana untuk membantu memperbaiki kualitas tulisan proposal yang dibuat. Pada awal-awal selalu menggunakan jatah konsultasi tersebut, namun lama-lama mendapati bahwa hasil dari saran perbaikan tulisan English-nya tidak lebih bagus dari yang saya buat, hal ini karena isi proposal yang spesifik dalam bidang tertentu dimana si ‘konsultan’ memang tidak punya latar belakang keilmuan yang sama.
Kembali ke cerita pengumpulan data. Riset saya menganalisis tentang perubahan sistem kebijakan pendidikan yang terjadi di Indonesia dengan adanya otonomi daerah, dan secara khusus meneliti tentang manajemen berbasis sekolah (MBS). Kalau menelaah isu MBS ini seolah tidak begitu jelas seperti apa mahluk ini sebenarnya; karena menelaah dari sisi kebijakan maka sasarannya haruslah regulasi khusus tentang hal itu dan didapati bahwa yang berhubungan erat dengan hal itu adalah kepmen tentang dewan pendidikan (DP) dan komite sekolah (KS). Karena Indonesia begitu besar, luas dan kompleks, tentu diperlukan strategi khusus untuk melihat ini dari skala yang memang bisa dikerjakan, makanya dipilih studi kasus pada satu distrik. Kota Mataram di Nusa Tenggara Barat dipilih karena berada di Indonesia bagian Timur, juga sebagai ibukota provinsi yang menunjukkan dinamika lebih kompleks dan bisa mengindikasikan apa yang terjadi setelah era otonomi yang relatif jauh dari pusat kekuasaan (Jakarta). Unit analisis yang dipilih adalah sekolah menengah atas negeri, dengan alasan pengelolaan SMAN lebih kompleks dan dengan latar belakang staf pengajarnya yang lebih terdidik dan cenderung kritis akan menampilkan potret tersendiri, disamping sekolah publik lah sasaran utama regulasi pemerintah. Urusan ijin dimintakan bantuan pada teman, dan itu bisa diselesaikan sebelum saya datang kesana dari Bappeda setempat.
Data yang dikumpulkan terdiri dari empat hal yaitu: dokumen (APBD, Perda, surat keputusan dan berbagai dokumen yang berhubungan dengan DP dan KS); kuesioner yang terbagi untuk guru, kepala sekolah dan pengurus komite sekolah; wawancara terhadapstakeholders pendidikan (dinas pendidikan, staf pemda, anggota DPRD, kepala sekolah, guru, pengurus komite sekolah, pengurus dewan pendidikan, wakil organisasi guru dan orang tua); terakhir observasi aktivitas di dua sekolah berbeda kecamatan (rapat, suasana sekolah, kegiatan belajar mengajar) dan kegiatan komite sekolah. Setiap jenis data yang dikumpulkan mempunyai tantangan tersendiri dan perlu penanganan berbeda. Waktu tiga bulan tadinya dianggap memadai untuk mendapatkan semua hal itu, namun kondisi di lapangan memang sulit untuk diprediksi. Jadwal kegiatan yang sudah diperhitungkan dengan matang, harus menyerah dengan berbagai perubahan mendadak dan mengalah dengan berbagai kepentingan responden yang dijumpai.
Tahap pertama adalah menemui dinas pendidikan, ini penting karena mereka lah boss baru yang mempunyai kewenangan luas secara tiba-tiba dengan adanya otonomi daerah. Ternyata ijin dari Bappeda tidak ‘bergigi’, menurut mereka untuk bisa masuk ke sekolah harus ada ijin khusus dari mereka, sehingga ijin dari Bappeda adalah rekomendasi saja menurut mereka. Ijin dari dinas lah yang berlaku, baru langkah awal saja terdapat power-game yang harus dipahami. Upaya mencari waktu bertemu dengan kepala dinas ternyata tidak bisa dipastikan; sehingga alternatifnya adalah dengan kepala bagian pendidikan menengah yang menangani SMA, dan seperti atasannya, dia pun tidak bisa memastikan kapan bisa ditemui untuk wawancara. Untungnya proses ijin mudah, sehingga untuk datang ke sekolah sifatnya sudah legal (sambil berharap tidak perlu lagi proses birokrasi ijin di tingkat sekolah).
Sesuai jadwal yang dibuat, minggu pertama adalah menyebarkan kuesioner ke sekolah dan ditargetkan dalam dua minggu sudah terkumpul. Bila sudah terkumpul, maka mudah dilakukan tabulasi dan mengetik pendapat tertulis yang dibuat oleh responden (terdapat beberapa pertanyaan terbuka dimana responden bisa menulis komentar dan pendapatnya) dan dari sana bisa mengetahui trend jawaban dan hal krusial yang perlu ditelaah lebih lanjut dengan wawancara. Untuk memudahkan mobilitas maka perlu menyewa sepeda motor, dan dilakukanlah keliling kota Mataram ke semua SMA negeri yang ada.  Semua sekolah yang ditemui menyambut dengan ramah dan terbuka serta membantu sepenuhnya. Kuesioner untuk guru dan kepala sekolah relatif tidak masalah dalam hal penyebaran dan pengumpulannya, cukup minta bantuan kepada kepala sekolah maka semua berjalan sesuai dengan yang diinginkan (menunjukkan pengaruh dan kekuasaan kepala sekolah).
Yang repot adalah penyebaran kuesioner untuk pengurus komite sekolah, berhubung mereka memang tidak stand by di sekolah maka berbagai cara dilakukan. Kebetulan beberapa pengurus KS adalah guru, maka ini relatif mudah; ada beberapa yang orang tua siswa, maka dicoba dititipkan ke anaknya dengan pesan supaya diisi oleh bapak/ibunya dan dikembalikan melalui guru yang saya mintakan bantuan; selain itu pengurus KS yang memang harus didatangi sendiri ke rumah atau tempat kerjanya. Yang terakhir ini sesuatu yang tidak disangka sebelumnya dan memberikan kesulitan akses, juga berdampak tingkat pengembalian kuesioner paling rendah dibanding yang diisi oleh kepala sekolah dan guru. Beberapa responden jelas harus ditemui di rumahnya setelah dikontak dengan SMS atau telepon seluler, dan kadang itu dilakukan lebih dari dua kali; sebagian walau sudah ditemui ternyata lupa untuk mengisi atau kuesionernya hilang entah kemana. Beberapa malah ‘tidak tersentuh’ karena memang tidak pernah ada di rumah karena sibuk berhubung tingginya posisi mereka di instansinya (ada yang komisari bank, ada pimpinan polisi); tentu ini menimbulkan ‘firasat’ bila ditemui saja susah, bagaimana mereka memberikan kontribusi bagi komite sekolah. Satu hal yang nampak, dengan memasang orang-orang penting yang ‘tidak tersentuh’ ini menunjukkan posisi sekolah (kepala sekolah) yang kuat kepada pihak lain.
Berikutnya adalah mengumpulkan dokumen. Inipun menunjukkan keunikan lainnya. Di sekretariat DPRD setempat, setelah melobi dan merayu kiri-kanan supaya mendapatkan dokumen apa saja yang berhubungan dengan isu pendidikan, ternyata hasilnya nol besar. Bisa jadi memang dokumen publik seperti notulen rapat, jadwal hearing dan sejenisnya sifatnya ‘confidential’ sehingga disimpan di tempat yang rahasia dan saat dicari pun tidak bisa ditemukan. Sedangkan di pemda, metode menunjukkan ke orang yang tepat adalah hal yang lumrah yang berujung kepada kembali ke orang semula untuk konfirmasi bahwa yang ditunjukkan tidak bisa menunjukkan yang diinginkan. Pada lain kesempatan malah diberikan akses kepada dokumen yang berjibun, khususnya saat mencari dokumen APBD dan daftar Perda yang telah dibuat, berhubung tidak mau mengganggu pegawai yang waktunya sangat berharga itu, maka difotocopy saja apa yang diberikan; sayangnya pas balik ke tempat kos dan membaca isinya, memang tidak nyambung dengan yang diinginkan. Belakangan, melalui akses informal, yaitu teman yang membantu menguruskan ijin ke Bappeda, karena dia memang staf disana,  malah didapatkan apa yang dicari, sangat lengkap dan malah dalam bentuk softcopy. Tentu ini menunjukkan betapa pentingnya informasi dan akses dari orang dalam (tidak hanya untuk riset, suksesnya kerja penyelidikan oleh polisi, penyelidikan kasus korupsi, bahkan membongkar jaringan teroris pun sebenarnya bisa terjadi karena orang dalam; kecanggihan alat tidak selalu utama sebenarnya) . Cerita menggembirakan saat mengumpulkan dokumen di sekolah, komite sekolah dan dewan pendidikan; tidak banyak ‘birokrasi’ harus dihadapi ataupun menggunakan jurus merayu tingkat tinggi, mereka terbuka hampir untuk semuanya kecuali untuk RAPBS. Namun hal terakhir ini pun tidak terlalu sulit untuk didapatkan berhubung terdapat banyak teman guru yang memberikan salinannya, karena yang biasa membuat RAPBS adalah guru dan bukannya pimpinan sekolah.
Dalam hal mengumpulkan data observasi termasuk yang paling lancar dibanding yang lainnya. Dua sekolah yang diminta tidak keberatan untuk disambangi dalam hal rapat, aktivitas di ruang guru, kegiatan mengajar di kelas ataupun untuk diskusi informal. Dalam satu rapat dewan guru di satu sekolah saya malah disangka guru baru; di ruang guru keberadaan saya pun disambut sebagai teman lama dengan hangatnya. Data observasi berguna untuk meneguhkan dan memberikan ilustrasi lebih lengkap tentang apa yang terjadi di lapangan. Di dua sekolah tersebut total masing-masing menghabiskan waktu tiga minggu di satu sekolah dan mencatat apa saja yang terjadi pada saat berkunjung. Hal ini tentu bertujuan untuk melihat konsistensi tentang apa yang terjadi di sekolah sehubungan dengan konteks pertanyaan riset yang dicari; bila sekedar menyempatkan waktu 1-2 hari maka sandiwara untuk menampilkan suasana yang sophisticated bisa dilakukan,  namun bila kita menyambangi sampai tiga minggu, maka wajah asli lah yang nampak. Sesuatu yang tidak disangka saat observasi adalah diskusi spontan yang justru mengindikasikan jawaban dari pertanyaan riset yang dicari, baik itu dari mulut kepala sekolah atau guru, dan pada saat itu menghidupkan alat perekam menjadi sesuatu yang terlambat, mengandalkan ingatan untuk menuliskan apa yang dibincangkan kadang tidak puas karena memang harus sifatnya verbatim (saat ini dengan MP4 player atau handphone bisa mengatasinya tentu dilakukan setelah ijin dengan responden). Yang kurang dalam observasi ini adalah mengikuti rapat pengurus komite sekolah, sampai waktu pengumpulan data selesai, tidak satu sekolah pun mengadakan rapat KS (hal ini juga menunjukkan ritme kerja komite sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah).
Yang terakhir, yaitu wawancara, adalah yang paling banyak menyita waktu dan energi. Di lingkungan sekolah, mewawancarai guru dan kepala sekolah mudah untuk dilakukan, khususnya mereka punya waktu luang sedang tidak mengajar atau tidak menerima tamu. Namun bila dibandingkan mewawancarai pendidik ini di sekolah dengan di rumah atau di tempat lain, maka jawaban yang diberikan sangat berbeda. Di rumah dimana mereka berada di ‘daerah kekuasaannya sendiri’, menjadikan mereka lebih rileks, terbuka dan tidak birokratis; tapi dampaknya adalah banyak hal diceritakan dan kadang ngak nyambung dengan pertanyaan (dan sebagai pewawancara yang baik tidak enak terlalu banyak memotong pembicaraan tuan rumah). Bila di kantor memang dibatasi oleh suasana birokratis (baju seragam, rutinitas dan dipotong oleh urusan yang muncul tiba-tiba). Akhirnya diputuskan sebisa mungkin wawancara di rumah kepada berbagai stakeholderspendidikan ini. Meminta waktu untuk wawancara memerlukan keterampilan negosiasi tersendiri, beberapa menghindar (seperti anggota DPRD), yang lain baru bisa punya akses melalui orang kepercayaannya (staf dinas pendidikan, pengurus dewan pendidikan dan komite sekolah); dan hampir semua bisanya setelah waktu magrib.
Karena wawancara dilaksanakan di dua bulan terakhir saat pengumpulan data, maka berbagai kecenderungan yang didapat dari kuesioner dan observasi menjadi data awal yang berharga untuk didalami dengan metoda ini. Beberapa responden sangat semangat menceritakan apa yang terjadi, sehingga wawancara menyebabkan kaset yang disediakan pun habis (waktu itu masih menggunakan tape recorder analog); banyaknya waktu tersedia juga pernah menyebabkan baterai tape recorder habis, dan perlu meminjam baterai sama responden untuk bisa meneruskan wawancara. Ada pula responden yang menjawab formal dan normatif, namun saat tape dimatikan, munculah jawaban yang ditunggu-tunggu. Secara keseluruhan terdapat dua puluh empat responden yang diwawancara, dan rata-rata menghabiskan waktu satu jam, tugas berat berikutnya adalah mentraskripsikannya, yang sampai saat selesai studi lapang tidak semuanya sempat dilakukan.
Secara keseluruhan pengumpulan data ini dapat diselesaikan sesuai dengan target yang diinginkan dari segi materi, walau dari segi jadwal dan kerja nguber responden merupakan suatu pengalaman yang benar-benar baru. Langkah berikutnya tentu membawa semua ini kembali ke Wellington, untuk dianalisis dan ditulis menjadi bagian tesis. Beberapa perkiraan isi tulisan sudah mulai nampak akan seperti apa isinya nanti, namun ternyata ini bukan lah skenario yang bakalan terjadi; proses menganalisis data dan menulis tesis menjumpai berbagai kejutan lainnya. [bersambung lagi]

Sumber: netsains.com
read more

Nanopartikel Karbon Aktif Dapat Menyebabkan Inflamasi Paru-Paru


Karbon aktif banyak dimanfaatkan oleh manusia terutama sebagai adsorben dikarenakan luas permukaannya yang besar. Karbon aktif ini merupakan karbon yang berkarakteristik memiliki banyak pori sehingga luas permukaannya besar dan menjadi aktif. Meski memiliki banyak manfaat, ternyata karbon aktif juga memiliki dampak buruk terhadap kesehatan manusia. Peneliti dari University of Iowa Roy J. and Lucille A. Carver College of Medicine menemukan bahwa inhalasi nanopartikel karbon aktif dapat meningkatkan sumber inflamasi paru-paru hingga dua kali lipat.
Martha Monick, Ph.D., seorang professor penyakit dalam University of Iowa yang memimpin riset ini menemukan bahwa nanopartikel aktif ini dapat menyerang jaringan dan mematikan sel paru-paru sehingga inflamasi terjadi. Tim peneliti ini juga menemukan bahwa inhalasi nanopartikel karbon aktif dari sumber seperti gas buang mesin diesel dan tinta printer menyebabkan respons awal paru-paru terhadap inflamasi. Namun hal ini bukan berarti apabila kita melewati kabut asap buangan diesel langsung menyebabkan paru-paru kita sakit.
Pada awalnya para peneliti berhipotesis bahwa kematian sel berlangsung secara apoptosis, yaitu suatu proses kematian sel yang diakibatkan oleh senyawa kimia tertentu sehingga terjadi pemisahan organel-organel sel namun tetap di terlindungi membran dan tidak merusak jaringan di sekitarnya. Namun, hasil eksperimen menunjukkan bahwa proses yang lain, yang disebut piroptosis terjadi. Piroptosis merupakan proses kematian sel karena hancurnya membran sehingga organel-organelnya keluar. Penemuan lain yang cukup mengejutkan dari eksperimen ini adalah bahwa nanopartikel karbon aktif juga dapat menghancurkan makrofag. Makrofag adalah salah satu bentuk sel darah putih yang berperan dalam sistem imunitas manusia yang dapat “memakan” mikroorganisme patogen. Pada paru-paru, makrofag bertindak sebagai pencegah infeksi. Hal ini juga yang menyebabkan inflamasi paru-paru semakin meningkat akibat nanopartikel ini.
Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan di Journal of Biological Chemistry. Melalui hasil penelitian ini inflamasi paru-paru karena faktor lingkungan dapat dijelaskan akibat adanya nanopartikel karbon aktif.

Sumber: netsains.com
read more

Wednesday, August 17, 2011

Anak Lambat Berkomunikasi

Tanya:
Anak saya umur 4 tahun, 2 bulan. Sampai saat ini belum bisa diajak komunikasi, belum mau bergaul dengan anak sebaya. Apakah karena dia jarang diajak ke luar rumah?
Dia lahir setelah 8 tahun masa penantian kami ortunya, jadi saya protektif sekali. Sekarang sudah  sekolah di TK kecil, tapi sudah 3 minggu belum mau masuk kelas. Dia lebih suka main di luar kelas. Saya khawatir dia menderita sindrom Asperger.
Apa yang harus saya lakukan?
Dwi Retno
 Jawab:
Dear Dwi Retno,
Normalnya, anak berusia sekitar 4 tahun itu sudah mampu:
1.   Mengenal warna
2.   Mengulang 4 digit angka
3.   Mengulang kata dengan 4 suku kata
4.   Mengetahui nama-nama binatang
5.   Menyebutkan nama benda yang dilihat di buku atau majalah
6.   Suka mengulang kata, frase, suku kata dan bunyi
7.   Bermain-main bersama teman sebaya terutama di taman kanak-kanak
8.   Menceritakan pengalaman-pengalaman kecil
9.   Berjalan menyusuri papan
10. Melompat atau berdiri dengan satu kaki
11. Menangkap bola besar
12. Mengendarai sepeda
13. Mencuci tangan tanpa dibantu
14. Menggambar manusia
15. Membuat garis lurus dan lingkaran cukup rapi
Saya belum berani memastikan apa diagnosisnya, mengingat ada beberapa data yang penting yang belum disebutkan, seperti: jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, ia anak yang keberapa dari berapa bersaudara, golongan darahnya, apakah ia minum ASI eksklusif, susu formula/kaleng, atau susu sapi, apakah ia sering diasuh pembantu, adakah pengalaman traumatis yang ia alami, misal: dibentak, dimarahi, atau ia pernah melihat sesuatu yang membuat jiwanya “terguncang”,selama ia tumbuh dan berkembang, dengan siapa (saja) ia sering berkomunikasi, seringkah ia menonton TV atau bermain game, PS, atau sejenisnya.
Perlu diketahui, untuk menegakkan diagnosis sindrom Asperger haruslah dilihat secara komprehensif dan tidak bisa dilakukan secara singkat/sesaat, mengingat dokter akan menilai anak tsb minimal dalam enam hal sbb:
1.     Social impairment (extreme egocentricity)
2.     Narrow interest
3.     Repetitive routines
4.     Speech and language peculiarities
5.     Non-verbal communication problems
6.     Motor clumsiness
Bila permasalahannya belum bisa diajak berkomunikasi, maka solusinya ya dilatih berkomunikasi dengan cara yang ia sukai, tentunya berbeda dengan melatih berkomunikasi orang dewasa.
Bila orang tua protektif memang anaknya akan cenderung menjadi kurang percaya diri. Solusi lain: cobalah berkonsultasi dengan dokter, atau spesialis anak atau psikolog anak terdekat di kota Anda.
Bila memang ia telah dinyatakan menderita sindrom Asperger oleh dokter spesialis anak atau oleh psikiater anak, maka strategi mendidiknya silakan dibaca di situs:http://netsains.com/2010/03/terapi-yang-efektif-untuk-anak-dengan-asperger-syndrome/
Demikian. Semoga bermanfaat.

Salam Sehat!
dr. Dito Anurogo
Dokter peneliti hematopsikiatri
Konsultan kesehatan Netsains, Leipzig, Jerman
Dokter di RS Keluarga Sehat Pati Jawa Tengah.

Sumber: netsains.com
read more

Puasa dan Piwulang Sunan Bonang

Saya pernah menulis joke ringan menjelang Puasa : “sesungguhnya tanda-tanda puasa adalah semakin bertebarannya Iklan Sirup Di Televisi (Surat Al-Iklan)”.
Sebuah joke yang bisa menunjukan realitas kekinian yang ada di kehidupan kita. Ada dimensi humor tapi ada juga sebuah ironi tentang komersialisasi Puasa.
Saya yakin kita semua sudah sangat paham tentang apa syariat puasa yang harus dijalankan di bulan ramadhan ini. Dan juga tentang hakikat-hakikat yang ada dalam perintah menjalankan puasa tersebut. Di sini saya mencoba mengelaborasi sebuah Piwulang yang diajarkan oleh Sunan Bonang.
Piwulang adalah sebuah kosa kata bahasa Jawa, yang secera sederhana bisa diartikan sebuah pelajaran yang diajarkan secara pararel dengan tingkah laku. Seperti pepatah jawa “ilmu iku kelakone  kanti laku”, bahwa kita bisa memahami sebuah ilmu kehidupan apabila tidak berhenti hanya di dalam teori tapi juga dijalankan dalam perilaku keseharian kita.
Banyak kisah tentang Sunan Bonang, ada yang bisa ditelisik dengan ilmu sejarah, tapi ada juga yang berupa dongeng dari mulut ke mulut dan ada juga yang sekedar menjadi mitos. Tapi menurut saya bahwa kisah-kisah sunan boning dan para wali lainnya menarik karena bisa ditelisik baik secara historis maupun Histotik. Secara historis dengan pisau analisis ilmu sejarah, filologi, ataupun arkeologi. Dan juga secara Historik, yaitu mengambil sebuah Hikmah atau moral cerita yang ada dengan mengkomparasikan pada masa sekarang.
Tentang Puasa ini ada sebuah Piwulang yang diajarkan oleh Sunan Bonang, yang juga meurupakan Guru dari Sunan Kalijaga. Dimana, Dalam berdakwah sunan Bonang selalu mengedepankan sebuah dakwah yang sejuk dan damai, sesuai dengan semangat dasar  filosofi dari islam yaitu Rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta.
Jadi dalam berdakwahpun selalu mengakrabi kebudayaan masyarakat yang ada, tanpa kehilangan esensinya, hingga terjadi dialektika dan  bahkan memberika nuansa makna yang lebih kaya. Seperti Piwulang dalam berpuasa, melalui simbol budaya Jawa.
Setelah berpuasa dan berlebaran ada tradisi ketupat kalau dalam bahasa jawa namanya “kupat”. Menurut Sunan Bonang, kita harus berpuasa dengan ikhlas dan hanya mencari ridho Tuhan agar setelah puasa bisa menikmati kupat. “Kupat” adalah makanan khas saat lebaran. Berupa nasi putih yang di masak di dalam janur. “Janur” di sini adalah daun kelapa yang masih muda.
Kupat adalah singkatan  dari  laku sing papat atau empat keadaan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada orang yang berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan. Yaitu: Lebar, Lebur, Luber, dan Labur.
Lebar berarti telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan. Lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, Luber berarti melimpah ruah pahala amal-amalnya. Dan Labur berarti bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.
Manusia akan bisa meraih “laku sing papat” jika bisa bersikap dan berperilaku  lembut dan santun terhadap sesama umat tetapi sekaligus tegas dan berani melawan ketidak- adilan. Masing-masing hati nurani kitalah yang dapat menentukan apakah kita berpuasa untuk meraih “laku sing papat” ataukah hanya sekedar basa-basi agar tercitrakan sebagai orang yang saleh.
Karena dalam perintah ibadah apapun akan selalu ada 2 wajah islam. Yaitu wajah islam yang profetik ritual dan juga wajah islam dengan dimensi kesalehan secara social. Ada dimensi mikro kosmos dan makrokosmos, vertical dan horizontal. Dan ini tak bisa terpisahkan.
Seperti ibadah puasa ini, mereka yang menjalankan dan mencapai  “laku sing papat” adalah mereka yang tawadhu’, jauh dari kesombongan, dan tidak mau bersikap sewenang-wenang atau melanggar hak orang lain seperti korupsi misalnya, baik korupsi materi maupun korupsi perilaku.
Semoga piwulang dari sunan Bonang ini selalu menginspirasi kita dan dapat kita implementasikan dalam puasa-puasa kita yang tentunya tidak hanya dijalankan saat bulan ramadhan saja. Juga cara-cara berdakwah beliau yang mentoleransi bahkan mengakrabi budaya masyarakat, tidak di jalankan dengan cara-cara kekerasan seperti yang dipraktekkan beberapa Ormas Islam diantaranya adalah FPI.
Seperti kata seorang Sufi : “Ramadhankan hatimu setiap waktu”

Sumber: netsains.com
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More