Monday, March 21, 2011

Transplantasi Hati, Sejarah Baru Kedokteran Indonesia

Kini masyarakat Indonesia memiliki harapan baru, terlebih bagi mereka yang memiliki penyakit hati kronis seperti sirosis hati, karsinoma sel hati atau penyakit liver/hepatitis lainnya. Pada akhir tahun 2010 lalu, dunia kedokteran Indonesia telah berhasil menoreh sejarah baru, yakni mampu melakukan transplantasi hati kepada pasien yang membutuhkannya.
Penyakit hati memang terbilang sebagai masalah serius di Indonesia. Menurut Akmal Taher, Presiden Direktur RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di Indonesia jumlah mereka yang mengidap penyakit hati kronik mencapai 20 juta jiwa atau sekitar 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Yang lebih mengerikan, dari 10% itu sebagian besar tidak menyadari bahwa dirinya adalah carrier (memiliki virus di tubuhnya tanpa menunjukkan gejala sakit). Padahal, apabila seseorang mengidap penyakit hati kronis, tidak ada jalan lain bagi dirinya menuju kesehatan kecuali dengan melakukan transplantasi hati.
Transplantasi hati pertama kali dilakukan oleh Thomas Starzl di University of Colorado pada tahun 1963. Dua puluh tahun setelah tindakan transplantasi pertama, National Institutes of Health Concensus Development Conference pada tahun 1985 menyatakan transplantasi hati sebagai tindakan terapeutik yang akan dipergunakan secara luas dan bukan lagi tindakan uji coba. Perisitwa ini ditandai sebagai langkah besar dunia kedokteran modern.
Transplantasi hati pada dasarnya adalah mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat, bisa dari donor cadaver (mayat) maupun dari donor living (hidup). Transplantasi hati ditempuh untuk menghindari ancaman kematian. Jika dilakukan dengan baik, tingkat keberhasilan transplantasi hati bisa mencapai 75-85 persen di tahun pertama. Dan apabila setahun pertama pasca transplantasi pasien survive, diharapkan 5-10 tahun pasien tidak akan lagi memiliki hati yang bermasalah.
Mengapa transplantasi hati bisa dikatakan sebagai jawaban atas harapan-harapan para penderita penyakit hati kronis? Karena, sebagaimana dikatakan oleh Prof. dr. Suwandhi Widjaja SpPD, PhD., transplantasi hati adalah satu-satunya solusi untuk mengobati penyakit ini. “Untuk pengobatan pada penyakit hati yang sudah kronik, di mana liver sudah mengkerut, tidak ada jalan lain, ya diganti dengan liver baru.”
Di Indonesia, tindakan cangkok atau transplantasi hati bagi pasien dewasa pertama kali dilakukan pada bulan Desember 2010. Pasien pertama yang menjalani tindakan tersebut adalah seseorang berusia 44 tahun dengan donor hati dari anaknya yang berusia 18 tahun. Pasien ini mengalami pengerasan hati (sirosis) sehingga hatinya tidak lagi berfungsi dengan baik. Setelah mendapat persetujuan dari keluarga, pada tanggal 13 Desember 2010 proses transplantasi hati dilakukan dengan mengangkat seluruh hati pasien untuk diganti dengan hati sisi sebelah kanan donor. Yang menggembirakan, saat ini pasien dan donor berada dalam kondisi yang stabil.
Sebelumnya orang Indonesia yang hendak melakukan transplantasi hati, harus melakukannya di luar negeri mengingat teknologi dan sumber daya manusia di Indonesia masih terbatas. Seperti yang dilakukan oleh Dahlan Iskan, pemilik Grup Jawa Pos. Dahlan Iskan mengidap penyakit hati kronis sejak lama. Akhirnya, sebagaimana yang direkomendasikan pihak medis, pada 6 Agustus 2007 Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Center Hospital, China. Hasilnya, hingga hari ini Dahlan Iskan memiliki hati yang sehat. Ia kembali dapat beraktivitas normal dan bahkan mampu memimpin PLN saat ini.
Yang patut menjadi perhatian bagi mereka yang hendak melakukan transplantasi hati adalah perihal biaya. Transplantasi hati dikenal sebagai tindakan kedokteran yang memakan biaya tinggi. Selain karena teknologi yang dibutuhkan adalah teknologi tinggi, mereka yang terlibat di dalam satu proses transplantasi hati juga memerlukan banyak tenaga ahli dengan ragam latar belakang keilmuan, mulai dari ahli liver, ahli bedah, ahli farmokologi, keperawatan intensif, hingga psikolog.
Di China sendiri, biaya transplantasi hati bisa mencapai Rp.500-550 juta, di Jepang mencapai Rp.900-1 Miliar, di Singapura mencapai Rp.1,1 miliar. Sementara itu di Amerika Serikat, di mana transplantasi hati dilakukan 5000 kasus setiap tahunnya, biayanya lebih mahal lagi. Di Indonesia, dengan merujuk kepada RSCM, biaya transplantasi hati mencapai Rp.1 Milyar. Akan tetapi untuk ke depannya, pihak RSCM mengupayakan biaya ini dapat ditekan hingga menjadi Rp.600-700 juta.
Mahal memang, tapi bukankah nyawa tidak ternilai harganya? Mencermati hal itu, ada baiknya kita terus mengingat kearifan yang sudah lama kita ketahui, ‘mencegah lebih baik daripada mengobati’. Caranya adalah dengan sedisiplin mungkin menjalani pola hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatan diri sendiri. Penyakit hati kronis bukan tidak bisa dicegah. Melalui pemberian imunisasi, kita bisa mencegah penyakit yang tak ada obatnya ini.
Sumber: netsains.com

0 comments:

Post a Comment

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More