Showing posts with label Evolusi. Show all posts
Showing posts with label Evolusi. Show all posts

Monday, March 21, 2011

Runtuhnya teori Evolusi

runtuhnyateorievolusi
read more

Saturday, January 15, 2011

Petunjuk Evolusi


1. Variasi dalam suatu keturunan
Dalam suatu kehidupan tidak ditemukanya mkhluk yang sama persis dengan individunya yang sejenis. Menurut Darwin variasi dalam suatu keturunan disebabkan oleh factor lingkungan (suhu, tanah, iklim, dan makanan). Oleh karena itu adanaya variasi menunjukkan adanya evolusi menuju kearah terbentuknya spesies-spesies baru.
2.   Fosil
Istilah fosil berasal dari bahasa latin fodere yang berarti menggali. Fosil dapat berupa tulang-belulang, tubuh, jejak, dan sisa makhluk hidup yang terawetkan dalam batuan sediment. Sehingga Cuvier menyimpulkan bahwa pada masa tertentu telah diciptakan makhluk hidup yang berbeda dari masa ke masa lainnya. Misalnya adaptasi kuda, zebra, keledai merupakn suatu adaptasi makhluk hidup yang jutaan tahun yang lalu merupakan hewan yang lemah, kecil berangsur-angsur menjadi hewan yang lincah, kuat dan berlari sangat cepat.
3.   Perbandingan Anatomi atau Homologi Organ
Perbandingan anatomi merupakan pembandingan seluruh tubuh karena kerangka setiap spesies yang berbeda memiliki fungsi yang berbeda pula yang dinamakan organ homolog. Tetapi ada juga organ yang fungsinya sama tapi berbeda spesies yang disebut organ analog.
4.   Perbandingan Embryo
Dalam perkembangan embrio makhluk hidup memiliki banyak kesamaan dalam tahap awal, tetapi pada akhirnyapun berbeda. Perkembangan makhluk hidup dari zigot hingga dewasa dinamakan ontogeny, dan dari proses tersebut zat penyusun mulai dari zat yang sederhana menjadi zat yang kompleks yang dinamakan filogeni.
5.   Perbandingan Biokimia
Mempelajari Biokimia sangatlah menguntungkan terlebih untuk mengetahui kedekatan kerabatnya, sehingga kita dengan mudah mengetahui asal-usul berdasarkan ilmu tersebut. Dalam proses ini menggunakan DNA sebagai pewaris sifat manusia.
6.   Organ Tubuh yang Tersisa (Organ Vestigial)
Beberapa organisme seperti manusia mempunyai bagian-bagian tubuh yang tersisa akibat beradaptasi dengan lingkungannya misalnya tulang ekor, umbai cacing, dan lain-lain. Sehingga hal ini beranggapan manusia merupakan evolusi dari nenek moyang yang terdahulu.
7.   Domestikasi atau Seleksi Buatan
Hal ini merupakan pembudidayaan tentang makhluk hidup. Sehingga setelah disilangkan, kita dapat memilih varietas yang unggul. Menurut Charles Darwin Semua jenis burung dara berasal dari satu nenek moyang yaitu berasal dari burung dara batu atau burung dara liar, yang berubah secara berangsur-angsur karena adanya seleksi alam.


read more

Sunday, January 9, 2011

Pro kontra Teori Evolusi

Teori evolusi masih menyimpan banyak teka-teki dan pertanyaan bagi kita. Dalam postingan kali ini saya akan menjelaskan perbedaan teori evolusi menurut beberapa ahli evolusi. yaitu Lamarck, Darwin, dan Weismann.

1. Lamarck versus Darwin


Pertentangan ini di mulai ketika di temukannya fosil-fosil jerapah dengan leher pendek. Mengapa hal ini bisa terjadi . . ? Menurut Lamarck dahulu kompetisi untuk memperoleh makanan sangat lah tinggi. Sehingga, jerapah harus memperoleh makanan nya di dahan yang tinggi. Untuk memperoleh makananya maka
jerapah memaksa memanjangkan lehernya untuk memperoleh makanannya, sehingga leher jerapah tersebut menjadi panjang. Menurut Lamarck panjang leher tersebut kemudian di wariskan kepada keturunannya berikutnya.
menurut Darwin penemuan fosil jerapah leher pendek tersebut bukan karena perubahan fisik jerapah tapi karena adanya seleksi alam. Dahulu ada 2 jenis jerapah yaitu jerapah leher pendek dan jerapah leher panjang. Sama dengan Lamarck karena kompetisi mencari makanan sangat tinggi sehingga jerapah harus mengambil daun di dahan yang tinggi. Karena jerapah leher pendek tidak dapat memperoleh makanannya sehingga jenis jerapah leher pendek banyak yang mati. Karena hal ini berlangsung terus menerus menyebabkan jerapah leher pendek punah dan yang hanya tersisa jerapah leher panjang hingga sekarang. . . . . .





2. Darwin Versus Weisman



Sebenarnya Weisman tidaklah menentang teori Darwin tetapi hanya menegaskan bahwa sifat-sifat hasil dari seleksi alam tidaklah dapat di turunkan kepada keturunannya. Menurutnya Evolusi adalah menyangkut maslah bagaimana pewarisan genetika melalui sel-sel kelamin, dengan kata lain evolusi adalah gejala seleksi alam terhadap faktor-faktor genetika.
Hubungan hal tersebut dengan teori Darwin adalah bahwa jerapah-jerapah leher pendek gennya bersifat resesif. sedangka, jerapah leher panjang bersifat dominan. Jerapah yang ber-gen resesif jumlah nya akan lebih sedikit dari pada jerapah yang berleher panjang dan tidak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan. oleh karena itu jerapah yang berleher pendek pun punah


3. Lamarck versus weisman


Lamarck dikenal dengan paham Use and disuse yang secara sederhana di jelaskan sebagai berikut :
  1. Mahkluk yang sederhana merupakan nenek moyang dai mahluk yang lebih kompleks
  2. mahluk hidup akan selalu beradaptasi dengan lingkungan dengan menggunakan organ tubuhnya
  3. organ tubhn yang sering di gunakan akan berkembang terus sedangkan yang tidak di gunakan akan menghilang
  4. perubahan organ tubuh tersebut akan di wariskan ke keturunannya selanjutnya.
Pendapat Lamarck tersebut di tentang oleh Weismann. Menurutnya perubahan yang di sebabkan oleh lingkungan tidak dapat di wariskan ke keturunannya. untuk membuktikannya Weismann melakukan percobaan dengan mengawinkan 2 ekor tikus yang ekornya telah di potong. ternyata anak-anak tikus tersebut masih memiliki ekor. percobaan tersebut dilakukan hingga 21 kali dan hasilnya tetap sama.
Jangan Lupa Komentar Yaa..


read more

Saturday, January 8, 2011

MEKANISME DARWINISME


Menurut teori evolusi, makhluk hidup muncul menjadi ada melalui berbagai kebetulan, dan berkembang lebih jauh sebagai sebuah hasil dari berbagai dampak yang tidak disengaja. Sekitar 3,8 miliar tahun lalu, ketika makhluk hidup tidak ada di bumi, makhluk bersel satu sederhana (prokaryota) pertama muncul. Seiring dengan perjalanan waktu, sel-sel yang lebih kompleks (eukaryota) dan organisme bersel banyak muncul menjadi ada. Dengan kata lain, menurut Darwinisme, kekuatan alam membangun unsur-unsur benda mati sederhana hingga membentuk rancangan sangat rumit dan sempurna.
Dalam menilai pernyataan ini, seseorang pertama harus mengkaji apakah kekuatan semacam itu benar-benar ada di alam. Lebih jelas lagi, apakah benar-benar ada mekanisme alam yang mampu menghasilkan evolusi sesuai dengan pemaparan Darwin?
Model neo-Darwinis, yang akan kita ambil sebagai penjelasan teori evolusi yang paling banyak dianut saat ini, menyatakan bahwa kehidupan berevolusi melalui dua mekanisme alamiah: seleksi alam dan mutasi. Pada dasarnya teori ini menekankan bahwa seleksi alam dan mutasi adalah dua mekanisme yang saling melengkapi. Sumber dari perubahan secara evolusi terdapat pada mutasi acak yang terjadi pada struktur genetik makhluk hidup. Sifat yang dihasilkan dari mutasi ini kemudian dipilah dengan mekanisme seleksi alam, dan melalui cara inilah makhluk hidup berevolusi. Akan tetapi jika kita kaji lebih dalam teori ini, kita akan menemukan bahwa tidak ada mekanisme evolusi seperti itu. Baik seleksi alam maupun mutasi tidak dapat menyebabkan spesies yang berbeda berkembang menjadi spesies lain, dan pernyatan bahwa kedua mekanisme ini mampu melakukan hal tersebut benar-benar tidak berdasar.
SELEKSI ALAM
Gagasan tentang seleksi alam adalah landasan utama Darwinisme. Pernyataan ini ditegaskan bahkan pada judul buku di mana Darwin mengajukan teorinya: The Origin of Species, by means of Natural Selection [Asal usul Spesies, melalui Seleksi Alam]…
Seleksi alam didasarkan pada anggapan bahwa di alam terdapat persaingan yang tiada hentinya untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Persaingan ini cenderung berpihak pada makhluk-makhluk dengan sifat-sifat yang paling menjadikan mereka mampu bertahan terhadap tekanan yang berasal dari lingkungan. Pada akhir persaingan ini, yang terkuat, yang paling sesuai dengan keadaan alam, akan bertahan hidup. Sebagai contoh, pada sekawanan rusa yang berada di bawah ancaman pemangsa, mereka yang mampu berlari lebih cepat secara alamiah akan tetap bertahan hidup. Hasilnya, kawanan rusa tersebut pada akhirnya hanya akan terdiri dari rusa-rusa yang mampu berlari cepat.
Meskipun demikian, betapapun lamanya peristiwa ini berlangsung, ini tidak akan mengubah rusa tersebut menjadi hewan jenis lain. Rusa lemah akan tersingkirkan, yang kuat tetap bertahan hidup, tetapi, karena tidak ada perubahan yang terjadi pada data genetik mereka, perubahan spesies pun tidak akan terjadi. Meskipun proses seleksi ini terjadi terus-menerus, rusa tetap akan menjadi rusa.
Contoh tentang rusa tersebut berlaku untuk semua spesies. Dalam populasi mana pun, seleksi alam hanya menyingkirkan yang lemah, atau individu yang tidak cocok yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan alam di tempat tinggal mereka. Seleksi alam tidak menghasilkan spesies baru, informasi genetik baru, atau organ baru. Artinya, seleksi alam tidak bisa menyebabkan apa pun berevolusi. Darwin pun menerima fakta ini, dengan mengatakan bahwa "Seleksi alam tidak mampu berbuat apa pun hingga perbedaan individu atau variasi [keragaman] yang menguntungkan terjadi."7 Itulah mengapa neo-Darwinisme harus menambahkan ke dalam teori seleksi alam mekanisme mutasi sebagai faktor yang mengubah informasi genetik .
Kita akan membahas mutasi di bagian selanjutnya. Namun sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu mengkaji lebih dalam gagasan tentang seleksi alam untuk melihat pertentangan yang sangat melekat di dalamnya.
PERSAINGAN UNTUK MEMPERTAHANKAN KELANGSUNGAN HIDUP?

Darwin telah terpengaruh oleh Thomas Malthus ketika mengembangkan teorinya mengenai persaingan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Namun, segenap pengamatan dan percobaan membuktikan bahwa Malthus keliru.
Anggapan mendasar dari teori seleksi alam adalah bahwa terdapat persaingan sengit untuk mempertahankan kelangsungan hidup di alam, dan setiap makhluk hidup hanya mempedulikan dirinya sendiri. Pada saat Darwin mengajukan teori ini, pemikiran Thomas Malthus, seorang ahli ekonomi terkenal Inggris, berpengaruh penting pada dirinya. Malthus menyatakan bahwa manusia tak terhindarkan dari persaingan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ia mendasari pandangannya pada kenyataan bahwa populasi, yang berarti pula kebutuhan akan sumber makanan, bertambah menurut deret ukur, sementara sumber makanan itu sendiri bertambah menurut deret hitung. Alhasil, ukuran populasi mau tak mau akan dibatasi oleh faktor-faktor lingkungan, seperti kelaparan dan penyakit. Darwin menerapkan pandangan Malthus tentang persaingan sengit untuk kelangsungan hidup antar manusia ini pada alam kehidupan secara luas, dan menyatakan bahwa "seleksi alam" adalah sebuah akibat dari persaingan ini.
Namun, penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa tidak terdapat persaingan untuk hidup di alam sebagaimana Darwin rumuskan. Sebagai hasil dari penelitian menyeluruh terhadap kelompok-kelompok hewan pada tahun 1960-an hingga 1970-an, V. C. Wynne-Edwards, seorang ahli ilmu hewan Inggris, menyimpulkan bahwa makhluk hidup menyeimbangkan populasi mereka melalui suatu cara yang menarik, yang mencegah persaingan untuk memperoleh makanan. Kelompok-kelompok hewan secara sederhana mengatur populasi mereka berdasarkan ketersediaan jumlah makanan mereka. Populasi diatur tidak melalui penyingkiran yang lemah melalui hal-hal seperti wabah penyakit atau kelaparan, tetapi oleh sebuah mekanisme pengatur naluriah. Dengan kata lain, hewan mengatur jumlah mereka tidak dengan persaingan sengit, sebagaimana dikemukakan Darwin, tetapi dengan membatasi perkembangbiakan. 8
Bahkan tumbuh-tumbuhan memperlihatkan contoh pengaturan populasi, yang menggugurkan pernyataan Darwin tentang seleksi melalui persaingan. Pengamatan seorang ahli ilmu tumbuhan, A. D. Bradshaw, menunjukkan bahwa selama berkembang biak, tumbuhan menyesuaikan diri dengan "kepadatan" penanaman, dan membatasi perkembangbiakan mereka jika daerah itu telah penuh dengan tumbuhan.9 Di lain pihak, contoh-contoh tentang pengorbanan yang teramati pada hewan-hewan seperti semut dan lebah memperlihatkan sebuah gambaran yang sama sekali bertentangan dengan gagasan persaingan untuk kelangsungan hidup menurut Darwinis.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah mengungkap penemuan mengenai "pengorbanan diri" pada bakteri sekalipun. Makhluk hidup tanpa otak atau sistem saraf ini, yang sama sekali tak berkemampuan untuk berpikir, membunuh diri mereka sendiri untuk menyelamatkan bakteri lain ketika diri mereka terjangkiti oleh virus. 10
Contoh-contoh ini pastilah menggugurkan anggapan dasar dari seleksi alam: persaingan mutlak untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Memang benar terdapat persaingan di alam; akan tetapi terdapat pula gambaran yang jelas tentang "pengorbanan diri" dan "kesetiakawanan".
PENGAMATAN DAN PERCOBAAN
Selain kelemahan secara teori sebagaimana tersebut di atas, teori evolusi melalui seleksi alam kembali menemui kebuntuan mendasar ketika berhadapan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang nyata. Nilai ilmiah sebuah teori harus dikaji berdasarkan berhasil atau tidaknya teori ini dalam percobaan dan pengamatan. Evolusi melalui seleksi alam gagal dalam keduanya.
Sejak masa Darwin, tidak pernah ada sepotong bukti pun yang dikemukakan untuk menunjukkan bahwa seleksi alam menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Colin Patterson, seorang ahli fosil terkemuka di Museum Sejarah Alam Inggris di London yang juga seorang evolusionis terkemuka, menegaskan bahwa seleksi alam belum pernah teramati memiliki kemampuan untuk menyebabkan sesuatu berevolusi:
Tak seorang pun pernah menghasilkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah mendekatinya, dan kebanyakan dari perdebatan saat ini di dalam neo-Darwinisme adalah seputar pertanyaan ini. 11
Pierre-Paul Grassé, ahli ilmu hewan terkenal Prancis yang juga penyanggah Darwinisme, melontarkan perkataan berikut dalam Evolution and Natural Selection [Evolusi dan Seleksi Alam], yang merupakan satu bab dari bukunya The Evolution of Living Organisms [Evolusi Makhluk Hidup]:
"Evolusi yang sedang berlangsung" yang dikemukakan J. Huxley dan ahli biologi lainnya hanyalah pengamatan atas fakta-fakta demografi, keragaman genotip[j] dalam suatu wilayah tertentu, dan sebaran geografis. Seringkali spesies yang diamati hampir tidak berubah selama ratusan abad! Keragaman yang ditimbulkan oleh berbagai keadaan, dengan didahului perubahan genom[k], tidak berarti evolusi, dan kita memiliki bukti nyata atas hal ini pada banyak spesies panchronic [yaitu fosil hidup yang tetap tidak berubah selama jutaan tahun]. 12
Sebuah tinjauan lebih dekat pada beberapa "contoh yang teramati dari seleksi alam" yang disajikan oleh para ahli biologi yang mendukung teori evolusi, akan mengungkapkan bahwa, pada kenyataannya, mereka tidak menyediakan bukti apa pun bagi evolusi.
KISAH SEBENARNYA TENTANG MELANISME INDUSTRI
Ketika sumber-sumber tulisan evolusionis dikaji, seseorang pasti akan melihat bahwa contoh ngengat di Inggris selama Revolusi Industri dikutip sebagai contoh evolusi melalui seleksi alam. Hal ini dikemukakan sebagai contoh paling nyata dari evolusi yang teramati, dalam buku-buku acuan, majalah dan bahkan sumber-sumber di lembaga pendidikan tinggi. Namun pada kenyataanya, contoh tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan evolusi.
Pertama, mari kita mengingat kembali apa yang dikatakan: Menurut pemaparan ini, menjelang kemunculan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit pohon di sekitar Manchester cukup terang. Oleh sebab itu, ngengat berwarna gelap yang hinggap di pohon itu akan lebih mudah terlihat oleh burung yang memangsa mereka, dan karenanya mereka berkemungkinan kecil untuk bertahan hidup. Lima puluh tahun kemudian, di daerah-daerah yang dipenuhi pepohonan di mana polusi industri telah membunuh lumut kerak, kulit pohon menjadi lebih gelap, dan sekarang ngengat berwarna terang menjadi paling banyak diburu, karena mereka paling mudah terlihat. Akibatnya, perbandingan antara ngengat berwarna terang dengan berwarna gelap menurun. Evolusionis mempercayai hal ini sebagai satu bukti besar bagi teori mereka. Mereka berlindung dan menghibur diri dengan bangga, menunjukkan bagaimana ngengat berwarna terang "berevolusi" menjadi ngengat berwarna gelap.
Gambar di samping menunjukkan pohon-pohon dengan ngengat yang hinggap di atasnya sebelum Revolusi Industri, dan gambar bawah menunjukkan keadaan sesudahnya. Karena pohon-pohon ini menjadi lebih gelap warnanya, burung-burung dapat lebih mudah menangkap ngengat berwarna terang sehingga jumlah ngengat ini berkurang. Akan tetapi, ini bukan contoh “evolusi”, sebab tidak ada spesies baru yang muncul. Yang terjadi hanyalah berubahnya perbandingan dua ragam ngengat yang sudah ada sejak awal; dan dua ragam ngengat ini termasuk dalam satu spesies ngengat yang juga memang sudah ada sebelumnya.

Namun demikian, walaupun kita percaya bahwa kenyataan ini benar, seharusnya sudah jelas sekali bahwa ngengat-ngengat ini tidak dapat dijadikan bukti apa pun bagi teori evolusi, karena tidak ada kemunculan bentuk baru yang sebelumnya tidak ada. Ngengat berwarna gelap telah ada dalam populasi ngengat sebelum Revolusi Industri. Hanya perbandingan antar varietas[l] [ragam] ngengat yang sudah ada saja yang berubah. Ngengat tidak memperoleh suatu sifat atau organ baru, yang menyebabkan "spesiasi" [pembentukan spesies baru melalui evolusi]. 13 Agar satu spesies ngengat berubah menjadi satu spesies makhluk hidup lain, misalnya burung, harus ada penambahan baru pada gen-gennya. Artinya, sebuah program genetik yang benar-benar berbeda harus dimasukkan agar memuat informasi tentang ciri-ciri fisik dari burung.
Ini adalah jawaban atas kisah evolusionis tentang Melanisme Industri. Namun, masih ada sisi yang lebih menarik dari kisah ini: Tidak hanya penjelasannya, tetapi kisah itu sendiri tidak sepenuhnya benar. Sebagaimana yang dipaparkan ahli biologi molekuler Jonathan Wells dalam bukunya Icons of Evolution [Lambang-Lambang Evolusi], cerita ngengat berbintik ini, yang dimasukkan pada setiap buku biologi evolusi dan karenanya telah menjadi sebuah "lambang" dalam pengertian ini, tidak mencerminkan kebenaran. Wells mengkaji di dalam bukunya bagaimana percobaan Bernard Kettlewell, yang dikenal sebagai "bukti percobaan" tentang hal tersebut, sebenarnya merupakan skandal ilmiah. Sejumlah unsur mendasar dari skandal ini adalah:
  • Banyak percobaan yang dilakukan setelah Kettlewell mengungkap bahwa hanya ada satu ragam dari ngengat ini yang hinggap pada batang pokok pohon, dan semua ragam lainnya lebih suka hinggap di bawah dahan-dahan kecil yang mendatar. Sejak tahun 1980 menjadi teranglah bahwa ngengat berbintik umumnya tidak hinggap pada batang pokok pohon. Selama 25 tahun kerja di lapang, banyak ilmuwan seperti Cyril Clarke dan Rory Howlett, Michael Majerus, Tony Liebert, dan Paul Brakefield menyimpulkan bahwa dalam percobaan Kettlewell, ngengat-ngengat dipaksa berperilaku tidak lazim, karenanya, hasil percobaan tersebut tidak bisa diterima secara ilmiah. 14
  • Para Ilmuwan yang menguji kesimpulan Kettlewell muncul dengan hasil yang bahkan lebih menarik: Walaupun jumlah ngengat berwarna terang diperkirakan akan lebih banyak di daerah-daerah yang kurang terkena polusi di Inggris, ngengat berwarna gelap di sana jumlahnya empat kali lebih banyak dari yang terang. Ini berarti tidak terdapat hubungan antara populasi ngengat dan batang pokok pohon seperti yang dinyatakan Kettlewell dan diulang-ulang oleh hampir semua sumber evolusionis.
Ketika pengujian diperdalam, besarnya skandal ini semakin nyata: "Ngengat pada batang pohon" yang dipotret oleh Kettlewell, sebenarnya adalah ngengat mati. Kettlewell menggunakan ngengat mati yang direkatkan atau ditusukkan pada batang pokok pohon dan kemudian memotretnya. Pada kenyataannya, sulit sekali untuk mengambil gambar seperti itu karena ngengat tidak hinggap di batang pokok pohon, melainkan di permukaan bawah dari dedaunan. 15
Kenyataan-kenyataan ini diungkapkan oleh masyarakat ilmiah baru di akhir 1990-an. Runtuhnya kisah Melanisme Industri, yang telah menjadi salah satu bahasan paling penting dalam kuliah-kuliah "Mengenal Evolusi" di berbagai universitas selama puluhan tahun, sangat mengecewakan para evolusionis. Salah satu dari mereka, Jerry Coyne, bertutur:
Reaksi saya sendiri mirip dengan kekecewaan yang menyertai temuan saya, pada umur 6 tahun, bahwa ternyata ayah sayalah dan bukan Santa yang membawa hadiah pada Malam Natal. 16
Demikianlah, "contoh paling terkenal dari seleksi alam" telah terbuang ke tumpukan sampah sejarah sebagai sebuah skandal ilmiah—sebuah hal yang tak terhindarkan, karena, berkebalikan dengan apa yang dinyatakan evolusionis, seleksi alam bukanlah sebuah "mekanisme evolusi".
Singkatnya, seleksi alam tidak mampu menambahkan organ baru pada makhluk hidup, atau menghilangkan salah satunya, ataupun mengubah organisme dari satu spesies menjadi spesies lain. Bukti "terbesar" yang dikemukakan sejak masa Darwin hanya beranjak tidak lebih jauh dari "Melanisme Industri" ngengat di Inggris.
MENGAPA SELEKSI ALAM TIDAK MAMPU MENJELASKAN KOMPLEKSITAS
Seperti yang kami tunjukkan pada bagian awal, masalah terbesar bagi teori evolusi melalui seleksi alam adalah ketidakmampuannya memunculkan organ atau sifat baru pada makhluk hidup. Seleksi alam tidak bisa mengembangkan data genetik suatu spesies; karenanya, seleksi alam tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kemunculan spesies baru. Pembela terbesar teori Punctuated Equilibrium [Keseimbangan Tersela][m], Stephen Jay Gould, menyatakan kebuntuan seleksi alam ini sebagai berikut:
Intisari Dawinisme terdapat dalam sebuah kalimat tunggal: seleksi alam adalah daya cipta yang menggerakkan perubahan secara evolusi. Tak seorang pun menyangkal bahwa seleksi alam akan memainkan peran negatif dengan menyingkirkan yang lemah. Teori Darwin mensyaratkan seleksi alam menciptakan yang kuat juga. 17
Cara menyesatkan lainnya yang diterapkan para evolusionis dalam masalah seleksi alam adalah usaha mereka untuk menghadirkan mekanisme ini sebagai sebuah perancang cerdas. Namun, seleksi alam tidak memiliki kecerdasan. Seleksi alam tidak memiliki kehendak yang dapat menentukan mana yang baik dan buruk bagi makhluk hidup. Akibatnya, seleksi alam tidak bisa menjelaskan sistem-sistem dan organ-organ biologis yang memiliki "kompleksitas [kerumitan] yang tak tersederhanakan ". Sistem-sistem dan organ-organ ini tersusun atas banyak bagian yang bekerja sama, dan tidak akan berguna jika satu saja bagiannya hilang atau rusak. (Sebagai contoh, mata manusia tidak akan berfungsi kecuali jika mata tersebut memiliki semua bagiannya secara utuh).
Oleh karena itu, kehendak yang menyatukan semua bagian ini seharusnya mampu memperkirakan masa depan dan secara langsung mengarahkan pada manfaat yang akan didapat pada tahapan terakhirnya. Karena seleksi alam tidak memiliki kesadaran atau kehendak, seleksi alam tidak dapat melakukan hal seperti itu. Fakta ini, yang menghancurkan dasar berpijak teori evolusi, juga mengkhawatirkan Darwin, yang menulis: "Jika dapat dibuktikan bahwa ada organ kompleks, yang tidak mungkin dapat terbentuk melalui banyak perubahan kecil bertahap, maka teori saya akan sepenuhnya runtuh." 18
MUTASI
Kaki yang cacat, hasil mutasi.
Mutasi diartikan sebagai kerusakan atau penggantian yang terjadi pada molekul DNA, yang ditemukan dalam inti sel dari setiap makhluk hidup dan memuat seluruh informasi genetik darinya. Kerusakan atau penggantian ini diakibatkan oleh pengaruh-pengaruh luar seperti radiasi atau reaksi kimiawi. Setiap mutasi adalah sebuah "kecelakaan", dan merusak atau mengubah kedudukan nukleotida-nukleotida penyusun DNA. Hampir selalu, mereka menyebabkan kerusakan dan perubahan yang sedemikian besar sehingga sel tidak bisa memperbaikinya.
Mutasi, yang sering dijadikan tempat berlindung evolusionis, bukanlah sebuah tongkat sulap yang bisa mengubah makhluk hidup ke bentuk yang lebih maju dan sempurna. Dampak langsung dari mutasi adalah membahayakan. Perubahan-perubahan yang dihasilkan oleh mutasi hanya akan serupa dengan apa yang dialami penduduk Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl: yaitu kematian, cacat, dan kelainan tubuh…
Alasan di balik ini sangatlah sederhana: DNA memiliki bentuk dan rancang bangun yang sangat kompleks, dan perubahan-perubahan acak hanya akan merusaknya. Ahli biologi B. G. Ranganathan menyatakan:
Pertama, mutasi asli sangat jarang terjadi di alam. Kedua, kebanyakan mutasi adalah berbahaya karena terjadi secara acak, dan bukan perubahan-perubahan tertata pada struktur gen-gen; setiap perubahan acak apa pun dalam suatu sistem yang tertata sangat rapi hanya akan memperburuk, bukan memperbaiki. Sebagai contoh, jika gempa bumi mengguncang struktur yang tertata rapi seperti gedung, akan terjadi perubahan acak pada kerangka bangunan tersebut yang, dapat dipastikan, tidak akan merupakan suatu perbaikan. 19
Tidak mengherankan, tak satu pun mutasi bermanfaat telah teramati sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti berbahaya. Ilmuwan evolusionis, Warren Weaver, mengulas laporan yang disusun oleh Committee on Genetic Effects of Atomic Radiation [Komite Dampak Genetik dari Radiasi Atom], yang dibentuk untuk menyelidiki mutasi yang mungkin terjadi akibat senjata nuklir yang digunakan pada Perang Dunia Kedua:
Banyak yang akan tercengang oleh pernyataan bahwa hampir semua gen termutasi yang telah dikenal ternyata membahayakan. Sebab mutasi adalah bagian yang sangat diperlukan dari proses evolusi. Bagaimana mungkin suatu pengaruh baik—[dengan kata lain] evolusi ke bentuk kehidupan yang lebih tinggi—dihasilkan dari mutasi yang hampir semuanya membahayakan? 20
Setiap usaha yang dilakukan untuk "menghasilkan mutasi yang bermanfaat" berakhir dengan kegagalan. Selama puluhan tahun, evolusionis melakukan berbagai percobaan untuk menghasilkan mutasi pada lalat buah, karena serangga ini berkembang biak sedemikian cepat sehingga mutasi akan lebih cepat terlihat. Keturunan demi keturunan lalat buah ini dimutasikan, namun tak satu pun mutasi bermanfaat yang teramati. Ahli genetika evolusionis, Gordon Taylor, akhirnya menulis:
Sejak awal abad ke-20, ahli biologi evolusi telah mencari-cari contoh mutasi menguntungkan dengan menciptakan lalat mutan [lalat hasil mutasi]. Tetapi, usaha keras ini selalu menghasilkan makhluk yang berpenyakit dan cacat. Gambar kiri menunjukkan kepala seekor lalat buah yang wajar, dan gambar kanan menunjukkan kepala lalat buah dengan kaki yang keluar darinya, akibat mutasi.
Adalah sebuah kenyataan menarik, tetapi tidak sering disebutkan bahwa, meskipun para ahli genetika telah mengembangbiakkan lalat buah selama 60 tahun atau lebih di laboratorium-laboratorium seluruh dunia—lalat yang menghasilkan keturunan baru setiap sebelas hari—mereka belum pernah melihat munculnya satu spesies baru atau bahkan satu enzim baru. 21

Katak mutan terlahir dengan kaki pincang.
Peneliti lainnya, Michael Pitman, bertutur tentang kegagalan percobaan-percobaan yang dilakukan pada lalat buah:
Morgan, Goldschmidt, Muller, dan para ahli genetika lain telah memperlakukan keturunan demi keturunan lalat buah dalam pengaruh panas, dingin, terang, gelap yang berlebihan, dan perlakuan dengan zat kimia serta radiasi. Segala bentuk mutasi, yang semuanya hampir tak berdampak atau benar-benar merusak, telah dihasilkan. Inikah evolusi buatan manusia? Tidak juga: Sejumlah kecil dari binatang mengerikan buatan para ahli genetika tersebut mampu bertahan hidup di luar botol tempat mereka dikembangbiakkan. Pada kenyataannya mutan-mutan tersebut mati, mandul, atau cenderung kembali ke jenis asalnya. 22
Hal yang sama berlaku bagi manusia. Semua mutasi yang teramati pada manusia menghasilkan kerugian. Semua mutasi yang terjadi pada manusia berakibat pada cacat tubuh, penyakit seperti mongolisme[n], sindroma Down[o], albinisme[p], cebol atau kanker. Jelaslah, sebuah proses yang membuat manusia cacat atau sakit tidak mungkin dianggap sebagai "mekanisme evolusi" - evolusi seharusnya menghasilkan bentuk-bentuk yang lebih baik dan lebih sesuai untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Lalat mutan dengan sayap cacat.
Ahli ilmu penyakit asal Amerika David A. Demick menulis sebagai berikut dalam sebuah tulisan ilmiah tentang mutasi:
Ribuan penyakit manusia yang berhubungan dengan mutasi genetik telah dicatat pada beberapa tahun terakhir, dan lebih banyak lagi yang sedang dikaji. Sebuah buku rujukan terbaru genetika kedokteran mendaftar sekitar 4.500 penyakit genetik yang berbeda. Sejumlah gejala penyakit menurun yang diketahui berdasarkan ilmu pengobatan di masa sebelum penelitian secara genetika molekuler (seperti sindroma Marfan[q]) ternyata sekarang diketahui heterogen; yaitu berhubungan dengan banyak mutasi yang berbeda… Dengan sederetan penyakit manusia yang disebabkan oleh mutasi ini, apakah dampak baiknya? Dengan ribuan contoh mutasi berbahaya yang sudah ada, tentunya dimungkinkan memperlihatkan beberapa mutasi berguna jika evolusi makro memang benar terjadi. Hal ini diperlukan bukan hanya untuk evolusi ke bentuk lebih kompleks, tapi juga untuk mengurangi dampak buruk dari banyak mutasi berbahaya. Tetapi, ketika tiba saatnya untuk menunjukkan mutasi yang berguna, ilmuwan-ilmuwan evolusionis anehnya bungkam . 23
Satu-satunya contoh "mutasi berguna" yang diberikan oleh ahli biologi evolusi adalah penyakit yang dikenal sebagai sickle cell anemia [anemia sel sabit]. Pada penyakit ini, molekul hemoglobin, yang bertugas membawa oksigen dalam darah, mengalami kerusakan akibat mutasi, dan mengalami perubahan bentuk. Akibatnya, kemampuan molekul hemoglobin untuk mengangkut oksigen benar-benar terganggu. Karena alasan ini, penderita anemia sel sabit mengalami kesulitan bernapas yang semakin parah. Namun demikian, contoh mutasi ini, yang dijabarkan dalam bab kelainan darah pada buku-buku acuan di bidang kedokteran, anehnya dinilai oleh sebagian ahli biologi evolusi sebagai "mutasi berguna". Mereka mengatakan bahwa kekebalan hingga tingkat tertentu terhadap malaria pada penderita anemia sel sabit adalah sebuah "hadiah" dari evolusi. Dengan alur berpikir yang sama, seseorang bisa saja mengatakan bahwa, karena orang yang terlahir dengan kelumpuhan kaki secara genetik tidak mampu berjalan, dan karenanya selamat dari kematian akibat kecelakaan lalu lintas, maka kelumpuhan kaki genetik tersebut adalah sebuah "sifat genetik yang menguntungkan". Pemikiran seperti ini jelas sama sekali tidak berdasar.

Bentuk dan fungsi sel darah merah mengalami kerusakan akibat anemia sel-sabit. Karenanya, daya ikat oksigen sel berkurang.

Jelaslah bahwa mutasi hanyalah suatu mekanisme yang merusak. Pierre-Paul Grassé, mantan ketua French Academy of Sciences [Lembaga Ilmu Pengetahuan Prancis], menjelaskan dengan gamblang dalam pendapatnya tentang mutasi. Grassé, mengibaratkan mutasi sebagai "membuat sejumlah kesalahan pada huruf-huruf ketika menyalin sebuah tulisan." Dan sebagaimana mutasi, kesalahan huruf tidak dapat menghasilkan suatu informasi baru, tetapi hanya merusak informasi yang telah ada. Grassé menjelaskan kenyataan ini sebagai berikut:
Mutasi, pada satu waktu, terjadi secara terpisah. Mutasi tidak saling melengkapi satu sama lain, ataupun menumpuk pada keturunan berikutnya menuju satu arah tertentu. Mutasi-mutasi itu mengubah apa yang telah ada sebelumnya, tetapi dengan cara yang tidak tertata, bagaimana pun caranya... Segera setelah sejumlah kesemrawutan, meskipun kecil, terjadi pada makhluk yang tertata, maka penyakit, lalu kematian, akan menyusul. Tidak mungkin ada penyatuan antara peristiwa kehidupan dengan kekacauan. 24
Jadi berdasarkan alasan tersebut, seperti yang Grassé kemukakan, "Tidak peduli seberapa banyak terjadi, mutasi tidak menghasilkan satu bentuk evolusi apa pun." 25
DAMPAK PLEIOTROPIK
Bukti terpenting bahwa mutasi hanya membawa pada kerusakan adalah proses penyandian genetik. Hampir semua gen pada makhluk hidup yang sepenuhnya berkembang membawa lebih dari satu macam informasi. Sebagai contoh, satu gen mungkin mengatur sifat tinggi sekaligus warna mata pada organisme itu. Ahli mikrobiologi, Michael Denton, menjelaskan sifat gen pada organisme tingkat tinggi seperti manusia ini, sebagai berikut:
Pengaruh dari gen pada perkembangan secara tak terduga seringkali beragam. Pada tikus rumah, hampir semua gen warna kulit memiliki pengaruh pada ukuran tubuh. Dari tujuh belas mutasi warna mata yang dipicu sinar X pada lalat buah Drosophila melanogaster, empat belas di antaranya mempengaruhi bentuk organ kelamin betina, sifat yang dianggap orang sama sekali tidak berhubungan dengan warna mata. Hampir setiap gen yang telah dipelajari pada organisme tingkat tinggi diketahui mempengaruhi lebih dari satu sistem organ, sebuah dampak beragam yang dikenal sebagai pleiotropi. Seperti pendapat Mayr dalam Population, Species and Evolution [Populasi, Spesies dan Evolusi]: "Terdapat keraguan apakah ada gen yang tidak pleiotropik pada organisme tingkat tinggi." 26
1. Sayap-sayap tidak berkembang.
2. Tungkai belakang tumbuh sewajarnya, namun ruas jari-jemarinya tak berkembang sempurna.
3. Tiada bulu halus yang menutupi permukaan tubuh.
4. Walaupun saluran pernapasan ada, paru-paru dan kantung udara tidak ada.
5. Saluran kemih tidak tumbuh, dan tidak mendorong perkembangan ginjal.

Pada belahan gambar sebelah kiri, kita dapat melihat perkembangan wajar unggas hasil penangkaran, dan belahan gambar kanan menunjukkan pengaruh merugikan dari mutasi pada gen pleiotropik. Pemeriksaan saksama menunjukkan bahwa mutasi pada satu gen saja dapat merusak banyak organ. Bahkan jika kita berpendapat bahwa mutasi dapat berdampak menguntungkan, "pengaruh pleiotropik" akan merusak lebih banyak organ sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar daripada keuntungannya.
Pada belahan gambar sebelah kiri, kita dapat melihat perkembangan wajar unggas hasil penangkaran, dan belahan gambar kanan menunjukkan pengaruh merugikan dari mutasi pada gen pleiotropik. Pemeriksaan saksama menunjukkan bahwa mutasi pada satu gen saja dapat merusak banyak organ. Bahkan jika kita berpendapat bahwa mutasi dapat berdampak menguntungkan, "pengaruh pleiotropik" akan merusak lebih banyak organ sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar daripada keuntungannya.
Karena sifat struktur genetik makhluk hidup ini, setiap perubahan tak disengaja karena mutasi, pada gen mana saja dalam DNA, akan berdampak pada lebih dari satu organ. Akibatnya, mutasi ini tidak akan terbatas pada satu bagian tubuh saja, tetapi akan memperlihatkan lebih banyak dampak merusaknya. Bahkan jika satu dari dampak ini ternyata menguntungkan, sebagai hasil dari suatu kebetulan yang sangat jarang terjadi, pengaruh-pengaruh tak terhindarkan dari kerusakan lain yang disebabkannya akan jauh lebih besar daripada manfaat tersebut.
Sebagai rangkuman, ada tiga alasan utama mengapa mutasi tidak memungkinkan terjadinya evolusi:
1- Pengaruh langsung dari mutasi adalah membahayakan: Karena terjadi secara acak, mutasi hampir selalu merusak makhluk hidup yang mengalaminya. Nalar kita mengatakan bahwa campur tangan tanpa sengaja pada sebuah bentuk dan rancang bangun yang sempurna dan kompleks tidak akan memperbaiki rancang bangun tersebut, tetapi malah merusaknya. Dan memang, tidak ada "mutasi berguna" yang pernah teramati.
2- Mutasi tidak menambahkan informasi baru pada DNA suatu organisme: Unsur-unsur penyusun informasi genetik tersebut tercabik dari tempatnya, hancur atau terbawa ke tempat lain. Mutasi tidak dapat menyebabkan makhluk hidup mendapatkan suatu organ atau sifat baru. Mutasi hanya mengakibatkan cacat seperti kaki yang menempel pada punggung atau telinga yang tumbuh keluar dari perut.
3- Agar dapat diwariskan kepada keturunan selanjutnya, mutasi harus terjadi pada sel-sel perkembangbiakan organisme tersebut: Perubahan acak yang terjadi pada sel atau organ tubuh tidak dapat diwariskan ke keturunan berikutnya. Sebagai contoh, mata manusia yang berubah akibat pengaruh radiasi, atau sebab lain, tidak akan diwariskan kepada keturunan berikutnya.
Bakteri Escherichia coli tak berbeda dengan contoh sejenisnya yang berumur satu miliar tahun. Mutasi yang tak terhitung jumlahnya selama waktu yang panjang ini tidak mendorong ke perubahan struktur apa pun.

Bakteri Escherichia coli tak berbeda dengan contoh sejenisnya yang berumur satu miliar tahun. Mutasi yang tak terhitung jumlahnya selama waktu yang panjang ini tidak mendorong ke perubahan struktur apa pun.
Semua penjelasan yang diberikan di atas menunjukkan bahwa seleksi alam dan mutasi tidak memiliki pengaruh evolusi sama sekali. Sejauh ini, belum ada contoh yang dapat diamati dari "evolusi" yang diperoleh dengan cara ini. Kadang kala, ahli biologi evolusi menyatakan bahwa "mereka tidak bisa mengamati pengaruh evolusi dari mekanisme seleksi alam dan mutasi karena mekanisme ini hanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang". Namun, alasan ini, yang hanya merupakan cara mereka menghibur diri, tidaklah berdasar, dalam arti bahwa hal demikian tidak memiliki landasan ilmiah. Selama hidupnya, seorang ilmuwan bisa mengamati ribuan keturunan makhluk hidup dengan masa hidup singkat seperti lalat buah atau bakteri, dan tetap tidak mengamati adanya "evolusi". Pierre-Paul Grassé menyatakan hal berikut tentang sifat alamiah bakteri yang tidak berubah, sebuah kenyataan yang menggugurkan evolusi:
Bakteri… adalah organisme yang, karena jumlah besar mereka, menghasilkan paling banyak mutan. Bakteri… menunjukkan kesetiaan besar pada spesies mereka. Bakteri Escherichia coli, yang mutannya telah dipelajari dengan sangat teliti, adalah contoh terbaik. Pembaca akan setuju bahwa adalah aneh, paling tidak, jika ingin membuktikan evolusi dan mengungkap mekanismenya tapi kemudian memilih bahan untuk penelitian ini suatu makhluk yang pada kenyataannya tidak pernah berubah selama miliaran tahun! Apa gunanya mutasi mereka yang terus menerus, jika tidak [menghasilkan perubahan secara evolusi]? Pada intinya, mutasi pada bakteri dan virus hanyalah perubahan genetik di seputar kedudukan pertengahan; berayun ke kanan, ke kiri, tanpa ada dampak yang berujung pada evolusi. Kecoak, yang merupakan salah satu kelompok serangga paling dikenal yang masih hidup, sedikit banyak tetap tidak berubah sejak zaman Permian, tetapi mereka telah mengalami mutasi sebanyak Drosophila, serangga zaman Tersier. 27
Singkatnya, mustahil bagi makhluk hidup mengalami evolusi, karena tidak terdapat mekanisme di alam yang bisa menyebabkan evolusi. Lebih jauh lagi, kesimpulan ini sesuai dengan bukti catatan fosil, yang tidak menunjukkan adanya proses evolusi, tetapi malah sebaliknya.
read more

Teori Evolusi

Pada tahun 1859, Charles Darwin menerbitkan buku “On The Oringin of Species by Means of Natural Selection”. Buku ini sempat mengguncangkan dunia ilmu pengetahuan karena isinya yang cukup kontroversial untuk masa itu. Kontroversial muncul karena adanya kesalahan penapsiran atas pernyataan yang dikeluarkannya. Sebenarnya, apakah isi buku tersebut menimbulkan kontroversi. Dalam buku tersebut, Darwin menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang ada di bumi ini merupakan hasil dari moyang yang sama, yang mengalami modifikasi. Dengan kata lain, teori ini menyatakan bahwa spesies bukanlah merupakan sesuatu yang kekal atau tidak mengalami perubahan, melainkan berevolusi melalui proses perubahan bertahap dari berbagai spesies yang telah ada.
Teori yang dikeluarkan Darwin merupakan hasil analisis data yang didapat dari proses observasinya selama keikutsertaannya dalam ekspedisi-ekspedisi yang
diikutunya. Namun, ekspedisi paling penting yang pernah diikutinya adalah perjalanan dengan kapal HMS Beagle. Meskipun Darwin membuat konsep evolusi yang dapat diterima, tetapi pemikiran mengenai evolusi ini sudah sangat tua dan bertahun-tahun lebih tua dari Darwin. Berikut uraian singkat tentang pendapat dari berbagai ahli yang masih berkaitan dengan konsep dasar evolusi.
1. Plato (428-348 sebelum masehi)
Ia membayangkan seorang pencipta yang menciptakan dunia dari kehancuran dan kemudian menciptakan dewa-dewa yang lalu membuat manusia laki-laki. Wanita dan hewan timbul dari reinkarnasi jiwa laki-laki. Makin cacad jiwa itu makin rendah reinkarnasinya.
2. Aristoteles (384-322 sebelum masehi)
Adalah seorang pengamat alam yang teliti dan melihat banyak bukti mengenai desain dan tujuan. Dia mengatur semua organisme di dalam suatu ”skala alam” yang meliputi dari yang sederhana sampai yang kompleks. Organisme yang ada dianggap tidak sempurna tetapi bergerak kearah keadaan yang lebih baik. Hal ini kadang-kadang diartikan sebagai pemikiran evolusi, tetapi Aristoteles sangat samar-samar mengenai sifat gerakan tersebut. Mungkin gerakan itu merupakan pendekatan yang makin cocok dengan idealis penciptaan tiap spesies tertentu, yang pasti Aristoteles tidak merinci suatu pemikiran mengenai transmutasi spesies.
Seorang bangsa Prancis, Pierre-Louis de Maupertius pada tahun 1745 mengemukakan bahwa beberapa bangsa mungkin mulai timbul karena menyimpang secara kebetulan dari desain alami. pemikiran mengenai evolusi yang cermat kemudian dikemukakan oleh Denis Diderot (1746), george Louis LeClere, Comte de Buffon (1779), Erasmus Darwin (1794).
3. Anaximander (600-546 sebelum masehi)
Beliau dapat dipandang sebagai pelopor dari ajaran desendensi (ajaran penurunan) oleh karena ia mengajarkan bahwa kosmos itu mungkin terbebtuk dari kekacoan (chaos), kehidupan itu timbul dari zat mati, sedangkan makluk yang tinggi tingkatannya timbul dari makluk yang rendah tingkatannya. Akan tetapi teori ini sama sekali tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap alam pemikiran para sarjana di zaman itu dan di zaman berikutnya. Baru setelah teori-teori evolusi ini berkembang dengan pesat, maka dalam tulisan-tulisan sarjana itu dapat menemukan kembali petunjuk-petunjuk tentang adanya pendapat-pendapat semacam itu.
Para ahli ilmu hewan dari abad 17 dan 18 setuju sekali akan pendapat-pendapat dari kitab suci injil yang tertulis dalam buku genesis yang disebut dengan ”teori Penciptaan”. Salah satu ahli yang sejalan dengan pikiran tadi adalah Carolus Linnaeus.
4. Carolus Linnaeus (1707-1778)
Carolus Linnaeus dilahirkan tanggal 23 Mei 1707 disebuah desa kecil di Swedia, sebagai anak seorang pendeta. Dia mula-mula juga bekerja untuk menjadi pendeta, kemudian belajar untuk menjadi tabib, tetapi kemudian dia lebih tertarik pada tumbuh-tumbuhan dan binatang. Pada umur 24 tahun ia sudah memberi kulaih-kuliah dan demonstrasi pada Universitas di Uppsala. Setelah mengadakan perjalanan penyelidikan di Laplandia maka dia menikah setelah itu pergi ke Belanda. Pada tahun 1735 ia telah lulus dari Universitas Harderwijk yang dibubarkan dalam abad 19. Kemudian ia pergi ke Leiden dan mencetak buku ”systema Naturae”. Dalam buku ini pembagian sistematiknya sudah dibentangkan secara skematis. Karangan-karangannya yang terkenal adalah : Fundamenia Botanica, Classae Plantarum, Philosophia Botanica dan Genera Plantarum, Systema Naturae, Spesies Plantarum dal lain-lainya. Setelah mengunjungi paris, Linnaeus kembali ke Swedia untuk menjadi mahaguru di Uppsala. Disinilah ia menjadi salah satu dari mahaguru-mahaguru yang terkenal di zaman itu, sehingga Raja Swedia mengangkat dia menjadi seorang bangsawan.
Pada tahun 1778 dia meninggal dunia dan mewariskan perpustakaannya. Selain itu juga mewariskan kumpulan 19.000 tanaman kering, lebih dari 3000 ekor serangga, 1500 kulit-kulit berbagai kerang dan kulit-kulit binatang, 1500 ekor ikan, beberapa ekor burung dan 2500 minerasl. Kumpulan-kumpulan itu masih dapat dilihat digedung ”Linnean Society” di London, sebuah perkumpulan peneliti pengetahuan alam yang memakai nama Linnaeus.
Linnaeus menyampaikan bahwa :
1. Semua tanaman dan binatang yang hidup sekarang ini dahulu dengan serentak diciptakan diatas bumi oleh satu ciptaan saja.
2. Mereka diciptakan dalam bentuk seperti yang tampak sekarang ini.
3. Tidak pernah ada tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang lain di bumu ini kecuali tanaman-tanaman dan binatang-binatang yang hidup sampai sekarang.
Pembagian sistematika hewan menurut Linnaeus adalah sebagai berikut :
1. Binatang-binatang menyusui
2. Burung-burung
3. Ampibi-ampibi
4. Cacing-cacing
5. Serangga-serangga
Binatang-binatang menyusui ini dibagi lagi menjadi 8 golongan. Binatang yang termasuk salah satu dari 8 golongan ini diantaranya ialah (1) Gajah ; (2) Sapi Laut; (3) Macan Loreng; (4) Pemakan Semut; (5) Trenggiling. Pembagian ini jelas tidak didasrkan atas persamaan-persamaan cara hidup dari binatang-binatang itu dan ia tetap tidak menyangsikan kebenaran teori penciptaan.
5. Cuvier (1769-1832)
Cuvier adalah anak dari seorang bangsa Prancis yang telah melarikan diri ke negeri Jerman, ia akhirnya belajar di negeri ini. Pada tahun 1795 ia kembali ke paris. Disana ia menjadi seorang sarjana yang terkenal. Mula-mula ia sebagai mahaguru pada Jardin des Plantes, kemudian sebagai sekretaris dari Akedemi Pengetahuan di Paris. pada tahun 1831 ia diangkat menjadi bangsawan yang tertinggi dari Prancis.
Ia menyampaikan bahwa sisa-sisa hewan yang telah mebatu itu adalah dari sisa hewan yang telah mati di zaman dulu. Mammouth yang dikeluarkan dari timbunan es di Rusia dengan utuh itupun telah diketahui oleh Cuvier.
Ilmu geologi yaitu ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan bentuk dari kulit bumi. Lapisan-lapisan tanah (yang merupakan kulit bumi) itu menandakan berbagai periode dalam sejarah bumi. Dari hewan-hewan yang telah mati itupun dapat ditemukan jenis-jenisnya yang merupakan petunjuk dari berbagai periode tersebut. Berdasarkan pertimbangan ini, Cuvier kemudian menyusun teori yang terkenal dengan Teori Catalysma. Ia beranggapan bahwa tiap-tiap periode dalam sejarah bumi itu mungkin selalu diakhiri dengan suatu bencana yaitu semacam kiamat. air bah yang diceritakan dalam Kitab Injil, yang memusnahkan ataupun hampir melenyapkan semua makluk hidup. Sesudah itu oleh Tuhan mingkin menciptakan lagi suatu tumbuhan dan hewan baru. Jadi teori Civiert ini pada hakekatnya adalah sama saja dengan teori Linnaeus, akan tetapi penciptaan yang dimaksudnya terjadi berulang-ulang.
Cuvier menambahkan bahwa mungkin sekali lenyapnya hewan-hewan itu bukannya dimana-mana, dengan demikian ada kemungkinan juga bahwa hewan-hewan yang diciptakan dalam periode yang sudah lamapau dari suatu daerh tertentu, kemudian pindah menempati daerah lain yang baru di bumi ini. Hal ini berkaitan dengan sebaran hewan atau geografi hewan. Pendapat lain dari Cuvier yang penting adalah bahwa semua hewan dapat dianggap sebagai suku-suku dari suatu deret yang mulai dari hewan bersel satu yang sederhana sampai tingkat manusia. Hal ini dikenal dengan Tangga Dari Alam.
6. Lammarck (1744-1829)
Sebelum Lammarck, ahli lain yang sejalan dengan pemikiran Lammarck adalh Buffon (1707-1788) dan Erasmus Darwin (kakek dari Charles Darwin, 1731-1802) menulis syair yang dianggap sebagai karangan berpengetahuan yang berjudul ”Zoonomia” ia berpendapat bahwa hewan-hewan mungkin juga timbul dari hewan-hewan lain.
Nama lengkap Lammarck adalah Jean Baptist Pierre Antoine De Monet, Chavalier De Lammarck. Sewaktu masih muda ia belajar untuk menjadi pendeta, kemudian ia menjadi tentara sampai ia dalam pertempuran mendapat pujian karena keberaniannya. Ia meninggalkan angkatan perang, untuk belajar ilmu ketabiban di Paris, akan tetapi kemudian ia malah lebih tertarik akan ilmu tumbuh-tumbuhan. Sesudah bekerja keras selama 9 tahun, ia menerbitkan sebuah buku yang besar mengenai tumbuh-tumbuhan yang hidup ditanah airnya. Bukunya itu menarik perhatian para sarjana, sehingga ia mendapat tawaran untuk bekerja di Jardin du Roi. Setelah revolusi dai diangkat menjadi mahaguru pada Jardin du Roi itu juga, yang kemudian berganti nama menjadi Jardin des Plantes (semacam kebun raya). Ia menjadi mahaguru di bidang Evertebrata. Ia menyusun buku yang berjudul ”Philosophie Zoologioque”. Ia menjadi buta dihari tuanya dan terpaksa hidup miskin dan sengsara sekali. Oleh rekan-rekannya di zaman itu tidak ada yang mengerti jasa-jasanya sebagaimana mestinya.
Setelah ia meninggal, maka berkat kegiatan Darwin, ia dijungjung tinggi lagi dan sampai sekarang pun ia masih dipandang sebagai salah satu seorang sarjana besar di zaman itu. Sayang sekali teori-teorinya tidak dilengkapi dengan bukti-bukti dan kenyataan-kenyataan.
Teori Lammarck ialah :
1) Bahwa di bumi ini mula-mula timbul makluk hidup yang sederhana, yang mungkin berasal dari benda-benda mati (dengan jalan Generatio Spontanea), akan tetapi dari makluk yang sederhana ini kemudian dalam tempo yang panjang sekali timbulah jenis-jenis makluk yang hidup sampai sekarang, tanpa ada penghentian jalannya kehidupan seperti yang dimaksudkan dalam cerita kiamat dari kitab Injil ataupun teori bencana menurut Cuvier. Teori evolusi menganggap bahwa hewan bersela satu sebagai permulaan evolusi dan menganggap manusia sebagai akhir evilusi.
2) Diantara sebab-sebab yang menyelenggarakan perubahan-perubahan dan penyempurnaan tubuh makluk hidup, Lammarck mengemukakan bahwa pentingnya mempergunakan dan tidak mempergunakan alat tubuh tertentu. Kalau sebuah alat tubuh sering digunakan maka ia akan tumbuh sempurna dan bila ia jarang digunakan ataupun tidak digunakan sama sekali maka ia akan terbelakang tumbuhnya, sedang tiap-tiap perubahan yang dialami oleh individu itu selama masa hidupnya kelak akan diturunkan kepada keturunanya, sehingga kelak sifat itu tampak sempurna pada keterunannya.
Lammarck memberi contoh Ular adalah binatang yang mempunyai kebiasaan untuk merangkak/merayap dengan cepat masuk ke dalam tanah, kalau mereka mau bersembunyi. Kaki-kaki yang panjang malah merugikan untuk merangkak dan bersembunyi di dalam tanah dan keberadaan kaki tersebut justru merintangi gerakan. Jadi kebiasaan bergerak dari binatang itu menyebabkan lenyapnya kaki-kaki pada tubuhnya sendiri.
Sedangkan jerapah memiliki leher yang panjang karena mereka mempunyai kebiasaan hidup untuk mengambil daun-daunan dari pohon-pohon yang tinggi. Dan sebaliknya hewan yang hidup di gua-gua gelap akan mempunyai mata ayang mundur ketajamannya. Hewan itu mempunyai kemampuan untuk selalu mempertahankan sifat yang telahmereka miliki dalam usaha menyempurnakan organisasi alat-alat tubuhnya, tetap dipertahankan terus hingga dengan demikian kelak pada suatu ketika berturut-turut terjadilah makluk hidup dari berbagai kelas dan bangsa, yang disebabkan oleh karena keadaan lingkungan hidupnya yang bermacam-macam.
7. Etienne Geoffroy ST. Hilaire (1722-1844)
Disamping Cuvier dan Lammarck, pada waktu itu di Paris hidup pula seorang ahli ilmu hewan bernama Etienne Geoffroy ST. Hilaire yang mempunyai anggapan yang sama dengan Lammarck dan Goethe. Ia berpendapat bahwa ada suatu hubungan antara hewan-hewan yang mempunyai bentuk dasar dari tubuhnya.
8. Charles Lyell (1797-1875)

Lyell dilahirkan di skotlandia. Ia mula-mula belajar hukum di Oxford, kemidian ia menjadi pengacara di London. Akan tetapi ia tertarik sekali akan ilmu geologi, sehingga dengan segera ia menjadi penulis dari perkumpulan geologi. Pada tahun 1831 ia menjadi mahaguru dalam ilomu geologi. Ia diangkat menjadi seorang bangsawan dan setelah meninggal dimakamkan dengan penghormatan besar di Westminister abbey di London. Sebagai seorang sarjana besar.

Isi teori yang disampaikan oleh Lyell dalam bukunya ”An Enquiry How Far The Former Changes of The Earth’s Surface are Referable to Causes Now in Operatiaon” (Suatu Penyelidikan Sampai Kemanakah Perubahan-Perubahan yang terjadi Zaman Dahulu Dari Permukaan Bumi Ini Dapat Kita Hubungkan Dengan Sebab Musabab Alam Yang Sampai Sekarang Masih Terjadi Terus). Lyell membuktikan dengan contoh-contoh dari penyelidikan geologis bahwa untuk dapat menerangkan struktur dari kulit bumi serta lapisan tanah dibawahnya, tidak perlu beranggapan bahwa di zaman purba dulu terjadi kiamat berturut-turut. Tenaga-tenaga geologi yang samapi sekarang masih bekerja terus, tentu sudah cukup untuk menerapkan struktur bumi tadi. Tenaga geologi itu misalnya ialah daya erosi dari air, gerakan dari kulit bumi sendiri, daya gunung berapi dan lain-lainnya.
Lebih lanjut Charles Lyell pada awal abad 19 mengembangkan pandangan hutton yang lebih dahulu kedalam prinsip geologi mengenai ”uniformitarianisme” yang diterbitkan dalam bukunya Principles of geology (1830-1833). Lyell mengemukakan bahwa gunung dan lembah dan ciri-ciri fisik permukaan bumi tidak diciptakan seperti bentuknya sekarangatau tidak dibentuk oleh bencana yang berturut-berturut, tetapi terbentuk oleh berlanjutnya proses vulkanis, pergolakan, erosi, glasiasi dan sebagainya dalam jangka waktu yang sangat lama dan masih berlangsung sampai sekarang. Uniformitarianisme sangat penting bagi perkembangan lebih lanjut dari pengertian mengenai evolusi organik. Pertama, evolusi organik pada satu pihak merupakan penerapan prinsip uniformitarianisme pada dunia organik. Proses yang pada waktu ini berlangsung dan berlanjut selama periode waktu yang lama dapat menjelaskan mengenai asal-usul spesies. Kedua, dari pemikiran Lyell dapat ditarik kesimpulan bahwa bumi ini jauh lebih tua dari perkiraan Uskup Ussher, yang dibuat dalam tahun 1650 dengan menjumlahkan geneologi dalam buku Kejadian, sehingga ia mendapatkan bahwa bumi ini diciptakan 4000 tahun sebelum masehi. Untuk perubahan organik yana lambat yang terlibat dalam seleksi alam tersedia cukup banyak waktu.
9. Wilhelm Hofmeister (1824-1877)
Dalam bukunya yang terkenal mengenai sejarah perkembangan Kryptogamen (paku-pakuan dan lumut) telah menulis : Perubahan dari Jungermanniaceae (suku dari Lumut Hati) yang tak berdaun ke Jungermanniaceae yang berdaun adalah lambat sekali dan perubahan itu terjadi dengan jalan suatu deret bentuk antara yang sedikit-sedikit bedanya, yang tak ada putus-putusnya.
Pernyataan itu adalah sangat berprinsip, yang boleh dikatakan benar-benar Darwinistis. Akan tetapi aneh sekali pernyataan itu hanya ditulis sambil lalu saja.
10. Leopold Von Buch
Leopold Von Buch pada abad 19 telah menarik kesimpulan dari penyebaran tanaman-tanaman di Kepulauan Canari, bahwa oleh karena proses evolusi, maka di dalam jurang-jurang yang dalam, disitu terjadilah jenis-jenis tanaman yang baru dari jenis tertentu.
11. Robert Chambers (1802-1871)
Ia adalah seorang penerbit dan ahli filsalfat alam bangsa scot. Pada tahun 1844 terbit sebuah buku tak berpenulis yang berjudul ”Vertiges of The Natural history of Creation” (Jejak Sejarah Kehidupan Makluk Hidup), yang sangat laku dijual. Chambers-lah yang menerbitkannya. Oleh karenanya ia berpendapat bahwa pikiran-pikiran yang dimuat dalam buku itu niscaya akan menjatuhkan mana baik dari perusahannya. Dan memang ada protes-protes dan cemooh yang hebat mengenai isi buku itu. Kelak Chambers mengaku bahwa ialah yang menulisnya. Di Eropa pun buku itu sangat laku dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Terjemahan dalam Bahasa Belanda berjudul tambahan ”Penciptaan dan Kemajuan perkembangan dari tumbuh-tumbuhan dan Binatang-Binatang yang Dipengaruhi dan Dikuasai oleh hukum-Hukum Alam.
Dalam buku ini Generatio Spontanae dibicarakan dengan mendalam sekali, misalnya diceritakan tentang terjadinya kutu dengan pertolongan alira listrik didalam larutan garam yang jenuh. Disamping itu Chambers juga menyetujui pendapat Lyell yang menyatakan bahwa perubahan kulit bumi yang berlangsung secara perlahan-lahan karena pengaruh tenaga-tenaga alam itu adalah sesuai dengan kemauan Tuhan. akan tetapi tenaga-tenaga alam itu pun bertanggungjawab atas segala perubahan da pembentukan dari makluk hidup yang berkembang serasi dan bersama-sama dengan perkembangan bumi ini.
Perubahan dari jenis-jenis makluk hidup dan penciptaan jenis baru yang terus menerus yang berasal dari jenis yang rewndah tingkatannya bagi Chambers sudah pasti, seperti anggapn Lammarck, St. Hilaire dan pengikut-pengikutnya. Akan tetapi Chambers tidak percaya bahwa perubahan-perubahan jenis binatang itu disebabkan karena seringnya pemakaian dan tidak seringnya pemakaian dari alat-alat tubuh, ataupun karena pengaruh yang berlangsung dari keadaan lingkungan hidupnya. Dia berpendapat bahwa keinginan yang sewajarnya dari makluk-makluk itu sendirilah yang menjadi sebab. Ia mengemukakan ”Theory of Organic Development” (Teori Perkembangan Organik).
Hal yang berkaitan dengan manusia, juga disinggung oleh Chambers dengan menyatakan bahwa terjadinya manusia itu tidak lain ialah dari jenis-jenis binatang-binatang yang lain.
12. Weismann
Weismann, seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman yang hidup pada tahun 1834-1912, menyatakan bahwa evolusi terjadi karena adanya seleksi alam terhadap faktor ngenetis. Variasi yang diwariskan dari induk kepada anaknya bukan diperoleh dari lingkungannya tetapi dengan perubahan diatur oleh faktor genetik atau gen. Weismann memotong ekor tikus sampai 20 generasi, tetapi anaknya tidak ada yang tidak berekor dan percobaan ini menyanggah teori evolusi Lamarck.
13. Charles Darwin
Dalam bukunya “On The Origin of Spesies by Means of Natural Selection”, Darwin mengeluarkan teori evolusi yang intinya dapat dibagi menjadi beberapa pokok berikut ini
1. Variasi pada tumbuhan dan hewan merupakan suatu variasi karateristik yang muncul dalam penampakan fenotip organisasi tersebut.
2. Rasio pertambahan terjadi secara geometrik, yaitu jumlah setiap spesies relatif tetap. Hai ini terjadi karena banyak individu yang tersingkir oleh predator, perubahan iklink dan proses persaingan.
3. Struggle for existance (usaha yang keras untuk bertahan ) merupakan suatu usaha individu organisme untuk bertahan hidup. Individu dengan variasi yang tidak sesuai untuk kondisi-kondisi yang umum dialam,akan tersingkir. Adapun individu-individu dengan variasi menguntungkan dapat melanjutkan kehidupannya dan memperbanyak diri dengan berproduksi.
4. Menghasilkan the survival of fittest kelestarian didapat dari organisasi yang memiliki kualitas paling sesuai dengan lingkungan. Individu=individu yang dapat hidup akan mewariskan variasi-variasi tersebut kepada generasi berikutnya.
Menurut Dawin terjadi evolusi karena adany seleksi alam (faktor alam yang mampu menyeksi makhluk hidup. Adaptasi merupakan penyebab terjadinya seleksi alam (mekanisme seleksi alam). Jerapah yang berleher panjang berasal dair yang berlehar panjang pula, sedangkan yang berleher pendek musnah. Faktor yang menyebabkan evolusi (mekanisme evolusi) adalah seleksi alam.


read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More