Saturday, January 14, 2012

Nobel Lecture in Chemistry 2011: Kerendahan Hati di Balik Penemuan Kuasi Kristal

Nothing in life is to be feared, it is only to be understood (Marie Curie)
Sejarah ringkas penemuan kuasi kristal
Nobel kimia pada tahun 2011 secara eksklusif dianugerahkan kepada Daniel Shechtman dari Israel atas penemuan kuasi kristal. Penemuan yang terjadi pada tahun 1982 itu, tidak hanya berbuah piagam Nobel kimia dan uang sejumlah 10 Juta SEK (sekitar 1 Juta Euro) namun juga membersitkan pelajaran akan pentingnya memiliki sifat kerendahan hati bagi seorang ilmuwan.
Di dalam ilmu kristallographi, kristal secara definisi memiliki sifat keteraturan (order), periodik dan simetri. Selain itu, sudah menjadi aturan yang lazim bahwa rotational symmetry 5 dan diatas 6 umumnya tidak dapat terjadi sehingga secara definisi tidak dapat dibenarkan. Salah satu cara mudah untuk membuktikan bahwa simetri 5 tidak dibenarkan adalah dengan membentuk ubin lantai yang berbentuk segi lima maka ubin tersebut tidak dapat menutup permukaan lantai secara rapat karena ada celah kosong diantara ubin segilima tersebut. Atau dengan kata lain, simetri 5 tidak memiliki sifat translational simmetry.
Penemuan kuasi kristal terjadi saat Dan Shechtman mengamati alloy campuran alumunium dan mangaan dimana pola difraksi yang dihasilkan menghasilkan simetri 10. Hal ini bertentangan dengan definisi kristal yang sudah dijabarkan di atas. Sifat khas kuasi kristal adalah adanya pola atom yang aperiodik (non periodik) namun tetap teratur karena jarak anatar atom memiliki rasio bilangan Fibonacci (terkenal juga sebagai golden ratio). Selain itu, pola atom segilima dapat ditemukan dalam kuasi kristal yang mengejutkan dunia kristallografi pada era 80an. Dengan penemuan ini, pada tahun 1984 ia mengirim manuskrip ke Journal of Applied Physics namun berbuah penolakan dini dari editornya. Dengan menggandeng ahli matematika, artikel kuasi kristal oleh Shechtman dkk. yang pertama akhirnya dapat diterbitkan di Physical Review Letters.
Fenomena aperiodik mozaik telah menarik perhatian ahli matematika pada era 60-70an. Masalah ini akhirnya terpecahkan secara elegan oleh Roger Penrose asal Inggris dengan membentuk aperiodik mozaik hanya dengan dua buah jenis ”ubin”. Penemuan Penrose menginspirasi beragam keilmuan. Salah satunya sebagai dasar untuk meneliti pola aperiodik mozaik yang terdapat di Istana Alhambra di Spanyol dan Darb I Imam di Iran yang meruakan peninggalan kebudayaan Islam dari abad pertengahan. Alan Mackay, seorang kristallograf, menggunakan pola mozaik Penrose untuk memahami pola atom melalui analisis pola difraksi. Secara mengejutkan ia menemukan pola difraksi simetri 10 persis seperti yang ditemukan oleh Shechtman melalui eksperimennya. Sejak itu, kuasi kristal menjadi terkenal dan penemuan kuasi kristal muncul dari berbagai belahan dunia. Perubahan paradigma juga akhirnya terjadi dalam dunia kristallografi dan pada tahun 1992 International Union of Crystallography mengubah definisi kristal untuk mengakomodasi keberadaan kuasi kristal.
Keberadaan kuasi kristal di alam
Dalam skala laboratorium, kuasi kristal banyak disintesis dari berbagai campuran logam. Campuran logam Alumunium sejauh ini paling banyak menunjukkan sifat kuasi kristal. Pada tahun 2009, para ilmuwan berhasil menemukan keberadaan kuasi kristal di alam melalui publikasi di jurnal bergengsi Science. Mineral yang memiliki sifat kuasi kristal ini ditemukan di Sungai Khatyrka di sebelah timur Rusia. Mineral ini mengandung alumunium, besi, tembaga serta menghasilkan pola difraksi simetri 10. Penemuan ini memunculkan pertanyaan bagaimana kuasi kristal dapat terbentuk di dalam bebatuan alam?. Dengan memahami proses geologi yang sulit ini, hal ini diharapakan dapat menambah pengetahuan ilmuwan untuk memudahkan proses fabrikasi kuasi kristal dalam skala lab maupun komersial.
Manfaat kuasi kristal
Karakter kuasi kristal memiliki beberapa keunikan antara lain sifat elektrik, sifat optikal, kekerasan dan sifat anti lengket yang berbeda dibandingkan material pada umumnya. Secara elektrik, kuasi kristal memiliki sifat janggal yang tergantung dari suhu. Salah satu manfaat kuasi kristal adalah sebagai bahan pelapis anti lengket dalam panci masak. Fungsinya mirip seperti teflon yang memiliki sifat anti lengket. Namun kekerasan pelapisan dengan kuasi kristal sangat kuat dibandingkan dengan teflon. Perusahaan Perancis Sitram telah memproduksi panci masak yang dilapisi kuasi kristal. Sayangnya, perusahaan ini menghentikan produksi panci masak ini karena lapisan kuasi kristal bermasalah akibat reaksi kimia yang merugikan dengan garam dapur.
Kuasi kristal memiliki sifat yang rapuh namun anehnya dapat menjadi bahan tambahan dalam baja yang memebrikan kekerasan yang luar biasa pada baja. Hal ini sudah dilakukan oleh perusahaan pembuat baja asal Swedia Sandvik. Selain itu beberapa potensi lain yang dapat disebutkan adalah sebagai isolator panas, LED panel, mesin diesel dan alat yang mampu mengubah panas menjadi listrik. Namun demikian, tantangan untuk memanfaatkan kuasi kristal dalam skala besar masih besar. Dan Shechtman secara rendah hati mengungkapkan tidak mudah bagi sebuah material baru dapat memiliki aplikasi yang bermanfaat besar bagi manusia.
Miliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mencari kebenaran ilmiah
Sejak Dan Shechtman mengemukakan ide tentang kuasi kristal, berbagai macam penolakan dan tentangan harus ia hadapi. Akibat gagasannya tentang kuasi kristal, ia pun harus diberhentikan dari institut yang mempekerjakannya karena pimpinannya tidak dapat menerima penemuan kuasi kristal dan ia terpaksa mencari lembaga riset lain yang mau menerimanya. Salah satu faktor yang menyebabkan dunia kristallografi menolak kuasi kristal pada saat itu karena Dan Shechtman banyak menggunakan elektron mikroskop dan tidak menggunakan alat analisis sinar X (semacam XRD= X-Ray diffraction) yang lazim digunakan kristallograf. Padahal untuk mengamati benda yang kristal yang sangat kecil, penggunaan XRD tidak memungkinkan. Hingga akhirnya peneliti kuasi kristal lainnya mampu mensintesis kuasi kristal dalam bentuk yang lebih besar dan berhasil menganalisanya menggunakan XRD. Setelah hasil analisis sinar X menunjukkan hasil yang mendukung keberadaan kuasi kristal, maka dunia kristallografi menerima kehadiran kuasi kristal.
Salah satu tokoh yang menolak keberadaan kuasi kristal adalah Linus Pauling, pemenang nobel 2 kali. Dalam sebuah kesempatan Linus Pauling menyebut ”kuasi kristal tidak pernah ada yang ada hanya ilmuwan kuasi (ilmuwan palsu)”. Berbagai kritikan dan penolakan yang dilancarkan oleh Linus Pauling tidak membuat Dan Shechtman gentar tentang penemuan kuasi kristal yang memang ia yakini kebenarannya sejak hari pertama kuasi kristal itu ditemukan.
Kisah penemuan kuasi kristal telah mengubah paradigma dalam dunia kristallografi dan lebih dari itu kuasi kristal telah memberi pelajaran pentingnya memiliki kerendahan hati dan sifat terbuka dalam dunia ilmiah.
Referensi
The Royal Academy of Sciences, Crystals of golden proportions, http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/chemistry/laureates/2011/popular-chemistryprize2011.pdf [diakses 29 Desember 2011]
Matthew Kalman, The Quasicrystal laureate, http://www.technologyreview.com/energy/38846/page2/ [diakses 29 Desember 2011]
Eric Bland, ‘Impossibly perfect’ crystals found in nature’, http://dsc.discovery.com/news/2009/06/04/quasicrystal-nature.html [diakses 29 Desember 2011]
read more

Mengubah Dunia dengan Lenovo DoNetworkID Program


Jika ditilik, kualitas orang Indonesia sesungguhnya tak kalah dengan bangsa lain.  Terbukti ada begitu banyak prestasi dunia yang kita cetak dalam bisa sains.  Sudah sering kan baca berita tentang pelajar kita yang jadi langganan juara Olimpiade Fisika, Kimia, atau Matematika? Nah, itu bukti dari sisi akademis kita cukup gemilang.

Dari sisi teknologi juga tak kalah.  Sebut saja Onno W Purbo yang cukup dikenal di komunitas teknologi informasi dunia, khususnya penggiat Open Source, dan banyak diundang ke berbagai negara berkat aplikasi rancangannya.  Tidak ketinggalan Satya Witoelar, anak negeri yang membangun layanan sosial media pertama di dunia yang berbasis lokasi, Koprol. Dan masih banyak nama lainnya.



Bisakah kita menjadi seperti mereka, para innovator itu?  Mengapa tidak? Dengan membajirnya arus informasi yang kian deras, didukung aneka fitur teknologi yang mempermudah proses belajar dan membangun jaringan, hidup kita sesungguhnya kian dimudahkan.  Untuk menyerap ilmu pengetahuan, kita tak perlu lagi berkutat di depan kelas berlama-lama.  Cukup klik sana sini di depan layar komputer, dan informasi berdatangan dari segala penjuru dunia.  Masih kurang?  Bergabung dengan jejaring sosial, menemukan orang-orang yang menekuni minat sama, atau bahkan berkomunikasi dengan idola kita bukan hal yang mustahil. Era teknologi informasi membuat kompetisi makin berat, namun juga memancing kreativitas.  Siapa yang paling kreatif dan penuh ide, dia akan unggul di bisangnya.  Teknologi pendukungnya sudah ada di depan mata, yaitu internet beserta semua aplikasinya yang menarik.
Siapa Pun Bisa Jadi Inovator
Intinya, siapa saja sebenarnya bisa menjadi penemu atau inovator. Wow, bagaimana caranya? Ikuti saja apa yang manjadi minatmu selama ini, passion-mu.  Dengan menekuni bidang yang kita suka, otomatis kita akan bersemangat belajar segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tersebut. Kemudian, analisa sekelilingmu, apa yang menjadi problematika orang-orang di sekitar kita dan belum ada solusinya?  Lalu, cobalah gunakan kreativitasmu untuk mencari solusi dari problem tersebut.  Sudah dapat? Segeralah beraksi untuk mengembangkannya menjadi sebuah inovasi baru.
Masih buntu juga? Bisa ikuti sebuah program yang baru saja dugulirkan, bernama Lenovo DoNetworkID Program. Tak harus sendirian kok, kamu bisa membentu suatu tim untuk mengikuti program ini.  Carilah teman-teman yang seide denganmu, lalu ajukan ide kreatifmu.
Lenovo DoNetworkID Program ini menantang kita semua.  Setiap 90 hari, ada tantangan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untuk memulai, fokus temanya adalah Penemuan. Bagaimana caranya menciptakan hari esok yang lebih baik? Dan apa yang bisa kita capai apabila kita bekerja sama? Mari kita lihat apa tantangannya.
Tantangan pertama adalah  mendesain sebuah “classroom in a box” yang bisa dikirim ke daerah terpencil dimana pendidikan berkualitas masih kurang. Tantangan kedua, menciptakan solusi baru untuk menjawab masalah kemacetan. Tantangan ketiga adalah, temukan produk konsumen baru yang dirancang untuk membawa efek positif bagi lingkunganmu. Lalu terakhir adalah tantangan beragam, yaitu untuk memfasilitasi mereka punya ide yang tidak ada dalam kategori tantangan apapun.Oh ya, temuanmu harus didukung dengan teknologi, memiliki hasil akhir yang menakjubkan tetapi bisa dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan. Syarat lain adalah temuan tersebut harus mempunyai dampak positif terhadap tantangan tersebut.  Dan tentu saja karena ini kerja tim, maka harus menampilkan/menunjukkan kerjasama antara anggota tim. Hadiahnya cukup menggiurkan lho.  Pemenang dari program ini selain jelas akan dikenal sebagai innovator, juga akan mendapatkan dana sebesar 25.000 dollar Amerika! Dengan dana sebesar itu, kamu bisa lebih banyak mewujudkan ide-ide kreatif, dan bahkan terjun di dunia bisnis.
Menarik bukan? Mulai saja pikirkan ide-idemu, dan bentuk tim yang solid.  Pendaftaran akan dibuka pada  8 Desember 2011 s/d 25 Januari 2012. Pemilihan peserta favorit: dilakukan pada 5 s/d 25 Januari 2012. Pengumuman f inalis pada 26 Januari s/d 29 Februari 2012. Dan pengumuman pemenang pada 1 Maret 2012.
Mentor top yang akan memandu kamu adalah  Budi Putra (konsultan teknologi), Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan), dan Onno W Purbo (independent IT writer).  Informasi lebih lengkap mengenai program menantang ini bisa diklik di  http://bit.ly/t5zUmm.
Mentor Lenovo Do Network Indonesia Onno Widodo Purbo adalah seorang penulis IT independen yang telah banyak menerima berbagai penghargaan dari instansi internasional, dan telah berperan besar dalam hadirnya internet murah di Indonesia. Beliau menaruh harapan besar pada generasi muda Indonesia yang inovatif.
Mentor Lenovo Do Network Indonesia Nurdiansah adalah seorang peneliti dan pemerhati pendidikan yang telah mengantar banyak siswa-siswi Indonesia meraih prestasi pada kompetisi-kompetisi ilmiah baik skala nasional maupun internasional.
Mentor Lenovo Do Network Indonesia Budi Putra adalah seorang full-time blogger dan konsultan teknologi, mantan country editor Yahoo! Indonesia. Tulisan-tulisannya di CNET dan SlashPhone merupakan bukti nyata dari pengetahuan dan insightnya yang dalam mengenai perkembangan teknologi.***

from netsains.com
read more

Pengaruh TV terhadap Psikologi Anak

Prof Dr Sarlito W Sarwono, psikolog yang akhir-akhir ini banyak mencurahkan perhatiannya tentang dampak TV terhadap anak-anak, begitu sangat terkejut melihat sebuah hasil penelitian yang merilis bahwa anak-anak Indonesia menghabiskan waktunya menonton TV rata-rata enam jam sehari (sementara batas toleransi adalah maksimal dua jam sehari untuk usia anak sekitar 3 hingga 7 tahun).  Sebagai orangtua, aturlah waktu menonton televisi bagi anak. Bila perlu, maka sembunyikan remote TV dan pengontrol konsol game supaya mereka membatasi waktunya duduk di depan layar televisi. Pasalnya, jumlah jam menonton TV berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya.
Menurut peneliti dari Universitas Bristol, anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi atau konsol game akan lebih rentan mengalami kesulitan psikologis, seperti masalah yang terkait dengan teman sebayanya, masalah emosi, hiperaktif, atau menyukai hal-hal yang menantang dibanding dengan anak yang jarang menonton TV.
Berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya, dampak negatif menonton TV ternyata tidak bisa diperbaiki dengan meningkatkan aktivitas fisik.
Kesimpulan tersebut dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 1.013 anak berusia 10-11 tahun yang melaporkan rata-rata waktu yang mereka habiskan di depan televisi atau komputer, baik itu untuk bermain game maupun mengerjakan PR. Selain itu, anak-anak itu juga diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui status psikologis mereka.
Hasilnya, anak-anak yang menonton TV atau memainkan permainan komputer lebih dari dua jam setiap hari memiliki masalah psikologis lebih tinggi dibanding dengan anak yang waktu menontonnya lebih sedikit. Bahkan, meski anak-anak yang gemar di depan televisi itu aktif secara fisik, kesulitan psikologis yang dialaminya dinilai tetap tinggi.
Televisi dan Kekerasan
Pada dasarnya televisi memiliki banyak fungsi bagi kehidupan masyarakat, menurut pakar komunikasi Harold D. Laswell mempunyai tiga fungsi,dimana setiap fungsi tidak berdiri sendiri melainkan akansaling menunjang.a. Media massa bertindak sebagai pengamat lingkungan danselalu akan memberikan berbagai informasi atas hal-halyang tidak dapat terjangkau khalayak.b. Media massa sebagai gate keeper artinya lebihmenekankan kepada pemilihan, penilaian, penafsirantentang apa yang patut di sampaikan kepada khalayak. c. Media massa berfungsi sebagai jembatan tata nilai danbudaya dari generasi satu ke generasi berikutnya, ataudapat di katakan sebagai media pendidikan.
TV sebagai media komunikasi massa yang sangat disukai oleh anak-anak dapat memberikan dampak terhadap perilaku mereka. Beberapa temuan menunjukkan bahwa perilaku anak cenderung kepada tindak kekerasan. Dr. Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di tahun 60 an dan awal 1970 an telah menelan 20.000 sajian kekerasan di TV saat mereka berusia 19 tahun. Zhao Yuhui, melaporkan bahwa pada tahun 1986 ada seri TV berjudul Garrison’s Gorillas di TV China. Karena tayangan tersebut kemudian banyak bermunculan kelompok-kelom-pok Garrison’s Gorillas di SMP bahkan SD. Mereka melempar batu-batu ke jendela sekolah dan merusak bangku. Banyak guru dan orangtua protes sehingga tayangan di China Central TV tersebut kemudian distop. (Unesco, 1994). Dalam polling pendapat yang dilaksanakan oleh pihak kepolisian di Singapura disebutkan bahwa dari 50 pemuda yang terlibat pada tindak kekerasan, umumnya menikmati film-film kekerasan di TV, melihat orang-orang dipukul atau dibunuh dilayar kaca tersebut ( Unesco, 1994). Sebuah survey pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.  Studi tim dari Universitas Massachusetts, Amherst, AS, menemukan ketika anak-anak yang berusia tiga tahun ke bawah bermain di dalam ruangan yang ada televisi, waktu bermain mereka 5% lebih singkat ketimbang jika tidak ada televisi. Keberadaan televisi juga membuat mereka tidak fokus saat bermain. Studi yang dimuat dalam Child Development edisi Juli/Agustus itu melibatkan 50 balita yang berusia antara 12, 24, dan 36 bulan.
Dr Daniel Bronfin dari Ochsner Health System, New Orleans, mengungkapkan televisi berpotensi menaikkan risiko terjadinya gangguan perilaku pada anak-anak, seperti kesulitan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar anak-anak berusia dua tahun atau kurang tidak diberi akses menonton televisi.
Temuan YLKI, yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak menam-pilkan adegan anti sosial (63,51%) dari pada adegan pro sosial (36,49%). Begitu pula tayangan film lainnya khususnya film import membawa muatan negatif, misalnya film kartu Batman dan Superman menurut hasil penelitian Stein dan Friedrich di AS menunjukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif yang dapat dikatagorikan anti sosial setelah mereka menonton film kartun seperti Batman dan Superman.
Mengembalikan Peran Sosial Televisi
Stephen R Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) bahwa kebanyakan keluarga akan mengalami kesulitan ketika harus memilah dan memilih siaran TV yang cocok, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak-anak dan remaja. Memilih acara TV yang cocok, sama halnya dengan memilih salad yang bercampur-aduk dari tumpukan sampah. Mungkin ada sedikit salad yang enak di sana, tetapi cukup sulit memisahkan sampahnya, kotorannya dan lalat-lalatnya.
Lebih lanjut, Covey mengingatkan bahwa membiarkan anak-anak menonton TV tanpa pengawasan dari orang tua, sama halnya dengan mengundang seorang asing ke dalam rumah Anda selama beberapa jam setiap hari. Orang asing tersebut, memberitahukan kepada anak-anak Anda tentang segala hal mengenai dunia yang jahat; tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah secara pintas, tentang pesta, seks dan kecantikan serta kemewahan sebagai segala-galanya.
Kesemuanya itu terjadi, di mana para orangtua banyak tidak menyadari bahwa karakter anak-anak mereka telah dipercayakannya untuk dibentuk oleh siaran TV. Guru tak diundang tersebut, yang setiap hari datang menjenguk sang anak, telah dengan begitu leluasanya membentuk karakter sang anak secara tidak terduga.
Ahli komunikasi massa Harold D Lasswell dan Charles Wright (1954) menyatakan bahwa ada empat fungsi sosial media massa, yaitu pertama, sebagai social surveilance. Pada fungsi ini, media massa termasuk media televisi, akan senantiasa merujuk pada upaya penyebaran informasi dan interpretasi seobjektif mungkin mengenai peristiwa yang terjadi, dengan maksud agar dapat dilakukan kontrol sosial sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan masyarakat bersangkutan.
Kedua, sebagai social correlation. Dengan fungsi korelasi sosial tersebut, akan terjadi upaya penyebaran informasi yang dapat menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Begitupun antara pandangan-pandangan yang berbeda, agar tercapai konsensus sosial.
Ketiga, fungsi socialization. Pada fungsi ini, media massa selalu merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Keempat, fungsi entertainment. Agar tidak membosankan, sudah tentu media massa perlu juga menyajikan hiburan kepada khalayaknya. Hanya saja, fungsi hiburan ini sudah terlalu dominan mewarnai siaran televisi kita, sehingga ketiga fungsi lainnya, seolah telah terlupakan. Pertanyaan yang masih ada adalah, bersediakah kita memulai untuk mengembalikan televisi pada fungsi sebenarnya.
Sumber gambar: klikdokter.com
Bahan Bacaan:
http://health.kompas.com/read/2010/10/12/17383141/Banyak.Nonton.TV.Psikologis.Anak.Terganggu
http://edukasiana.com/?p=244
http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2205903-fungsi-televisi/#ixzz1i5EVBZj5
http://taufik79.wordpress.com/2008/04/15/televisi-antara-fungsi-sosial-dan-agama-baru/
read more

Parental Conflict dan Pengaruhnya Terhadap Anak

Isilah bagian yang kosong: Anak-anak yang mengalami konflik di rumah adalah lebih mungkin untuk …………………………
Dalam dunia sekarang ini, orang tua tahu untuk menjaga anak-anak mereka aman dari bahaya psikologis. Kita mungkin berharap bahwa kita bisa mengontrol buku yang mereka baca, musik yang mereka dengarkan, dan TV menunjukkan mereka menonton, hanya karena kita takut pengaruh negatif bahwa media dapat memiliki perkembangan mereka. Tapi cukup mengejutkan, banyak orangtua tidak melihat diri mereka dan hubungan mereka sebagai pengaruh eksternal pada anak-anak. Sebenarnya, anak-anak yang mengalami konflik orangtua sering pada risiko lebih tinggi untuk sejumlah masalah psikologis dan perilaku.
Hal ini terutama terjadi ketika datang ke pasangan yang memiliki perbedaan pada gaya pengasuhan. Penelitian dari Baylor College of Medicine di Houston, oleh Dr James H. Bray, menunjukkan bahwa masalah perilaku lebih mungkin terjadi pada anak-anak yang orang tuanya memiliki pendapat yang berbeda pada gaya pengasuhan. Misalnya, jika salah satu orangtua yang sangat ketat dan yang lain memungkinkan anak-anak melakukan apa yang mereka inginkan, dapat menyebabkan ketidaksepakatan serta kebingungan pada bagian dari anak-anak. Tapi bahkan ketika perbedaan pendapat tidak atas masalah pengasuhan anak, konflik orangtua yang berlebihan masih berdampak kepada anak-anak.
Menurut Rabbi Yisroel Roll, seorang psikoterapis anak, menyebutkan bahwa ada tiga respon negatif utama konflik orangtua terhadap anak-anak. Pertama, kestabilan emosional anak yang akan cenderung menurun. Sebagaimana kita tahu bahwa seorang anak setidaknya membutuhkan keselamatan emosional dan keamanan dalam rangka untuk berkembang secara akademis dan sosial. Lingkungan di rumah yang menciptakan rasa aman harus dapat dilahirkan para orang tua. Seorang orang tua harus mengetahui betapa rentannya dunia seorang anak. Ada konflik, argumen, dan ketegangan orang tua, yang pada dasarnya menghancurkan perkembangan emosional seorang anak. “
Kedua, anak-anak mungkin menyalahkan diri sendiri karena konflik. Dalam pikiran anak, dunia berputar di sekitar tindakan mereka. Ketika mereka mendengar orangtua mereka bertengkar, mereka mungkin yakin bahwa itu adalah kesalahan mereka bahkan jika itu tidak ada sama sekali untuk dilakukan dengan mereka. Ketika konflik tersebut tidak berputar di sekitar isu-isu disiplin, anak dapat merasa lebih bersalah.
Respon ketiga yang mungkin terjadi pada anak-anak karena konflik orangtua adalah tindakan lari dari rumah. Disadari atau tidak oleh orang tua, anak sering bereaksi terhadap apa yang terjadi di antara orang tua mereka. Dan terkadang, hal ini mungkin terdengar mengejutkan, tetapi anak-anak bertingkah pada tujuan untuk mendapatkan perhatian dan tindakan dari orang tua mereka secara bersama-sama. Dengan caranya mereka tahu bahwa psikologis orangtua mereka tidak berada pada konteks yang sama, dan dengan tindakan tersebut, mereka ingin memaksa orang tua mereka untuk mencoba berurusan dengan mereka. Setelah Anda melihat komunikasi orangtua yang lebih baik, penuh kehangatan dan rasa hormat dan cinta pada kedua orang tua si anak, anak-anak cenderung menjadi tenang. Hal mendasar yang harus disadari oleh setiap orang tua yang sangat termotivasi terhadap pertumbuhan diri anaknya, adalah dengan memperkuat pernikahan. Dan satu-satunya cara nyata untuk memperkuat pernikahan adalah melalui resolusi konflik.
Diterjemahkan secara bebas dari: http://www.education.com/magazine/article/conflict-impact-on-kids/
read more

Sebuah Renungan untuk Kita

Beberapa hari lalu, aku kebetulan makan siang di sebuah restoran di kawasan Depok II, Jawa Barat, yang menjual mie bakso unik (mie yang diolah sendiri dengan campuran herbal, sehingga berwarna hijau, merah, dan sebagainya, dan diklaim sangat menyehatkan).
Ketika sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba ada seorang laki-laki pengemis tua berdiri di ambang pintu sambil menadahkan tangan. Merasa proses makanku terganggu, aku pun merogoh dompet mencari uang receh dan menemukan selembar Rp 2.000-an.
Namun, ketika aku mau menyerahkan uang itu, seorang ibu muda (sekitar 35 tahun) berjilbab, yang makan mie dan duduk tak jauh dariku, lebih dulu bangkit. Di luar dugaanku, dia bukan cuma memberi recehan, tetapi malah menawarkan makanan pada pengemis itu. “Bapak mau mie bakso? Jangan khawatir, Pak, nanti biar saya yang bayar!” ujarnya ramah. Mungkin si ibu merasa iba pada pengemis itu.
Pengemis itu tampak sangat bersyukur. Matanya berbinar. Mie bakso pun disiapkan dan dibungkuskan untuk si pengemis, dan si pengemis tua itu lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih. Si ibu pun kembali duduk dan meneruskan makannya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, justru aku yang terhenyak. Aku merasa kalah mental.
Kalau dilihat dari tampilannya, secara status sosial ekonomi aku tidak kalah dari ibu itu, bahkan mungkin aku dalam posisi lebih. Aku datang ke restoran itu memakai mobil, meski ”cuma” sedan Baleno keluaran 2003 milik kantor. Sedangkan ibu itu tampaknya tidak punya mobil. Namun, dalam kasus penanganan terhadap pengemis tadi, dia bisa dan mau memberi lebih banyak, sedangkan aku hanya siap dengan pemberian ”paket standar buat pengemis,” yaitu uang receh terkecil yang bisa ditemukan di dompet!
Aku lalu membayangkan, bagaimana jika situasi ”kalah mental” ini diangkat ke skala pribadi yang lebih luas, atau bahkan ke skala anggaran nasional. Majalah Forbes belum lama mengeluarkan daftar nama 40 orang terkaya di Indonesia. Tidak ada yang salah dengan menjadi kaya raya. Namun, apakah sumbangsih para orang kaya Indonesia ini –termasuk para anggota DPR, yang tiap hari ngantor memakai Bentley, Hummer, Alphard, Lexus, dan mobil-mobil mewah senilai sampai Rp 7 milyar itu—sudah proporsional dengan kekayaan yang mereka miliki?
Demi gengsi dan status diri, kita tidak merasa sayang membeli mobil, yang hanya buat dipakai mengantor tiap hari, senilai Rp 7 milyar. Tetapi kita merasa sayang jika diminta menyumbang Rp 10 juta rupiah untuk yatim piatu, meski Rp 10 juta itu sebetulnya cuma satu per 700 dari harga mobil kita.
Kita lebih bangga membuat pesta perkawinan seharga milyaran rupiah untuk anak-anak kita, dengan menggusur pedagang kecil sekitar lokasi pesta, serta mengganggu kenyamanan orang-orang kecil di sekitar acara perhelatan. Itu lebih dipilih ketimbang mengadakan resepsi pernikahan yang relatif lebih sederhana, tetapi InsyaAllah memperoleh keberkahan, karena membagi rezeki dan kelebihan harta kita dengan warga miskin sekitar, dan mendapat ucapan doa syukur dari mereka.
Kita lebih suka mengalokasikan anggaran negara yang super besar untuk gedung megah, mobil dinas, rumah dinas pejabat, ”studi banding” ke luar negeri yang tak jelas hasilnya, ketimbang mengalokasikan anggaran untuk mengentaskan kemiskinan, menanggulangi anak-anak terlantar, kalangan yang menderita sakit dan tak punya asuransi kesehatan, dan warga kita yang hidup di bawah garis sederhana di pelosok-pelosok nusantara.
Jumlah mereka yang membujtuhkan dukungan kita ini ada puluhan juta, tetapi mereka cuma menjadi angka statistik yang tidak bisa bicara. Mereka hanya diperhitungkan ketika menjelang pemilu untuk menjadi obyek penggalangan suara dan bagi-bagi BLT (bantuan langsung tunai), yang toh BLT itu juga dikutip dari uang negara, tetapi untuk kepentingan penguasa.
Singkat kata, banyak dari kita sebetulnya menderita kondisi ”kalah mental” yang parah. Dampaknya bukan cuma pada diri pribadi, tetapi begitu melebar, mencakup kepentingan masyarakat, rakyat dan bangsa yang lebih luas. Tidak bisa tidak, kita harus merombak kondisi mental ini jika ingin bangsa Indonesia ini maju, memiliki martabat kemanusiaan, dan posisi terhormat di antara bangsa-bangsa lain.
Kondisi kita sekarang sudah di titik nadir. Tetapi masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Tidak pernah ada kata terlambat untuk tobat. Marilah kita membuat perbaikan bersama-sama, dan dimulai dari diri masing-masing. InsyaAllah, Tuhan akan meridhoi setiap langkah ke arah kebaikan. Hari ini, kini, detik ini, mulailah selangkah kecil dari diri Anda sendiri.

From netsains.com
read more

Adds

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More